Aira memiliki rahasia lain yang tidak diketahui oleh siapapun di kampus, bahkan rekan terdekatnya sekalipun. Dia adalah seorang streamer di salah satu media sosial yang cukup populer. Dengan nama samaran yang tidak terkait dengan identitas aslinya, Aira memiliki banyak penggemar dan pengikut setia yang selalu menunggu setiap siaran langsungnya. Setiap malam, Aira selalu live streaming, dan banyak pengunjung yang mengikutinya karena terkadang Aira memberikan "servis" sedikit kepada pengikutnya yang membayar sejumlah uang.
Demi kelancaran streaming, Aira menggunakan dua handphone. Satu handphone digunakan untuk merekam dirinya, sementara yang satu lagi digunakan untuk mengawasi komentar-komentar para pengikutnya. Aira meletakkan kedua handphone tersebut di tripod masing-masing yang menghadap ke arah kasurnya. Dengan cekatan, dia mengatur pengaturan live-nya dan memastikan semuanya siap.
"Baiklah, sebaiknya aku mandi dahulu. Aku sudah setting agar mulai jam 9 malam," gumam Aira kepada dirinya sendiri. Dengan gerakan yang lambat dan penuh sensualitas, Aira melepaskan bra yang membungkus payudaranya. Bra tersebut terlepas dari tubuhnya, memperlihatkan p******a besarnya yang menggoda. Dia kemudian menurunkan celana dalamnya, memperlihatkan bagian intimnya yang sempurna. Setiap gerakan yang dilakukannya terlihat seperti tarian yang indah dan menggoda, membuat siapapun yang melihatnya akan terpana.
Setelah telanjang sepenuhnya, Aira melangkah menuju kamar mandi tanpa mengenakan handuk, membiarkan tubuh indahnya terekam oleh kamera yang secara tidak sengaja telah mulai merekam. Aira tidak menyadari bahwa live streaming-nya telah dimulai secara otomatis, sehingga para pengikutnya bisa melihat tubuh telanjangnya dengan jelas. Komentar-komentar pengikutnya mulai berdatangan, mengagumi keindahan tubuh Aira yang sensual dan menggoda.
Aira pun memasuki kamar mandi dengan langkah anggun, tubuh telanjangnya memantulkan cahaya lampu kamar mandi yang lembut. Suara aliran air mengisi ruang kecil tersebut, menciptakan suasana yang tenang dan menenangkan. Aira membuka keran air dan merasakan dinginnya air menyentuh kulitnya, memberikan sensasi menyegarkan setelah seharian bekerja keras.
Dia mengambil sebotol sabun cair dengan aroma bunga yang menenangkan, menuangkan sedikit ke telapak tangannya. Dengan gerakan lambat dan penuh kelembutan, dia mulai menggosok sabun tersebut ke seluruh tubuhnya. Tangannya yang lembut membelai setiap inci kulitnya, membuat busa yang wangi menyelimuti tubuhnya yang mulus dan sempurna.
Aira mulai dari lehernya, mengusap sabun dengan lembut ke kulitnya yang halus. Tangannya bergerak perlahan, menuruni bahunya, kemudian ke lengan hingga ke ujung jarinya. Setiap gerakan tampak seperti tarian yang mempesona, menunjukkan keindahan dan kelembutan tubuhnya.
Dia kemudian menggosok sabun ke payudaranya yang besar dan montok. Dengan gerakan yang penuh perasaan, dia membelai payudaranya, membuat busa sabun menutupi setiap lekukannya. Sensasi sabun yang licin dan aroma bunga yang lembut membuat momen ini terasa begitu menggoda. Aira menutup matanya sejenak, menikmati setiap sentuhan yang memberikan sensasi relaksasi.
Tangannya melanjutkan perjalanan ke perutnya yang rata, mengusap sabun dengan lembut. Dia merasa tubuhnya semakin segar dan bersih. Aira kemudian menuruni pahanya yang indah, menggosok sabun dengan gerakan melingkar yang lembut. Kakinya yang panjang dan mulus menerima sentuhan sabun dengan anggun, membuat busa sabun menyelimuti kulitnya yang putih bersih.
Setelah memastikan setiap inci tubuhnya telah terkena sabun, Aira menghidupkan shower dan membiarkan air mengalir di atas tubuhnya. Dia merasakan air yang dingin membasuh busa sabun, membersihkan setiap sudut tubuhnya. Tangannya membantu air mengalir, menyapu busa sabun dari kulitnya yang halus. Rambut panjangnya yang hitam mengalir bersama air, menambah pesona dan kecantikan Aira yang sempurna.
Setelah membersihkan seluruh tubuhnya, Aira mematikan shower dan meraih handuk yang tergantung di dekatnya. Dengan gerakan anggun, dia mengeringkan tubuhnya yang basah, menyerap setiap tetes air yang masih menempel di kulitnya. Dia merasakan kelembutan handuk yang menyentuh kulitnya, memberikan sensasi hangat dan nyaman.
Aira menghela napas panjang, merasa segar dan bersih setelah mandi. Dia menggulung handuk di tubuhnya, menyelimuti lekuk tubuhnya yang indah. Dengan langkah yang ringan, Aira keluar dari kamar mandi.
Aira keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan bersih. Dia berjalan menuju kasurnya, handuk yang melilit tubuhnya perlahan dilepaskan dan diletakkan di atas kasur. Tanpa menyadari bahwa live streaming-nya telah dimulai, banyak komentar m***m bermunculan di layar handphone-nya yang merekam setiap gerakannya. Aira tidak menyadari hal ini dan tetap bersikap alami.
Dia bersenandung melantunkan lagu favoritnya, sebuah melodi lembut yang menambah suasana santai di kamarnya. Dengan rambut basah yang masih meneteskan air, Aira melangkah menuju lemari pakaian yang berada di sisi lain dari kamera, sehingga tidak terlihat di layar live streaming.
Aira membuka lemari pakaiannya, mata indahnya menyapu deretan pakaian dalam yang tertata rapi. Dia memilih satu set pakaian dalam yang cerah namun menggoda: sebuah bra renda berwarna merah muda pastel yang dihiasi dengan pola bunga-bunga kecil, dan celana dalam yang senada, dengan desain renda yang sama dan sedikit transparan di bagian pinggir.
Dengan penuh sensualitas, Aira mulai mengenakan pakaian dalamnya. Dia mengambil bra dan memegangnya di depan dadanya, lalu memasukkan satu lengan ke dalam salah satu tali dan kemudian lengan lainnya. Dengan gerakan yang anggun, dia menyesuaikan bra di dadanya, memastikan payudaranya tertopang dengan sempurna. Tangannya dengan cekatan mengaitkan kaitan bra di belakang punggungnya, merasakan bagaimana renda halus itu membalut kulitnya yang lembut.
Selanjutnya, Aira mengambil celana dalamnya dan dengan hati-hati memasukkan kakinya satu per satu ke dalam lubangnya. Dia menarik celana dalam itu perlahan, merasakan kain renda yang lembut menyentuh kulitnya. Ketika celana dalam itu sudah berada di pinggulnya, Aira menyesuaikannya agar pas dan nyaman, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.
Setiap gerakan Aira terlihat begitu alami dan sensual, membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona. Dia mengibaskan rambut basahnya ke belakang, memberikan kesan anggun dan memikat. Aira kemudian duduk di tepi kasur, merasakan kenyamanan dari pakaian dalam yang dipilihnya. Dia mengangkat kedua kakinya ke atas kasur dan berbaring dengan santai, memandangi langit-langit kamar sambil terus bersenandung.
Lima belas menit kemudian, Aira melirik jam di dinding. Sudah waktunya dia memulai live streaming-nya. Dengan cepat, dia mengenakan daster seksi yang telah dipilih sebelumnya. Daster tersebut berwarna merah marun dengan bahan satin yang mengkilap. Bagian atasnya berbentuk v-neck yang cukup rendah, memperlihatkan sebagian dari payudaranya yang menggoda. Bagian pinggangnya dilengkapi dengan tali yang bisa diikat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping. Sementara itu, bagian bawah daster hanya mencapai setengah paha, memperlihatkan kakinya yang panjang dan mulus.
Setelah mengenakan daster seksi tersebut, Aira segera memakai hijabnya. Hijab yang dipilihnya kali ini berwarna merah muda, senada dengan dasternya, yang menambah kesan anggun dan sensual. Aira memang terkenal dengan julukan "Jilboob" karena selalu tampil berhijab namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menggoda. Julukan tersebut tidak pernah mengganggunya; justru, dia merasa lebih percaya diri dan bangga dengan penampilannya yang modis dan menarik.
Setelah mempersiapkan semuanya, Aira duduk di depan kamera dan siap memulai live streaming-nya. Namun, saat melihat layar handphone-nya, dia terkejut melihat bahwa streaming-nya telah dimulai sekitar 20 menit yang lalu. Wajahnya langsung memerah padam saat membaca komentar-komentar dari para pengikutnya yang telah melihat semua gerakannya sejak dia selesai mandi.
"Wow, Rara terlihat sangat seksi malam ini!"
"Aku tidak percaya kita bisa melihat semuanya secara langsung!"
"Bajunya sangat cocok untukmu, Rara"
Aira merasa malu dan ingin segera mengakhiri live streaming-nya. Namun, matanya tertuju pada jumlah uang yang telah dikirimkan oleh para pengikutnya selama "servis" tidak sengajanya itu. Jumlahnya cukup besar dan membuat Aira berpikir ulang.
Dengan wajah yang masih sedikit merah, Aira menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk melanjutkan live streaming-nya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara.
"A-aku akan memulai livenya ya, guys, meskipun sudah dimulai sejak awal," kata Aira dengan suara yang sedikit gugup namun tetap terdengar lembut dan memikat.
Aira mulai menceritakan aktivitasnya hari itu. Ia berbagi pengalaman mengajar di universitas, menceritakan bagaimana para mahasiswa dan mahasiswinya bersemangat dalam kelas. Tak lupa, ia juga menceritakan kejadian-kejadian lucu dan menarik yang terjadi selama ia mengajar. Para pengikutnya tampak antusias, mereka berkomentar dengan cepat dan memberikan tanggapan positif.
"Ya, hari ini adalah hari yang cukup sibuk. Tapi aku sangat menikmatinya. Kalian tahu, mengajar adalah salah satu hal yang aku sukai. Melihat para mahasiswa bersemangat dan belajar dengan sungguh-sungguh membuatku merasa bahagia," kata Aira dengan senyuman manis yang selalu menghiasi wajahnya.
Ia juga berbagi cerita tentang aktivitasnya di akhir pekan, seperti hobinya memasak dan berolahraga. Aira merasa puas melihat jumlah pengikutnya terus bertambah, dan banyak dari mereka yang memberikan dukungan serta apresiasi.
Saat melihat daftar pengikutnya, Aira menyadari ada peningkatan jumlah pengikut perempuan. "Wah, sepertinya pengikut perempuan terus bertambah. Ini luar biasa," kata Aira dengan nada riang.
Setelah sekitar sepuluh menit berlalu, Aira membuka sesi pertanyaan. "Baiklah, guys, Rara akan membuka sesi pertanyaannya. Seperti biasa, kalian bisa memberikan saweran dengan permintaan khusus ya," ucapnya dengan nada menggoda.
Permintaan dan saweran mulai membanjiri chat room. Aira mencoba menjawab setiap pertanyaan dengan senyuman dan kesabaran, tetapi matanya tertarik pada satu nama yang familiar: Yulianti.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" pikir Aira sambil mencoba menyelidiki akun tersebut. Benar, Yulianti menggunakan foto dan nama aslinya. Aira merasa sedikit terkejut melihat salah satu mahasiswinya mengikuti live streaming-nya.
Yulianti mengirimkan pesan yang berisi, "Ibu sangat cantik. Terutama waktu ibu hanya mengenakan pakaian dalam saja dan akhirnya memamerkan tubuh polosan ibu. Karena aku puas, ada sedikit uang jajan."
Aira terkejut dan tidak menyangka bahwa Yulianti telah melihat "servis" tidak terduganya tadi. Dengan senyuman memikat, Aira mencoba tetap tenang dan profesional.
"Terima kasih ya, Yulianti," ucap Aira dengan senyuman ramah.
"Iya, sama-sama Bu Aira," balas Yulianti di chat room.
Seketika, semua komentar menyerbu dengan berbagai reaksi karena nama asli Aira tersebar di internet. Ada yang memberikan banyak uang dengan nomor ponsel pribadi, tidak terkecuali pengikut perempuan.
Aira merasa situasinya mulai di luar kendali. Dia pun akhirnya menceritakan semua informasi pribadinya dengan hati-hati, berharap bisa meredakan kegaduhan yang terjadi. Malam itu, Rara Loveu telah terbongkar identitas aslinya, Aira Rahmawati.
Dengan suara lembut namun tegas, Aira berkata, "Guys, karena sudah ketahuan, aku akan menjelaskan informasi pribadi ya. Nama asliku adalah Aira Rahmawati, dan aku adalah seorang dosen di Universitas X. Terima kasih untuk semua dukungan kalian. Aku harap kita bisa tetap saling menghormati dan menjaga privasi satu sama lain."
Aira pun mengakhiri live setelah menjawab semua pertanyaan, termasuk layanan khusus dari pengikut setianya. Dengan perasaan campur aduk, dia membaringkan tubuhnya di kasur. Aira melepas hijabnya dan menghela napas panjang. Ia tidak menduga bahwa nama aslinya terbongkar malam ini. Padahal selama ini, dia selalu menjaga informasi pribadinya dengan sangat hati-hati.
"Yulianti, apakah dia selama ini mengikuti live-ku? Ka-kalau begitu dia juga melihat layanan seksi di live-live-ku sebelumnya?!" pikir Aira. Wajahnya memerah padam, dia membenamkan wajahnya di guling sembari menjerit malu. Tidak lama kemudian, Aira menerima sebuah pesan w******p. Melihat nama Yulianti tertera di layar, wajah Aira semakin memerah padam.
"Dia pasti mengetahuinya ketika live tadi," pikir Aira dengan wajah masih memerah. Begitu dia membuka pesan tersebut, dia melihat Yulianti mengirimkan beberapa foto seksinya dengan daster seksi, tentunya mengenakan hijab.
Foto-foto Yulianti tampak menggoda. Dia mengenakan berbagai daster seksi dengan warna dan desain yang berbeda-beda, tetap mengenakan hijab yang senada. Di setiap foto, Yulianti tampak malu-malu namun penuh percaya diri, melakukan berbagai pose yang sensual dan menggoda. Dalam satu foto, Yulianti berdiri dengan satu tangan di pinggang, daster hijau emerald yang dikenakannya menonjolkan lekuk tubuhnya yang berisi. Paha dan p******a besarnya tampak jelas melalui kain tipis tersebut.
Pada foto lainnya, Yulianti berbaring di atas kasur dengan daster merah marun, satu tangan menyentuh hijabnya, sementara tangan lainnya diletakkan di atas payudaranya. Mata Yulianti menatap langsung ke kamera dengan tatapan menggoda, bibirnya sedikit terbuka seolah mengajak Aira untuk lebih dekat.
Aira menelan ludahnya sendiri, jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat foto terakhir. Dalam foto itu, Yulianti tidak mengenakan dasternya. Tubuhnya yang polos hanya ditutupi oleh hijab. p******a besar dan penuh tampak sempurna, dengan kulit putih bersih yang memantulkan cahaya lembut. Paha dan pinggulnya terlihat jelas, menambah kesan sensual yang menggoda.
Aira tidak menyangka bahwa Yulianti bisa seberani ini. Tubuhnya terasa panas dan wajahnya semakin merah. Dia menatap foto-foto itu dalam diam, merasakan perasaan yang campur aduk di dalam hatinya. Yulianti, yang terlihat begitu polos dan lugu di kampus, ternyata menyimpan sisi lain yang begitu menggoda dan sensual.