Anindira Maheswari
Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Agastya melamarku. Hal ini cukup mengejutkanku karena tentu saja lamaran ini terlalu tiba-tiba, mengingat restu pacaran saja belum aku dapatkan dari Ibunya apalagi menikah? Aga tentu melakukan ini karena terbawa curahan hatiku. Pertikaianku dengan Papa dan istrinya dan keluhanku tentang betapa aku tidak punya siapa-sipa saat ini.
"Jangan mengira aku melamarmu karena situasimu saat ini. Aku telah berpikir untuk melamarmu di saat aku belum menjadi pacarmu. Aku mencari istri, Nin. Dan dengan kamu aku sudah menemukan apa yang aku cari." Agastya seperti bisa membaca pikiranku.
Aku masih terdiam. Jemariku bermain di atas bibir cangkir sambil terus memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan pada Aga. Jeda yang cukup lama ini tentu saja buk