Dimas Agastya
Ini yang kusebut strategi mundur selangkah dan maju tiga langkah? Aku justru sama sekali tidak mundur, aku bahkan nyeruduk. Untung saja perempuan di depanku ini tidak mengusirku pergi karena muak mendengar segala kata-kata manis yang begitu mulus keluar dari mulutku. Aku benar-benar menjadi orang yang berbeda saat bersamanya. Tapi sungguh aku tidak pernah berusaha keras untuk itu, I am not someone with agenda. Berbeda karena punya maksud tertentu pada perempun ini. Semuanya mengalir begitu saja. Aku menjadi banyak bicara, aku punya stok kata-kata yang banyak, aku bahkan bisa merayu, ini gila. Sekarang gayaku layaknya seorang don juan. Lalu dari mana munculnya bakatku yang tiba-tiba ini? Kemana bakat ini sebelum-sebelumnya.
"Bisa kita bicara lagi setelah aku pulang dari Jakarta?"
Ia tidak merespon kata-kataku. Tak ada ekspresi di wajahnya yang bisa kuterjemahkan apakah ia setuju atau tidak dengan permintaanku.
"Kamu memutuskan kekasihmu hanya untuk bisa mengejarku yang sama sekali nggak punya perasaan sama kamu? You are a jerk!" dia bersedekap sambil memandangku.
"Oke terserah kamu mau berpikir apa tentangku." Kataku tak peduli dengan sebutannya padaku yang kurasa sangat tidak adil.
"Aku nggak akan mengijinkanmu mengejarku setelah kamu menyakiti perempuan lain." Dia mengultimatumku.
"Kami nggak pacaran, Anin." Akhirnya aku mengatakan kebenaran dari sisiku. "Setidaknya aku berpikr seperti itu."
"Aku nggak ngerti." Dia menggeleng masih dengan senyum sinis menggangtung di bibirnya.
"Aku memang menyukainya tapi aku belum sampai pada titik untuk mengatakan cinta padanya, namun malam itu dia menciumku dan..."
"Wow!" Senyum sinisnya ke arahku terasa semakin memojokkanku. Baiklah mungkin ceritaku ini membuat dia semakin buruk menilaiku tapi aku tidak peduli.
"Karena itu aku hanya ingin pulang dan meluruskan semuanya, Nin." Lagakku sekarang seperti seorang laki-laki yang sedang membujuk kekasihnya yang marah karena cemburu.
"Kamu memberinya harapan dan kemudian kamu mengecewakannya. Kalian laki-laki memang suka seenaknya." Kata-katanya yang kini terdengar sinis.
"Bukannya perempuan yang sering seperti itu?"
"Oh ya?" Dia memicingkan matanya memandangku dengan ekpresi tidak percaya. Aku kembali menurunkan poinku di hadapannya dengan bersikap seksis untuk membela diriku. Tapi aku bicara berdasarkan pengalaman. Dulu aku sering merasakan yang namanya sekadar diberi harapan oleh banyak perempuan dan berakhir mereka akan jatuh ke pelukan laki-laki lain. Posisi perempuan sebagai yang dikejar selalu membuat mereka tidak menyadari saat sikap mereka justru memupuk harapan kami para lelaki.
"Oke aku salah." Aku mencoba mengakui untuk memperbaiki kesalahanku saat melihat masalah ini hanya dari sudut penilaianku. "Tapi apakah aku tidak boleh melakukan hal yang benar menurut hatiku?"
"Aku rasa pembicaraan ini tidak akan pernah masuk ke dalam otakku. Aku sudah nggak punya keinginan lagi untuk melanjutkan rencana apapun yang melibatkan kamu di dalamnya." Kata-katanya begitu dingin kurasa.
Artinya aku memang sudah salah mengambil langkah. Aksi serudukku ini berbuntut kata-kata Anin yang cukup membuatku agak terluka. Aku tidak pernah berpikir aksiku yang kupikir hebat itu justru mendorong Anin jadi menjauh dariku. Atau lebih buruk ia muak padaku?
"Anin."
"Kamu pulang saja. Aku masih ada kerjaan." Kata-katanya mengusirku dan membuat aku hilang nyali untuk sekadar mencoba lagi untuk mengubah pemikirannya.
"Baiklah. Aku minta maaf."
Aku melangkah pergi dari hadapannya dengan sesalku karena aku mulai sadar bahwa aku sedang mencoba terlalu keras. Hal yang terlalu dipaksakan memang selalu berakhir tidak bagus. Aku harus tahu itu.
Aku tiba di proyek dengan semangat yang berkurang drastis dibanding saat bagun pagi tadi. Fokusku coba kualihkan pada shop drawing di tahap pemasangan capping beam. Menjelaskan lebih rinci pada Pak Arlan dan timnya tentang teknis dan acuannya.
Aku melepaskan helm proyek dan menyeka peluhku setelah ikut mengawasi pengerjaan pengecoran capping beam. Pikiranku yang tadi berfokus pada pekerjaan kini kembali dipenuhi dengan sosok Anin. Aku bertekad untuk mulai menjaga jarak dulu dari perempuan itu dan menyelesaikan persoalanku dengan Kiara. Akan lebih mudah bagiku jika menghadapi Anin tanpa beban di hatiku yang perlu aku selesaikan.
Malam harinya aku bersedia diajak Ardy, Engineer Structure kami di Bali, untuk nongkrong di sebuah klub di Seminyak. Kami tidak hanya berdua, Ardy juga mengajak beberapa temannya termasuk dua perempuan yang berdandan cukup seksi malam ini.
Kehidupan malam seperti ini bukan hal yang baru bagiku. Di Jakarta aku sudah terbiasa masuk dari klub yang satu ke klub yang lain. Bersahabat denga Mike, tentu saja akan membuatmu punya pengalaman yang berbeda, menarik dan cukup liar di setiap akhir pekan. Namun tentu saja aku tidak selalu bersama Mike setiap weekend. Sahabatku sejak aku mulai berkarir di biro konsultan arsitek Mahaya itu memang punya kehidupan yang bebas sangat berbeda denganku yang diusia menjelang 30 saat itu masih satu atap dengan Mama.
Mike benar-benar menikmati kehidupan lajangnya dengan tidak benar-benar berkomitmen dengan satu perempuan. Sedangkan aku tentu saja berusaha untuk tidak dengan mudah terlibat dengan perempuan saat di klub malam karena menurut kepercayaanku perempuan-perempuan yang ada di sana tidak akan bisa kubawa pulang dan kukenalkan dengan Mama. Lalu bagaimana bisa aku dan Mike bersahabat? Karena meski kami berbeda dalam satu hal kami punya banyak kesamaan di hal-hal yang lain. Dan ketika aku pindah ke HB Contractors Indonesia, aku dan Mike masih sering bertemu meski tidak sesering sebelumnya.
Aku hanya memilih duduk di bar dan menyesap Baileys. Hal yang terbiasa kulakukan bila aku pergi bersama Mike. Sahabatku itu sibuk bersosialisasi sedang aku lebih sibuk menyendiri dan mengamatinya dari bar. Sesekali ada saja perempuan yang mengajakku ngobrol namun berakhir ilfil ketika aku tidak bisa merespon orolan mereka. But I don't care. Seperti sekarang yang sedang kulakukan. Salah satu dari perempuan seksi yang ada dalam rombongan kami yang kutahu namanya, Sheila, sudah asyik bergoyang bersama Ardy di lantai dansa. Sedangkan yang lainnya tidak bisa kutemukan diantara puluhan orang di tempat minim cahaya ini.
Aku rasa aku tidak perlu berlama-lama di sini. Suasana berisik di sini justru membuat pikiranku semakin kacau. Aku mencoba mendekati Ardy untuk mengatakan aku akan pulang namun langkahku terhenti saat aku bisa mengenali dengan jelas sosok perempuan yang sedang menari dengan begitu semangatya tidak jauh dari Ardy dan pasangannya.
***
Anindira Maheswari
Aku baru saja selesai meeting dengan pasangan Australia yang akan melangsungkan pernikahan di bulan Juni nanti. Tidak banyak permintaan dari mereka yang menyulitkanku, mereka hanya menginginkan ceremony mereka bertabur bunga-bunga impor dan beberapa hal yang tidak sulit menurutku untuk kukerjakan. Aku selalu suka bila berhadapan dengan klien yang sudah tau apa yang mereka inginkan dan menggambarkannya dengan detail, sesulit apapun tuntutan mereka. Dibanding aku berhadapan dengan klien 'terserah'. Artinya mereka tidak tahu pasti apa keinginan mereka dan melimpahkan semuanya padaku.
"Terserah Mbak Anin aja deh kayak gimana. Pokoknya bikin yang wah ya."
Aku pasti jauh lebih sulit menerjemahkan keinginan mereka dan seringkali menjadi stress karenanya. Kalau pada akhirnya dekorasiku memuaskan mereka, aku lega. Tapi kalau tidak tentu saja akan sangat merugikanku. Klien jenis itu akan menyacatku di belakang dan tentu saja akan merusak reputasi usahaku.
Aku sempat singgah ke Rosalie, Nusa Dua untuk membicarakan beberapa jenis bunga yang perlu kudatangkan dari luar. Rosalie adalah supplier bunga impor langgananku. Setelah dari Rosalie aku menelepon Kikan mengajaknya makan siang yang sepertinya sudah telat karena sekarang sudah pukul 2.
"Aku udah makan." Kikan menjawab di ujung sana dan aku sudah menduganya.
"Lu masih di Seminyak?" tanyaku.
"Iya, paling selesai bentar lagi. Mau kutemenin makan? Paling sekitar jam 4-an."
"Nggak usahlah. Sekalian malam aja."
"Ok."
"Kan, temenin gue clubbing yuk. Udah lama rasanya. Gue butuh suasana berisik biar suara hati dan otak gue bisa diem. Berantem mulu mereka. Kalau hati dan otak yang berisik gue yang pusing." Kikan menimpali keluhanku dengan tawanya yang khas.
"Oke. Dimana? Tempat biasa?"
"Oke. Tempat biasa." Aku mengangguk setuju.
"Kamu nggak apa-apa di Seminyak?" pertanyaan Kikan ini lebih kepada meyakinkan aku yang selama enam bulan ini sedikit mengharamkan Seminyak karena aku berusaha memutus kemungkinan pertemuanku dengan Bagas. Tapi sekarang rasanya tidak perlu ada usaha seperti itu lagi karena ya itu 'Sudah Enam Bulan.' Lagian aku butuh sedikit 'lari' dari masalah Papa dan juga Agastya.
Setelah kedatangan Agastya pagi tadi yang tidak pernah kuduga, aku mulai meyakinkan diriku bahwa laki-laki itu beserta kehadirannya cukup jadi intermezzo untukku. Ketika dia begitu berusaha keras masuk dalam rencanaku aku justru merasa dia tidak menarik lagi. Begitu mudah perasaanku berubah tapi aku tidak mau menjadi jahat. Karena itulah aku merasa aku tidak perlu memberi kesempatan padanya dan juga padaku. Kami tidak akan bisa bersama. Kami terlalu berbeda. Aku rasa dia berusaha terlalu keras untuk tidak menjadi dirinya sendiri dan itu bukan awal yang baik untuk sebuah hubungan.
Dengan mini dress hitam tanpa tali aku siap kembali ke dunia malam yang cukup lama kutinggalkan, tentu saja setelah Bagas. Aku terlalu takut untuk berkeliaran di malam hari dan menemukan laki-laki itu bersama perempuan lain. Bagas menyukai kehidupan malam tapi lebih kepada ngobrol dan bersenang-senang dengan teman-temannya termasuk aku.
Aku dan Kikan menerobos di antara orang-orang di lantai dansa setelah menenggak satu gelas kecil margarita. Hanya aku yang minum, Kikan merasa dia perlu cukup fit untuk bisa membawaku pulang nanti, jadi dia hanya merasa cukup dengan menyesap moktail.
"Papa minta gue pulang." Aku berkata setengah berteriak ke arah Kikan di depanku.
"Ngapain?"
"Ada sesuatu yang mau dia omongin."
"Terus?"
Aku mengedikan kedua bahuku sambil terus mencoba larut dalam hentakan musik yang cukup menaikkan adrenalinku.
"Seperti yang aku bilang kemarin. Pulang aja, coba bicara sama Papa kamu." Kikan kembali berteriak ke arahku.
"Mending nggak usah ngmongin ini deh." Aku mengibaskan tanganku ke depan Kikan dan kembali meliukan tubuhku seirama hentakan musik dari meja DJ. Aku memejamkan mataku terus menikmati dentuman musik yang seperti ikut menghentak-hentakkan jantungku.
"Aku ke toilet ya." Kikan menepuk lenganku. Aku membuka mata dan melihat sosok Kikan menjauihiku namun yang membuatku tidak melanjutkan keasyikanku sebelumnya adalah sosok yang sekarang berdiri tidak jauh di depanku.
Kami hanya berpandangan. Entah kenapa tanganku tiba-tiba refleks memegang gaun kembenku dan menariknya sedikit lebih ke atas. Dia hanya memandangku tanpa berkata dan membuatku merasa baru saja melakukan dosa besar.
"Hi." Aku mengangkat sebelah tanganku ke arahnya. Dan dia hanya sekadar saja mengangkat sebelah tangannya membalasku kemudian berbalik dan menghilang.
"Sialan!" makiku karena bisa merasakan aura menghakimi dari gelagatnya. Tapi bisa saja aku yang terlalu berlebihan menilainya. Terserah dia berpikir apa tentangku, toh di sudah tahu kan kalau aku iblis. Kami memang tidak akan mungkin bisa bersama. Meski itu pura-pura sekalipun. Dan aku tidak perlu bersusah payah kembali membawa tentang ini ke pikiranku.
Aku kembali melebur bersama musik hingga Kikan tiba kembali di depanku. Aku tidak berencana menceritakan pada Kikan tentang pertemuan canggungku barusan dengan Agastya. Kini aku tahu Aga bukan laki-laki alim seperti bayanganku tapi anak baik-baik tidak berarti dilarang ke klub malam kan? Ini contoh aku yang terlalu cepat berasumsi. Suduh cukup memikirkan dia, Anin! Hatiku mulai berisik, dan aku perlu memaksanya berhenti untuk membahas ini.
***
Dimas Agastya
Aku mencoba berhenti mengganggu Anin dengan segala bentuk kehadiranku, dari pesan pendek, atau telepon bahkan termasuk pertemuanku yang tak disengaja malam itu. Sudah hampir empat hari tidak ada interaksi antara aku dan dia. Tersiksa? Tentu. Karena hati dan pikiranku tak pernah tidak memikirkannya. Anin dengan segala pesonanya. Bayangan dirinya malam itu saat di klub menjadi gambaran terakhir yang tersimpan di memoriku. Aku menyukai dirinya yang begitu polos saat menemuiku di teras rumahnya hanya dengan kaus putih kedodoran dan celana pendek tapi aku juga sangat menyukainya dengan dress hitam yang melekat erat ditubuhnya malam itu. Tapi sekarang aku tidak punya alasan apapun untuk bisa kembali berkomunikasi dengannya. Aku merindukannya tapi aku tidak bisa memaksa keadaan sekarang ini. Aku harus bersabar.
Dan hari ini aku kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan urusanku dengan Kiara. Aku mengabari Mama tapi dengan alasan aku pulang karena urusan pekerjaan. Dan ternyata Mama sudah menyiapkan kejutan untukku saat aku tiba di rumah.
Kiara ada di sana ikut menyambutku bersama Mama. Mama memelukku erat seperti biasa, seakan-akan aku sudah meninggalkan rumah berpuluh-puluh tahun. Namun kali ini perasaanku sungguh tidak nyaman saat dalam pelukan Mama dan melihat senyum Kiara .
"Mama yang minta Kiara datang." Mama menjawab wajah heranku dengan kehadiran Kiara. Aku memang mengatakan pada Mama kalau aku ke Jakarta karena urusan pekerjaan tapi pada Kiara aku mengabari aku pulang untuk menyelesaikan situasi di antara kami. Tapi aku tidak menyangka Kiara megikuti keinginan Mama untuk datang ke sini. Situasi ini akan semakin merumitkan apa yang ingin aku selesaikan nantinya.
Setelah makan siang yang obrolannya lebih banyak didominasi oleh Mama dan Kiara, aku memutuskan untuk mengajak Kiara mencari tempat yang lebih nyaman untuk bicara. Aku ingin membawanya ke suatu tempat. Aku bisa melihat Kiara begitu santai saat di meja makan tadi, seperti tidak ada beban. Seperti ia tidak akan mendengarkan kata-kata yang menyakitkan dariku. Padahal ia tahu maksud dari pertemuan kami ini. Ia bahkan menangis waktu itu.
"Kenapa harus keluar sih, Ga. Ngobrol sama Kiara di rumah aja biar Mama ada temennya."
"Tapi kami perlu..."
"Privasi? Mama akan kasih privasi. Mama di kamar deh kalian bisa bicara di taman belakang."
"Tapi Ma..."
"Iya tante kita nggak kemaa-mana kok." Kiara ikut bersuara dan langsung menggamit lenganku membawaku ke belakang diiringi senyum Mama dan membuatku kepalaku tiba-tiba pening.
Kami duduk berhadapan di bangku teras belakang. Kiara sedikit menunduk menungguku untuk memulai obrolan kami. Sikapnya berbeda saat ini.
"Ki, aku minta maaf. Aku beneran nggak bermaksud menyakiti kamu. Tapi aku rasa aku perlu memberitahukan hal yang sebenranya sebelum perasaan kamu padaku terlalu jauh. Aku nggak mau lebih menyakiti kamu."
"Seperti apa Anin itu?" ia mengangkat wajahnya memandangku.
"Huh?"
"Seperti apa dia? Karena aku mengira kamu sangat menyukaiku Mas. Aku ggak menyangka baru sebentar kamu meninggalkan aku, hatimu sudah berubah. Aku hanya ingin tahu seperti apa dia?"
"Dia...." Aku tidak tahu apa yang harus kugambarkan tentang Anin.
"Kamu sangat menyukainya?"
"Ki, kita tidak usah bicara tentang dia. Aku hanya ingin aku tidak menyakiti kamu lebih jauh. Dan aku harap kamu nggak usah mengikuti kemauan Mama lagi seperti sekarang. Kamu nggak harus menurutinya. Itu akan lebih mudah."
"Seharusnya sejak awal kamu nggak mengajakku ke sini." Aku bisa melihat air mata yang tadi menggantung di pelupuk mata Kiara kini perlahan menetes membasahi pipinya.
"Aku tahu itu dosaku. Maafkan aku Kiara.
"Tapi aku nggak bisa melepas kamu, Mas."
"Ki!"
"Maafkan aku juga." Dia kembali terisak.
Kami terdiam. Hanya isak Tiara yang terdengar dan aku berharap Mama tidak sampai mendengarnya. Tapi aku salah.
"Ada apa ini? Kenapa Kiara menangis?" Mama tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
"Ma!" aku menoleh ke arahnya.
"Maafkan mama kalau mama nggak bisa menjaga privasi kalian tapi suara tangis Kiara buat mama bingung. Kalian ngobrol apa sampai Kiara nangis?"
"Maaf tante." Kiara dengan cepat membersihkan wajahnya dengan tisyu.
"Aga!" Mama memanggilku dengan amarah. Ia memandangku menuntut penjelasanku. Aku rasa aku tidak perlu menutupinya lagi.
"Aku memberitahu Kiara kalau aku nggak bisa meneruskan hubungan kami." Kataku sambil memandang Mama.
"Tapi kenapa?" Mama setengah menjerit.
"Aku..aku...aku nggak mencintai Kiara, Ma." Aku lebih memperjelas maksud kata-kataku.
"Omong kosong apa itu Aga?!"
"Ma, aku mohon." Kini aku beranjak berdiri berhadapan dengan Mama.
"Tante, nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa." Kiara ikut berdiri mencoba menenangkan Mama namun Mama justru semakin marah padaku.
"Apa yang terjadi sama kamu di Bali, huh? Ada perempuan lain?"
"Ma."
"Nggak ada perempuan lain selain Kiara! Kamu sudah bikin Mama kecewa. Kamu beri harapan pada Kiara dan sekarang kamu bilang kamu nggak cinta? Kamu ini..." Mama memukul lenganku berkali-kali dan aku membiarkannya.
"Tante sudah." Kiara berusaha menahannya.
"Tante malu sama kamu Kiara. Tapi tante yakin Aga nggak akan kemana-mana." Mama mengakiri kalimatnya dengan menatapku sangat tajam kemudian meninggalkanku.
"Aku antar kamu pulang." Kataku dengan suara tidak bertenaga.
"Oke."
Kami berdua sama-sama ingin mengakhiri situasi ini.
Kami hanya diam selama perjalanan pulang. Dan sebuah telepeon yang masuk membuatku menarik napas lega karena aku tidak tahan dengan suasana ini. Big Boss. Tulisan di layar ponselku membuatku tiba-tiba menegakkan posisi dudukku.
"Siang Pak."
"Saya dengar kamu lagi di Jakarta."
"Iya, Pak."
"Kamu bisa ke rumah sekarang? Ada yang perlu saya bicarakan tentang proyek Bali. Saya butuh masukkan kamu."
"Baik Pak. Kebetulan saya lagi nggak terlalu jauh dari rumah Bapak."
"Oke kalau gitu saya tunggu."
Kiara turun dari mobilku tanpa sepatah katapun begitu pula aku. Aku kembali melajukkan mobil setelah menunggu sampai ia hilang di balik pintu pagar rumahnya. Mobil kuarahkan ke Pondok Indah. Rumah Pak Hirmawan bukan sebuah tempat yang asing bagiku karena aku sudah beberapa kali ke rumah itu dan tentu saja aku tidak pernah bertemu dengan Anin di sana.
Seorang pekerja di rumah pak Hirmawan membukakan pagar rumah sehingga aku bisa membawa mobilku ke halaman rumah yang sangat luas. Aku merapikan kemejaku dan meyakinkan bahwa penampilanku masih pantas bertemu dengan Pak Hirmawan. Kakiku menapak di keramik terasnya yang mahal.
Pintu rumah yang lebar itu terbuka dari dalam namun bukan sosok Pak Hirmawan yang ada di sana tapi Anin dengan langkah tergesa, ekpresi yang marah dan wajah yang basah oleh air mata. Mata kami bertemu. Kami sama-sama terkejut. Beberapa detik kemudian ia melengos dan meneruskan langkah cepatnya.
"Anin." Panggilku namun tidak membuatnya berhenti, "Anin." Aku kembali memanggilnya tapi kali ini tanganku ikut beraksi menarik salah satu tangannya.
"What?" dia berbalik dengan ekspresi kemarahan yang masih sama. Dan aku tidak mampu berkata apapun saat menantang kedua bola matanya yang masih terus mengurai air mata. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya namun aku hanya ingin bisa membawanya keluar dari kesedihannya saat ini, meski aku tidak yakin apakah aku mampu.
"Kita pergi dari sini." Kataku sambil menariknya ke arah mobilku dan membukakan pintu untuknya. "Kita pergi." Kataku lagi mencoba meyakinkannya dan ia pun menurutiku begitu saja. Aku menutup pintu mobilnya dan setengah berlari menuju ke sisi lain mobil. Dan kami berdua keluar dari halaman rumah itu.