Gadis kecil berseragam putih hijau dengan hijab putih itu, terbelalak ketika sebuah sepeda motor bergerak semakin dekat ke arahnya. Tidak tahu apa yang kemudian terjadi, tiba-tiba saja tubuhnya seperti diterjang sesuatu dan ia mendarat di atas aspal dalam dekapan seseorang.
"Dik, lo, engga apa-apa, kan?"
Gadis kecil tadi berusaha segera duduk agar lepas dari pelukan seorang yang tidak dikenalnya. Rasa terkejut dan takut membuat tubuhnya masih gemetar, namun senyum manis dan tulus si pria yang menolongnya membuat ia merasa sedikit tenteram.
Seorang ibu dengan wajah pucat berlari mendekat. Segera memeluk erat si gadis kecil. Sementara pria yang menolongnya sudah berdiri sambil mengibaskan tangannya pada baju dan celana panjang yang kotor terkena debu jalan.
Ia mengenakan seragam putih abu-abu. Kemeja di bagian lengan kanannya robek cukup besar karena tergores keras di atas aspal saat menahan kepala si gadis kecil, agar tidak terbentur trotoar jalan.
"Nak, terima kasih banyak, kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi dengan putri saya," ujar ibu muda itu sambil mengeratkan pelukan pada putrinya yang masih duduk di bangku kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan mata si gadis kecil memerhatikan lengan baju yang terkoyak milik pria penyelamatnya.
Terlihat goresan luka memar akibat terbentur aspal barusan. Di bagian lengan atas ada sebuah gambar seperti bunga atau ranting. Entahlah, si gadis kecil tidak bisa melihatnya dengan jelas, ia pun tidak mengerti, mengapa pria itu mengotori kulit lengannya yang putih bersih dengan coretan spidol. Pikirnya lugu.
"Bim, lo, engga apa-apa?" seorang gadis cantik setengah berlari mendekati mereka. Wajahnya cemas dan langsung melingkarkan tangan di lengan kiri pria muda itu, sehingga ia tidak melihat baju yang robek serta luka gores pada bagian lengan lain.
Kemudian mereka berpisah, setelah si ibu muda kembali mengucapkan rasa terima kasih mendalam, serta memberi salam. Si pria menjawab salam, masih dengan senyum manisnya, sambil mengangguk sopan, dan melirik ke arah gadis kecil yang tadi ditolongnya.
Manis banget sih kamu, Dik, sayangnya masih anak SD, kalau engga, uda gue minta alamat rumah, biar gue bisa dateng buat PDKT, ujar si pria dalam hati. Namun, gadis cantik yang baru datang tadi segera menariknya menjauh.
Setelah beberapa langkah, si gadis kecil menoleh ke belakang, bertepatan pria berseragam abu-abu itu juga menoleh. Dengan jahil ia mengedipkan sebelah matanya, membuat si gadis kecil tentu saja ketakutan. Ia segera berpaling sambil berjalan merapatkan diri pada sang ibu.
Abimayu malah tersenyum jahil, melihat ekspresi gadis kecil yang baru ditolongnya tadi, sampai ia tidak menyadari, gadis cantik yang merupakan kekasihnya, melirik heran dan curiga.