Beberapa hari berselang, Nathan mendengar kabar dari teman-temannya ada yang mengatakan kalau ada yang berkelahi di rooftop kampus. Awalnya ia tak perduli tetapi ketika ada yang bilang kalau yang berkelahi adalah 'Anak Culun' dan 'Petarung Tinju'. Ia langsung teringat akan anak yang ia tolong tempo hari. Yoongi langsung berlari dengan sangat kencang dan ketika sampai di rooftop iya langsung memecah ketagangan karena melihat wajah merah Nathan. Ia bergegas menerobos masuk ke dalam kerumunan dan mendorong siapapun yang hendak menghalangi jalannya.
"HENTIKAN DIA!" Teriak Will, si petarung tinju itu. Dan tak berselang lama beberapa anak buah Will langsung menyerang Nathan.
BURK BURK BURK
BRAK!!
Semua anak buah Will sudah tergeletak diatas tanah. Semuanya memiliki luka memar yang beragam pada wajahnya. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan tidak kuat untuk kembali berdiri dengan cepat untuk menghalangi langkah Nathan.
DEG DEG DEG
Nathan membelakkan matanya ketika melihat kondisi anak culun itu. Pelipis, bibir, dan hidungnya mengeluarkan darah. Terdapat banyak luka lebam diwajah dan tubuhnya mungkin. Entah mengapa ia begitu marah dan membalikkan tubuh Will dan memukulinya hingga tak bergerak sedikitpun. Ia kembali memfokuskan diri pada kondisi si culun itu. Bisa Nathan lihat bahwa anak ini telah tidak sadarkan diri. Tanpa banyak bicara ia langsung membawa bocah itu ke rumah sakit tempat ia bekerja.
Nathan membawanya ke UGD dan meminta dokter jaga disitu untuk menyiapkan apa saja yang memungkinkan akan hal yang tak diinginkan. Ia mengamati dokter jaga dan suster yang membersihkan luka-luka anak itu. Ia melihat pelipis dan kepala bagian belakang anak itu yang robek cukup besar.
"Suster, cepat siapkan ruang operasi sekarang!" Ucapnya sambil terus menatap luka robek itu.
"Tapi dok. Bagaimana dengan data-"
"APA KAU DIAJARKAN DI SEKOLAH KEPERAWATANMU UNTUK MENUNDA-NUNDA HAL GENTING INI?! CEPATLAH SIAPKAN RUANG OPERASI. AKU SENDIRI YANG AKAN SELESAIKAN ADMINISTRASI ANAK INI!!" Ucap Nathan dengan sangat lantang. Ia mencoba menghubungi nomor-nomor yang ada di ponsel anak itu. Namun tak ada yang bisa mengangkat. Baru saja ia ingin menelfon lagi, ada telfon masuk yang tertulis, 'My Daddy's Asisten' ia langsung menjawabnya dan menjelaskan semua yang terjadi pada anak itu.
Asisten ayah anak itu memberi tahu segala data tentang anak itu dan dengan cekatan Nathan membantu mengisi data medis anak itu. Setelah ia mendapat semua data itu, tak lama berselang, sang asisten itu datang mewakili orang tua anak yang diketahui bernama Jean-Marshall Schneider. Tanpa pikir panjang, Nathan mengatakan bahwa ialah yang akan melakukan operasi terhadap Jean. Baru saja ia ingin menjelaskan lebih detail, suster berteriak padanya mengatakan kalau kondisi pasien drop. Ia langsung berlari masuk ke ruang operasi dan melakukan operasi terhadapnya. Jean sempat mengalami pendarahan hebat. Untunglah Nathan masih dapat menolong nyawanya dan berujung dia selamat.
-----------
Sudah seminggu Jean belum sadar juga. Memang bila dilihat kondisinya semakin membaik tetapi tidak ada tanda-tanda ia akan sadarkan diri dengan cepat. Selama ini pula, Nathan tidak melihat ada keluarga yang datang menjenguk Jean. Sempat waktu itu, ibunya datang ke RS membawakan makan siang karena ia tidak sempat keluar untuk makan siang. Ia terlalu memikirkan bagaimana jadinya nanti bila ia meninggalkan Jean. Ibunya sempat berpikir seperti pernah mendengar nama itu. Eommanya Nathan pun menyempatkan diri untuk menjenguk Jean. Ada rasa sedikit terkejut ketika sang ibu melihat Jean dengan mata melotot. Ia begitu bingung melihatnya.
Pagi ini Nathan ada operasi dan tidak bisa menemani dan menjaga Jean. Ia meminta sang ibu untuk menjaga anak itu. Karena mungkin ia akan lama diruang operasi. Tepat 10 menit setelah Nathan keluar dari kamar perawatan Jean, anak itu pun sadarkan diri. Ibu Nathan sontak tersenyum melihat Jean akhirnya membuka mata.
Beberapa jam setelahnya, Nathan kembali ke dalam ruang perawatan Jean. Ia tersenyum melihat Jean yang sudah sadar, namun Jean hanya bisa tersenyum tipis melihatnya. Nathan memeriksa keadaan Jean dan menanyakan apa ada yang sangat sakit. Jean pun menjawabnya dengan gelengan dan senyum tipisnya.
"Apa kau lapar, Jean? Ingin makan sekarang?" tanya Nathan berturut-turut dan membuat Hana mencubit pinggang sang putra
"Apa kau selalu begini pada setiap pasienmu? Kasihannya mereka"ucapan Hana sukses membuat Jean terkekeh dengan tidak sengaja.
"Hehehe akh" tawa Jean tertunda karena rasa sakit yang menjalar di sekitar pipinya.
"Aku baik-baik saja sunbae" ucap Jean.
"Untunglah, kukira kau kenapa, Je. Ayo, sudah waktunya kau makan. Mau kusuapi?" Baru saja Nathan mau menyuapi Jean, suster sudah memanggilnya. Jean hanya tersenyum canggung dan mengisyaratkan pada Nathan untuk pergi mengecek ada apa.
-_______________________________
Seminggu telah berlalu, Jean dan Nathan semakin dekat. Jean mulai banyak bicara dihadapan Nathan. Nathan pun juga semakin terlihat begitu menyayangi Jean seperti adik kandungnya sendiri. Terlebih lagi ketika ia tau kalau Jean sudah tidak memiliki ibu sejak ia baru saja dilahirkan ke dunia ini. Setiap kali Nathan berkunjung ke ruangan Taehyung, pastilah mereka akan menghabiskan waktu berbincang-bincang cukup lama. Dari Nathan yang bertanya bagaimana kondisi Jean hingga Nathan yang membuat Jean tertawa begitu lepas. Tetapi seperti ada sesuatu yang mengganjal pikiran Jean hingga detik ini. Bagaimana Nathan bisa dengan cepat dekat dengannya begini? Setahunya, seniornya ini terkenal cukup sulit untuk dekat dengan orang baru. Terlebih lagi kalau orang baru itu adalah juniornya di fakultas ataupun di rumah sakit.
Hari ini Jean sudah diperbolehkan untuk pulang. Tadinya ia ingin pulang sendiri dengan naik taksi atau minta dijemput oleh supir ayahnya. Tetapi Nathan melarangnya dan malah mengantarkan Jean hingga tepat di depan kamar apartemennya.
"Je, kau yakin tak apa sendirian?" Tanya Nathan dengan nada khawatir.
"Iya hyung, aku tak apa sendiri. Sudah biasa kok. Sudah sana pulang. Nanti eommamu mencarimu. Sampai jumpa besok hyung" ucap Jean sambil menutup pintu secara perlahan dan tersenyum pada Nathan. Nathan hanya mengangguk paham.
Nathan pun berbalik dan kembali pulang ke rumah sesuai anjuran Jean. Ketika sampai di rumah, ia langsung masuk ke kamarnya. Entah mengapa ia begitu lelah dan pusing, jadilah ia sekarang berbaring diatas kasurnya dengan begitu nyaman. Tanpa sadar ia langsung masuk ke dalam alam mimpinya
------------
Tepat setelah Jean menutup pintu apartnya, ia dikagetkan dengan kehadiran sang ayah yang berada di ruang tamu. Jean berpikir, “Bagaimana bisa ayahnya sampai di Korea? Jangan-jangan...”
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?" tanya sang ayah sambil memeluk erat tubuh Jean. Yang ditanya dan dipeluk hanya menggelengkan kepalanya.
"Hm! Aku baik-baik saja. Lagipula Nathan hyung menjagaku dengan baik, Dad" jawabnya dengan tersenyum.
"Nathan? Dia.. dia yang merawatmu?"tanya sang ayah sambil menatap wajah anaknya yang tersenyum begitu membingungkan menurutnya.
"Iya, dia yang menolongku di kampus dan merawatku di rumah sakit. Hana eomma pun juga ikut merawatku. Aku sangat senang appa. Kau tau? Dia bahkan tidak membiarkan Will sunbae masuk ke ruang perawatanku karena dia takut Will sunbae berniat jahat lagi" ucapnya dengan begitu antusias.
"Tapi Jean, kau harus hati-hati. Bukankah kau tidak mau hyungmu tau tentang dirimu?"
"Ne, kau benar, tapi dad kumohon biarlah kami seperti ini dulu sampai nanti dady muncul menemui mereka. Aku haya minta waktu 3 bulan saja. Setelah itu, aku janji akan pulang ke Jerman sesuai kemauan appa. Aku juga akan menjalani segala macam pengobatan yang daddy mau” ucap Jean sambil menggenggam erat tangan sang ayah seperti memohon.
"Okay okay, daddy mengerti kemauanmu itu. Tapi aku khawatir akan kondisimu. Apa kau lupa apa yang dokter katakan? Kau tidak boleh kelelahan. Bagaimana bila kejadian 3 tahun yang lalu terulang? Bagaimana-"
"Daddy, I’ll be okay. Aku janji akan melakukan apapun yang kau inginkan setelah ini semua berakhir. Aku sangat janji padamu, Dad”
"Baiklah, Jean. Aku akan lakukan apa yang kau mau. Tapi kau harus janji kalau kau tidak boleh terlalu lelah dan tidak boleh lupa minum obat okay?"
"Siap bos, akan kulakukan semua yang daddy suruh. Selama kau memperbolehkanku menata hariku disini" jawab Jean sambil memperlihatkan cengiran khasnya. Dan tentu saja sang ayah mengiyakan perkataan dan permintaan Jean.