Kami- aku, Ayah, dan Ibu- memutuskan untuk berlibur selama seminggu ke Nenek di desa. Aku terpaksa menyetujuinya meskipun aku tidak suka rumah nenek. Rumahnya gelap karena hanya ada lampu kuning untuk menerangi dan juga sepi. Karena jarak antara rumah nenek dengan tetangga bisa dikatakan cukup jauh. Mengingat nenek membangun rumahnya di lahan yang sangat luas miliknya.
Terakhir kali kami ke sana adalah 5 tahun yang lalu, saat aku masih berumur 13 tahun.
Sejak kembali dari rumah nenek, beliau selalu mengirim pesan untuk datang. Katanya nenek merindukanku. Rumahnya terasa sepi dan sesak karena dia hanya sendiri.
Bahkan setiap sebelum tidur, kami selalu melakukan panggilan suara. Aku bercerita tentang hari-hariku di kota dan nenek bercerita betapa sepinya rumahnya. Tidak ada anak ataupun cucu yang menemani.
Setauku, nenek memiliki suster untuk menjaganya. Nenek juga bercerita Paman tertua selalu menengok pada hari kamis. Untuk membersihkan rumah dan terkadang membawa makanan dan bunga kesukaan nenek.
Aku selalu menceritakan keluhan nenek bahwa kami tak pernah lagi berkunjung pada orangtuaku. Orangtuaku selalu bilang sibuk dan tidak sempat untuk pulang kampung.
Tapi akhirnya ternyata kami harus pulang kampung juga. Malah akan menghabiskan waktu yang cukup lama.
Saat kami sampai, Ayah dan ibu membereskan barang-barang yang kami bawa. Sedangkan aku langsung masuk ke rumah untuk mencari nenek. Tapi tak ku temukan nenek di kamarnya. Ah, sepertinya nenek sedang pergi. Mungkin ke dokter.
Pesan terakhir sebelum aku sampai adalah beliau mengalami sesak napas. Dengan membawa koperku, aku menuju kamarku yang berada di lantai satu. Satu lantai dengan kamar nenek.
Rumah nenek memang hanya memiliki dua lantai. Dengan 4 kamar, dua di lantai 1 dan dua lagi di lantai 2. Rumah nenek memang tidak terlalu luas, tapi tanah yang menjadi halaman sangat luas.
Setelah membereskan barang-barangku, aku bergegas mandi. Setelah mandi aku memutuskan untuk tidur. Maafkan aku Ayah-Ibu, aku tidak membantu sama sekali. Aku letih. Badanku terasa sakit semua. Meskipun perjalanan amat lancar tanpa macet dan bahkan kami menerobos lampu lalu lintas beberapa kali. Aku juga sedikit heran, nengapa tidak ada polisi yang menghentikan laju mobil kami.
Saat mataku terpejam, aku mendengar suara tangisan. Aneh pikirku. Siapa yang menangis dengan suara sekencang itu di sore hari. Tangisannya terdengar sangat menyayat hati. Tunggu, sepertinya aku mengenali suara itu. Itu seperti suara tangisan ibu. Kenapa ibu menangis? Aku ingin ikut menangis dalam tidurku saat membayangkan, mungkin saja ibu memiliki beban hidup yang berat. Sebagai anak, aku gagal meringankannya.
Tak lama aku bangun saat waktu sudah menunjukan pukul 15.00.
Syukurlah, semua itu hanya mimpi dan semuanya baik-baik saja. Terdengar suara ketukan, kemudian ibu masuk kamarku. Ibu memberikan baju baru dan membantuku mengenakannya. Aku tidak terlalu suka modelnya. Terlalu simple, tapi karena warna putih dimana itu merupakan warna favouriteku. Maka aku kenakan.
Lagipula, ibu juga mengenakan baju senada.
"Ibu akan mengantarkanmu kepada nenek. Kau selalu bilang merindukannya kan?"
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Sepertinya dugaanku benar. Nenek sedang di rumah sakit. Saat sudah siap, aku menuju ruang tamu di lantai satu. Ternyata hampir seluruh keluarga besarku di sini. Pantas saja agak sedikit bising. Banyak suara sahut-sahutan.
Sebelum berangkat, ayahku mengajak semua keluarga untuk sholat berjamaah. Tentu saja ini sudah waktunya solat ashar. Sayangnya aku dan seorang sepupu perempuan tidak mengikutinya. Ya kalian taulah kenapa.
Kami hanya saling diam. Tak ada obrolan. Lagipula kami memang tidak terlalu akrab. Ditambah lagi, sepertinya dia ada di mood yang kurang baik. Aku tidak ingin semakin mengacaukan moodnya.
Setelah selesai solat, kami beriringan keluar rumah. Di luar banyak mobil berjajar. Tentu saja, aku yakin setiap keluarga yang datang membawa dua mobil.
Anehnya, kami tidak menuju mobil tersebut. Kami justru memutari rumah eyang dan menuju halaman belakang. Apakah nenek berada di klinik desa? Aku mulai bertanya-tanya.
Tak lama, kami sampai. Aku melihat nenek berdiri di sana dan melambaikan tangan ke arahku. Tentu saja aku langsung berlari ke arahnya. Memeluknya dan berkata aku merindukannya.
Nenek juga berkata "Akhirnya, cucuku datang. Aku tidak akan kesepian."
Anehnya hanya aku yang menuju ke arah nenek. Keluargaku yang lain berdiri mematung. Masih terdengat beberapa suara bising. Saat aku dengarkan lagi, ternyata itu suara tangisan dari keluargaku.
Tunggu. Apa yang terjadi?
Aku berlari ke arah mereka. Dan aku melihat kayu bertuliskan:
Alisha Putri Wisono
2002-2020
Mengapa ada namaku di sana?Kemudian aku mendengar ibuku bertirak histeris dan pingsan. Dan tepat disebelahnya terdapat kayu yang sama bertuliskan nama nenek.
Sukini wisono
1950-2015
***