Di jam istirahat makan siang, anak-anak Luxury berkumpul di kantin seperti biasa.
"A-apa yang lo lakukan?!" bentak Celine dan reflek menampar Xander dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipinya yang putih.
"Sialan lo! Lo nampar gue, jalang?" bentak Xander tidak kalah kerasnya. Keributan itu membuat seluruh siswa yang ada di kantin melihat ke arah meja tempat mereka duduk.
"Lo yang sialan! Kenapa lo remas p******a gue?" Celine kembali membentak dengan marah. Wajahnya yang putih kini berubah menjadi merah padam.
Xander tertawa sinis, "Gue bahkan sudah memegang seluruh badan lo ... bahkan gue sudah bermain-main dengan lobang kewanitaan lo itu, jalang!" balas Xander, kali ini ia berbisik pelan ke telinga Celine tapi masih dapat terdengar di telinga beberapa anak Luxury.
"Kurang ajar!" tangan Celine siap menampar Xander lagi, tapi ditahan oleh Arnold yang baru tiba bersama Alvian.
"Calm Down, baby!" ucap Arnold lalu menarik Celine keluar dari kantin diikuti oleh anak-anak Luxury yang lainnya. Maggie, Eilen, dan Vania yang baru masuk ke kantin bingung melihat keributan yang tengah terjadi itu.
**°HighSchool°**
Luxury tiba di sebuah ruangan khusus yang disediakan untuk mereka. Arnold menghempaskan tangan Celine secara kasar. Di sisi lain, Ella berjalan mendekati Xander.
"Melakukan hal ini ..." Ella berucap sembari memegang bagian intim milik Xander, "Sudah jadi candaan biasa di Luxury. Lo nggak usah, berlagak suci setelah apa yang sudah lo lakukan semalam!"
"Gue bahkan tidak ingat apa-apa soal kejadiam semalam!" balas Celine terlihat kesal.
"Harusnya dari awal lo tidak perlu minta untuk bergabung, kalau lo nggak suka dengan candaan seperti itu! Ini adalah candaan biasa bagi mereka. Harusnya lo tau itu!" Alvian berucap dengan raut wajah dan nada suara terdengar sangat dingin di telinga Celine, membuat gadis itu merinding mendengar ucapannya.
"Celine ... Celine ... lo sendiri kemarin yang datang ke kita, memohon untuk bergabung sama kita, tapi lo nggak tau aturan main kita?" Quenzy ikut menimpali.
"Lo belum tau apa-apa tentang Luxury, tapi berani minta join? Hebat juga nyali lo, salut gue!" celetuk Gavin.
"Celine sayang, ini bukan geng lama lo. Jadi, please .., jangan norak gitu!" ucap Vallerie.
"Lalu ... kenapa perlakuan berbeda kalian berikan pada Alvian? Kalian bahkan tidak pernah menyentuh dia. Dia bebas datang atau tidak di setiap pertemuan yang kalian adakan," geram Celine menatap tajam Alvian.
"Semalam, juga dia tidak ada, kan? Kenapa kalian tidak menghakimi dia juga?" tanya Celine lagi.
"Apa hubungannya perbuatan lo ini dengan Alvian?" Vallerie bertanya curiga pada maksud perkataan Celine.
"Lo nggak berpikir, menyamakan diri lo dengan Alvian, kan? Lo siapa? Alvian siapa? " tanya Farel diiringi tawa anak-anak Luxury.
"Kenapa lo jadi bawa-bawa gue? Lo mau menyentuh gue? Apa semalam lo kecewa karena gue nggak ikut party penyambutan lo? " tanya balik Alvian, "Apa karena ini ... alasan lo join ke Luxury?"
Tawa semakin menggelegar mengisi ruangan ketika mereka mendengar penuturan Alvian. Celine semakin terpojok. Dia merutuki dirinya sendiri karena kekesalannya pada Alvian, dia justru membahas hal yang tidak ada hubungannya.
"Celine sayang ..," panggil Anna seraya mendekat ke arah gadis yang saat ini tengah menahan amarahnya.
"Lo harusnya berpikir, sebelum datang ke kami dan meminta untuk bergabung," Anna mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Oke! Gue akuin, dulu gue sangat menginginkan lo menjadi bagian dari kami, tapi itu setahun yang lalu dan lo sudah berkali-kali menolaknya, bukan?"
Ia berucap dengan lembut dan tersenyum ramah menatap wajah Celine yang masih memerah.
"Seharusnya, lo cari tau dulu tentang kita sebelum memutuskan datang dan memohon pada kita. Karena ketika lo bergabung, maka bibir lo, p******a lo, bahkan ini ..," Anna mengelus kelamin Celine dari balik roknya, "Semuanya, bebas kami sentuh ... tanpa terkecuali!"
Celine terlihat ingin marah, tetapi ia tetap diam menatap Anna yang masih berbicara lembut padanya.
"Tubuh lo, tidak hanya milik satu orang ketika lo menjadi bagian Luxury, itu aturan utamanya. Lalu, lo bertanya kenapa Alvian tidak tersentuh?" Anna menatap Alvian sejenak lalu kembali menatap Celine.
"Karena popularitas dia jauh diatas kita, jadi dia bebas memilih apa yang boleh dan tidak boleh dilakuan padanya. Itu hak istimewa Alvian dan aturan Luxury bagi mereka yang berada di tingkat pertama popularitas!" jelas Anna.
"Tapi, karena gue leader yang penuh pengertian, jadi gue maklumin sikap lo hari ini. Dan ... kalau lo merasa ini tidak adil ... karena lo member baru kami, jadi mari kita lakukan pengujian kepopuleran antara lo dan Alvian. Jika lo menang, lo berhak memiliki hak istimewa Alvian, gimana?"
"O-oke," Celine menjawab sedikit ragu. Tetapi, ia yakin kepopulerannya tidak akan jauh berbeda dari Alvian karena ia merupakan anggota OSIS yang paling populer sebelum bergabung dengan Luxury.
"Jika lo kalah, lo harus tunduk pada apapun yang gue perintahkan!" tantang Anna.
"Apa?!" Celine terkejut dengan pernyataan tersebut. Sementara, anak-anak lain menatap Celine dengan senyuman tersembunyi di wajah mereka.
"Kalau lo nggak mau, juga tidak masalah. Lo bisa tinggalkan Luxury dan kembali bersama kawanan lo yang culun ... yang sekarang sudah menjadi angsa," ucap Anna dengan nada mengejek.
"But, lo dan teman-teman lo itu akan menjadi target X kami! Lo pasti mengerti maksud gue, iyakan ... Celine sayang?" Celine menatap tidak percaya pada Anna, dengan kata-kata lembut yang ia berikan sejak tadi ... ternyata itu hanya jebakan untuk Celine.
Sementara Alvian menatap dingin pada Celine. Perasaannya campur aduk, entah apa yang harus ia lakukan sekarang, 'Sial! Gara-gara perempuan ini, Maggie mungkin akan dalam masalah!' batinnya.
**°HighSchool°**
Meski bingung, Maggie dan teman-temannya tetap melanjutkan membeli makanan untuk mereka santap.
"Menurut kalian, apa yang terjadi? Kenapa Celine ditarik keluar begitu? Apa mungkin dia mengalami perundungan di Luxury?" tanya Vania.
"Udah deh, nggak usah dibahas! Gak penting!" jawab Eilen.
"Tapi, Len .., tadi pagi Celine menghubungi gue, dia terdengar meminta tolong gitu, terus nggak lama telponnya mati ..," cerita Maggie pada kedua sahabatnya itu.
"Pantesan lo khawatir gitu sama dia sejak pagi. Tapi, gue yakin sih, dia cuma mau ngerjain lo doang, biar lo nggak fokus belajarnya. Buktinya dia baik-baik aja, kan?" ucap Eilen.
Sebenarnya, Eilen juga khawatir tetapi ia memilih mengabaikan perasaannya karena masih kesal dengan perilaku Celine.
"Tapi, gimana kalau dia emang lagi ada masalah, Len?" tanya Maggie lagi.
"Dengar ya, sayang-sayangku! Tidak terjadi apa-apa padanya. Dia aja masih bisa ngebentak lo, iya kan?" jelas Eilen.
"Lagian bisa aja tadi itu, Celine melakukan kesalahan terus ditegur sama Arnold," terkanya Eilen lagi, "Pokoknya ... kita nggak perlu bahas dia lagi! Dia bukan bagian dari kita ... dan dia sendiri yang memilih jalan itu."
Eilen mencoba meyakinkan Maggie dan Vania, yang masih terlihat ragu dan bingung. Meskipun begitu, Maggie memilih diam karena tidak ingin memperkeruh suasana.
Tidak lama berselang, muncul notifikasi yang membuat anak-anak Cleverity menjadi heboh. Maggie, Eilen, dan Vania juga menerima notifikasi itu melalui ponsel mereka.
Sebuah notifikasi dari grup anak-anak SMA Cleverity, menampilkan pengumuman yang wajib diikuti oleh setiap siswa-siswi.
"Pemilihan popularitas? Luxury?" bingung Vania.
"Celine atau Alvian? Sepertinya mereka mencari pemimpin baru," ejek Eilen.
"Tiba-tiba gitu?" Maggie menatap Eilen, raut wajahnya seakan meminta penjelasan.
"Huft! Bisa saja karena ada anggota baru mereka ingin mengganti suasana. Tidak perlu terlalu khawatir gitu, Gie! Sekarang .., kenapa jadi lo sih, yang panikan?" kesal Eilen dan disetujui oleh Vania.
"G-gue ... hanya merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi," Eilen dan Vania menatap Maggie. Mereka terlihat khawatir, tetapi memilih untuk mengabaikan perasaan Maggie.
"By the way, kalian pilih siapa?" tanya Vania.
"Gue akan vote Alvian!" jawab Eilen sembari menunjukkan layar ponselnya yang telah memilih Alvian.
Vania yang ragu kembali bertanya, "Kenapa?"
"Gue nggak mau aja, Celine menang," ucap Eilen sembari menyendok seblak terakhir ke mulutnya. Ia lalu berdiri dari duduknya.
"Lo mau kemana?" tanya Maggie.
"Balik kelas, seblak gue sudah habis," ucap Eilen lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Gue masih bingung ... lo vote siapa, Gie?" tanya Vania.
"Gue juga nggak tau," Maggie menjawab sembari melihat kembali layar ponselnya.
Tiba-tiba muncul notifikasi lain, membuat gadis itu buru-buru pergi meninggalkan Vania.
"Gie, lo mau kemana?"
**°HighSchool°**