Sesampainya di rumah, Aira langsung memasuki kamarnya. Tanpa peduli pada keadaan sekitarnya, dia melemparkan tas sembarangan ke lantai dan membantingkan tubuhnya ke atas kasur. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, pikirannya dipenuhi oleh kejadian tadi malam.
"Kenapa aku melakukan itu dengan Ibu Mira hari ini ya..." gumamnya pelan, wajahnya memerah mengingat kembali semua yang terjadi. Tubuhnya masih mengingat sentuhan Mira, bagaimana tiap gerakan lidah dan tangan Mira meninggalkan jejak yang membara di kulitnya. Aira menduga kalau permintaan layanan Mira tadi pagi sudah selesai, namun dia tidak menyangka kalau di malam harinya, Mira menyentuhnya tanpa izin. Keadaan mabuk berat membuatnya tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi karena efek alkohol, tetapi dia tetap merasa bahwa Mira seharusnya meminta izin dulu.
"Tapi tetap saja, seharusnya dia izin dulu kan?" pikir Aira sembari memegang kedua payudaranya. Tangannya memijat lembut, merasakan sensitivitas yang meningkat. Meski begitu, tidak ada kepuasan yang dia rasakan. Selama ini, Aira sering bermasturbasi baik saat live streaming maupun di waktu senggangnya, tetapi tak pernah ada kepuasan yang benar-benar dia dapatkan sendirian.
Aira teringat betapa berbeda rasanya saat disentuh oleh orang lain dibandingkan saat dia melakukannya sendiri. Pikirannya kembali ke malam itu, bagaimana setiap desahan dan erangan keluar tanpa bisa dia kendalikan. Tubuhnya merespons sentuhan Mira dengan begitu alami dan intens, sesuatu yang tidak bisa dia ciptakan sendirian.
Pikiran ini membuatnya merasa bingung dan frustasi. Di satu sisi, dia merasa marah dan kecewa karena Mira tidak meminta izin terlebih dahulu. Di sisi lain, dia tidak bisa menyangkal bahwa tubuhnya merindukan sensasi yang ditimbulkan oleh sentuhan Mira.
Aira masih merasakan tubuhnya terasa sangat lelah, akhirnya dia memutuskan untuk istirahat sejenak. Di kampus, Yulianti dan Karina sedang makan siang di kantin. Karina menyantap bekal buatannya sendiri dengan senang sedangkan Yulianti terlihat tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Sesekali dia menghela napas pendek, lalu memandang handphonenya yang terpampang nomor Aira. Karina merasa cemas, lalu dia mengambil handphone Yulianti.
"Karina? Kamu sedang apa?" Panik Yulianti melihat Karina memandang handphonenya dengan wajah datar. Lalu dia dengan cepat menekan sesuatu dan menunjukannya kepada Yulianti. Wajahnya langsung memucat, "Karina? Kenapa kamu memanggil ibu Aira sih?"
Karina menyerahkan handphonenya kembali lalu melanjutkan makannya. Tidak lama kemudian suara yang dia rindu akhirnya muncul, "A-ada apa Yulianti?" Yulianti langsung tersipu malu, "I-ibu kenapa tidak masuk ke kelas pagi ini?" tanyanya.
"Ngh... ah! I-ibu lagi sedang tidak bisa datang hari ini.." ucap Aira dengan nada yang aneh. Yulianti merasa cemas karena mendengar Aira yang sepertinya bersuara aneh, kemudian suara beralih ke suara yang dia kenal, itu adalah Mira.
"Ah, Yulianti? Maaf, Ibu Aira sedang tidak bisa menjawab teleponmu, jadi bye," kata Mira sembari mengakhiri panggilan. Yulianti masih tidak memahami apa yang sedang terjadi, dia belum sempat menanyakan kenapa Mira bisa berada disana karena dengan cepat panggilannya diakhiri.
Sementara itu di dalam kamar, Aira sedang terbaring lemas dalam keadaan telanjang bulat dengan keringat dan napas berat serta wajah memerah, di atasnya terlihat Mira juga sedang dalam keadaan telanjang. Mira meletakkan kembali handphone di meja dekat kasur, lalu dia meremas p******a Aira sembari mencium Aira dengan nafsu.
Ciuman Mira dimulai dengan lembut, bibirnya menyapu perlahan di sepanjang bibir Aira, memberi sensasi yang menggigilkan. Namun, tak butuh waktu lama sebelum ciumannya berubah menjadi lebih dalam dan menuntut. Lidahnya dengan mahir menjelajahi mulut Aira, mengajak lidah Aira menari bersamanya. Setiap desahan yang keluar dari bibir Aira hanya membuat Mira semakin bernafsu.
Tangannya tidak tinggal diam, dengan penuh hasrat dia meremas p******a Aira, jari-jarinya dengan lembut tetapi tegas menggenggam, memijat, dan merasakan setiap lekuk dan tonjolan. Mira menikmati bagaimana tubuh Aira merespons sentuhannya, setiap erangan dan lenguhan yang keluar dari mulut Aira memberikan dorongan lebih baginya untuk melanjutkan. Sentuhan Mira menciptakan gelombang kenikmatan yang mengguncang tubuh Aira, membuatnya menggeliat dan bergetar di bawah Mira.
Dengan ciuman yang semakin mendalam dan tangan yang tidak henti-hentinya mengeksplorasi, Mira memastikan bahwa Aira merasa puas dengan permainannya.
Mira melepaskan ciumannya, lalu dia berkata, "Tidak sopan menerima telepon ketika kita sedang ngeseks loh."
"Habisnya.... Ngh!!" Aira tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena kini tangan kanan Mira mengelus vaginanya yang sudah sangat basah. Mira memainkan v****a Aira sembari meremas p******a lain Aira.
Dengan sentuhan yang penuh keahlian, jari-jari Mira perlahan menyusuri sepanjang lipatan basah di antara kaki Aira. Jari tengahnya menggesek lembut k******s Aira, memberikan rangsangan yang membuat Aira melenguh keras. Setiap gesekan yang dilakukan Mira menciptakan sensasi yang mengguncang tubuh Aira, membuatnya menggeliat dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Mira melanjutkan dengan gerakan melingkar yang lambat dan penuh intensi, meningkatkan kecepatan dan tekanan secara perlahan. Sementara tangan kanannya fokus pada v****a Aira, tangan kirinya tidak tinggal diam. Jari-jarinya meremas dan memijat p******a Aira dengan tegas, menggenggam setiap lekuk dan tonjolan dengan sempurna. Jempolnya menggoda p****g Aira, memutarnya dengan gerakan lembut yang membuatnya semakin tegang.
Desahan dan lenguhan keluar dari mulut Aira tanpa kendali, tubuhnya merespons setiap sentuhan dengan begitu alami. Gerakan jari-jari Mira semakin cepat, intensitasnya meningkat, membuat Aira merasa seperti berada di ambang batas kenikmatan. Mira memperhatikan reaksi Aira dengan seksama, memastikan setiap sentuhannya membawa Aira semakin dekat ke puncak kepuasan.
Tubuh Aira menggeliat dan bergetar di bawah Mira, merasakan setiap gelombang kenikmatan yang diciptakan oleh sentuhan tangan dan bibir Mira. Tidak butuh waktu lama sebelum tubuh Aira mulai bergetar hebat, merasakan klimaks yang mendekat. Dengan satu sentuhan terakhir yang tepat, Mira membawa Aira melewati ambang batas tersebut, membuatnya melenguh keras dan merasakan o*****e yang intens.
Mira tersenyum penuh kemenangan, melihat Aira yang terbaring lemas dan terengah-engah. Dia mencium lembut bibir Aira sekali lagi, memberikan ciuman penutup yang manis. "Ibu Aira, terima kasih sudah mengeluarkan suara manisnnya" bisik Mira dengan nada menggoda, membuat Aira merasakan kepuasan yang mendalam meski tubuhnya masih lelah.
kenapa Mira bisa berada di dalam kamar Aira? semua itu dimulai ketika Aira selesai mandi dan bersiap untuk menyiapkan makan siang.
Aira berdiri di depan cermin kamar mandinya, mengamati refleksi dirinya. Kulitnya tampak mulus dan berkilau, hasil perawatan yang rutin dia lakukan. Dia mengenakan pakaian santai berupa tank top berwarna putih yang ketat, menampilkan lekuk payudaranya yang besar dan penuh. Celana pendek yang dia kenakan begitu mini, memperlihatkan paha dan pantatnya yang semok. Setiap gerakannya membuat kain tipis itu menempel erat pada kulitnya, menonjolkan setiap kurva tubuhnya yang menggoda.
Aira berjalan keluar dari kamar mandi menuju dapur, siap untuk menyiapkan makan siang. Namun, saat dia melangkah ke ruang tengah, pintu depan rumahnya terbuka pelan. Dia terkejut melihat sosok Mira berdiri di ambang pintu, membawa sebungkus makanan.
Aira merasa sangat malu karena Mira melihatnya dalam pakaian santai seperti ini. Dia buru-buru menutupi payudaranya dengan kedua tangannya, meskipun itu justru menambah kesan sensual di mata Mira.
Mira mengenakan setelan gamis berwarna hitam yang anggun, lengkap dengan hijab senada yang menutupi rambutnya dengan sempurna. Meskipun tampil tertutup, Aira selalu mengagumi betapa seksinya tubuh Mira. Bahkan, ketika hanya mengenakan pakaian dalam saja, Mira masih mampu memancarkan aura yang menggoda.
Wajah Mira menunjukkan fokus yang intens pada pakaian santai Aira. Pakaian yang dikenakan Aira terlihat jauh lebih cantik dan menggoda di mata Mira, menampilkan lekuk tubuh yang sempurna.
"Assalamualaikum Bu Aira," sapa Mira dengan senyum tipis. "Aku dari tadi mengetuk pintu namun kamu tidak memberikan jawaban, jadi aku mencoba masuk dan ternyata pintunya tidak terkunci loh."
Aira mengembungkan pipinya dengan ekspresi kesal, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. "Tapi tetap saja, kamu tidak boleh memasuki rumah orang seenaknya dong," katanya dengan nada protes.
Mira tertawa kecil, mendekati Aira dengan langkah perlahan. "Maafkan aku, Aira. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya khawatir karena tidak ada jawaban dari dalam rumah," ucapnya lembut sambil menatap mata Aira dengan penuh perhatian.
Aira merasa tubuhnya semakin tegang di bawah tatapan Mira. Dia mencoba tetap tegar, meskipun hatinya berdebar kencang. "Tidak apa-apa, hanya saja lain kali beri tahu dulu kalau mau masuk," balas Aira dengan suara yang bergetar sedikit.
Mira mengangguk, lalu mengangkat bungkusan makanan yang dibawanya. "Aku membawakan makanan untukmu. Kuharap kamu suka," katanya sambil menyodorkan bungkusan itu.
Aira melepaskan dekapan payudaranya dan menerima bungkusan itu. Namun, dia menyadari kalau mata Mira menatap m***m tepat ke payudaranya. Terlebih lagi, atasan yang dikenakan Aira cukup longgar sehingga memperlihatkan payudaranya serta putingnya dari celah atasannya, karena Aira tidak mengenakan bra sama sekali. Mira memegang bahu Aira, lalu berbisik, "Gawat Bu Aira, kamu terlalu seksi, bawa aku ke kamarmu."
Aira langsung menyetujuinya, tubuhnya juga mulai bereaksi ketika Mira datang. Dengan langkah pelan, dia membimbing Mira ke kamarnya setelah meletakkan bungkusan makanannya di atas meja. Sesampainya di dalam, Mira langsung menyerang bibir Aira sembari meremas p******a kanannya. Aira mendesah pendek, berusaha menahan desahannya semampu yang dia mampu. Namun, ciuman serta remasan Mira membuat tubuh Aira semakin merasakan sensasi nikmat, seolah-olah tubuhnya sendiri sudah menanti sentuhan dari Mira.
Ciuman Mira semakin mendalam, bibirnya bergerak dengan gairah yang tak terbendung. Lidahnya menyapu lembut di sepanjang bibir Aira sebelum masuk lebih dalam, mengajak lidah Aira menari bersamanya. Setiap sentuhan dan gesekan menciptakan sensasi yang mengguncang tubuh Aira, membuatnya menggeliat dengan kenikmatan yang luar biasa.
Tangan Mira tidak tinggal diam, bergerak dengan keahlian yang mematikan. Remasan pada p******a kanan Aira semakin kuat, jari-jarinya bermain-main dengan p****g yang mulai menegang. Mira menikmati setiap erangan dan lenguhan yang keluar dari mulut Aira, memberikan dorongan lebih baginya untuk melanjutkan.
Aira merasa tubuhnya terbakar oleh gairah yang semakin meningkat. Sentuhan Mira pada payudaranya menciptakan gelombang kenikmatan yang mengguncang tubuhnya, membuatnya menggeliat dan bergetar. Setiap desahan yang keluar dari bibirnya hanya membuat Mira semakin bernafsu, merangsang Aira dengan ciuman yang semakin mendalam dan tangan yang semakin ganas.