Patah hati membuat aku trauma mempercaya kan hati ku pada orang lain, entah lah atau semua itu hanya alasan semata hanya karna ketidak mampuan ku melupakan dia atau hanya alasan ku yang sebenar nya masih mengharap kan nya datang menemui ku yang sudah jelas tak kan mungkin, aku bahkan tak punya keberanian sedikit pun untuk pulang ke kota ku aku takut mendengar kabar tentang dia mungkin saja sekarang dia sudah menikah, satu hal yang selalu jadi boomerang di hati ku, hati ku sudah 10 tahun kecewa kenapa masih ada ketakutan patah hati kembali pada diri ku, bukan kah hati ku sudah benar benar patah dan hancur lebur???
Lalu kenapa masih takut??
******
Kring.... Kring..... Kring..... Suara handphone ku berbunyi, ku lihat nama yang tertera di sana BUNDA dengan senyum cerah aku mengangkat nya,
"Assalamu'alaikum Bunda" Sapa ku menjawab telfon Bunda
"Waalaikumsalam sayang" Jawab bunda lembut "Thata apa kabar di sana sayang?"
"Alhamdulillah baik Bun, Papa sama Bunda sehat sehat kan Bun???" Tanya ku manja
"Alhamdulillah baik juga nak,, Thata kapan pulang sayang??? Bunda rindu Thata" Ku dengar suara Bunda bergetar, ya aku tahu Bunda sedang menahan tangis nya. Di hari aku pergi aku janji akan pulang setahun sekali nyata nya sampai wisuda aku tak pernah mau pulang ke rumah, Papa dan Bunda yang selalu menjenguk ku saat kuliah dulu, terakhir ku habis kan waktu lama dengan Papa dan Bunda adalah hari saat aku wisuda Papa dan Bunda tinggal bersama ku di sini selama 15 hari, setelah aku dapat pekerjaan aku selalu beralasan sibuk dan tak punya cuti sehingga tidak bisa pulang, Bunda pasti akan menangis dengan penolakan ku untuk pulang, aku benar benar sudah menyakiti hati seorang ibu yang sudah melahirkan kan ku, tolong maaf kan anak Bunda.
*******
Aku masih termenung, fikiran ku melayang pada pembicaraan ku tadi siang dengan Bunda di telfon mendengar suara Bunda yang sudah sering ku dengar menahan tangis nya membuat aku jadi kepikiran, apa ku coba sekali saja pulang?? pikir ku, masih sedang dengan hayalan ku tiba tiba ada tangan besar yang mengusap ubun ubun ku, siapa lagi pelaku nya kalau bukan Fathan.
" Iiissssss,,, mulai deh ganggu orang" Ku enyah kan tangan nya dan ku rapikan rambutku yang berantakan karna sapuan tangan nya
" Masih sore udah bengong aje neng" Ledek Fathan sembari mendudukkan kan diri nya di samping ku sekaligus merebut s**u hangat di tangan ku, aku menatap nya sewot sambil kulayangkan tangan ku memukul lengan nya
" Jan bengong bengong ntar ke sambet" Lanjut nya lagi
" Bunda tadi siang nelfon Than" Ku rebah kan kepala ku di pundak nya mencoba mencari kenyamanan sambil ku pejamkan kan mata ku tanda bahwa sebenar nya aku pun rindu ingin pulang memeluk Bunda dan Papa, tapi sekali lagi aku seperti pengecut yang tak punya keberanian, delapan tahun sudah aku jauh dari keluarga ku, tes tes tes air mata ku mengalir, ya rindu ku sudah sedalam itu pada Bunda, Papa, dan Dia, aku rindu kota kelahiran ku,
"Aku ingin pulang... " Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir ku, setelah nya aku terisak dalam pelukan Fathan, Fathan dengan sabar mengusap kepala ku lembut, ya aku memang sangat membutuhkan sebuah pelukan hangat yang sudah lama tak pernah ku rasa kan dari Papa dan Bunda, dulu saat hati ku terluka aku lebih memilih diam dan mengurung diri ku di kamar, Bunda yang mengajar kan ku tentang nyaman berada dalam pelukan Bunda, Papa juga ikut serta mengusap rambut ku sayang, membuat jatuh semua air mata yang dengan susah payah ku tahan dan 8 tahun ini hanya pelukan Fathan yang jadi penenang ku
"Ayo ajukan cuti besok, kita pulang hmmmm" Kata Fathan sambil masih memeluk ku dan mengusap lembut rambut ku, aku mengangguk pasrah tak mampu bicara lagi.
*****
Satu minggu berlalu hari ini aku beres beres barang barang milik ku di kantor, aku masih duduk di meja kerja ku yang sudah 3 tahun ini ku tempati ku sapu meja kerja ku untuk mengucap perpisahan, ya setelah berargumen panjang dengan Fathan sore itu akhirnya aku memutus kan untuk resign dari pekerjaan ku aku benar benar ingin pulang dan tinggal kembali dengan keluarga ku itu lah keputusan final yang aku ambil Fathan mendukung apa pun keputusan ku, tapi tidak dengan Fathan dia hanya ijin cuti dua minggu untuk mengantar ku pulang.
"Ehmmm... " Suara deheman Atika rekan kerja ku membuyar kan lamunan ku, aku berdiri karna terkejut ternyata teman satu tim ku sudah berkumpul tepat di depan meja kerja ku
"Kok kamu resign sih Nath" Atika menarik tangan ku menuntut penjelasan
"Ia Tik aku harus pulang" Jawab ku singkat membuat kening Tika berkerut dengan jawaban ku
"Apa sesuatu terjadi Tha?? Jangan jangan kamu di suruh pulang karna mau di jodohin ya??" Sahna dengan wajah polos nya bertanya ingin tau, yang langsung di hadiahi cubitan dan getokankan di kepala Sahna dari Atika, aku hanya bisa tersenyum melihat mereka
"Sakit Tikaaa" Teriak Sahna pada Tika
" Maka nya begok itu jangan di jadiin makanan favorit, nah kan gini jadi nya otak nya korslet" Jawab Tika masih gemas dengan Sahna, aku tersenyum sambil merentang kan kedua tangan ku yang langsung di serbu Sahna dan Tika
"Jaga diri baik baik ya,, Aku pasti akan merindukan kalian" Ucap ku
"Kamu juga jaga diri baik baik jangan lupa kabarin kita, kamu boleh putus kerja dari kantor ini tapi jangan sampek putus hubungan ke kita kamu fatner terbaik selama kita kerja di sini" Kata Sahna dengan sangat haru
"Tumben banget nih anak otak nya bener" Saut Atika ngeledek, aku hanya bisa geleng geleng kepala dengan tingkah mereka, mereka berdua memang lucu kalau di gabungin
"Kamu jaga diri baik baik di sana Tha, apa pun alasan kamu risen aku gak peduli selama itu keputusan terbaik buat mu its oke, nanti kalau aku ada libur aku main ya ke kota mu" Kata Tika yang langsung ku angguki semangat,
"Terima kasih sudah mau jadi rekan kerja ku, kalau gitu aku pamit ya Tik Sahna, aku harus beberes di kontrakan juga" Pamit ku yg langsung di hadiahi pelukan perpisahan mereka.
******
Welcome jakarta, akhir nya ku injak kan lagi kaki ku ke tanah kelahiran ku, tampak Fathan sedang menarik tripelbag kami aku langsung menghampiri nya sambil mengambil hendfon ku dan mengaktifkan kan nya
"Kamu kasih tau bunda kan kalau kita pulang" Tanya Fathan, aku hanya mengangguk sambil melihat keramaian di bandara ini, aku celingak celinguk ke sana ke mari sambil menghirup udara jakarta dengan senang, aku pulang aku benar benar sudah menginjak kan kaki ku di sini, dari jauh ku lihat Papa dan Bunda melambaikan tangan nya pada kami
"Papa,, Bunda,,, " Teriak ku berlari menghampiri mereka "Bughhh" aku langsung menjatuh kan diri ku dalam pelukan Papa, Bunda juga langsung memeluk aku dan Papa kami saling meluap kan rindu, bandara ini jadi saksi kerinduan kami yang terpendam, pulang ku yang sesungguh nya bukan pada rumah melain kan pulang pada pelukan hangat Papa dan Bunda, merekalah tempat ku pulang.
BERSAMBUNG.......