I Love You SonBy Michele Meleen
I love you son
Like no one else
Only you and I
Verified love personified
Every single
Moment I'm with
You, I feel that love
Sensing you feel it too
Only a mother's love
Nourishes your soul
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Sebuah tangan mengancingkan lengan kemeja putihnya. Dilakukan hal yang sama dengan lengan kemeja satunya. Dia meraih jas berwarna biru tua dan mengenakannya.
Kakinya yang sudah mengenakan sepatu hitam melangkah menghampiri kaca besar dalam ruang gantinya. Terlihat Adrian berdiri dengan tubuh sempurnanya dalam balutan suit birunya. Dengan tinggi tubuh 191 centimeter membuat pria itu tampak menawan.
Rambut coklatnya tampak tersisir rapi. Sepasang bola mata berwarna hijau itu tampak begitu puas melihat penampilannya yang sempurna. Pemuda lugu dengan tubuh kurus saat ini berubah menjadi pria menawan dengan tubuh atletisnya. Tidak heran jika saat ini Adrian menjadi lajang paling diminati di San Fransisco.
Setelah memastikan penampilannya kembali, Adrian pun beranjak keluar. Dia melewati kamarnya sebelum akhirnya melewati pintu. Suara ketukan sepatu pria itu membawanya menuruni tangga. Hampir mencapai tangga terakhir, Adrian bisa mencium aroma masakan sang ibu. Bibirnya pun mengembang lebar membayangkan masakan apa yang dibuat sang ibu.
Sampai di ruang makan, Adrian melihat sang ibu sudah duduk di meja makan menantinya. Pria itu menghampiri Camila dan mengecup pipinya.
"Pagi, Mom." Sapa Adrian.
"Pagi, My son."
Adrian pun duduk di samping sang ibu dan mulai sarapan bersama. Meskipun memiliki banyak pelayan, tapi jika urusan masak tak ada seorang pun yang akan mengusiknya. Bagi Camila memasak bukan hanya menghasilkan makanan untuk dimasak. Tapi juga dia bisa menikmati proses dalam memasak itu.
"Apa kau akan menemui Leigh siang nanti?" tanya Camila.
Adrian menatap sang ibu dan mengerti tujuan dari pertanyaan itu. Leigh adalah putri dari teman Camila. Bukan pertama kalinya sang ibu merencanakan kencan untuk putra tunggalnya. Sayangnya sampai saat ini tidak ada satupun wanita yang berhasil memenangkan hati Adrian. Dan Camila sangat mencemaskan hal itu.
“Bukankah Mom sudah mengaturnya? Aku tidak bisa menghindarinya, bukan?” Adrian tampak santai menanggapinya.
“Leigh tidak hanya cantik, Adrian. Dia juga pintar. Leigh menuntut ilmu di bidang arsitektur sebelum akhirnya dia menjadi dosen di Universitas California. Kau akan terpukau dengan kecakapannya.”
Adrian tersenyum mendengar sang ibu memuji-muji wanita yang bahkan tidak diketahuinya. Tidak heran bagi Camila begitu semangat ingin menjodohkan Adrian dengan putri teman-temannya. Jika mengingat usia Adrian yang menginjak angka dua puluh tiga, seharusnya Adrian sudah mengenakan cincin pernikahan di jari manisnya. Sayangnya Adrian masih betah dalam kesendiriannya. Sehingga hal itu membuat Camila cemas.
“Apa kau tidak lelah menjadi peri cinta untukku, Mom? Aku yakin kau memiliki daftar wanita lain selain Leigh ini.”
Camila tertawa karena dugaan putranya tepat sasaran, “Seorang ibu tidak akan tenang jika putranya belum membangun kehidupan rumah tangganya sendiri, Son. Waktu mom semakin berkurang. Jika tidak mencarikan pendamping untukmu siapa yang akan mengurus putraku yang tampan ini?”
“Mom, kau bahkan belum berusia seratus tahun. Jadi tidak perlu mencemaskan hal itu. Aku akan mengikuti semua kencan yang kau atur, Mom. Hanya saja aku tidak janji untuk segera menikah. Bukankah Mom yang paling tahu jika cinta tidak bisa dipaksakan.”
Bibir Camila menampilkan senyuman tipis, “Kau benar. Aku bahkan tidak bisa memaksakan diri untuk jatuh cinta pada pria lain selain ayahmu.” Wajah Camila tampak sedih mengingat mendiang suaminya. “Dan aku masih merindukannya.”
Jonathan meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit jantung. Sejak saat itu kehidupan Camila berubah. Dia kehilangan cintanya. Tapi dia beruntung masih memiliki sumber semangatnya, yaitu putranya.
Adrian mengulurkan tangan dan menggenggam tangan sang ibu, “Aku juga merindukannya, Mom.”
Camila menggenggam tangan putranya dan melayangkan tatapan penuh kasih sayang, “Son, ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apapun, Mom. Aku akan menjawabnya.”
“Sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini. Apakah alasan kau tidak bisa memiliki perasaan spesial kepada teman kencanmu adalah Valerie?”
Seketika tubuh Adrian membeku di tempatnya. Nama yang tidak pernah didengar dan tak pernah diusiknya lagi masih memiliki efek yang sama untuknya. Nama itu mengingatkan Adrian alasannya untuk berjuang keras hingga mencapai titik teratas di mana dia berhasil mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang budidaya perikanan kelautan bernama Oar Oceans Corporation. Nama itu juga mengingatkan Adrian pada penolakan yang masih menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.
“Mengapa Mom menghubungkan semua ini dengan wanita itu?” Nada suara Adrian terdengar dingin saat membicarakan nama wanita yang telah menyebabkan banyak luka untuk pria itu dan keluarganya.
“Aku berusaha mencari alasan lain yang tepat untuk menjelaskan penolakanmu, Adrian. Dan hanya wanita itu alasan yang kuat sehingga membuatmu tak bisa menerima cinta lain, Son.”
“Mom, aku menolak teman kencanku karena aku belum menemukan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta. Hanya itu alasan logis yang menjelaskan semua ini. Tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu.”
“Kau yakin, Son? Atau kau tidak sadar Valerie telah membuatmu menutup hatimu dari semua wanita?”
“Yakin, Mom. Dalam hatiku hanya ada perasaan benci jika menyangkut Valerie.”
Camila menghembuskan nafas berat. dia berharap ucapan putranya benar. Dia terlalu takut Valerie telah memberikan dampak yang besar bagi hati Adrian.
“Baiklah. Kuharap Leigh bisa menarik hatimu. Apa kau tidak sadar jika Mom tidak sabar menimang cucu?”
Bibir Adrian membentuk lengkungan meninggalkan kesan dingin yang sempat diperlihatkannya tadi.
“Kau perlu banyak berdoa, Mom. Agar Tuhan mengirimkan wanita yang bisa membuatku jatuh cinta.”
Camila pun tertawa, “Percayalah, Son. Bahkan dalam setiap doa aku selalu menyelipkan harapan itu.”
Akhirnya ibu dan anak itu pun menghabiskan sarapan mereka. Adrian mencium pipi sang ibu sebelum akhirnya melenggang pergi. Kakinya melangkah menuju garasi. Dalam ruangan luas itu terlihat tiga mobil dengan tipe yang berbeda. Satu mobil keluarga yang biasa digunakan untuk mengantarkan Camila ke manapun. Ada juga Jeep Wrangler yang digunakan Adrian untuk mengunjungi perkampungan nelayan. Terakhir adalah mobil merah menawan yang tidak hanya menampilkan kemewahan tapi juga kecepatan. Ferrari LaFerrari.
Sebelum masuk ke dalam mobil, ponsel Adrian pun berdering. Dia meraih ponsel dalam sakunya dan melihat nama Kate sang sekretaris tertera di layar ponselnya. Dia menggeser tombol hijau sebelum akhirnya menempelkan smartphone itu ke telinganya.
“Aku pikir ini urusan yang sangat penting hingga kau tidak bisa menunggu aku sampai di kantor, Miss Drummond.”
“Tebakanmu memang tepat, Mr. Leandre. Aku ingin memberitahukan jika saat-saat yang kau nantikan sudah tiba.”
Jelas Adrian tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Kate. Ada rasa tidak percaya jika waktu yang paling ditunggunya akan segera terwujud.
“Aku akan memberikan detailnya setelah kau sampai di sini. Sampai nanti, Mr. Leandre.”
Adrian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah Kate memutuskan sambungan itu. Salah satu bibir Adrian terangkat ketika rencana-rencana mulai tersusun dalam pikirannya. Dia tidak sabar lagi untuk mendengar cerita versi panjang dari sekretarisnya. Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil dan melesat cepat menuju kantornya berada.
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Nah loh. Teka teki lagi. Apa yang sedang dinantikan Adrian ya? Sampai-sampai dia bersemangat ingin sampai ke kantor untuk mendengar detailnya.
Jangan lupa tolong budayakan meninggalkan jejak ya setelah membaca. Agar Allegra bisa lebih bersemangat menulis.