Unfortunatelly I dont care with you anymore.
Hujan pagi ini dibantu ibu Dewi membereskan barang-barangnya, karena genap 15 hari ia dirawat di rumah sakit permata. Gadis itu sudah terlihat lebih baik, meski perban masih melelilit kepalanya. Tetapi dokter telah memperbolehkannya pulang setelah dua hari merengek seperti bocah lima tahun.
"Mari non, barang-barangnya udah tak beresin semua. Legoo kita pulang," Ujar Dewi begitu semangat, sementara Hujan hanya tertawa saja.
Mereka pun keluar ruangan dan bertemu Malik di lobby rumah sakit. Lelaki paruh baya itu segera membantu membawakan barang-barang milik Hujan ditangan istrinya. Sementara Dewi membantu memapah Hujan yang langkahnya sudah baik-baik saja sebenarnya.
Mereka kemudian menuju mobil yang memang sudah ada didepan pintu masuk utama, segera melaju menuju rumah setelah ketiganya duduk manis di mobil, dengan Malik yang berada di kursi sopir sendirian dan Hujan juga Dewi yang duduk di kursi belakang.
Cukup lama dari rumah sakit permata, ketiganya pun sampai di kediaman Pramesta, nama marga Hujan. Hujan turun dibantu Dewi, ia memandang rumah itu dengan sorot datar. Lama sekali rasanya tidak berada dirumah besar ini.
"Mari masuk non, ibuk udah masakin makanan super enak buat non Hujan," Ujar Dewi sembari membantu majikannya masuk.
Ketika sampai di kamar sang nona, Dewi segera membantu Hujan duduk dan menyimpan barang-barang Hujan yang ia bawa ke rumah sakit. Setelahnya, wanit paruh baya itu pamit untuk menyiapkan makanan untuk Hujan. Hujan mengangguk sembari tersenyum mempersilahkan Dewi keluar.
Hujan kemudian mengambil tabletnya yang berada disisi meja, mencatat planning apa saja yang belum ia lakukan dulu. Gadis itu menghela napas nya kembali, matanya memandang tablet tapi pikirannya jauh berkelana.
Kembali ia mengingat segalanya, rentetan kematiannya yang tragis, juga fakta bahwa ia kembali ke raganya saat ini. Ia terbunuh tepat setelah pengumuman kelulusannya. Berbulan-bulan hilang karena diculik dan disiksa, ia paham betul siapa yang melakukan ini, karena dengan jelas ia mengingat detik-detik sebelum kematian merengkuhnya.
Laki-laki itu, berdiri dengan angkuh. Dengan pistol ditangannya, memandangnya dengan sorot tajam dan amarah yang kentara. Mengabaikan tatapan takut bercampur rasa cinta yang terlihat jelas dimata Hujan. Mengarahkan Pistol pada tubuh Hujan yang telah terluka karena disiksa bawahannya, dan tanpa rasa kasihan membunuh gadis itu dengan beberapa tembakan di kepala dan dadanya.
Hujan kembali menangis mengingat itu semua, ia menyadari betul bahwa itu lebih dari sekedar mimpi. Itu terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi buruk. Karena hingga saat ini, ia masih bisa merasakan sakit pada setiap jengkal tubuhnya yang disiksa dan ditembak. Masih terekam jelas juga bagaimana keji nya menyiksanya dengan kata-k********r. Itu semua masih sangat terasa hingga saat ini, menimbulkan sesak yang kemudian perlahan menjadi luar biasa sakit.
Hujan meremas baju dibagian d**a, mencoba meredakan sesaknya. Ia melihat kedepan dengan mata yang berkaca, siap meloloskan butiran bening. Kilasan itu perlahan menimbulkan benci sekaligus motivasi. Motivasi agar ia hidup lebih baik, menghindari kematian dimasa depan dengan cara apapun.
Ia harus bahagia, dan satu-satunya cara agar ia bahagia adalah meninggalkan segala hal yang berhubungan dengan Langit Galaxian Auryga. Lelaki yang menjadi cinta pertama sekaligus obsesinya selama ini.
***
Hujan turun didepan gerbang Eagle Internasional School, sekolah bertaraf internasional yang cukup bergengsi di negara tersebut. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan pelan, tiba-tiba merasa bersalah atas segala kelakuannya yang begitu liar selama disekolah.
Meski begitu, Hujan tetap berjalan dengan pandangan lurus, dengan senyum yang terpatri manis kepada siapapun yang dilewatinya. Namun, beberapa kali senyum manis tersebut luntur dikarenakan hampir semua siswa langsung mengalihkan tatapan mereka dengan menunduk bahkan langsung putar badan menjauh darinya. Sementara sisanya lagi memandangnya dengan tatapan benci yang begitu kentara.
Hujan menghela napas, kemudian membungkuk untuk membembernakan tali sepatunya yang lepas. Hujan mendongak ketika dua pasang sepatu terlihat didepannya.
"Oh masih idup, gue kira lo udah mati."
"Titisan iblis kek lo harusnya mati aja sih, sekalian mati pas kemarin jatuh dari arena panjat tebing, iya gak Dai?"
"Iyalah, lagian idup juga cuman nyusahin orang lain, ga guna."
Terlihat sepasang anak kembar yang memandangnya tajam, Hujan mengerjabkan mata, menggali ingatannya akan dua orang dihadapannya kini.
‘Inhale, ekshale Hujan’ tekannya dalam hati seraya menghela napas, ia hanya perlu tersenyum lebar membalas perkataan mereka. Hidupnya akan jauh lebih baik dan bahagia setelah ini, tentunya harus menjadi orang sabar dulu. Karena orang sabar disayang Tuhan. Tidak perlu mendengarkan perkataan mereka, yang sialnya sangat benar.
Tapi karena Hujan sudah menjadi anak yang baik semenjak ia sadar kembali, jadi ia akan bertekad untuk terus menjadi baik dan berperi kemanusiaan termasuk kepada dua manusia setengah kuyang disampingnya.
'Tuh kan jadi julid lagi, ck'
Hujan menoleh dan menarik senyum cerah kepada Guntur dan Badai, membuat mereka tertegun sesaat sebelum kembali memasang wajah tengil menyebalkan.
“Makasih doanya, sayangnya doa kalian belum dikabulin. Lebih rajin doa lagi deh,” jawab gadis itu disertai senyum tipis yang masih terpatri.
Badai dan Guntur tertegun dengan nada lembut yang gadis itu ucapkan. Terkenal sebagai ratu bully tentunya bukan tanpa alasan, pada dasarnya mulut Hujan sangat tajam dan pedas ketika ia berbicara dengan orang-orang. Belum lagi sifat angkuh yang sangat melekat padanya. Hujan hanya menuruti ucapan Langit, hanya patuh pada Langit.
Tapi melihat gadis itu menjawab dengan lembut juga senyum tipis membuat keduanya bingung. Sejak mengenal Hujan, Badai dan Guntur memang tidak suka dengan keangkuhan dan betapa keras kepala gadis itu. Belum lagi Hujan selalu merengek dan menempeli Langit seperti perangko serta selalu membully setiap gadis yang mendekati Langit membuat keduanya semakin membenci Hujan.
“Tur, tadi serius si Hujan?” tanya Badai pada Guntur yang masih memandang kepergian Hujan dengan lekat.
“Gue gayakin Dai, dia berubah,” Beo Guntur sekaligus menjawab pertanyaan dari kembarannya.
Di sisi lain, Hujan terus berjalan dengan senyum yang masih terpatri, agak seperti orang aneh dimana siswa lain, tetapi gadis itu mengabaikannya, dan memilih melanjutkan perjalanannya hingga sampai di kelasnya. Hujan segera masuk dan duduk di bangkunya, matanya menyorot tenang akan bangkunya yang penuh coretan bahasa kasar.
Dua Minggu lebih tidak bersekolah sepertinya membuat mereka semakin berani kepadanya, jika saja ia masih Hujan yang dulu, tentunya Hujan akan mencabik wajah mereka satu-persatu. Tapi kini Hujan harus menahan kesabarannya, ia tidak ingin seperti dulu yang mana ia hampir di drop out karena banyaknya kasus yang ia lakukan selama ini.
Gadis itu mengambil tisu basah dari dalam sakunya, membersihkan meja tersebut tanpa adegan mengamuk atau berkelahi dengan teman sekelasnya. Meskipun ia tahu betul siapa yang melakukan ini kepadanya. Gadis itu menatap kearah teman-temannya, dan perlahan melengkungkan senyum cerah.
“Kalau mau ngatain, maki-maki didepan gue aja langsung. Kasian mejanya kotor,” ujar gadis itu masih dengan intonasi yang tenang.
Setelah bangkunya bersih, Hujan membalikan badannya dan menatap teman-temannya yang melihat kearahnya. “Oh ya, gue ga marah soal bangku ini. Mungkin ini gak setimpal sama apa aja yang gue lakuin ke kalian, tapi gue harap ini jadi langkah awal untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan gue selama ini. Untuk semua kesalahan gue, gue minta maaf ya,” Lanjutnya dengan dengan tulus berseta tatapan bersalah yang kentara.
Ujaran tersebut memunculkan berbagai respon dari teman-teman sekelasnya. Beberapa siswa bahkan mengumpatinya diam-diam, Hujan tau tapi ia mengabaikan. Gadis itu menyematkan senyum manis yang membuat sebagian besar siswa laki-laki di kelasnya terpesona. Pada dasarnya Hujan memang cantik, namun kecantikannya tertutupi oleh sifatnya yang kejam dan egois. Lagipula tidak ada yang tahan dengan gadis gila seperti Hujan, tepatnya gadis yang tergila-gila pada Langit.
Melihat respon teman-temannya yang nampaknya belum menerimanya, membuat Hujan tersenyu memaklumi, mencoba abai, gadis itu kemudian duduk dan mulai membaca dengan tekun, mengubah sedikit demi sedikit hidupnya yang selama ini berantakan.
Sedikit fakta tentang Hujan, gadis itu adalah gadis yang tidak memiliki teman. Terlampau kejam dan seenaknya, membuat gadis tersebut dimusuhi hampir seluruh siswa EIS. Dikelasnya sendiri, gadis itu duduk dibagian paling belakang, tidak pernah masuk organisasi atau melibatkan diri dalam kegiatan kelompok. Yang ia lakukan hanya mengejar-ngejar Langit.
Namun, selayaknya berganti jiwa. hari ini Hujan terlihat berbeda. Tidak ada lagi makeup di wajahnya, rambutnya pun yang selama ini dibiarkan tergerai dengan aksesoris mewah, kini hanya dikuncir sederhana dengan poni. Membuatnya wajahnya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dan natural dibandingkan sebelumnya. Seragamnya juga terlihat normal, tidak ketat sama sekali.
***