Anindira Maheswari
"OMG gue udah gila! Udah gila! Udah gila!" aku berjalan mondar mandir sambil berulangkali mengucapkan kalimat itu semacam mantra yang kuharap mampu membuat pesan yang barusan aku kirim itu gagal sampai ke sang penerima. "You are the devil, Anindira!" aku memaki diriku sendiri yang sudah dengan beraninya mengirim pesan dengan nada menggoda pada pria yang aku bilang bukanlah tipeku. Ada apa denganku? Mau hunting pemandangan menakjubkan lagi di Bali selain aku?
"Yuck!!!" aku tiba-tiba merasa mual.
Aku melirik ponselku dan ini sudah setengah jam dan dia tidak membalasnya. Mungkin dia juga mulai jijik denganku, pikirku. Aku memutuskan untuk kembali ke layar laptopku dan kembali meneruskan membuat proposal. Namun pikiranku tidak benar-benar bisa fokus karena aku terus melirik ponselku berharap sebuah pesan masuk di sana. Oke, aku hanya berharap sebuah balasan yang tidak cukup membuatku malu. Huh, harusnya aku tidak punya malu bukan? Aku pernah dengan sengaja memamerkan tubuhku di pertemuan serius pertama kami.
Ponsel berbunyi dan membuatku hampir terlonjak. Aku menyambar benda itu dan membukanya.
Nin, kita tunggu kamu di Barometer. Jangan telat
"s**t!" makiku saat tahu kalau pesan itu datang dari Kikan dan bukan dari orang yang kuharapkan. Aku memilih mengubah ponselku menjadi mode senyap dan melempar benda itu begitu saja ke atas ranjang. Aku mencoba untuk kembali fokus ke proposalku. Sesekali melirik beker di depanku memastikan aku tidak terlambat untuk janji makan siang dengan Kikan, Tari dan Bima.
Satu jam kemudian, aku melenguh pelan saat menatap layar ponsel yang hanya berisi notifikasi-notifikasi tidak penting. Penyesalanku semakin besar dengan keputusanku untuk membalas pesannya dengan kalimat panjang. Harusnya ucapan Thank You sudah cukup.
Aku meninggalkan kontrakanku menuju Barometer dan menyadari kalau aku sudah terlambat hampir lima belas menit dari janji kami. Makan siang ini sekaligus meeting dengan Tari dan Bima yang sebentar lagi akan menikah. Aku mengenal Tari dan Bima saat awal-awal aku tinggal di Bali. Bebarapa tahun lalu mereka bisa dibilang teman nongkrongku, termasuk dengan Kikan. Dan tentu saja saat itu aku masih mesra bersama Bagas.
"Kija gen, kali jani mara teka? (Kemana aja jam segini baru datang?)" Tari menyambutku dengan pelukan. Mungkin sudah hampir setahun kami tidak bertemu.
"Sorry, baru selesai buat proposal." Aku melambai ke arah Bima di depanku dan mengambil tempat di sebelah Kikan.
"Nyegegang gen kamu, Nin (Tambah cantik kamu, Nin.)."
"Huh! Lebih menyenangkan ternyata mendapat pujian dari laki-laki yang mau menikah. Tedengar lebih tulus. Thank you, Bim." Ucapku dengan senyum lebar. Tari hanya berdecak kemudian tertawa dengan kata-kataku merespons pujian calon suaminya.
"Kamu nggak berubah Nin." Ujar Tari.
"Gue masih Anin yang dulu." Aku mengedip ke arahnya.
"Udah yuk, pesan makan. Udah laper nih." Kikan menyodorkan buku menu ke arahku. Dan kami makan siang sambil bercerita tentang masa-masa kami sering nongkrong bersama di Seminyak dan tentu saja cerita itu tidak lepas dari pembahasan tentang Bagas.
"Dia udah nggak mau tahu tentang Bagas." Kikan memperingatkan Tari dan Bima saat mereka dengan tanpa beban mengangkat lagi kisah aku dan Bagas dulu.
"Nggak apa-apa sih kalau untuk mengenang kembali masa-masa itu. Gue hanya nggak mau tahu tentang dia sekarang." Aku menggeleng sambil menghabiskan suapan terakhir spaghetti aglio e olio favoritku.
"Serius?" Bima memandangku dan aku hanya mengangguk. "Bukannya dengan begitu artinya kamu masih punya rasa sama Bagas?"
"Begitukan teorinya?" kedua alisku bertaut melihat Bima. Tari menyikut perut Bima memintanya untuk tidak membahas lebih lanjut.
"Oke, aku minta maaf." Bima mengangkat kedua tangannya saat mulai paham bahwa bicara tentang Bagas yang sekarang adalah hal yang sensitif buat aku. Aku tahu mereka pasti sangat tahu kabar Bagas saat ini karena Bima pada dasarnya adalah salah satu teman akrab Bagas. Tapi tentu saja dalam hati aku mempertanyakan kebenaran teori Bima tadi. Apakah keenggananku mengetahui kabar Bagas sekarang karena aku masih menyimpan rasa untuknya? Apakah luka hati yang terkadang masih terasa perih ini adalah bentuk lain dari rasaku yang masih tersisa untuknya? Aku rasa aku sudah cukup move on dari kisahku dengan Bagas. Move on bukan berarti dengan mendapatkan pengganti Bagas kan?
Tari kemudian mengalihkan topik yang sempat membuatku terbengong sesaat dengan mulai membahas rencana dekorasi pernikahan mereka yang menggabungkan adat Jawa dan Bali. Dan aku pun melupakan sesaat teori ngawur Bima yang sempat membuatku menjadi berpikir keras. Bagas seharusnya sudah menjadi masa lalu yang terkubur dalam-dalam. Aku suka karena semesta mendukungku untuk tidak kembali mengenang laki-laki itu dengan tidak pernah mempertemukan kami lagi meski jarak kami hanya antara Renon dan Seminyak. Bali itu luas kok.
"Udah enam bulan atau baru enam bulan?" aku mengajukan pertanyaan random saat di mobil bersama Kikan. Sahabatku yang sedang serius menguatik-atik ponselnya itu mengangkat kepalanya memandangku sekilas.
"Huh?" ia bertanya tak mengerti.
"Yang mana yang lebih tepat. Udah enam bulan atau baru enam bulan? Oke kita bicara tentang lama putusnya gue dengan Bagas."
"Ohhhhh." Kikan tersenyum kecil. "Tergantung dari situasi hatimu saat ini kalau kamu udah merasa selama enam bulan ini kamu fine-fine aja berarti 'udah enam bulan' tapi kalau kamu masih terbawa-bawa kenangan tentang dia dan sesekali merasa galau ingat tentang dia kamu bisa bilang untuk menghibur dirimu 'kan baru enam bulan.'"
"Oke berarti sudah enam bulan." Aku berkata yakin.
"Ya, harusnya memang 'sudah enam bulan' dan kamu sadar nggak Aga adalah laki-laki pertama dalam enam bulan kamu." Kikan tiba-tiba menyebut Aga yang membuatku secepat kilat melihat ke arahnya.
"Dan aku nggak ngerti kenapa nama mereka hampir mirip ya." Kikan mengetuk-ngetuk pelan dagunya dengan jemarinya "Agastya. Bagas. Agastya. Bagas." Kikan bergantian menyebut nama dua laki laki itu dengan nada menggoda yang membuatku mendengkus kesal.
"Aga nggak termasuk dalam kriteria yang lu maksud. Dia hanya...." Aku terdiam mencari kosa kata yang tepat untuk menggambarkan hadirnya Aga dalam beberapa hari terakhir di hidupku ini. Laki-laki pertama dalam enam bulan? Wow! Dalam enam bulan ini hatiku memang benar-benar kubiarkan istirahat untuk menyembuhkan lukanya. Dan aku cukup berhasil. Memang benar tidak ada laki-laki lain yang hadir di hidupku dalam enam bulan terakhir. Setelah Bagas meninggalkanku, aku lebih memilih menyibukkan diriku dengan bekerja. Bahkan menerima permintaan dekorasi dengan dana yang tidak masuk akal yang membuatku bahkan merugi. Ya, semuanya kujalani demi tidak membiarkanku larut dalam kesedihan.
"Tapi dia cukup membuat hati kamu terganggu, Nin. Hati kamu yang sudah diam selama enam bulan. Jangan bohong deh. Oke mungkin dia nggak sampai membuat hatimu jatuh cinta tapi dia sudah membuat kamu memikirkan tentang dia." Kini Kikan mulai berteori.
Aku tidak ingin membantah kata-kata Kikan karena ia memang benar. Aku bahkan uring-uringan menunggu balasan pesan dari Aga. Meski itu balasan yang aku harapkan bukan karena aku merindukannya. Aku sudah meyakinkan diriku kalau aku akan melepaskan Aga dari rencana semulaku. Aku tidak lagi berniat menjadikannya pacar sebagai balasan untuk Papa. Dan mengenai pesanku yang kukirimkan untuknya kemarin yang bernada menggoda? Entahlah saat aku menulis pesan itu terdengar seperti sebuah candaan namun ketika pesan itu sudah terkirim entah kenapa terdengar seperti godaan. Itu yang membuatku uring-uringan karena aku takut Aga berpikir aku adalah w*************a. Iblis sesungguhnya.
"Ya gue nggak bohong. Lu benar karena memang awalnya gue ingin jadikan dia alat balas dendamku ke Papa. Dan berpikir tentang dia ya karena alasan itu juga, jadi kalau mengatakan dia laki-laki pertama selama enam bulan kok terdengarnya kayak gue lagi jatuh cinta gitu sama dia." aku berusaha menjelaskan pandanganku dan Kikan hanya mengedikan kedua bahunya.
Suara ponselku berdering di tengah diam kami. Kelopak mataku bergerak membesar saat melihat nama yang terlihat di layar itu. Kikan tentu saja dengan mudah membaca siapa yang sedang menelpon mengingat aku meletakan ponselku pada phone holder yang menempel di dashboard mobil.
Kikan terlihat menahan senyum melihat aku yang tiba-tiba gugup. Aku terpaksa menghentikan mobil dan menjawab teleponnya.
"Ya?" aku menyapa sambil melotot pada Kikan di depanku yang masih tersenyum meledekku.
"Anin."
"Iya."
"Aku udah di Bali."
"O...kay."
"Ummm...." Keningku berkerut menunggu kata-kata berikut darinya.
"Pesanmu itu." Jeda lagi. "Apa kamu serius mau mengajakku untuk hunting foto?"
"Ummm ya."
"Kamu bisa kapan?"
Aku berpikir sebentar.
"Aku kabari nanti." Kembali diam tercipta.
"Kamu mau minum kopi denganku?" jantungku tiba-tiba berdebar dan aku tidak suka ini. Ajakan ini di luar dugaanku. Minum kopi? Serius? "Nggak apa-apa kalau nggak bisa. Aku selalu di Fahrenheit Jimbaran setiap pulang kerja. Kalau kamu bersedia kita bisa ketemu di sana. Kalau nggak juga nggak apa-apa."
"Ummm...okay aku kabari nanti." Cuma itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku.
"Oke. Bye."
Aku memaki diriku yang masih belum bisa menghilangkan sisa debar di dadaku. Undangan itu sederhana tapi sama sekali tidak terduga. Ini yang membuat jantungku berdebar. Aku terkejut, itu saja alasannya.
"Wow." Suara Kikan menarikku keluar dari perasaanku yang tiba-tiba jad tidak menentu. Ada perang suara di dalam sana. "Aku kabari nanti?" Kikan kembali bersuara.
"Oke gue harus pastikan ya, Kan. Gue dan Aga berteman. Nggak ada salahnya kan?"
"Nggak sih."
"Ya udah. Berhenti dengan semua aksi-aksi ledekan lu seakan-akan gue sedang melakukan pendekatan." Aku mengacungkan telunjukku ke hadapannya. Lama-lama Kikan benar-benar membuatku hilang kesabaran. Karena semua aksi dia lah yang membuatku tersugesti bahwa aku dan Aga sedang mengarah ke sebuah hubungan yang tidak pernah kubayangkan. Padahal harusnya tidak seperti itu. Ya tidak seperti itu.
"Oke deh. Maaf. Lain kali kalau kalian mau janjian bisa lah ajak-ajak aku. Aga sepertinya butuh teman yang banyak selama di Bali." Kikan tersenyum lebar tanpa dosa ke arahku.
"Oke. Nanti sore lu ikut aja." Tantangku.
"Ya. Jangan sore ini dong. Aku nggak bisa." Aku hanya membalasnya dengan senyum kemenangan.
***
Dimas Agastya
Sampai di usia 31 tahun ini aku baru tiga kali menyukai perempuan. Menyukai dalam arti aku sangat ingin memilikinya. Pertama kali saat aku di SMA. Namanya Vinka, adik kelasku. Aku tentu saja tidak berhasil memilikinya karena sainganku adalah cowok-cowok cukup popular di sekolah, sedangkan aku hanyalah golongan anak pintar yang biasanya sulit berinteraksi dengan perempuan. Vinka akhirnya pacaran denga Yoga anak basket yang memang cukup populer.
Sekali saat aku kuliah. Aku berhasil memiliki perempuan yang aku sukai. Aku dan Alia, nama perempuan itu, berpacaran cukup lama. Ya, satu setengah tahun cukup lama buatku. Lalu pacar terakhirku adalah Vidia. Dengan Vidia aku sudah memikirkan hal yang sangat serius yaitu menjadikannya istriku. Vidia cukup mampu mengambil hati Mama. Namun entah kenapa pada akhirnya Vidia menjadikan Mama sebagai alasan ia tidak bisa bertahan denganku. Ia jujur mengatakan ia takut Mama akan terlalu mencampuri urusan rumah tangganya nanti. Dan ia bukan tipe perempuan yang suka direcoki oleh mertua. Aku menerima alasan itu dengan hati patah tapi aku bisa apa.
Aku tahu membawa perempuan yang tepat di mata Mama sangatlah tidak mudah. Dengan Kiara aku merasa sudah menemukan sosok yang tepat, selain karena hatiku juga terpikat padanya. Dan kalau misalnya sekarang hatiku terganggu dengan kehadiran Anin, bisa jadi karena Anin memiliki tipe yang jauh berbeda dari semua perempuan yang aku sebutkan di atas. Aku tidak pernah menaruh perhatian secara khusus pada perempuan yang kurasa tidak akan bisa kubawa ke hadapan Mama. Namun entah kenapa berbeda ketika bertemu Anin. Bisa jadi karena dia anak bosku? Atau bisa jadi karena hatiku yang menginginkannya?
Minum kopi?
Aku hampir tidak percaya dengan keberanianku untuk mengundangnya. Tapi aku butuh meyakinkan hatiku, apakah benar apa yang sedang kurasakan saat ini terhadap perempuan itu.
Aku melepaskan pandanganku dari layar laptop di depanku saat melihat Anin mendorong pintu café dari luar. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana jeans biru sambil menenteng tasnya. Rambut coklat sebahunya ia ikat sekenanya dan meninggalkan beberapa helai yang berjuntai bebas di samping wajahnya. Dan kembali jantungku berdebar pelan. Ia jauh terlihat lebih seksi dengan penampilan ini dibandingkan dengannya saat memakai bikini.
Ia melambai ke arahku dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Hi." Ia menyapaku dan mengambil tempat di depanku. Aku membereskan laptop dan menyingkirkannya dari meja.
"Biasa kerja di sini?"
"Begitulah. Aku nggak terlalu suka berada di kamar kos." Dia hanya tersenyum dan mengangguk. "Kamu mau pesan apa?" sambungku.
"Disamakan aja." Jawabnya cepat.
"Di sini juga ada smoothies."
"Ummm." Dia menggeleng. "It's time for coffee. Suasananya lebih mendukung."
"Americano nggak cocok buat kamu." Kataku sambil menyodorkan buku menu dengan pilihan kopi lain yang kurasa lebih cocok untuknya.
"Oke Hot Café Latte." Katanya dan aku kemudian memesankan pilihannya pada pelayan.
"Jadi kemarin aku sepertinya salah suasana ya? Minum kopi menjelang sore yang terik di tepi pantai. Sama sekali nggak cocok kan?"
Dia tertawa di depanku.
"Begitulah." Jawabnya masih dengan sisa tawanya.
"Makasih fotonya." Ia berkata saat minumannya sampai di hadapannya. "Aku nggak nyangka bisa sebagus itu. Bukan akunya sih tapi pemadangan di belakangnya."
"Kamu juga cantik kok..." matanya seketika memandangku. "di situ." Sambungku lagi dan membuat dia tidak bisa untuk tidak kembali tertawa. Aku pun akhirnya ikut tertawa lebih kepada untuk menutupi bias hangat disekujur wajahku. Bahkan dengan Kiara saja aku tidak seperti ini.
"Kamu mau ajak aku kemana nanti buat hunting foto." Kembali lagi aku dengan mudah memulai obrolan. Kami bahkan baru bertemu kedua kalinya. Pertemuan pertama tidak masuk hitungan tentu saja. Aku tidak biasa sesantai ini dengan perempuan-perempuan di hidupku sebelumnya, di awal-awal pertemuan kami.
"Mau yang jauh atau yang dekat-dekat aja?" dia mengajukan pilihan.
"Emang kalau jauh nggak ganggu kesibukan kamu?"
"Mumpung belum musim kawin." Katanya lagi dan membuat kedua alisku bertaut. Dia kembali tertawa.
"Bulan-bulan sekarang bukan bulan yang ramai untuk pernikahan jadi aku nggak terlalu sibuk." Jawabnya atas kebingunganku.
"Oh." Aku paham maksudnya. "Kamu agak berbeda hari ini dibanding pertemuan kita sebelumnya." Aku menyesap gelas keduaku dengan isi yang berbeda kali ini. Aku memilih Hot Café Latte seperti pilihan Anin.
"Oh ya? Justru itu hal yang ingin kukatakan juga. Kamu agak berbeda dibanding kamu di pertemuan kita sebelumnya."
Aku terdiam sebentar.
"Ah aku tahu karena kamu ngga biasa ngorbrol dengan seorang perempuan yang hanya mengenakan bikini kan?" ia menebak dan aku cukup setuju dengan hal itu.
"Well, ya." Jawabku. Ia tertawa dengan sedikit menggigit bibirnya mungkin saja dia agak malu saat ini.
"Lalu kalau kamu kenapa?" aku mengembalikan lagi pertanyaan itu padanya.
"Umm.." dia terdiam dan berpikir. Lalu menyambar cangkir di depannya dan menyesap isinya cukup lama. Mungkin saja dia langsung menandaskan isi cangkir itu.
"Jujur saja aku sedikit ingin menggoda kamu waktu itu." Kata-katanya sejenak membuat tanganku berhenti bergerak menggapai cangkir di depanku.
"Umm... begini, Ga. Kamu kenal Papaku kan? Tapi kamu mungkin nggak tahu hubunganku dengan dia." Aku mengangguk kecil namun kalimat sebelumnya tadi masih terus berputar diotakku aku hanya ingin segera tahu apa maksud kalimat itu.
"Hubungan kami nggak terlalu baik-baik akhir-akhir ini. Papa yang memaksaku putus dari laki-laki yang kucinta hampir tiga tahun ini. Alasannya karena dia merasa laki-laki itu bukan laki-laki yang baik untukku. Lalu tiba-tiba kamu ada di sana. Kamu muncul di depanku membawakan sesuatu yang semakin membuatku marah pada Papa. Lalu terlintas begitu saja ide ingin merebut kamu dari Papa." Ia memandangku lurus-lurus dengan ekspresi seseorang yang sedang melakukan pengakuan dosa.
"Maksud kamu?"
"Kamu kesayangan Papa di perusahaan. Aku hanya ingin merebut kamu dari Papa. Menjadikan kamu pacarku. Meminta kamu untuk meninggalkan perusahaan."
Aku tertawa tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Sesederhana itukah pemikiranmu tentang merebutku dari Papamu?"
"Aku tahu. Itu bodoh. Imbas dari emosiku. Aku minta maaf."
"Kalau kamu mau merebutku dari Papamu dan membuatku meninggalkannya kamu harus membuatku benar-benar jatuh cinta sama kamu hingga aku bisa menuruti keinginan kamu. Begitu kan?" Aku mencoba menyelami maksudnya. Ia mengangguk dan sedikit menunduk. "Dan kamu berpikir dengan menggodaku seperti kemarin, aku bisa jatuh cinta sama kamu?"
"Kan aku sudah bilang itu hal yang bodoh." Kali ini ekspresi sesal tercipta di wajahnya. Entahlah apa aku bisa menerima begitu saja pengakuan ini? Aku marah? Kecewa?
"Lalu setelah ini apa?" kejarku.
"Um...karena aku tau itu salah jadi aku berpikir lebih baik kita berteman. Aku kekanak-kanakan sekali berpikir akan dengan mudah membuat kamu menentang Papa. Kamu mau berteman denganku kan?" dia memandangku dengan hati-hati.
Aku kembali tertawa kali ini.
"Jadi pesanmu kemarin itu dalam rangka ingin berteman denganku?"
"Iya." ia mengangguk dengan ekspresi yang terlihat lebih lega.
"Bagaimana kalau aku nggak mau?" senyum diwajahnya langsung hilang.
"Lalu kenapa kamu mengundangku minum kopi?" ia membalasku dengan raut tidak mengerti.
"Karena aku berpikir kamu mungkin nggak ingin menjadi temanku."
"Hah?" kebingungan tergambar jelas di wajahnya. Aku juga tidak tahu dengan permainan kata-kataku ini akan bermuara kemana. "Lalu?"
"Mungkin kamu masih ingin membuatku jatuh cinta sama kamu?"
Dia terpaku didepanku dengan mulut yang tidak mengatup sempurna. Aku sudah menjatuhkan bom yang tidak berencana aku lempar saat ini. Apa yang sedang terjadi denganku? Aku seharusnya marah dan kecewa mendengar aku hanya dijadikan alat untuk membalas Papanya tapi kenapa aku justru kecewa saat dia membatalkan rencananya itu. Kenapa aku justru ingin membiarkan dia terus menggodaku untuk membuatku jatuh cinta padanya. Tanpa berpikir apakah ia juga akan mencintaiku.