Yulianti terlihat sangat senang saat ajakan kencan dengan Aira bisa terwujud. Senyum lebar menghiasi wajahnya, matanya bersinar dengan antusiasme yang tak terbendung. Dia mengayunkan tangan ke depan dan ke belakang dengan semangat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah yang diimpikan. "Kalau begitu, aku akan memberitahukan tempat dan jam melalui nomor ibu Aira, boleh?" katanya penuh semangat, suaranya bergetar dengan kegembiraan yang tulus.
Aira hanya tersenyum kecil. Dia tidak menduga kalau Yulianti bisa sesenang itu, padahal dia tidak menerima cintanya ketika Yulianti menyatakan perasaannya kepada dirinya kemarin. Wajah Aira berusaha tetap tenang, tetapi ada sedikit ketegangan yang terlihat di sudut matanya. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban.
Setelah mengatakan itu, Yulianti memohon izin untuk keluar. Dia membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruang konseling. Langkahnya ringan dan penuh semangat, seperti orang yang baru saja menerima kabar baik.
Aira menghela napas pendek begitu Yulianti menghilang dari pandangannya. Pikirannya dipenuhi oleh kekacauan. Dia memang ceroboh, membiarkan identitas aslinya di chanelnya ketahuan oleh dua orang di kampus tempat dia mengajar. Rasa penyesalan dan cemas menggelayuti hatinya. Dengan langkah berat dan perasaan tak menentu, dia keluar dari ruang konseling, berharap bisa menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya.
Di lorong kampus, Aira berhenti sejenak. Dia menampar kedua pipinya dengan kuat sehingga dia meringis kesakitan sampai matanya berlinang. Setelah itu, dia melanjutkan jalannya untuk pergi ke ruang dosen untuk menikmati makan siangnya. Ketika dia sampai di ruang dosen, dia tidak melihat dosen-dosen lain selain Mira yang duduk di sebelah meja Aira. Mira menyadari kedatangannya, melambai dengan senyuman ramah. Aira masih teringat dengan kejadian tadi pagi, tubuhnya bereaksi setelah melihat Mira. "Tenangkan dirimu Aira! Ibu Mira melakukan itu hanya sesekali saja!" pikir Aira mencoba membuat dirinya tenang. Aira mengatur napas, lalu duduk di mejanya.
"Ibu Mira, apakah ibu tidak makan siang?" tanya Aira. Mira tersenyum, lalu dia kembali fokus ke komputer di depannya. "Hmm... sebentar lagi. Aku lagi ada urusan membuat soal-soal ujian mid-semester nanti," kata Mira.
"Ah benar, sebentar lagi mid-semester. Aku sudah membuatnya lebih awal sih," kata Aira sembari membuka bekal makan siangnya. Aira pun menikmati makanannya dengan nikmat.
Beberapa saat kemudian Mira berhenti mengetik, lalu dia terdiam sejenak. "Ibu Aira, malam ini mau ikut denganku ke suatu tempat?" ucap Mira tiba-tiba.
"Umm. Boleh kok. Mau kemana?" tanya Aira sembari tetap menikmati makanannya. Mira terkejut karena ajakannya langsung diterima, dia tersenyum, "Kalau begitu, sepulang mengajar. Kita langsung kesana ya?" Aira menganggukkan kepalanya, dia memang ingin sesekali pergi ke keluar untuk sedikit bersenang-senang. Dia sangat menantikan tempat seperti apa yang akan mereka kunjungi nanti.
Namun setelah sampai, Aira terdiam, dia tidak menyangka kalau tempat yang dimaksud oleh Mira adalah sebuah klub khusus perempuan saja, bernama Girls Paradise. Ini adalah pertama kalinya dia mengunjungi klub malam, dan pemandangan di sekitarnya sangat asing. Semua orang yang memasuki klub adalah perempuan, dan Aira merasa sedikit canggung melihat betapa berbeda suasana ini dari apa yang biasa dia alami.
Mira, yang sudah lebih berpengalaman dalam hal ini, berdiri di sampingnya dengan tenang. "Ayo, kita masuk," kata Mira sambil menggandeng tangan Aira. Langkah mereka terhenti sejenak ketika Aira menarik tangannya kembali.
"Se-sebentar, Ibu Mira. Apakah kita tidak apa-apa memasukinya?" tanya Aira dengan sedikit panik, matanya berkeliling melihat lingkungan sekitar yang ramai.
Mira memiringkan kepalanya, menyadari kekhawatiran Aira. Dengan lembut, Mira merangkul bahu Aira. "Ibu Aira, kita memang menggunakan hijab. Tapi itu tidak bisa membuat diri kita menolak untuk bersenang-senang, bukan?" katanya sambil tersenyum menenangkan.
Aira merasa ragu, tapi dorongan lembut dari Mira membuatnya mengumpulkan keberanian. Akhirnya, dengan sedikit bimbingan dari Mira, Aira setuju untuk melanjutkan langkah mereka.
Di depan pintu masuk klub, dua orang penjaga berdiri tegap dan tinggi dengan setelan rapi. Mereka menjaga agar hanya perempuan yang diizinkan masuk ke dalam klub tersebut. Aira menelan ludah, merasa gugup di bawah tatapan para penjaga, tetapi mereka tidak menghalangi jalan ketika Mira dan Aira mendekat.
Mira memberikan senyuman ramah kepada para penjaga dan menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih saat mereka membuka pintu untuk masuk. Aira mengikuti Mira, hatinya berdebar-debar saat mereka memasuki klub malam tersebut.
Begitu memasukinya, Aira disambut dengan musik yang diputar dengan suara keras. Di dance floor, banyak wanita dengan pakaian seksi sedang berjoget mengikuti irama musik yang diatur oleh DJ klub tersebut yang juga merupakan seorang perempuan. Lampu-lampu berwarna-warni berkedip-kedip, menciptakan suasana yang penuh energi dan semangat.
Aira merasa terkejut dan canggung melihat suasana di sekitarnya, tapi matanya tertarik pada beberapa perempuan berhijab yang juga ikut berjoget riang. "Ada juga yang berhijab juga ya..." pikir Aira dengan sedikit lega.
Mira mengajak Aira menuju ke sebuah bar yang terletak di salah satu sudut klub. Aira duduk di samping Mira dengan sedikit gugup, tangannya gemetar ringan saat dia meletakkan tasnya di meja. "Ibu Aira, kamu bisa minum bir?" tanya Mira dengan senyum ramah.
Aira belum pernah meminum minuman keras sebelumnya, tapi dia sudah lama penasaran seperti apa rasanya. Dia menggigit bibirnya sebentar sebelum berkata, "Bo-boleh. Aku mau yang sedikit lebih ringan ya..."
Mira tersenyum lagi, lalu dia memesan minuman kepada bartender. "Dua bir, satu Bintang Radler dengan kadar alkohol 2 persen untuk wanita ini, dan satu Guinness Draught dengan kadar alkohol 10 persen untukku," kata Mira dengan suara percaya diri.
Bartender yang sigap segera menyiapkan pesanan mereka. Bintang Radler yang dipesan untuk Aira adalah bir dengan kadar alkohol rendah, rasa lemon yang ringan dan segar, sementara Guinness Draught yang dipesan oleh Mira adalah bir hitam dengan rasa yang kuat dan kadar alkohol yang lebih tinggi.
Ketika minuman mereka tiba, Mira menyerahkan gelas bir kepada Aira. "Cobalah, jangan takut. Kalau tidak suka, kita bisa coba yang lain," katanya dengan nada menenangkan.
Aira memegang gelasnya dengan kedua tangan, lalu dengan hati-hati membawa gelas tersebut ke bibirnya dan menyesap sedikit. Rasa segar dan ringan dari Bintang Radler mengalir di lidahnya, dan dia merasa lega karena rasanya ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan.
Mira meminum birnya dengan tenang, lalu menoleh ke arah Aira, "Bagaimana rasanya? Tidak terlalu buruk kan?"
Aira tersenyum malu-malu. "Tidak, rasanya cukup enak. Terima kasih sudah mengajakku ke sini, Bu Mira," jawab Aira dengan perasaan sedikit lebih santai. Minuman yang dipesankan oleh Mira memang berkadar alkohol ringan, namun wajah Aira terlihat sudah mulai memerah karena reaksi alkoholnya muncul dengan cepat. Aira merasakan sedikit pusing di kepalanya, namun dia berkeinginan untuk menghabiskan segelas bir itu karena merasa tidak enak dengan Mira. Mira menyadari kalau Aira sudah mabuk, dia hanya tersenyum kecil, sembari menikmati musik dan birnya.
Setelah beberapa menit, Aira merasakan efek alkohol semakin kuat. Kepalanya mulai berputar, dan tubuhnya terasa lebih ringan. Meskipun merasa sedikit pusing, ada semangat aneh yang menyelimuti Aira. Mira, yang menyadari kondisi Aira, meletakkan gelasnya dan merangkul bahu Aira dengan lembut. "Ayo, Ibu Aira, kita bersenang-senang di dance floor," katanya dengan senyum menggoda.
Aira, yang merasa lebih berani dari sebelumnya, dengan cepat menerima ajakan Mira. Mereka berjalan menuju dance floor, di mana lampu-lampu berwarna-warni berkedip-kedip, menciptakan suasana yang penuh energi dan semangat. Musik yang berdentum keras memenuhi ruangan, membuat lantai terasa bergetar di bawah kaki mereka.
Begitu sampai di dance floor, Mira mulai bergerak mengikuti irama musik dengan lincah. Dia mengayunkan pinggulnya dengan percaya diri, tangannya bergerak bebas di udara. Aira, yang awalnya merasa canggung, mulai terbawa oleh semangat dan keberanian yang diberikan alkohol. Dia mencoba meniru gerakan Mira, meskipun sedikit goyah, tapi senyumnya semakin lebar.
Aira dan Mira berjoget dalam keadaan mabuk, tawa mereka menggema di antara dentuman musik. Aira merasakan kegembiraan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tubuhnya bergerak tanpa beban, mengikuti alunan musik dengan spontanitas yang tak terduga. Tangannya terangkat ke udara, matanya tertutup sejenak menikmati setiap ketukan musik yang menghentak di telinganya.
Mira, yang lebih berpengalaman, menggenggam tangan Aira dan memutar tubuhnya dengan penuh semangat. Aira tertawa lepas, merasakan putaran yang membuatnya semakin pusing tapi juga semakin gembira. Di tengah keramaian dance floor, mereka berdua menjadi pusat perhatian, dua perempuan berhijab yang menikmati malam mereka dengan cara yang berbeda dari biasanya.
"Ayo, Ibu Aira! Kita teruskan sampai puas!" seru Mira sambil menggoyangkan tubuhnya semakin energik. Aira, dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya, mengangguk setuju. Malam itu, mereka berdua menikmati kebebasan dan kegembiraan yang mungkin tak akan terlupakan.
Mira dan Aira keluar dari klub malam pada pukul 2 pagi. Langit malam yang gelap terasa lebih pekat dari biasanya, disertai dengan hembusan angin malam yang sejuk. Mereka berjalan pelan, dengan Mira merangkul Aira yang sudah mulai berbicara tidak jelas akibat pengaruh alkohol. Langkah Aira terhuyung-huyung, dan kata-katanya melantur, terkadang tidak berhubungan satu sama lain.
Mira, yang sudah terbiasa dengan dunia malam, tersenyum kecil melihat tingkah laku Aira. Saat mereka selesai berjoget, Aira mengejutkannya dengan memesan tiga gelas bir lagi yang sama seperti sebelumnya. Kini, Aira berada dalam keadaan mabuk berat, dan Mira tahu bahwa membawa Aira ke hotel terdekat adalah pilihan yang paling aman. Hotel tersebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari klub, sehingga mereka memutuskan untuk berjalan kaki.
Begitu mereka tiba di hotel, Mira dengan hati-hati membawa Aira ke kamar mereka. Pintu kamar terbuka dengan suara klik lembut, dan Mira membimbing Aira ke tempat tidur. Aira terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang tidak berdaya, matanya setengah terpejam dan napasnya berat. Mira duduk di sampingnya, mengamati wajah Aira yang tampak begitu polos saat tertidur dalam keadaan mabuk.