Bel sekolah pertanda pelajaran akan dimulai sudah berdering sepuluh menit yang lalu, namun seorang laki-laki dengan seragam yang dikeluarkan, kaos hitam yang terlihat karena kancing tiga seragam sengaja dilepas, tas yang hanya disampirkan dibahu kiri, serta tetap berjalan santai di lorong sekolah menuju kelasnya berada seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi Ibu Siska yang cantik!" Seru laki-laki itu setelah membuka pintu kelas.
"Berapa kali lagi rencana kamu datang terlambat, Januari?" Janu hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari guru sosiologi dengan perawakan tubuh besar, kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya serta spidol yang sepertinya siap dilempar ke arah Janu.
"Selama nama saya gak berubah jadi Desember sih, Bu," ujar Janu yang membuat seisi kelas tertawa.
"Apa sih yang dilihat Davena dari kamu? Sampai mau-maunya pacaran sama Janu." Bu Siska menampilkan ekspresi terheran-heran.
"Yang jelas, gak mungkin sama kayak apa yang Ibu lihat, kalau sama, Ibu juga udah jatuh cinta sama saya," balas Janu yang akhirnya mendapatkan jeweran dari Bu Siska dan tawa yang pecah dari seisi kelas, memang begini kelakuan Januari.
???
Janu tengah duduk dan bercengkerama di warung samping sekolah bersama teman-temannya, dengan merokok tentu saja.
"Jan, PR geografi lo udah? Lihat dong gue," tanya Nizam, teman sekelas Janu.
"Lo yakin tanya ke Janu? Kelakuannya sebelas tiga belas sama lo begitu!" Janu hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan Fano.
"Lima menit lagi, PR gue kelar," jawab Janu yang berhasil membuat Nizam dan Fano mengernyitkan dahinya, namun tak lama, setelah itu mereka berdua paham.
Janu, Nizam dan Fano merupakan tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan, dimana ada Janu maka Nizam dan Fano juga akan terlihat.
"Gak sampai lima menit ternyata," ucap Janu yang membuat kedua temannya menoleh ke arah gerbang warung, terlihat seorang perempuan yang melangkah masuk menghampiri mereka.
"Dia siapa?" Nizam memicingkan matanya menatap perempuan ini dari atas hingga bawah.
"Sinta,” jawab Fano
“Sinta temen sekelas kita? Lah anjing, tau gitu sekalian PR gue lo kerjain Sin!” Fano melempar botol kosong ke arah Nizam
"Lah, selera lo jadi down grade gini Jan?" Imbuh Nizam yang berakhir dengan Fano memukul kepalanya.
"Mulut lo, setan!" Ujar Fano sebagai jawaban dari ekspresi wajah Nizam yang tidak terima dipukul olehnya.
"Janu, ini PR kamu, sudah selesai aku kerjakan..." lirih Sinta sangat pelan, takut-takut membuat kesalahan.
"Terima kasih ya Sinta." Janu dapat melihat tangan Sinta yang bergetar saat hendak menyerahkan buku PR milik Janu, tak ingin membuang waktu lama, Arya langsung menyerobot buku itu.
"Loh, Nizam..." Sinta keheranan dengan perilaku Nizam yang langsung membuka-buka halaman buku Janu untuk mencontek tanpa permisi atau minta izin pada empunya terlebih dahulu.
"Gak apa-apa Sin, Nizam kan temen aku," ucapan Janu seolah menjawab kebingungan Sinta.
"Kita nanti sore jadi jalan...."
Belum selesai ucapan Sinta, sosok perempuan cantik dengan penampilan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Sinta yang memang seperti kutu buku memotong pembicaraan mereka.
"Mau kemana nanti sore?" Tanya perempuan cantik itu membuat Sinta terkejut hingga meremas-remas rok nya untuk menyembunyikan ketakutan yang tiba-tiba muncul.
"Iya, mau kemana nanti sore, Sin?" Imbuh Janu bertingkah seolah tidak mengerti ucapan Sinta, padahal nyatanya Ia telah berjanji untuk mengajak Sinta jalan-jalan sebagai bayaran karena telah mau mengerjakan PR Janu.
"Dave, sini sayang, duduk!" Janu menggeser posisi duduknya agar Davena bisa duduk disampingnya, perempuan cantik itu adalah Davena Kiswari, pacar Januari.
"Emmm, aku pamit ya Janu," ucap Sinta yang lebih memilih pergi tanpa menuntut Janu memenuhi janjinya, jika terlalu lama berada disini, Sinta sadar betul dirinya hanya akan dipermalukan atau berujung dimarahi oleh Davena.
"Ada apa kamu sama Sinta?" Tanya Davena meski sudah mengetahui apa yang dilakukan pacarnya ini, bukan kali pertama Janu berbuat seperti ini, selama dua tahun mereka berpacaran.
"Gapapa, sayang." Janu memantik sebatang rokok, Dave hanya bisa menghela nafas kasar melihat kelakuan laki-laki yang Ia cinta.
"Kenapa Ve?" Tanya Janu merasa aneh ditatap oleh Davena lama.
"Ngelihat pacar sendiri emang gak boleh?" Jawab Davena sekenanya lantas membuangan pandangan.
"Panas banget elahhhh, padahal banyak pohon rindang!" Nizam membereskan buku-bukunya kemudian beranjak pergi, Ia menyadari akan ada perang disini, terlihat dari raut wajah Davena yang tidak ramah dari awal.
"Lo mau cosplay jadi kambing Fan?" Fano pun ikut beranjak saat mendengar pertanyaan Nizam, Janu hanya terkekeh melihat kelakuan kedua temannya.
"Udah tinggal kita berdua? Ada apa sayang?" Janu menatap mata Davena dalam.
"Aku kemarin kayak lihat kamu sama perempuan di Taman Kota.." tutur Davena dengan nada lirih seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Janu.
"Dia si....."
Belum selesai ucapan Davena, Janu sudah membungkamnya dengan ciuman, Janu bahkan melumat lembut bibir Dave yang selalu terasa manis baginya, bahkan tangan kanan Janu tak segan untuk meremas d**a Davena yang kemudian di tahan oleh perempuan itu.
"Jan, ini sekolah..." ucap Dave seraya melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang menonton kejadian barusan, bahkan kalaupun ada yang melihat, mereka hanya bungkam karena tidak mau berurusan dengan Januari.
"Gak ada yang lihat, masih malu aja kamu, kayak gak pernah gini aja," jawab Janu santai.
"Kamu belum jawab..."
"Kan kemarin sore aku sama kamu," lagi-lagi Janu menyela ucapan Davena.
"Sebelum itu?"
"Aku pulang kerumah, abis dari tempat Nizam, tanya dia deh kalau kamu masih mau curigaan gini sama aku." Janu mendadak kesal dengan sikap Davena yang Ia rasa menuntut jawaban, meskipun demikian, Janu sadar kemarin dirinya memang berada di Taman Kota, dengan Hujan.
"Iya aku percaya, maaf, mungkin aku yang salah lihat." Davena memilih mengalah dan menyudahi percakapan ini.
"Ayok masuk, aku gak mau kamu dihukum gara-gara telat masuk kelas, bentar lagi jam istirahat kelar." Janu berdiri dari duduknya dan menarik tangan Dave untuk berjalan bersama, sebelum mereka benar-benar keluar dari warung, Janu kembali melumat bibir Dave, kali ini tanpa penolakan.
???
Januari Adirakas Reja, biasa dipanggil Janu, putra bungsu keluarga Reja, Janu memiliki kakak perempuan yang usia nya terpaut tiga tahun, usia Janu saat tujuh belas tahun, siswa kelas sebelas IPS tiga, meskipun memiliki kakak perempuan, tetap saja. Janu terkenal nakal dan sangat b******k terutama dikalangan perempuan.
Janu berhasil ditaklukkan oleh pesona Davena Kiswari, kakak kelas jurusan IPA yang memiliki paras cantik dan berani, banyak yang menyayangkan Dave memiliki hubungan dengan Janu, namun hal itu dapat dibungkam pula dengan wajah tampan Januari yang memang tidak bisa dibantah.
Janu membuat Dave terjebak berkali-kali oleh pesona nya, bersama Janu memang sakit, tapi jika kehilangan Janu, Dave akan hancur, itu yang Dave sadari.
Janu selalu bertingkah semaunya sendiri, tidak suka diatur, bahkan terkadang Janu lupa bahwa Ia memiliki Davena sebagai pacarnya, bukan hanya sekali Janu kepergok selingkuh, Janu tidak hanya sekedar jalan dengan perempuan lain, Janu juga tidur dengan perempuan - perempuan selingkuhannya itu, bodohnya Dave selalu memaafkan dengan dalih, kemana pun Janu pergi, maka Davena adalah tempat pulangnya.
Janu memelankan langkahnya saat melihat sosok pria yang amat dikenalnya berdiri di koridor sekolah persis di depan ruang guru tengah memainkan ponselnya, sosok itu adalah papa Hujan.
"Om Braga..." lirih Janu seraya menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Dave pun ikut menghentikan langkahnya.
"Kamu duluan ya, aku ada urusan bentar." Janu berjalan kearah Braga tanpa memperdulikan kebingungan yang terpancar dari sorot mata Dave seolah menuntut penjelasan.
"Om," sapa Janu langsung mencium punggung tangan Braga.
Sebelum Dave beranjak, ia sempat melihat hal itu dari kejauhan lantas merasa semakin bingung sekaligus tercengang, dengan orang tua Dave pun, Janu tidak pernah bersikap seperti itu.
"Baru aja Om mau telepon kamu Jan," ujar Braga membuat Janu mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Om? Ada masalah? Hujan baik-baik aja kan? Atau, Hujan dimana Om?" Braga hanya terkekeh mendengar rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Janu.
"Hujan baik-baik saja, oh iya nanti sore katanya kamu mau nganterin dia check-up kan?" Janu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Kalau Hujan baik-baik aja, Om ada keperluan apa disini?”
Janu sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Braga, pasalnya terakhir kali Braga ke sekolah adalah untuk mencari Janu karena Hujan tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit dan saat sadar Hujan mencari Janu, sementara yang dicari tidak bisa dihubungi.
"Nah, Om sudah konsultasi dengan dokter juga mengenai kondisi jantung Hujan, katanya selama aktivitas tidak terlalu berat, Hujan bisa sekolah normal seperti permintaan nya, Om pingin Hujan sekolah di sekolah yang sama kayak kamu." Tutur Braga seraya menepuk pundak kiri Janu.
"Serius Om? Hujan bisa sekolah normal?" Janu tersenyum sumringah, hatinya terasa hangat mendengar kabar baik itu.
"Iya, Om baru selesai urus administrasi nya, oh iya, kamu tolong jaga Hujan ya, tanpa diminta pasti kamu juga sudah pasti jaga Hujan, tapi buat hal ini Om..."
"Tenang aja Om, Janu bakal selalu awasi dan jaga Hujan, Om dan Bunda gak perlu khawatir, ada Januari!" Janu meyakinkan Braga dengan memegang tangan laki-laki yang sangat dihormatinya itu.
"Ya sudah, Om pamit dulu ya? Mau pulang dulu, taruh baju seragamnya Hujan."
"Hati-hati ya Om, minta tolong bilang ke Hujan, pulang sekolah Janu ke rumah." Braga pun tersenyum seraya menepuk bahu Janu sekali lagi sebelum pergi.
Janu sangat merasa senang, bahkan sampai melompat dengan mengepalkan tangannya saking bahagianya, murid lain yang berlalu lalang di koridor pun terheran-heran melihat tingkah Janu yang biasanya dingin dan arogan.
???
Hujan tengah duduk dikamar seraya memandangi buku pelajaran yang Ia dapatkan dari Papa nya beberapa jam yang lalu, Ia sangat senang dan merasa tidak sabar untuk bersekolah besok.
"Eh ini siapa?" Hujan yang semula bahagia tiba-tiba panik saat matanya sengaja ditutup oleh tangan besar yang juga memeluknya dari belakang.
"Janu...." ujar Hujan dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Yah, gak asik, masa kamu bisa tau ini aku sih!" Janu memanyunkan bibirnya beberapa senti seperti anak kecil.
"Jangan kan tangan sama aroma parfume kamu, suara langkah kaki kamu aja aku tau." Jawab Hujan dengan kekehan.
"Iya deh, cieee yang mau sekolah, selamat ya!" Hujan berhambur kedalam pelukan Janu.
"Terima kasih Janu!" Mendengar hal itu Janu mengeratkan pelukannya, hati nya menghangat melihat Hujan bahagia seperti ini.
"Hujan ambil jurusan apa?” Janu mulai mengurai pelukannya.
"IPS, kita satu kelas!" Hujan menjawab dengan berseru riang.
"Serius?" Hujan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Papa sama Bunda cuma ngasih izin buat Hujan sekolah asal bareng sama Janu, gak apa - apa kan?" Tanya Hujan pelan.
"Gak apa - apa Hujan sayang, aku malah senang kalau kita satu kelas, jadi aku bisa selalu awasin kamu!" Janu mengusap kepala Hujan lembut, merapikan rambut perempuan yang sangat Ia sayangi ini.
"Terima kasih..." lirih Hujan pelan dengan memandang mata Janu yang telah menjadi pemandangan favorit nya selama ini.
"Terima kasih terus kamu, ada bayaran nya tapi." Janu memasang wajah jahil.
"Janu minta apa?" Tanya Hujan penasaran.
"Minta Hujan selalu ada disamping Janu, bisa?" Hujan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.
"Sejauh apapun Janu berpetualang, rumah Janu itu Hujan," ujar Janu sangat pelan, mungkin hanya dirinya sendiri yang dapat mendengar hal itu.
Hujan sangat bersemangat merapikan peralatan yang akan dibawa nya sekolah besok, hingga Janu mencium pipi kanan Hujan dengan senyuman, hanya itu yang berani Janu lakukan pada Hujan.
“Ish Janu, jangan cium pipi Hujan dong, Hujan habis cuci muka tadi.” Ucap Hujan tanpa melihat Janu, diperingati demikian tidak membuat Janu merasa kesal, malah Janu menghujani pipi Hujan dengan banyak ciuman yang membuat Hujan berusaha menghindar dan akhirnya mereka berdua tertawa.
“Janu stop!” Ucap Hujan berkali-kali, lantas tertawa.
“Jangan di pipi terus, sekali-kali, cium nya disini.” Hujan menyentuh bibirnya seolah memberikan izin pada Janu untuk mengecup bibir pink miliknya itu.
Bukannya mendapatkan kecupan, bibir Hujan malah disentil oleh Janu.
“Jangan kebanyakan nonton drama Korea!” Janu mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan hal-hal yang sudah Ia sendiri batasi sebelumnya.
“Ih ya sudah kalau Janu gak mau, nanti Hujan minta cium aja sama laki-laki lain!” Hujan memincingkan matanya, tidak sadar bahwa ucapannya membuat Janu merasa marah, bagaimana bisa Janu membiarkan Hujan miliknya disentuh oleh orang lain.
“Coba aja, kalau habis itu kamu mau dengar berita aku masuk penjara karena habis ngebunuh orang yang mau cium kamu!”
“Ih kok Janu gitu!” Rengek Hujan dengan bibir manyunnya.
“Kamu duluan yang mulai, aku menghormati kamu sama kayak aku menghormati mami dan bunda, kalau mau ngerasain apa yang kamu lihat di drama yang sering kamu tonton, besok kita nikah!”
“JANUARI!!!” Hujan memukul lengan Janu.
“Nah ya sudah, aku gak bakal cium kamu sebelum kita nikah!”
“Janu mau nikah sama Hujan?” Tanya Hujan polos.
“Hujan mau kan nikah sama Janu?” Janu menatap manik mata cantik milik Hujan.
???
Janu berjalan keluar dari rumah Hujan, mengetikan pesan pada seseorang.
(Ve, nanti malam ke apart ya, aku pingin)