Keesokan harinya.
Riko membolak-balikkan berkas yang berada di hadapannya. Dia sedang dalam masalah yang lumayan besar, karena di perusahaannya ada salah seorang karyawan yang menggelapkan dana kantor.
Riko langsung menelpon pengacaranya, untuk menyelediki kasus tersebut. Karena dia belum mengetahui siapa yang menggelapkan dana kantor sampai milyaran itu.
Ponsel Riko berdering, diapun melirik ponselnya itu dan langsung mengangkatnya.
Dari seberang sana, sang Momi langsung mengoceh karena Riko melupakan sesuatu.
"Abang! Kamu lupa apa gimana? Kok kamu belum datang di acara ulangtahunnya Aunty Bella." Rikopun menepuk dahinya sendiri.
Ya, Riko lupa bahwa hari ini adalah hari ulangtahun tantenya. "Aduh Momi maaf, bentar ya, 40menit aku sampe sana."
Rikopun langsung bergegas pergi meninggalkan pekerjaannya. Mungkin itu penting, tetapi pesta keluarga lebih penting baginya. Diapun segera mencari toko bucket hias yang bagus.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Rikopun menemukan toko itu, V Bucket menjadi pilihannya saat itu. Dia langsung memilih bunga-bunga yang indah dan harum.
Rikopun memanggil penjaga toko disana, "Mba, saya mau pesen kombinasi bunga yang cantik, harus selesai 15menit tapi ya."
Lalu Rikopun menunjuk bunga-bunga yang menjadi pilihannya, dan menunggu di sebuah bar kecil yang ada di toko itu. Dan ada yang menawarkan minuman untuknya.
"Wanna tea? or some coffe?"
Rikopun menoleh dan mencari sumber suara itu, "I'm here." lalu wanita itupun membawa secangkir kopi dan teh.
Rikopun sedikit terkejut bahwa yang membawakan dia kopi adalah Silvi, "Kamu? Anaknya tante Dita kan? Kok ada disini?"
Sebaliknya, Silvi bersikap biasa saja, tidak ada ekspresi keterkejutan atau apapun di wajahnya. Karena baginya, bertemu dengan orang-orang penting atau siapapun itu sudah biasa baginya.
"Iya, aku pemilik toko ini. Untuk bucketnya mungkin agak sedikit lama karena kamu memesan yang luxury bucket, bukan yang biasa."
Setelah memberitahu Riko, diapun duduk di berhadap-hadapan dengan Riko. Riko bisa melihat jelas kecantikan yang terpancar dari seorang Silvi Pradita Bagaskara. Wajah bak seorang miss universe, dan memiliki badan yang sangat proposional.
Pikiran Riko terus berkecamuk pada wanita yang berada di hadapannya saat ini.
Batinnya terus memuji dan kagum pada wanita itu, tanpa Riko sadari Zahra sudah selesai mendekor bucketnya.
Saat Zahra memanggilnya, Riko sedikit terperanjat karena melamun "Pak, bucketnya sudah selesai."
Zahrapun memberikan bucketnya, "Eh, sudah selesai? Saya kira masih lama."
Rikopun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu mengambil bucket itu, dan membayarnya.
Riko bergegas pergi, tetapi sebelum pergi, dia berbisik pada Silvi
"Can we meet again? Or dinner?"
Rikopun meninggalkan kartu namanya, dan pergi meninggalkan Silvi. Wanita itu terus menatap kartu nama yang ada di hadapannya. "Riko Elzein Pratama" gumamnya.
Untung, toko bucket tadi tidak jauh dari rumah tantenya. Jadi Riko tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana.
~~~~
Silvi bergegas membereskan barang-barangnya, karena Bundanya menelepon dan menyuruh Silvi membelikan tas Dior untuk hadiah temannya. Tidak lupa, Silvipun membawa sebuah bucket bunga minimalis yang elegan untuk hadiah lainnya.
Sedangkan Zahra, dia sedang sibuk mengurus perlengkapan untuk cabang baru di daerah Bandung. Dia sudah bekerja dengan Silvi selama 5tahun lamanya, dan sudah menjadi orang kepercayaan Silvi untuk masalah apapun yang menyangkut toko itu.
Setelah selesai memilih tas yang di inginkan, wanita itupun menuju kasir untuk membayarnya. Tak butuh waktu lama dia menyelesaikan pembayaran, dan bergegas pergi menuju rumah teman Bundanya.
Riko sudah bergabung dengan keluarganya, pesta itu sangat ramai dan meriah. Karena tantenya itu termasuk sosialita yang aktif di komplek itu.
Bunda Ditapun berjalan mendekati keluarga Pratama. "Hallo jeng, terimakasih untuk kue lapis talasnya, itu enak banget jeng."
Momi Kaylapun merasa senang karena Bunda Dita suka dengan kue yang ia buatkan. "Sama-sama jeng. Oh iya, anak jeng Dita ga ikut?"
Saat ditanyakan Momi Kayla, secara bersamaan Silvipun datang. Dia memakai gaun tanpa lengan, yang sangat cantik. Sehingga membuat semua orang terpana akan kecantikannya.
"Hallo om, tante. Maaf ya telat, tadi aku habis dari toko dulu, lagi ngurusin something."
Riko dan Dimas sampai tidak berkedip melihat kecantikan wanita itu. "Abang, Dimas. Biasa aja ngeliatin Silvinya, nanti suka dua-duanya kan Momi yang repot." gurau sang Momi.
Riko dan Dimas langsung salah tingkah, dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.
Bella langsung menghampiri Bunda Dita, lalu cipika-cipiki. Bundapun memberikan ucapan selamat ulangtahun dan hadiah yang Silvi bawa.
"Happy birthday Bella, makin cantik aja sih. Ini hadiah dari Bunda, semoga suka ya sayang."
Bella sudah mengenal Bunda Dita, bahkan dia sangat akrab dengan semua keluarga Bagaskara. Sampai Bella menganggap Dita seperti Bunda keduanya.
Lalu silvi memberikan bucket bunga pada Bella. "Bel, maaf ya aku cuma bisa ngasih kamu bucket bunga kesukaan kamu."
Bella pun tersenyum dan mengambil bucket favoritnya itu, dia dan Silvi memang berbeda 3tahun. Tetapi Silvi menganggap Bella seperti Sahabatnya sendiri.
"Makasih ya Nda, aku pasti suka kok. Makasih juga ya vi, bucket ini pasti aku pajang di kamar aku, cause you'r the best from other bouquet anywhere."
Silvipun berjalan mengelilingi rumah Bella, dan langkah dia berhenti tepat di taman belakang. Dia duduk di sebuah gazebo, dan menikmati suasana taman yang segar dengan semilir angin yang membuatnya semakin tenggelam dalam suasana itu.
Riko yang melihat Silvi sendiri di taman belakang, perlahan-lahan mendekatinya agar Silvi tidak merasa terganggu.
Riko berdiri di hadapan Silvi yang sedang memejamkan matanya, sungguh Silvi bisa menjadi candu bagi Riko.
Silvipun membuka matanya perlahan, dan terkejut melihat Riko sedang berada di hadapannya.
"Kamu dari kapan ada disini?"
Rikopun mengambil langkah untuk duduk berdampingan dengan wanita itu.
"Dari tadi, lihat kamu tersenyum seperti itu jadi membuatku semakin tertarik sama kamu Sil."
Silvipun mengernyitkan dahinya, karena merasa aneh. Bisa secepat itu laki-laki itu berbicara seperti itu, padahal mereka saja baru beberapa kali bertemu.
"Tertarik bukan berarti suka kan ko? Kita baru beberapa kali bertemu."
Riko menggelengkan kepalanya, dia tau benar bahwa perasaannya tidak main-main.
"Kamu perlu bukti?"
Rikopun bangkit dan berdiri di hadapan Silvi, otomatis Silvi mendongak agar bisa melihat Riko. Tiba-tiba Riko mengecup bibir Silvi tanpa izinnya. Silvipun terkejut dan langsung menutup bibir dengan tangannya.
"Riko! Apa-apaan kamu cium aku segala."
Riko tersenyum dan mengacak-acak rambut Silvi. Dalam perut Silvi seperti ada kupu-kupu yang berterbangan setelah Riko mengecupnya tadi, dia merasa aneh dengan dirinya. Karena itu adalah ciuman pertamanya dan diperlakukan seperi itu oleh laki-laki belum pernah dia alami selama ini.
"Itu bukti kalau aku tertarik sama kamu, dan aku ingin mengenal kamu lebih jauh Sil."
Dimas berjalan kesana-kemari mencari Riko dan Silvi, sampai akhirnya dia menemukan mereka berada di taman belakang.
"Abangg, disini rupanya. Momi nyariin dari tadi, tau-taunya malah berduaan sama bidadari di taman."
Riko pergi meninggalkan Silvi dan Dimas, Wanita itu masih diam dalam perasaan aneh yang muncul secara tiba-tiba.
Dimas merasa ada yang aneh, langsung menepuk pundak wanita itu.
"Kak, are you okay?" Silvipun tersadar dari lamunannya dan mengangguk, lalu meninggalkan Dimas sendiri.
Dimas merasa bingung akan sikap bidadarinya yang menjadi aneh. Akhirnya diapun menyusul Riko masuk ke dalam.