Vanessa mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dia tampak asing dengan tempat yang sekarang dia tempati. Dan semuanya berputar bagai kaset rusak di kepalanya, kepulangannya sampai kematian keluarganya. Semuanya bagai mimpi buruk, namun itu benar-benar nyata.
Suara decitan pintu terbuka mengalihkan Vanessa, sejak tadi pikirannya tidak di tempat, dia tengah melamun. Vanessa sedikit menoleh untuk melihat apakah pria itu yang datang dan ... ternyata iya. Itu membuat rasa amarah yang sejak tadi menumpuk dan ditahan-tahan kini keluar meluap-luap.
“Kau membunuh ibuku!” Vanessa berteriak tanpa ditahan-tahan. Melontarkan kemarahannya pada pria jahat di depannya itu.
“Aku tidak membunuhnya.” Gerald menjawab dengan nada datar, seiring dengan langkahnya mendekati Vanessa.
“Ya, kau membunuh keluargaku,” balas Vanessa tak kalah sengit.
“Kau salah anak manis, Vincent belum mati. Itu berarti keluargamu belum mati semua.” Gerald mengucapkan semua itu dengan nada meremehkan, Vanessa bahkan sangat ingin membunuh pria di depannya itu.
“Lepaskan aku!” Vanessa kembali membentak.
“Tidak! Kau harus di sini sampai Vincent muncul." Gerald kembali menjawab datar.
“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan keluargaku, dan apa yang kau inginkan dari Vincent? Tapi tolong lepaskan aku, aku juga punya kehidupan sendiri di luar sana.” Vanessa mencoba melembut, mungkin saja Gerald terpengaruh dan akan melepaskannya. “Aku mohon lepaskan aku, dan aku berjanji akan melupakan segalanya.”
"Oh iya? Kamu wanita polos dengan pikiran seperti itu." Gerald kembali membuka suara, "Aku tidak akan pernah melepaskan kamu sampai Vincent muncul dan menyerahkan dirinya ke hadapanku."
Vanessa bersimpuh di kaki Gerald, lalu kembali memohon. “Maafkan aku ... maaf kalau aku punya salah ataupun keluargaku padamu, tetapi aku mohon tolong lepaskan aku dari sini!”
Kalau teriakan tidak menyadarkan pria itu, mungkin dengan melembut dan memohon seperti ini bisa saja meluluhkan pria itu dan melepaskannya dari sini.
Gerald kembali berdecak mendengar permintaan wanita yang tengah bersimpuh di bawahnya, seakan dia tidak tahu saja kalau apa yang dilakukan Vanessa adalah salah satu taktik untuk mengelabuinya. Tetapi tentu saja Gerald tak akan terpengaruh.
“Kau sangat bodoh kalau mengira aku akan mempercayai perkataanmu itu. Aku tahu kalau kau dan keluargamu adalah orang yang sangat licik.”
Vanessa tersentak kaget, tidak percaya kalau ia ketahuan sengaja untuk mengelabui pria itu. Sialan! Pria itu benar-benar tidak bisa diremehkan.
Gerald menyeringai, berjalan mendekati Vanessa. Dan dia sangat geli saat melihat Vanessa yang mundur dengan wajah ketakutan.
“A—apa, apa yang kau ....”
Perkataannya terpotong karena rengkuhan Gerald di pinggangnya. Membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi wajah Gerald yang cuman berjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Manis,” ucap Gerald beberapa saat kemudian. Pria itu bergerak mengusap permukaan wajah cantik wanita di hadapannya.
Vanessa langsung tersadar dan langsung mengangkat tangannya untuk menampar Gerald. Tapi sial, Vanessa kalah cepat. Gerald dengan cepat memegang pergelangan tangannya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
“Kau tidak boleh menyentuhku, Vanessa. Dan berdoalah semoga Vincent secepatnya menyerahkan diri, atau kau yang menerima dendam itu. Tentu saja kau tidak tahu apa yang bisa aku lakukan padamu!” Gerald berkata dengan menyeringai.
“Sialan kau! b******k!”
“Hati-hati dengan umpatanmu, Sayang. Atau aku harus membungkam mulutmu?” tanya Gerald sembari memajukan wajahnya sehingga kembali berjarak beberapa senti dari wajah Vanessa.
***
“Apa Vincent sudah kalian temukan?”
“Maafkan saya, Tuan. Kami belum menemukan titik keberadaan Vincent.” Dave, orang kepercayaan Gerald menjelaskan segalanya kepada tuannya.
Gerald berdiri memukul meja dengan keras. “Bodoh! Kenapa kalian tidak bisa menemukannya, di mana orang-orang yang kau anggap sudah berpengalaman dalam hal ini, huh?”
“Kami sudah menyebar orang-orang ke semua tempat, bahkan di beberapa pelosok terpencil pun tidak luput dari pengamatan kami. Dan selama tidak ada yang membantunya, tidak lama lagi Vincent ditemukan. Kecuali ....”
“Kecuali apa, Dave?” Gerald memotong perkataan Dave.
“Kecuali ... kecuali ada yang membantu Vincent bersembunyi, dan kalau memang itu terjadi orang itu pasti tak kalah berkuasanya dari kita. Melihat Vincent yang benar-benar tidak bisa ditemukan.” Dave kembali berkata dengan serius.
Gerald tampak berpikir, menimbang-nimbang perkataan orang kepercayaannya itu. Dave ada benarnya, sangat mustahil kalau Vincent tidak bisa ditemukan kalau memang tidak ada yang membantunya. Dan dia tidak akan melepaskan siapa pun yang ikut campur dengan urusannya.
“Kau ada benarnya, tetaplah waspada dan terus mencari. Dan jangan lupa selidiki juga siapa yang berani membantu Vincent.”
“Tentu, Tuan Gerald.”
Baiklah Vincent. Vanessa yang akan membayar segalanya. Dan kita lihat apakah kau akan terus berlari kalau mengetahui adik yang sangat kau sayangi tersiksa di tanganku, bahkan aku berniat untuk membunuhnya. Kau tidak akan aku lepas dari tanganku, bahkan dengan memohon sekalipun. Inilah hukuman karena telah mengusik ketenanganku.
****
Gerald duduk dan bersandar pada kursi kebesarannya, kedua tangan Gerald menyentuh tepi meja dan mengetuk permukaan kaca tersebut dengan tidak sabaran.
Dave memasuki ruangan Gerald dengan tergesa-gesa sambil membawa map di tangannya.
“Ada apa?”
“Tuan ....”
“Apa?” Gerald terdengar tak sabaran, pandangan tajam tidak lepas dia arahkan ke Dave.
“Ternyata Vanessa yang membantu Vincent saat itu.”
“Apa? Jadi wanita itu yang membantu Vincent empat tahun yang lalu?” Gerald tidak menyangka kalau wanita itu yang selama ini dicarinya. Bahwa Vincent melakukan semua itu dengan bantuan dari adiknya sendiri yaitu Vanessa.
“Dan yang lebih pentingnya, Vanessa adalah dokter praktik saat itu. Anda pasti mengerti apa yang aku maksud bukan?"
Gerald terdiam, mencoba menyambungkan semuanya. Dan itu semua mengarah ke arah Vanessa, wanita sialan itu.
“Kenapa kau baru memberitahuku semuanya, ini adalah sesuatu hal yang penting. Serta kenapa selama empat tahun aku baru mengetahui segalanya?” tanyanya dengan emosi yang meluap-luap.
“Saya juga baru tahu dua tahun yang lalu, tapi aku tidak memberitahu Anda karena Tuan terlalu sibuk untuk menghancurkan perusahaan Harrinton. Maafkan aku, Tuan!” Dave berkata lirih.
“Tapi ini adalah hal yang penting, Dave. Harusnya kau memberitahu aku saat itu juga.” Gerald mencoba mengambil napas, saat ini dia sangat marah pada orang kepercayaannya itu. “Keluar, Dave!”
Dan Dave akhirnya keluar, tetapi sebelum itu dia menyerahkan map yang berisikan informasi-informasi empat tahun yang lalu. Gerald melihat isi map itu, dan ia sangat terkejut mengetahui kebenarannya. Vincent dan Vanessa telah menghancurkannya, ia tidak akan memaafkan kedua orang itu.