Karina dan Yulianti melangkah keluar dari kantin, meninggalkan suasana bising di belakang mereka. Dengan langkah yang bersemangat namun sedikit cemas, mereka menuju ke halte taksi terdekat. Tak lama, taksi berwarna kuning yang sudah mereka panggil datang menghampiri, dan mereka segera menaiki mobil yang akan membawa mereka ke rumah Aira.
Di dalam taksi, suasana agak tenang, hanya diisi dengan suara mesin mobil dan sesekali percakapan singkat antara Karina dan Yulianti. Yulianti menatap ke luar jendela dengan tatapan penuh harap, sementara Karina duduk di sampingnya dengan ekspresi serius. Perjalanan menuju rumah Aira memakan waktu sekitar 30 menit, dan selama itu, suasana di dalam taksi dipenuhi dengan keheningan yang nyaman dan penuh perhatian.
Tak lama setelah mobil meninggalkan area kampus, mereka memasuki jalan-jalan kecil dan sempit yang membawa mereka ke area pemukiman yang lebih tenang. Pemandangan di luar jendela berganti dari gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan sibuk ke rumah-rumah bertingkat dengan halaman hijau yang rapi. Karina melihat Yulianti sekali lagi, mencoba mencari petunjuk tentang bagaimana Yulianti bisa mengetahui alamat rumah Aira.
Ketika taksi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sederhana namun elegan, Karina terkesima. Rumah itu memiliki halaman depan yang luas, dikelilingi oleh pagar besi yang rapi dan dipenuhi dengan berbagai jenis bunga berwarna-warni. Kebun bunga yang indah dan tertata dengan baik menambah kesan mewah dan damai pada rumah tersebut, memberikan nuansa yang kontras dengan kesederhanaan arsitektur rumah itu sendiri.
Yulianti turun dari taksi terlebih dahulu, diikuti oleh Karina. Karina memandang rumah Aira dengan tatapan yang campur aduk antara kekaguman dan ketidakpercayaan. "Ini rumah Ibu Aira?" tanyanya dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Aku tidak mengira dia tinggal di tempat yang begitu... menawan."
Yulianti tersenyum tipis, terlihat sedikit bangga. "Ya, aku sudah pernah melihatnya sebelumnya. Rumah ini memang sederhana, tapi halaman depannya membuatnya terlihat lebih mewah," jawab Yulianti sembari berjalan terlebih dahulu dengan cepat.
Karina dan Yulianti melangkah perlahan di sepanjang jalan setapak menuju rumah Aira. Karina tetap memandang dengan rasa kagum pada keindahan halaman depan rumah yang dipenuhi oleh bunga-bunga berwarna cerah, sementara Yulianti terlihat lebih cemas, matanya sesekali menatap ke arah Karina dengan rasa khawatir.
Mereka tiba di depan pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan desain yang sederhana namun elegan. Karina menyadari betapa tegangnya Yulianti. Gadis itu berdiri dengan kaku, tangannya terlihat menggenggam erat, dan matanya sedikit berlinang. Melihat kondisi Yulianti, Karina merasa sedikit terkejut; semangat dan kepercayaan diri Yulianti tampaknya lenyap begitu saja.
"Kenapa, Yulianti?" pikir Karina dengan senyum tipis di bibirnya. Dia merasa prihatin melihat perubahan tiba-tiba pada teman baiknya itu.
Dengan menarik napas dalam-dalam, Karina akhirnya menekan bel pintu. Suasana tenang sejenak berubah menjadi tegang. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, suara Aira terdengar melalui interkom, menanyakan siapa yang datang.
"Siapa ya?" tanya Aira dengan nada yang terdengar sedikit tidak sabar.
"Ah, Ibu Aira? Ini aku, Karina, dan Yulianti. Kami mau berkunjung karena Ibu mendadak sakit. Apakah Ibu tidak keberatan?" jawab Karina dengan nada yang penuh perhatian.
Setelah beberapa saat hening, Aira akhirnya menjawab, "Oh, tunggu sebentar ya!"
Yulianti terlihat menghela napas lega setelah Karina memberikan alasan yang tepat. Saat pintu akhirnya terbuka, Karina dan Yulianti kembali terkejut, kali ini dengan pemandangan yang tidak terduga. Aira berdiri di depan mereka tanpa hijab, mengenakan daster pendek berenda yang menonjolkan belahan payudaranya yang penuh dan paha mulusnya.
Daster seksi berenda itu memperlihatkan lekuk tubuh Aira dengan jelas, dan Karina tidak bisa menahan tatapannya. Wajahnya sedikit memerah saat dia mencoba menahan kekaguman dan rasa tidak nyaman.
"Ada apa, Karina, Yulianti? Wajah kalian terlihat memerah?" tanya Aira dengan penasaran, matanya berkelip-kelip penuh rasa ingin tahu.
Karina dengan cepat menggelengkan kepalanya, berusaha mengembalikan kesadaran diri. "I-Ibu Aira, terima kasih sudah menerima kunjungan kami. Kami hanya khawatir karena suara Ibu terdengar aneh saat kami menelepon."
Aira langsung tersenyum, meski wajahnya terlihat memerah. Dia masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi sebelumnya, dan dia merasa sedikit canggung. Dengan senyum kecut, Aira menjawab, "I-Iya, aku lagi sedikit tidak enak badan."
Sementara itu, Karina menyadari bahwa Aira sedang memperhatikan Yulianti yang berdiri dengan wajah memerah dan mimisan. "Apa Yulianti sedang sakit?" tanya Aira dengan nada cemas.
Karina, dengan cepat, menginjak sedikit kaki Yulianti untuk menyadarkannya. Yulianti, yang awalnya terdiam, kini kembali tersadar, namun tatapannya tetap terpaku pada Aira, tampak semakin gugup.
Setelah pintu terbuka, Aira mengundang Karina dan Yulianti untuk masuk ke rumahnya. Karina dan Yulianti melangkah masuk, dan mereka segera disambut dengan suasana rumah yang rapi dan elegan. Rumah itu memiliki interior yang indah dengan perabotan yang tertata dengan baik. Lantai kayu yang bersih berkilauan, sedangkan dindingnya dihiasi dengan lukisan dan foto-foto yang memperindah ruangan. Karpet yang lembut dan warna-warna cerah pada dekorasi memberikan kesan hangat dan nyaman.
"Silakan duduk di sofa sana," kata Aira sambil menunjuk sofa empuk yang berada di tengah ruang tamu. Sofa tersebut dikelilingi oleh meja kopi yang terbuat dari kaca dan beberapa meja samping yang dipenuhi dengan berbagai hiasan kecil yang menambah kesan manis pada ruangan.
Karina dan Yulianti duduk di sofa sambil mengagumi interior rumah Aira. Perabotan di ruang tamu terlihat sangat terawat dan bersih, menunjukkan betapa Aira sangat memperhatikan kebersihan dan keteraturan di rumahnya.
Tak lama setelah mereka duduk, Aira datang kembali dengan membawa minuman dan makanan ringan. Ada teh hangat dalam cangkir yang cantik dan beberapa kue kering yang diatur di atas piring. Aira duduk di sofa yang berada di depan mereka, membuat jarak yang cukup nyaman sehingga mereka bisa berbicara dengan mudah.
Aira tersenyum kepada Yulianti yang sejak awal tampak tidak bisa melepaskan tatapannya dari Aira. "Maaf ya kalau penampilanku sedikit seksi. Aku nyaman dengan pakaian yang agak terbuka di rumah," kata Aira dengan nada santai namun dengan sedikit rasa canggung.
Karina, yang merasa agak terbakar oleh ketidaknyamanan, mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya dan menjawab, "U-umm, tidak apa-apa kok, Ibu Aira." Dalam hati, Karina berpikir, "Pakaianmu terlalu seksi, Ibu Aira. Aku kesulitan fokus kemana."
Yulianti, meskipun masih tampak sedikit merah, mencoba ikut menanggapi dengan ramah, "I-iya, aku juga terkadang mengenakan beberapa daster imut yang terbuka di rumah, karena dingin dan sejuk."
Mendengar tanggapan Yulianti, Aira tersenyum lega. Dia merasa senang bahwa Yulianti memahami pilihannya dan tidak merasa terganggu. Mereka kemudian mulai berbincang-bincang santai tentang berbagai topik, tertawa dan menikmati makanan ringan yang telah disediakan.
Saat malam menjelang, Karina dan Yulianti menyadari bahwa waktu telah berlalu cukup cepat. Mereka memutuskan untuk pulang, tetapi Aira bersikeras agar mereka menginap semalam di rumahnya, mengingat malam yang sudah larut. Karina awalnya menolak tawaran Aira, merasa tidak nyaman untuk menginap begitu saja. Namun, Yulianti, tanpa ragu, menerima tawaran tersebut.
Karina merasa ragu, tetapi akhirnya memutuskan untuk mengikuti Yulianti. "Sudahlah, besok kami semua ada satu mata kuliah sore saja," pikir Karina. Dia merasa lebih nyaman jika bersama teman baiknya daripada pulang sendirian di malam hari.
Aira terlihat sangat senang dan berterima kasih atas keputusan mereka. Dia kemudian mengundang Karina dan Yulianti untuk membantu menyiapkan makan malam. Mereka semua bergerak ke dapur, yang juga tertata rapi dengan peralatan dapur yang lengkap.
Karina dan Yulianti dengan senang hati membantu Aira memasak. Mereka bersama-sama mempersiapkan bahan-bahan untuk sup daging. Karina memotong sayuran seperti wortel, kentang, dan seledri dengan hati-hati, sementara Yulianti mengolah daging dengan bantuan Aira. Aira sendiri sibuk menyiapkan bumbu dan mengaduk kaldu di atas kompor.
Suasana di dapur terasa hangat dan penuh keceriaan. Karina dan Yulianti belajar beberapa resep baru dari Aira sambil menikmati kebersamaan mereka. Aira dengan cermat mengajari mereka cara membuat sup daging yang lezat, memperlihatkan teknik-teknik sederhana namun efektif. Mereka tertawa, bercerita, dan berbagi kisah selama proses memasak, membuat suasana semakin akrab dan menyenangkan.