Kegelapan turun dengan cepat, seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Hutan yang tadi siang masih tampak agung kini berubah menjadi labirin hitam yang mengancam.
Satu-satunya sumber cahaya mereka adalah senter yang sinarnya tampak ditelan oleh pekatnya malam. Suara cekikikan itu sudah tidak terdengar, namun keheningan yang mengikutinya justru terasa jauh lebih menakutkan.
"Kita harus terus bergerak," kata Renal, mencoba terdengar tegas meski suaranya sedikit bergetar. "Berhenti di sini sama saja menunggu."
"Bergerak ke mana? Kita bahkan tidak tahu arah!" balas Tiara, kepanikan terdengar jelas dalam nadanya.
Tiba-tiba, Fauzan yang berjalan di depan berhenti mendadak. "Tunggu... lihat."
Sinar senternya menyorot sesuatu di antara pepohonan. Sebuah bangunan. Bukan, beberapa bangunan. Mereka terbuat dari kayu yang sudah lapuk dan menghitam, atapnya banyak yang roboh, dan pintunya ternganga seperti mulut yang berteriak dalam diam.
Mereka telah menemukan sebuah desa. Desa yang sudah lama mati dan terlupakan oleh waktu.
"Sebuah desa... di tengah hutan belantara seperti ini?" bisik Fauzan tak percaya. "Ini tidak ada di peta mana pun."
"Kita bisa berlindung di salah satu rumah itu untuk malam ini," usul Renal, melihat ini sebagai satu-satunya pilihan logis.
"JANGAN!" seru Salma dengan keras, membuat semua orang terkejut. Matanya membelalak ngeri menatap desa itu. "Tempat ini... tempat ini jahat. Aku bisa merasakannya. Kita harus pergi dari sini, sekarang!"
"Pergi ke mana, Salma? Ke dalam hutan gelap itu?" debat Renal. "Di sini setidaknya kita punya atap untuk berlindung dari apa pun yang ada di luar sana!"
Perdebatan mereka terhenti oleh sebuah suara. Suara pintu yang berderit terbuka dari salah satu gubuk paling besar di tengah desa. Padahal, tidak ada angin sedikit pun yang berembus.
Ketakutan melumpuhkan mereka. Mereka hanya bisa berdiri mematung, menyorotkan senter ke arah pintu yang kini terbuka lebar, menampakkan kegelapan pekat di dalamnya. Dari kegelapan itu, mereka mencium bau busuk yang menusuk hidung, seperti campuran daging busuk dan bunga melati.
Selvi mulai terisak pelan. "Aku mau pulang... aku mau pulang..."
Tiba-tiba, dari dalam gubuk itu, terdengar suara langkah kaki. Bukan langkah manusia biasa. Langkahnya diseret, berat, dan basah. Semakin lama semakin mendekat ke ambang pintu.
"Lari," bisik Salma dengan bibir gemetar.
Tapi kaki mereka seolah terpaku di tanah. Rasa penasaran yang mengerikan bercampur dengan ketakutan murni membuat mereka tak bisa bergerak. Senter mereka bergetar di tangan, sinarnya menari-nari liar di depan pintu gubuk.
Sesosok bayangan mulai terbentuk di ambang pintu. Tinggi, kurus, dan tidak proporsional. Kepalanya menunduk, tertutup oleh rambut hitam panjang yang menjuntai hingga menyentuh tanah.
Fauzan, dalam upayanya untuk tetap rasional, berteriak, "Siapa di sana?!" Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya.
Dalam cahaya senter yang gemetar, mereka melihat wajahnya. Pucat seperti mayat, dengan rongga mata yang kosong dan hitam. Namun bagian terburuknya adalah mulutnya tersungging sebuah senyuman lebar yang tidak wajar, memperlihatkan deretan gigi hitam dan runcing.
Jeritan mereka pecah bersamaan, membelah keheningan malam di desa mati itu. Mereka berbalik dan lari tanpa arah, kembali ke dalam pelukan hutan yang mengancam, dikejar oleh gema tawa serak dan mengerikan dari makhluk di ambang pintu.