Mira menatap Aira dengan mata yang penuh gairah, bibirnya melengkung menjadi senyum penuh arti. Tanpa melepaskan pandangan dari wajah Aira, Mira perlahan-lahan menaiki kasur, lututnya menekan kasur yang empuk. Gerakannya begitu anggun, saat Mira merangkak, p******a besarnya bergerak mengikuti ritme tubuhnya, menggantung dengan lembut dan menggoda di atas Aira. Setiap gerakan membuat napas Aira tertahan, jantungnya berdebar lebih cepat.
Mira kini sudah berada di atas Aira, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Aira bisa merasakan hangatnya napas Mira yang begitu dekat, aroma tubuhnya yang memabukkan memenuhi indera penciuman Aira. Tatapan Mira penuh dengan hasrat yang sulit disembunyikan, seolah mengundang Aira untuk larut dalam gelombang perasaan yang sama.
"Bu Aira..." ucap Mira sembari mendekatkan bibirnya ke bibir Aira. Mira melakukan ciuman dengan lembut sama seperti yang selalu dia lakukan ketika berhubungan dengan Aira. Lidah Aira berlaga dengan milik Mira seolah-olah sedang menari dalam alunan melodi yang sangat b*******h. Keduanya baru saja mencapai klimaksnya namun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat mereka b*******h kembali.
Mira menyelusuri rongga mulut Aira yang dihiasi oleh indahnya desahan Aira yang begitu menggoda di telinganya. Mira melanjutkan rasangan dengan menggerakkan tubuhnya maju dan mundur dengan perlahan-lahan, kedua p******a mereka saling bergesekan satu sama lain menghasilkan sensasi menggelitik nikmat.
Suara desahan keduanya tersegel oleh ciuman panas mereka hingga akhirnya bibir keduanya terlepas, desahan mereka berdua bergema di dalam kamar Aira. Tidak lama kemudian Mira merasakan dirinya akan segera mencapai o*****e keduanya, dia berkata "Ah... Ah... Ibu Aira... Aku mau sampai sebentar lagi.... mau... melakukannya bersama-sama?" Aira terus mendesah sembari melihat wajah Mira yang sudah sangat merah, dia berusaha menahan dirinya untuk tidak o*****e duluan.
Aira memeluk Mira dengan erat, dia tidak mau melepaskan diri dari sensasi p******a Mira dari tubuhnya. Aira tidak menjawab pertanyaan Mira, sebagai gantinya dia menggerakkan tubuhnya mengikuti gerakan tubuh Mira. Mira memahami maksud Aira lewat gerakan yang mulai lebih agresif.
Mira dan Aira saling menatap penuh dengan nafsu membara sementara tubuh mereka saling bergerak maju dan mundur. Baik Aira maupun Mira, keduanya benar-benar menikmati gesekan hingga akhirnya keduanya menjerit panjang sembari memeluk dengan cukup kuat. v****a Mira menyemprotkan cairan k*********a berulang kali, Aira juga merasakan k*********a sudah sangat basah, dia merasa tidak nyaman karena celana dalamnya yang basah akibat cairan k*********a sendiri.
Tubuh Mira terkulai lemas di atas Aira, napas mereka sangat berat karena o*****e kedua mereka sangat intens. Mira mencoba mengatur napasnya, lalu dia mencium bibir Aira dengan lembut dan dalam. Setelah itu dia turun dari atas Aira, dia berbaring di samping Aira yang masih menikmati sisah orgasmenya.
Mira memiringkan tubuhnya, dia meraba p******a Aira yang terlihat indah karena dibalut dengan keringatnya. "Aku senang loh, sama seperti waktu di hotel, dan di kamar mandi kampus, kamu selalu menerima baik sentuhanku" kata Mira tersenyum. Aira terlihat sangat malu, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya allah, kenapa aku selalu menikmati aktifitas m***m ini dengannya" ucap Aira dalam hatinya. Mira hanya tersenyum, lalu dia duduk di kasur.. Mira dengan lembut meraba perut Aira, tubuh Aira terlihat terkejut karena sentuhan tiba-tiba, lalu tangannya menempel pada permukaan celana dalam Aira. Dia meraba kemaluan Aira melalui permukaan celana dalam yang sudah sangat basah.
"Ah... Ah... Ibu Mira... jangan lagi... dong... ngh!" protes Aira namun wajahnya terlihat sangat bahagia karena k*********a disentuh lagi oleh tangan Mira. Aira memejamkan matanya menikmati sentuhan Mira yang begitu sangat mahir memainkan k*********a, lalu Mira berkata "Ibu Aira, kamu merasa tidak nyaman dengan celana dalam basah bukan? Aku akan melepaskannya untukmu"
Aira tidak menjawab karena dia terlalu malu mengakuinya, Mira perlahan-lahan melepaskan celana dalam Aira. Ketika celana dalam Aira terlepas, terlihat benang putih lengket membentuk jaring-jaring menempel di celana dalamnya. Mira terlihat semakin bernafsu ketika melihat pemandangan begitu mempesona matanya.
Setelah celana dalam Aira terlepas, kini tubuh Aira telanjang bulat bersama dengan Mira di dalam kamarnya sendiri, bukan di hotel maupun di kamar mandi kampusnya. Tiba-tiba telepon berdering mengejutkan Aira, dia segera meraih handphonenya dan melihat Yulianti sedang menghubunginya.
Aira memberikan isyarat agar Mira memberikannya kesempatan untuk menjawab telepon tersebut. "A-ada apa Yulianti?" kata Aira berusha untuk tetap tenang.
Namun usaha Aira untuk bersikap layaknya seorang dosen terganggu karena tangan usil Mira memainkan klitorisnya dengan lembut.
"Ngh... ah! I-ibu lagi sedang tidak bisa datang hari ini.." ucap Aira berusaha menahan desahannya. Mira hanya tertawa kecil melihat reaksi Aira yang terlihat imut menahan suara mesumnya terdengar.
Mira sepertinya terlihat kesal karena waktu ngeseksnya dengan Aira terganggu, dia dengan cepat mengambil handphone Aira lalu menggantikan Aira menjawab telepon dari Yulianti. "Ah, Yulianti? Maaf, Ibu Aira sedang tidak bisa menjawab teleponmu, jadi bye," kata Mira sembari mengakhiri panggilan.
Mira meletakkan kembali handphone di meja dekat kasur, lalu dia meremas p******a Aira sembari mencium Aira dengan nafsu. Ciuman Mira dimulai dengan lembut, bibirnya menyapu perlahan di sepanjang bibir Aira, memberi sensasi yang menggigilkan. Namun, tak butuh waktu lama sebelum ciumannya berubah menjadi lebih dalam dan menuntut. Lidahnya dengan mahir menjelajahi mulut Aira, mengajak lidah Aira menari bersamanya. Setiap desahan yang keluar dari bibir Aira hanya membuat Mira semakin bernafsu.
Tangannya tidak tinggal diam, dengan penuh hasrat dia meremas p******a Aira, jari-jarinya dengan lembut tetapi tegas menggenggam, memijat, dan merasakan setiap lekuk dan tonjolan. Mira menikmati bagaimana tubuh Aira merespons sentuhannya, setiap erangan dan lenguhan yang keluar dari mulut Aira memberikan dorongan lebih baginya untuk melanjutkan. Sentuhan Mira menciptakan gelombang kenikmatan yang mengguncang tubuh Aira, membuatnya menggeliat dan bergetar di bawah Mira.
Dengan ciuman yang semakin mendalam dan tangan yang tidak henti-hentinya mengeksplorasi, Mira memastikan bahwa Aira merasa puas dengan permainannya. Mira melepaskan ciumannya, lalu dia berkata, "Tidak sopan menerima telepon ketika kita sedang ngeseks loh."
"Habisnya.... Ngh!!" Aira tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena kini tangan kanan Mira mengelus vaginanya yang sudah sangat basah. Mira memainkan v****a Aira sembari meremas p******a lain Aira.
Dengan sentuhan yang penuh keahlian, jari-jari Mira perlahan menyusuri sepanjang lipatan basah di antara kaki Aira. Jari tengahnya menggesek lembut k******s Aira, memberikan rangsangan yang membuat Aira melenguh keras. Setiap gesekan yang dilakukan Mira menciptakan sensasi yang mengguncang tubuh Aira, membuatnya menggeliat dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Mira melanjutkan dengan gerakan melingkar yang lambat dan penuh intensi, meningkatkan kecepatan dan tekanan secara perlahan. Sementara tangan kanannya fokus pada v****a Aira, tangan kirinya tidak tinggal diam. Jari-jarinya meremas dan memijat p******a Aira dengan tegas, menggenggam setiap lekuk dan tonjolan dengan sempurna. Jempolnya menggoda p****g Aira, memutarnya dengan gerakan lembut yang membuatnya semakin tegang.
Desahan dan lenguhan keluar dari mulut Aira tanpa kendali, tubuhnya merespons setiap sentuhan dengan begitu alami. Gerakan jari-jari Mira semakin cepat, intensitasnya meningkat, membuat Aira merasa seperti berada di ambang batas kenikmatan. Mira memperhatikan reaksi Aira dengan seksama, memastikan setiap sentuhannya membawa Aira semakin dekat ke puncak kepuasan.
Tubuh Aira menggeliat dan bergetar di bawah Mira, merasakan setiap gelombang kenikmatan yang diciptakan oleh sentuhan tangan dan bibir Mira. Tidak butuh waktu lama sebelum tubuh Aira mulai bergetar hebat, merasakan klimaks yang mendekat. Dengan satu sentuhan terakhir yang tepat, Mira membawa Aira melewati ambang batas tersebut, membuatnya melenguh keras dan merasakan o*****e yang intens.
Mira tersenyum penuh kemenangan, melihat Aira yang terbaring lemas dan terengah-engah. Dia mencium lembut bibir Aira sekali lagi, memberikan ciuman penutup yang manis. "Ibu Aira, terima kasih sudah mengeluarkan suara manisnnya" bisik Mira dengan nada menggoda, membuat Aira merasakan kepuasan yang mendalam meski tubuhnya masih lelah.