Aira masih terlihat sangat cemas, meski Karina bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja. Tatapan tajam Aira tertuju pada Karina, membuat gadis itu merasa sedikit panik. Namun, Aira kemudian tersenyum, berusaha menghilangkan ketegangan yang ada. Dengan lembut, ia menunjukkan dua set pakaian tidur yang berbeda kepada mereka.
"Ya sudahlah. Ini aku bawakan dua set pakaian tidur lamaku. Pilih sesuka hati kalian ya," kata Aira dengan nada lembut dan ramah. Karina dan Yulianti memandang pakaian tidur yang disodorkan Aira. Set pakaian tidur pertama adalah gaun tidur girly berwarna merah muda yang cerah. Gaun ini memiliki potongan empire dengan atasan yang menonjolkan lekuk bahu, dihiasi dengan renda putih di bagian leher dan lengan. Rok gaun tidur tersebut mengalir lembut hingga di atas lutut, memberi kesan romantis dan feminin. Terbuat dari bahan satin yang halus, gaun ini akan membuat pemakainya merasa nyaman dan elegan. Ada juga pita kecil yang terikat di bagian pinggang, menambah sentuhan manis pada gaun tersebut.
Set pakaian tidur kedua adalah piyama dua potong dengan motif bunga. Atasan piyama ini berupa kemeja lengan pendek dengan kerah berbentuk V dan kancing kecil di bagian depan. Motif bunga di kemeja ini berwarna biru muda dengan aksen bunga-bunga kecil berwarna putih, memberikan kesan segar dan ceria. Celana piyama-nya memiliki potongan longgar dengan pinggang elastis, memungkinkan gerakan yang bebas dan nyaman saat tidur.
Karina langsung mengambil set gaun tidur girly. "Aku pilih yang ini, terima kasih, Bu Aira," ucapnya sambil tersenyum. Ia merasa lebih nyaman dengan pakaian feminin seperti ini.
Yulianti, dengan sedikit ragu, mengambil set pakaian tidur dengan motif bunga. "Aku pilih yang ini, ya," katanya pelan, matanya masih memancarkan sedikit rasa malu.
Aira memastikan Karina dan Yulianti menerima pakaian tidur yang telah disiapkannya. Dengan senyum lembut, Aira berkata, "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu kalian di ruang tamu. Aku sudah membuatkan beberapa cemilan malam dan teh hangat."
Karina dan Yulianti tersenyum, mengangguk setuju. Aira pun meninggalkan mereka dengan perasaan lega dan hangat. Yulianti mendekap bajunya, lalu dia berkata dengan wajah memerah, "Aku akan mengenakan pakaian yang dulu dipakai Bu Aira..."
Karina tertawa kecil, lalu berkata, "Yulianti memang menyukai Bu Aira ya." Yulianti mengangguk dengan cepat. "Tentu saja! Setiap hari aku melihat sosok malaikat imut datang ke kelas kita mengajar, tentu saja aku menyukainya bukan? Lal-"
Karina menutup mulut Yulianti sembari berkata, "Iya-iya aku paham. Kita lebih baik pakai bajunya!" Setelah memastikan Yulianti sudah tenang, Karina melepaskan tangannya dari mulut Yulianti.
Yulianti, dengan sedikit canggung, mulai melepas handuk yang membalut tubuhnya. Kulitnya yang cerah dan tubuhnya yang mungil terlihat sedikit gemetar, mungkin karena rasa malu. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia mengambil pakaian dalam yang dipakainya sebelum mandi, lalu mengenakannya kembali. Setelah itu, Yulianti mengangkat piyama dua potong dengan motif bunga yang dipilihnya, dan mulai mengenakannya satu per satu. Ia mulai dari atasan kemeja lengan pendek, merapikan kerah berbentuk V di lehernya, lalu memasukkan kancing-kancing kecil di bagian depan. Kemudian, ia mengenakan celana piyama yang longgar dengan pinggang elastis, memastikan kenyamanan saat ia bergerak.
Sementara itu, Karina juga melepaskan handuk yang membalut tubuhnya. Tubuhnya yang atletis dan kencang terlihat sebentar sebelum ia dengan cekatan mengambil set sport bra dan celana dalamnya, mengenakannya dengan cepat dan tanpa ragu. Setelah memastikan semuanya pas dan nyaman, Karina mengambil gaun tidur girly berwarna merah muda yang telah dipilihnya. Ia memasukkan kepalanya melalui leher gaun tersebut, membiarkan bahan satin yang halus meluncur dengan lembut di kulitnya. Setelah memastikan lekuk bahu dan renda putih di bagian leher dan lengan terletak dengan sempurna, ia merapikan pita kecil yang terikat di bagian pinggang.
Keduanya kini mengenakan pakaian tidur yang dipilih, merasa nyaman dan siap untuk menikmati malam yang hangat bersama Aira di ruang tamu. Karina dan Yulianti saling tersenyum, merasa lebih dekat satu sama lain setelah momen ini, sebelum akhirnya berjalan keluar kamar menuju ruang tamu tempat Aira menunggu dengan cemilan malam dan teh hangat.
Sesampainya di ruang tamu, Karina dan Yulianti melihat Aira sudah menunggu kedatangan mereka dengan senyuman hangat. Aira duduk di sofa dengan sikap santai, namun perhatian, seperti seorang kakak yang peduli. Di hadapannya, sebuah meja kayu kecil telah diisi dengan berbagai macam makanan ringan dan teh hangat yang ia siapkan dengan penuh kasih.
Aira melambai ke arah mereka, "Ayo, sini, duduklah. Aku sudah siapkan sedikit cemilan untuk kita." Suaranya lembut dan ramah, menambah kehangatan suasana malam itu.
Di atas meja, terlihat beberapa jenis makanan ringan yang mengundang selera. Ada sepiring kue kering dengan berbagai bentuk dan rasa; ada kue kering berlapis cokelat dengan taburan kacang almond di atasnya, kue sagu keju yang renyah di setiap gigitan, dan nastar dengan selai nanas manis yang lembut di dalamnya. Tak hanya itu, terdapat juga sepiring pisang goreng yang masih hangat, dengan kulit luar yang renyah dan daging buah yang manis lembut di dalamnya, serta potongan roti bakar dengan selai stroberi yang dioleskan tebal di atasnya.
Di samping makanan ringan tersebut, Aira juga menyiapkan teh hangat dalam sebuah teko porselen putih dengan hiasan bunga-bunga di pinggirnya. Teh yang disajikan adalah teh chamomile, yang memberikan aroma bunga yang menenangkan. Uap hangat naik dari cangkir-cangkir yang sudah diisi, siap untuk dinikmati oleh mereka bertiga.
Karina dan Yulianti duduk di sofa di sebelah Aira, merasa nyaman dengan suasana yang diciptakan oleh wanita itu. Dengan tangan yang lincah, Aira menuangkan teh chamomile ke dalam cangkir mereka, sambil tersenyum hangat.
"Silakan dicoba. Aku harap kalian suka," kata Aira dengan nada yang lembut namun penuh perhatian. Karina dan Yulianti mengangguk sambil tersenyum, mereka segera meraih cangkir teh masing-masing dan menikmati rasa hangat yang menenangkan dari teh chamomile yang disajikan. Sambil menikmati teh hangat dan cemilan yang lezat, ketiganya mulai berbincang-bincang dengan hangat.
Waktu berjalan dengan cepat ketika mereka sedang asyik mengobrol banyak hal. Tawa dan canda mengalir deras, membahas berbagai topik mulai dari kehidupan sehari-hari, pengalaman lucu di sekolah, hingga cerita-cerita masa kecil yang menghangatkan suasana. Tidak terasa, malam semakin larut.
Aira menoleh ke jam dinding di dekat mereka, menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. "Sudah saatnya untuk tidur," katanya sambil tersenyum lembut. "Kalian berdua bisa menggunakan kamar kosong di dekat dapur, ya."
Karina mengangguk pelan, merasa sangat lelah setelah hari yang panjang. "Terima kasih, Bu Aira," ucapnya dengan suara lembut.
Yulianti, yang sudah mulai sedikit mengantuk, ikut mengangguk sambil tersenyum. "Iya, terima kasih banyak, Bu," tambahnya.
Aira bangkit dari sofa, lalu berjalan bersama Karina dan Yulianti menuju kamar kosong yang dimaksud. Dia membuka pintu kamar itu, memperlihatkan ruangan yang nyaman dengan dua tempat tidur yang sudah rapi. "Ini kamar kalian. Semoga nyaman dan bisa tidur nyenyak," kata Aira dengan nada penuh kasih.
Karina dan Yulianti melangkah masuk ke kamar yang telah disiapkan Aira, dan keduanya tak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka. Kamar itu sederhana namun sangat nyaman, dengan dinding berwarna krem lembut yang menenangkan. Dua tempat tidur kayu berukuran sedang terletak di kedua sisi ruangan, masing-masing dilengkapi dengan seprai putih bersih dan bantal-bantal empuk. Di antara tempat tidur, terdapat sebuah meja kecil dengan lampu tidur bergaya vintage yang memberikan pencahayaan hangat, menciptakan suasana yang damai.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah lemari kecil dengan cermin besar yang tergantung di atasnya, membuat ruangan terlihat lebih luas. Karpet berbulu lembut di lantai menambah kenyamanan kamar tersebut. Di samping lemari, ada sebuah jendela besar dengan tirai tipis yang memungkinkan cahaya bulan masuk, memberi sentuhan magis pada malam itu.
Aira tersenyum melihat reaksi mereka. "Aku senang kalian menyukai kamar ini," katanya lembut. "Baiklah, aku akan segera pergi ke kamarku. Jika kalian membutuhkan apa-apa, jangan ragu untuk memanggilku." Aira kemudian bersiap menutup pintu kamar, tapi tidak sebelum Yulianti menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Terima kasih ya, Bu," kata Yulianti dengan senyum yang tulus. Karina, yang sudah berbaring di tempat tidurnya, ikut mengucapkan hal yang sama. "Terima kasih banyak, Bu Aira."
Setelah mengucapkan selamat malam, Aira menutup pintu dengan hati-hati, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang nyaman. Yulianti duduk di kasur yang lain, matanya masih mengamati kamar itu dengan rasa syukur. Ruangan ini mengingatkannya pada masa-masa remaja, ketika ia sering menginap di rumah teman-temannya.
Karina, dengan senyum nakal, bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di kasurnya. Dia meraih bantalnya dan memeluknya dengan erat, lalu dengan semangat berkata, "Kita terlalu cepat untuk tidur, bukan? Bagaimana kalau kita melakukan girls talk?"
Yulianti tertawa kecil, sedikit terkejut dengan ajakan itu. "Karina, ini bukan seperti kita sedang berkemah loh," jawabnya sambil tersenyum, namun ada kilatan kegembiraan di matanya. Dia lalu mengikuti Karina dengan mendekap bantalnya juga, merasa ada kehangatan dan nostalgia yang muncul. "Umm... tapi tidak ada salahnya juga, bukan? Ini mengingatkanku pada saat masih SMA dulu."