Ishani menggelembungkan kedua pipinya. Gadis itu menatap malas deretan gaun mahal didepannya ini. Jika biasanya Ishani akan antusias memilih beberapa gaun, tapi sekarang tidak. Karena deretan gaun didepannya ini adalah gaun pengantin.
"Ishani sudah dapat yang kamu mau?" tanya Mehra, mengagetkan Ishani.
"Ah belum tante."
"Jangan panggil tante dong sayang, panggil mami aja ya." suruh Mehra. Wanita itu tersenyum lembut pada Ishani.
Mau tak mau Ishani menganggukan kepalanya. Sebentar lagi juga wanita didepannya ini akan menjadi mertuanya. Sungguh Ishani benci dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Oh bukan Ishani tak suka jadi menantu Mehra, bukan itu. Tetapi Ishani benci karena calon suaminya adalah orang yang paling ingin dihindarinya.
"Ishani, mama punya pilihan gaun yang cocok untukmu." seru Nerru sambil membinting sebuah gaun yang nampak cantik.
Ishani akui gaun pilihan mamanya itu memang cantik. Sederhana namun elegan.
"Wah ini cantik, cocok untuk Ishani." timpal Mehra. Wanita itu mendekat kearah Nerru.
"Bagaimana menurut mu Ishani?" tanya Nerru bersemangat.
Ishani menganggukan kepalanya.
"Oke untuk gaun wanita sudah dapat dan sekarang saatnya memilih pakaian untuk Ranveer." seru Mehra bersemangat.
Kedua wanita itu nampak asik memilih pakaian untuk dikenakan Ranveer dihari pernikahan mereka nanti.
Ishani menghela napasnya kasar, gadis itu menggelengkan kepalanya melihat keantusiasan mamanya dan calon mertuanya.
Pandangan Ishani beralih kearah Ranveer yang dengan santainya duduk diatas sofa yang tersedia dibutik ini. Ishani mendengus sebal melihatnya. Ishani cape berdiri sedari tadi dan pria itu sangat santai duduk disofa. Sungguh terlalu.
"Kenapa? Kau juga ingin duduk disini?" tanya Ranveer.
"Aku tidak akan sudi duduk bersamamu. Camkan itu!" seru Ishani. Gadis itu lebih memilih memainkan ponselnya dan berchating ria dengan kedua temannya digrup.
Ranveer yang merasa terabaikan berjalan mendekat kearah Ishani. Pria itu merebut paksa ponsel Ishani membuat gadis itu melotot.
"Apa yang lo lakuin?" seru Ishani emosi.
Ranveer tidak menjawab. Pria itu menarik lembut tangan Ishani dan menyuruh gadis itu duduk disampingnya.
"Gak sudi." tolak Ishani mentah-mentah.
Rahang Ranveer mengeras mendengar tolakan Ishani. Semua wanita menginginkan duduk bersamanya, tapi gadis yang akan menjadi istrinya itu malah menolaknya.
"Duduk disofa atau duduk dipangkuan ku!" desis Ranveer.
Ishani menatap tak suka pada Ranveer. Gadis itu tak memperdulikan ancaman Ranveer.
"Silahkan kalau berani." tantang Ishani. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Ishani yakin pria itu tak akan berani. Mereka sekarang berada ditempat ramai, jadi jika dia melakukan sesuatu apa pun pasti akan ada yang merekam mereka. Apalagi Ranveer merupakan pengusaha ternama.
Akhhh
Ishani menjerit tatakala tangan besar menarik pinggangnya dan membuatnya terjatuh kepangkuan seseorang.
"Lepasin gue." bentak Ishani. Gadis itu memberontak dalam pelukan Ranveer.
Ya, yang menarik Ishani tadi adalah Ranveer.
"Tidak akan, bukan kah kau menantangku tadi?" tanya Ranveer. Namun bagi Ishani itu sebuah ledekan.
"Turunin atau gue teriak." ancam Ishani.
Ranveer tertawa mendengar ancaman Ishani. Sementara Ishani menyeritkan keningnya bingung. Pria itu gila kah?
"Teriak saja sepuas mu, tidak akan ada yang membelamu karena kamu calon istriku."
Ishani tersenyum devil. "Bukankah tidak ada yang tau jika aku calon istrimu."
"Kau salah besar sayang, semua orang sudah tau jika kamu adalah calon istriku." kata Ranveer penuh kemenangan.
"Lo pasti bohongkan?" tuduh Ishani.
Ranveer terkekeh. Pria itu mencium rambut Ishani yang masih duduk dipangkuannya.
"Bukankah diacara tunangan kita kemarin para wartawan banyak yang datang. Dan mereka sudah meliputnya di televisi dan majalah-majalah."
Ishani mendengus mendengar penuturan Ranveer. Ishani kembali teringat dengan acara tunangan mereka 2 hari setelah Ranveer melamarnya secara resmi waktu itu.
"Wow calon pengantin sibuk bermesraan." kekeh Nerru dan Mehra yang baru saja datang dengan membawa baju untuk Ranveer.
"Ih mama." rengek Ishani. Gadis itu terlihat sangat-sangat menggemaskan.
"Ranveer cobalah ini. Mami rasa cocok untuk mu." kata Mehra pada Ranveer.
Mau tak mau Ranveer menurunkan Ishani dari pangkuannya dan mengambil pakaian yang dipilihkan mami dan calon mertuanya itu.
Ranveer berjalan menuju ruang ganti. Sementara Ishani, Nerru, dan Mehra sedang mengobrol disofa.
10 menit kemudian Ranveer keluar dari ruang ganti. Pria itu memakai jas berwarna hitam dan celana yang senada. Pria itu terlihat lebih tampan berkali-kali lipat. Dan Ishani mengakuinya.
"Woh tampannya putraku." heboh Mehra.
"Calon menantuku ganteng sekali."
Ishani memutar bola matanya melihat kehebohan mama dan calon mertuanya itu. Ranveer memang tampan, semua orang pun tau itu.
"Bagaimana aku tampan tidak?" tanya Ranveer menggoda Ishani. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Ishani.
"Biasa aja." jawab Ishani ketus. Lalu gadis itu memilih kembali memainkan ponselnya.
*****
Ishani dan Ranveer saat ini berada di cafe dekat butik tadi. Mama dan Mami Ranveer sudah pulang. Ishani mengajak Ranveer kemari untuk membicarakan sesuatu yang penting menurutnya.
Ishani menyerahkan sebuah kertas ukuran F4 dengan sebuah bolpen.
Ranveer menyeritkan keningnya tanda tak paham dengan maksud Ishani.
"Gue ingin bikin perjanjian sama lo. Gue pengen setelah hutang keluarga gue lunas nanti lo ceraiin gue." jelas Ishani.
Raut wajah Ranveer berubah. Wajahnya yang sudah dingin bertambah berkali-kali lipat. Ishani meringis saat mendapat tatapan tajam dari Ranveer. Ishani tak mengerti kenapa pria itu terlihat marah? Bukannya dia hanya membikin surat perjanjian? Lalu apa salahnya?
Ranveer menarik kertas F4 itu. Tangannya bersiap hendak menanda tangani perjanjian itu. Ishani bersorak dalam hati.
Srekk
Siapa sangka Ranveer malah merobek kertas perjanjian itu. Ishani melotot melihatnya.
"Kenapa lo sobek?" tanya Ishani emosi.
"Maaf, tapi saya tidak ingin ada perjanjian didalam pernikahan kita. Saya ingin menjalani pernikahan normal, saya ingin menikah cukup satu kali." kata Ranveer formal. Pria itu berdiri meninggalkan Ishani yang terdiam tanpa kata-kata.
Cukup satu kali?
Ishani juga ingin menikah cukup satu kali. Tapi dia tak ingin selamanya terikat dengan mahluk dingin dan menyeramkan itu.