Anindira Maheswari
Aku melemparkan ponselku begitu saja ke atas meja yang menimbulkan bunyi yang cukup keras. Seharusnya aku memang tidak melampiaskan kekesalanku kepada benda itu namun seringkali emosi mengalahkan pikiran sehat.
Bekerja sendirian sepertiku ada kalanya membawaku pada satu titik jenuh yang teramat sangat apalagi bila berhadapan dengan orang-orang yang sudah mudah terbaca karakternya. Bisa kubilang bekerja di bidang ini membuat kemampuanku membaca orang semakin terasah. Menghadapi berbagai macam klien dengan segala tingkah, pola dan keinginannya seringkali menghibur namun seringkali juga menguji kesabaran.
Pagi ini aku sudah dibuat kesal oleh beberapa klien dan calon klien. Salah satu klienku seorang perempuan dari Jakarta yang berencana menikahkan anaknya di Bali tiba-tiba meminta banyak perubahan dalam dekorasinya padahal sudah aku tekankan sejak awal meeting bahwa mereka harus benar-benar membaca proposalku sebelum mengatakan setuju. Tapi pada umumnya klien memang sering malas membaca dan akhirnya berujung pada permintaan perubahan di sana-sini yang membuatku pusing.
"Bu, ibu tahu kan yang sudah saya bilang di awal waktu meeting? Kalau perubahan-perubahan yang diajukan mendekati hari H itu akan sulit sekali dipenuhi. Dan kalau ibu membatalkan yang pasti Down Payment-nya akan hangus." Kataku tegas.
"Oh begitu ya...aduh bagaimana ya?"
Begitulah. Tidak mudah memang bekerja di bidang jasa saat harus mengadapi berbagai macam watak orang khusnya yang menyebalkan. Aku sudah menebak perempuan ini akan berulah sejak pertemuan kami pertama kali.
"Mbak Anin, maaf ya aku mau batalin wedding-nya." Satu klien asal Surabaya menelponku dengan tangisan.
"Waduh kenapa Mbak?" aku cukup kaget mengingat pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan.
"Laki-laki itu selingkuh." Dia kembali menangis. "Saya bisa dapat duitnya balik nggak?" sambungnya masih dengan terisak.
"Um...oke. Tapi maaf Mbak, saya hanya bisa mengembalikannya sekitar 30 persen. Mbak tahu kan perjanjiannya? Soalnya yang 70 persen sudah saya pakai buat bayar supplier dan freelancer Mbak." Jawabku dan tangisannya bertambah kencang.
"Kurang ajar si Dave. Pantesan dia nggak mau keluarin duit sepeser pun buat wedding. Habis semua duitku." Ia menjerit dan menangis diujung sana. Aku terduduk lemas. Sebuah telepon kembali masuk.
"Mbak Anin, aku tuh pengen wedding-nya elegan gitu tapi low budget lah. Bisakan ya diusahain. Aku dengar Mba Anin jago loh untuk urusan ini." Seorang klien lagi meneleponku. Saat mendengar kata-katanya kepalaku mendadak pening bagaimana mereka bisa menerjemahkan pekerjaanku seperti itu, sejak kapan aku bisa membuat pernikahan elegan dengan biaya murah. Dimana-mana sudah paten hukumnya ada uang ada barang. Permintaan ini ibaratnya lo minta BMW dengan harga Suzuki Carry.
Dan begitulah cerita pagiku yang membuatku cukup emosi dan melampiaskan pada ponsel kesayangan. Masalah pekerjaan sudah menyita sebagian besar otakku di pagi ini. Aku butuh kopi dan seperti biasa Kikan come to the rescue.
"Morning." Dia sudah menjerit dari depan pintu.
"God, thank you!" balasku sambil mengangkat kedua tanganku ke atas,
"Kopi buat nona Anin." Ia meletakkan kopi favoritku di meja di depanku.
"I love you, Kikan." Aku memberinya kecupan dai jarak jauh dan dibalasnya juga dengan kecupan.
"Lo bawain gue kopi dan gue bakal kasih kabar buruk buat lo."
"Kabar apa?"
"Surabayan wedding batal." Kikan menaikan kedua alisnya mendengar informasiku. "Tenang duit lo nggak usah dikembalikan." Walaupun Kikan sahabatku dan lebih mengutamakan vendorku namun aku tidak bisa menutup mata kalau Kikan adalah freelancer rebutan para vendor lain di sini. Keahliannya merangkai bunga sulit mendapat tandingan. Aku perlu membayar penuh freelancer semacam Kikan untuk proyekku sebelum dia diambil vendor lain tentunya.
"Duitnya dibagi dua aja sama kamu." Tawarnya.
"Nggak! Nggak kayak gitu lah, Kan." dia tersenyum. Kami sama sama diam sambil menikmati kopi.
"Jadi kemarin kamu ke Gianyar?"
Aku mengangguk dan menceritakan semuanya pada Kikan yang terjadi kemarin termasuk ciuman itu.
"Gimana setelah enam bulan nggak nyium Bagas?" Kikan mengerling menggoda ke arahku.
"Masih sama rasanya. Hanya saja..."
"Hanya saja...." Kikan mengulang kata-kataku dengan sorot mata penasaran.
"Aga. Aga udah bikin gue benar-benar nggak punya keinginan lagi sama Bagas. Gue heran." Aku bicara tanpa memandang Kikan.
"Kenapa heran?"
"Karena gue nggak pernah mengira gue bakal sedalam ini punya rasa sama dia." Aku memandang Kikan dengan sorot mata yang sangat yakin.
"Go get him back." Seru Kikan.
"Ya." Aku mengangguk. "Tapi..."
"Tapi apa?" kikan menjerit gemas.
"Udah hampir dua minggu gue nggak tau apa tentang dia. Kabarnya? Apa yang dia lakukan? Jadi gue nggak tahu harus mulai dari mana?"
"Kamu ya, Nin. Bener tuh kata si Anneth teman Jakarta kamu itu kalau kamu itu benar-benar golongan boomer deh. Kuno. Bahkan kaum boomer aja masih f*******:-an. Nah kamu..." Kikan mengomeliku dan aku hanya berdecak sambil meraih ponselku.
"Coba stalk instagramnya. Ngapain aja dia?" perintah Kikan.
"Tapi Aga juga bukan tipe cowok medsos." Gumamku sambil memandang layar ponselku. "IG-nya itu hanya berisi foto-foto bangunan lah, landscape, pemandangan, kayak gitu gitu lah. Mana bisa juga gue tahu kegiatannya dari..." aku terdiam dengan pandangan terus terpaku di layar.
"Apa? Dia posting apa?" Kikan penasaran dan menarik kursinya mendekatiku. Aku tersenyum kecil saat melihat beberapa postingan baru yang ia tampilkan di instagramnya. Ia mengabadikan atap pura Puncak Penulisan di Kintamani dari sudut yang sangat cantik. Potret kumpulan buah jeruk yang dijual di pinggir jalan juga terlihat sangat estetik. Bahkan tangkapan kameranya pada gerombolan anjing liar di jalanan Kintamani menjadi sebuah potret yang sungguh hidup dan menyentuh hati.
"Duh, aku kira ada foto sama cewek." Kikan memegang dadanya dan menghembuskan napas lega.
"Dia pergi sendiri, Kan. Padahal dulu gue janji mau temenin dia." Gumamku masih dengan senyum menganggumi setiap fotonya.
"Siapa itu Alisha?" Kikan tiba-tiba berkata.
"Ha?" aku menoleh cepat pada Kikan.
"Itu Alisha yang komentar." Kikan menggerakan dagunya. Aku terlalu terpaku pada foto-foto Aga sampai aku tidak memperhatikan hal lainnya.
Nice shot! Ayo hunting tempat lain lagi
Thanks. Ayo!
Balasan Aga lah yang membuat aku berdebar.
"Oh itu...I know her. Ummm..."
"Ummm...what?" Kikan melotot ke arahku. Aku tidak tahu bagaimana cara aku menceritakan tentang Alisha pada Kikan. Sebuah kebetulan yang menyakitkan tentu saja, bertemu dengan perempuan yang terang-terangan mengatakan naksir pada laki-laki yang kamu cintai namun kamu tinggalkan. Bahkan aku kesal dengan ide brilian Anneth yang membentuk grup khusus di WA dan memasukan Alisha di dalamnya. Aku sampai tidak berniat sama sekali membuka dan membaca obrolan yang sudah terjadi di grup itu sejak awal.
"Kamu harus cepat bawa kembali Aga ke sisi kamu. Aku punya feeling nggak bagus, Nin. Mungkin Kiara bukan lagi sosok yang kamu khawatirkan but this girl...." Kikan mengambil ponsel dari tanganku dan menunjukkan komentar Alisha di hampir semua postingan baru Aga.
"Aku tahu..."
"Ya udah. Jangan nunggu lagi! Go get him before he closes the book on you and met other girl!"
***
Dimas Agastya
Setelah perjalananku ke Kintamani, hatiku mulai terasa lebih lepas. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar bisa melupakan Anindira semudah ini. Apa mungkin aku terlalu cepat menyerah? Aku melepas kacamatku dan memijat area kelopak mataku. Dua gelas kopi di mejaku sama sekali tidak membantuku untuk fokus pada gambar desain di layar laptopku.
"Lupain Anin. Masih banyak cewek lain, Ga. Lagian kalian juga baru jalan seminggu, yaelahhh nggak usah kayak orang patah hati berat gitu dong." Mike mengejekku. Ya, dia mungkin benar aku seperti memaksa diriku tenggelam dalam kecewaku. Kecewa karena Anin menolak berjuang denganku dan mengecilkan perasaan cintaku padanya. Namun di sisi lain melepaskan Anin juga bukan berarti aku menyerah tapi justru membuat perempuan itu tidak menderita karena harus menghadapi Mama dengan segala pandanganya tentang jodohku yang menurutnya tidak ia temukan di diri Anin. Bentuk cintaku yang lain padanya adalah tidak membuat ia masuk ke dalam trauma yang sama seperti yang Mamanya alami.
"Oke. Gue harus tutup buku tentang Anin." Kataku pelan dan berusaha kembali fokus pada apa yang sedang kukerjakan. Aku melirik jam di pergelangan tanganku dan cukup terkejut saat melihat jarum jam sudah menunjuk angka delapan. Aku membereskan laptop dan segera keluar dari Fahrenheit. Mobil kuarahkan ke Mcdonal Jimbaran karena tiba-tiba aku ingin mengisi perutku dengan double cheese burger setelah aku menghabiskan satu piring pasta di Fahrenheit tadi.
Aku mengeluh melihat antrian drive thru yang cukup panjang dan memutuskan untuk memarkir saja mobil dan membeli langsung ke dalam restorannya yang terlihat dari luar justru tidak banyak antrian.
Aku masuk melalui pintu samping dan mataku langsung tertuju pada perempuan yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang dan menikmati chocolate cake di hadapannya. Meja mereka persis dekat pintu masuk. Aku menunduk mencoba untuk tidak menarik perhatiannya namun tidak berhasil.
"Aga?" Panggilnya dan membuat langkahku terhenti. Aku tidak tahu apakah memang pertemuan ini sudah diatur oleh semesta karena keputusanku untuk menghindari drive thru justru membawaku ke hadapan Alisha lagi.
"Hei." Aku tersenyum kaku ke arahnya. "Aku pesan dulu ya mumpung nggak ada yang antri." Aku mencoba menghindar.
"Oke." Ia mengangguk dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Tiba-tiba keinginanku pada cheese burger menguap begitu saja. Aku sama sekali tidak menyalahkan Alisha akan kehilangan nafsu makanku tapi apa yang sedang terjadi padaku saat ini akibat dari aku sedang berusaha keras membentengi diriku dari pesona perempuan itu. Sama kerasnya dengan usahaku untuk melupakan Anin.
Setelah mendapatkan pesananku aku melirik tempat duduk Alisha dan perempuan itu sudah melambaikan tangan ke arahku.
"Finally someone owe me lunch." Dia tersenyum sumringah dan membuatku langsung teringat janji yang kubuat saat kami terakhir bertemu di Mal.
"Oh ya Ga, ini kenalin temanku Dina. Dia yang kapan itu ninggalin aku di BMG." Jelas Alisha sekaligus ingin membuatku berhenti berpikir bahwa ia berbohong padaku waktu itu.
"Aku nggak pernah bilang kamu bohong kok." Aku membela diri. "Aku minta nomor kamu." Kataku kemudian dan membuat dia kembali tersenyum. Ia kemudian menyebut sebaris angka dan aku mengetikkannya dalam ponselku.
"Kalau gitu aku balik dulu ya, nanti aku kabari kamu."
"Oke." Aku sedikit mengangguk ke arah temannya dan berjalan keluar. Tidak ada salahnya menyambut tawaran pertemanan dari Alisha, mengenai resiko yang aku takutkan tentu saja setalah Anin benar-benar keluar dari hatiku, aku rasa resiko itu bukan lagi menjadi hal yang menakutkan. Dia sendiri memastikan bahwa ia sedang tidak menawarkan sebuah hubungan. Alisha berhak mendapatkan kesempatan untuk lebih dikenali. Dia memang sedikit agresif untuk ukuranku tapi aku tidak bisa menilainya hanya dengan aksi ciumannya waktu di klub malam itu.
"Dia bukan random girl yang tiba-tiba datangin lo dan nyium lo malam itu. Gue kenal dia sebelumnya dan dia pernah ketemu kita sebelumnya hanya saja lo yang terlalu fokus sama Anin waktu itu jadi lo seperti nggak melihat siapa-siapa. Gue nggak tau sejak kapan dia suka sama lo dan tanya-tanya banyak hal tentang lo." Mike menjelaskan tentang Alisha padaku lewat telepon.
"Terus kenapa dulu lo sok-sok heran bilang baru kali ini ada cewek di klub yang tertarik sama gue. Licik lo ya!" makiku dan seperti biasa Mike meresponnya dengan tawanya.
"Biar lebih menarik aja." Dia kembali tergelak di ujung sana. "Gue sebenarnya suka sama Anin sih. Sayang aja lo sama dia nggak jodoh. But hey masih banyak ikan di lautan."
Keesokan harinya aku mengontak Alisha menawarkan untuk makan siang denganku kalau dia ada waktu. Dan dia setuju kemudian menawarkan tempat makan yang enak menurutnya. Aku tentu saja tidak menolak karena pengetahuanku tentang tempat makan di kota ini tentu saja tidak seluas dia.
Dia menolak tawaranku untuk menjemputnya dan mengusulkan untuk langsung bertemu di sana. Sepertinya Sanur selalu menjadi lokasi bermukimnya rumah makan yang dikenal dengan menu yang enak. Meski Anin sering mengatakan kalau Seminyak lebih banyak menawarkan makanan yang bervariasi dan enak, jujur aku sedikit tidak suka dengan Seminyak kala itu karena aku tahu mantannya punya sebuah kafe di sana. Ya, terlalu kekanan-kanakan tapi aku rasa itu wajar.
Alisha sudah sampai lebih dahulu dan menempati meja yang menghadap dinding kaca yang membuat mata kita bebas melihat ke halaman restoran yang juga disi dengan barisan dining table yang pastinya bukan menjadi tempat favorit di siang hari seperti sekarang ini. Ia terlihat berbeda dalam balutan pakaian semi formalnya. Mungkin ia langsung dari tempat kerjanya.
"Nggak susah kan nemu tempatnya?" dia menyambutku dengan senyum andalannya dan lama-lama aku sudah bisa menghafal bentuk senyum itu. Well, aku hanya laki-laki biasa yang kadang sulit mengabaikan sesuatu yang menarik. Tapi tentu saja Alisha masih kuanggap sebagai teman untuk saat ini.
"Kalau aku makan di sini aku selalu pesan ini." Ia menunjuk sebuah menu di buku menu. "Lamb-nya enak banget. Nasi basmatinya hmmm..." dia mengecup ujung-ujung jemarinya yang ia satukan di depan bibirnya. "Jagoannya tentu sambel ijonya. Kamu nggak nyesel deh." Dia begitu bersemangat menawarkan menu andalannya.
"Tapi steak-nya juga gila sih enak banget. Terserah kamu deh." Katanya lagi saat melihatku masih belum menentukan pilihan.
"Oke aku pesan yang pertama tadi." Kataku karena cukup penasaran dengan gambaran yang ia berikan tadi. Dia tersenyum senang dan menyebutkan pesanan itu pada pelayannya. Dia sendiri memesan satu porsi steak dengan alasan ia sudah sering memesan menu yang kupilih ini.
"Kamu langsung dari kantor?" tanyaku saat pelayan baru saja meninggalkan kami.
"Iya."
"Kamu kerja dimana?"
"Aku staf marketing dan advertising di sebuah Resort di Sanur ini."
"Oh wow."
"Apanya yang wow." Ia tersenyum malu-malu.
"Mike bilang kita pernah ketemu sebelum yang di Sky Garden itu." Aku mencoba tidak memandangnya saat menyebut Sky Garden karena mengingat aksi ciuman itu sedikit membuatku jengah. Sepertinya dia merasakan hal yang sama.
"Ahhhh...." Dia sedikit tertunduk. "Iya kita pernah sekali ketemu waktu malam-malam kamu ke Sanur nyari Mike. Itu sepertinya Mike baru nyampe dari Jakarta deh." Ia mengangkat mukanya memandangku.
"Oh aku ingat." Aku mengangguk.
"Ya, tapi kamu nggak ingat aku kan? Kita sempat dikenalin sama Mike dan kalian waktu itu langsung terlibat pembicaraan serius jadi aku menyingkir." Ia berkata diiringi tawa kecilnya. Baiklah aku benar-benar tidak mengingatnya. Aku hanya ingat aku memang dikenalkan dengan seseorang waktu itu tapi hanya sepintas lalu dan aku lupa mengingat wajahnya.
"Maaf." Aku berkata pendek. "Udah lama di Bali?" tanyaku sekaligus mengalihkan topik tadi yang sedikit membuat suasana jadi sedikit kaku.
"6 tahun lama nggak?" balasnya.
"Cukup lama."
"Ya selama itu aku di Bali. Betah juga sih di sini. Orang-orangnya menyenangkan."
"Aku belum lama di Bali jadi belum terlalu banyak mengenal orang-orang di sini." Balasku yang di sambut dengan anggukannya.
"Sering-sering lah main sama aku, aku kenalin deh sama orang-orang asyik di Bali."
"Oke."
Minuman kami dihidangkan dan dia terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya. Ada senyum kecil tercipta di bibirnya saat mengetik sesuatu di sana.
"Kamu sibuk?" aku mengusiknya.
"Ah enggak. Ini hanya teman-teman aja di grup." Ia menunjuk ponselnya. "Kamu tau Adithia Santoso? Vlogger yang suka jalan-jalan terus nge-review hotel dan restoran gitu?"
"Um...pernah dengar sih. Dia juga kayaknya nge-review pesawat kan? dari economy, bussines sampai first class gitu?"
"Oh iya bener." Alisha mengacungkan telunjuknya ke arahku.
"Kayaknya pernah nonton salah satu vlognya. Kenapa memangnya?"
"Aku temenan sama mereka tapi lebih dekat sama pacarnya sih yang sering ngereview bareng sama dia juga. Kita kenal udah lama waktu mereka review hotel tempatku aku kerja. Kebetulan aku divisi marketing jadi sering ketemu mereka dan akhirnya kita temenan. Dan kita kemarin sempat ketemu lagi dan aku dikenalin sama beberapa teman SMAnya dan sepakat bikin grup khusus di WA." Jelasnya diiringi tawa kecil. "Teman-temannya juga menyenangkan sih. Dan salah satunya tinggal di Bali. Jadi aku punya tambahan dua teman di Bali. Kamu sama Anin." Ia tersenyum memandangku. Giliran aku yang tiba-tiba tidak mampu menggerakkan bibirku. Anin? Dia bilang Anin? Oke Anin bukan nama yang langka tapi bukan yang umum juga. Ada berapa kemungkinan perempuan bernama Anin di Bali ini?
"Oh." Hanya itu responku dan langsung menenggak lemon juice-ku. Untung saja makanan akhirnya dihidangkan dan membuat Alisha berhenti berceloteh tentang teman-temannya karena aku khawatir hal-hal yang ia ceritakan mengarah pada Anin yang sama dengan Anin-ku.