Pagi setelah malam pertama, Aira bangun duluan. Cahaya matahari Jakarta sudah menyusup lewat tirai tipis suite hotel, menerangi kelopak mawar yang sudah agak layu di atas bed. Reyhan masih tidur pulas di sebelahnya, satu tangan melingkar di pinggang Aira, mulutnya sedikit terbuka, ngorok pelan.
Aira tersenyum kecil sambil pelan-pelan lepas tangan Reyhan. Dia bangun, pakai yukata hotel lagi, lalu buka kulkas mini—ada dua botol air dingin dan sekotak cokelat complimentary. Dia ambil satu, duduk di sofa sambil scroll HP. Notifikasi WA numpuk: ucapan selamat dari teman-teman, foto-foto resepsi kemarin malam dari Lana yang captionnya “Cantik banget pengantinku!!!”, dan satu pesan dari Salsa: “Gimana malam pertamanya, dek? Semoga lancar ya hehe.”
Aira langsung merah mukanya, buru-buru balas: “Kak! Biasa aja. Kami capek banget kemarin.”
Jam 10 pagi mereka check-out. Mobil Reyhan sudah penuh barang dari bagasi belakang: dua koper besar punya Aira (salah satunya isinya sepatu dan tas), satu kardus peralatan dapur dari Mama Reyhan, dan beberapa tas kresek berisi baju ganti. Mereka nggak langsung pulang ke rumah orang tua—hari ini jadwal pindah ke apartemen sewaan mereka di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Apartemen itu satu kamar tidur, luas 36 meter persegi, lantai 12, view menghadap kolam renang kecil komplek. Sewanya 4,5 juta per bulan—sudah termasuk service charge. Mereka DP-nya patungan: Reyhan bayar lebih besar dari tabungan startup-nya, Aira sisanya dari bonus wisuda dan tabungan pribadi. Bulan pertama sudah dibayar lunas kemarin, kunci sudah di tangan Reyhan sejak seminggu lalu.
“Siap jadi nyonya rumah, Bu Arkanza?” tanya Reyhan sambil nyetir keluar dari basement hotel.
Aira excited banget. “Siap dong! Akhirnya kita punya tempat sendiri. Nggak perlu lagi curi-curi waktu ketemu.”
Reyhan nyengir. “Iya, sekarang boleh berisik sepuasnya.”
“Reyhan!” Aira cubit lengannya lagi, tapi ikut tertawa.
Sampai di apartemen sekitar jam 11 siang. Liftnya kecil, cuma muat empat orang, jadi mereka naik turun beberapa kali bawa barang. Tetangga sebelah—sepasang suami istri muda juga—sapa ramah waktu ketemu di koridor. “Wah, pindahan ya? Selamat ya, kayaknya baru nikah nih.”
“Iya, Mbak. Baru kemarin,” jawab Aira malu-malu.
Begitu pintu unit 12F dibuka, Aira langsung melenguh kagum. Ruangannya masih kosong, lantai keramik putih bersih, dinding cat krem, jendela besar. Kamar mandi kecil tapi ada shower dan water heater. Dapur minimalis: kompor tanam dua tungku, sink kecil, dan lemari atas-bawah kosong.
“Ini impian kita banget, Rey,” kata Aira sambil peluk Reyhan dari belakang.
Reyhan balik badan, cium keningnya. “Iya, sayang. Nanti kita isi perlahan. Kasur dulu yang penting.”
Kasur queen size mereka sudah datang kemarin—pesan online, model divan dengan sandaran kepala kain abu-abu. Masih dibungkus plastik, ditaruh di tengah kamar tidur. Mereka berdua buka bungkusnya bareng, tertawa-tawa waktu plastiknya susah dibuka.
Siangnya, Mama Reyhan datang bawa makanan: nasi box ayam goreng, tumis kangkung, dan sekotak kue brownies buatannya. “Mama bantu bersihin ya. Biar kalian nggak capek.”
Aira langsung peluk mertuanya. “Makasih banyak, Ma. Mama baik banget.”
Mama Reyhan tersenyum hangat. “Sama-sama, Nak. Ini rumah pertama kalian, harus nyaman.”
Mereka bertiga makan siang di lantai—belum ada meja makan. Mama Reyhan cerita panjang lebar soal masa muda dia sama almarhum suaminya dulu juga mulai dari kosong. “Waktu itu kami ngontrak kamar 3x3 doang lho. Kasurnya aja pinjem tetangga. Tapi bahagia kok.”
Reyhan manggut-manggut. “InsyaAllah kami juga bisa, Ma.”
Sore harinya, Farel—teman Reyhan sejak kuliah—datang bawa dua kardus pizza dan sekotak bir kaleng. “Bro! Selamat jadi suami! Gue bawa housewarming gift nih.”
Reyhan sambil angkat satu kardus barang dari lift. “Lo telat banget, Rel. Udah capek nih gue bongkar-bongkar.”
Farel langsung masuk, langsung selonjoran di lantai ruang tamu yang masih kosong. “Wah, minimalis banget nih rumah lo. Keren, bro. Kapan gue diajak nginep?”
Aira keluar dari kamar mandi sambil lap tangan. “Eh Farel, makasih ya datangnya.”
Farel nyengir lebar. “Wah, Nyonya Arkanza semakin cantik aja. Reyhan beruntung banget.”
Reyhan langsung jitak pelan kepala temennya. “Dasar playboy. Jangan godain istri gue.”
Mereka makan pizza bareng sambil ngobrol. Farel cerita soal cewek-cewek yang lagi dia dekati—standar lah cowok single umur 24. Aira cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa.
Malam mulai gelap. Mama Reyhan pulang duluan, Farel juga cabut setelah bantu angkat beberapa barang berat. Tinggal Aira dan Reyhan berdua di apartemen yang masih setengah kosong.
Mereka berdua duduk di kasur baru, punggung bersandar di dinding karena belum ada bantal sandaran. Di depan mereka: tumpukan kardus bertuliskan “Baju Aira”, “Peralatan Dapur”, “Dokumen Reyhan”, dan satu kardus besar bertuliskan “Random Stuff”.
Aira buka satu kardus bajunya, mulai susun di lemari built-in yang kecil. “Rey, lemari ini kecil banget. Baju aku aja udah numpuk.”
Reyhan lagi buka laptop di kasur, cek email klien. “Nanti kita beli lemari tambahan yang murah di marketplace. Sabar ya, sayang.”
Aira menghela napas. “Iya sih. Tapi excited banget lho. Besok aku mau belanja tanaman kecil buat di jendela. Terus gorden baru, biar lebih homey.”
Reyhan taruh laptopnya, merangkak mendekat, peluk Aira dari belakang. “Apa aja boleh, asal jangan mahal-mahal dulu ya. Bulan ini pengeluaran kita lagi banyak.”
Aira balik badan, cium bibir Reyhan pelan. “Iya, Mas. Aku janji hemat.”
Mereka berdua akhirnya tidur malam itu di kasur baru yang masih bau plastik sedikit. AC belum ada—baru pesan, baru datang minggu depan—jadi mereka pakai kipas angin kecil pinjaman dari Mama Reyhan. Jendela dibuka lebar, suara klakson Jakarta malam-malam masih terdengar samar.
Di tengah malam, Aira bangun karena haus. Dia turun dari kasur, cari air mineral di dapur. Gelap gulita, dia nyalain lampu dapur—dan langsung teriak kecil.
“Rey! Reyhan bangun!”
Reyhan langsung loncat dari kasur, nyalain lampu kamar. “Apa? Kenapa, Air?”
Aira nunjuk ke sudut dapur dekat sink. “Ada kecoa! Gede banget!”
Reyhan mendekat, lihat memang ada satu kecoa besar lagi lari ke balik lemari bawah. Dia ambil sapu dari kardus peralatan, buru-buru kejar. Setelah lima menit kejar-kejaran yang bikin mereka berdua ngos-ngosan dan ketawa, akhirnya kecoa itu mati.
Aira peluk Reyhan erat, masih gemetar. “Aku takut kecoa dari kecil, Rey.”
Reyhan usap punggungnya sambil tertawa. “Tenang, sayang. Suami lo udah jadi pembasmi kecoa profesional.”
Mereka balik ke kasur, pelukan lebih erat. Aira bisik pelan, “Ini chaos pertama kita ya?”
Reyhan cium keningnya. “Iya. Tapi chaos yang manis. Home sweet chaos, kan?”
Aira tersenyum di dadanya. “Home sweet chaos.”
Di luar, Jakarta masih berisik. Di dalam apartemen kecil itu, dua anak muda ini baru saja melewati malam kedua mereka sebagai suami istri—dengan kecoa sebagai tamu tak diundang.
Besok, petualangan sebenarnya baru dimulai.