Namanya Liana Gray. Ia adalah seorang yatim piatu yang ditinggal pergi kedua orang tuanya sejak kecil. Hidup sebatang kara sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Namun, berkat ajaran mendiang orang tuanya, Liana tumbuh menjadi seorang tabib muda yang mandiri. Ia bertahan hidup dengan membuka toko obat kecil dan mengobati warga desa yang sakit atau terluka.
Hari ini, seperti biasa, Liana sibuk melayani para warga desa yang datang silih berganti.
"Liana, aku ingin membeli obat sakit kepala," sapa Bibi Tresia, salah satu pelanggan setianya.
"Tentu, ada. Tunggu sebentar ya, Bi. Aku ambilkan dulu," jawab Liana dengan senyum ramah.
Dengan cekatan, Liana mengambil bungkusan kecil berisi ramuan herbal dan menyerahkannya. "Ini obatnya, Bibi."
"Terima kasih, Liana. Kau selalu bisa diandalkan," kata Bibi Tresia sembari menyerahkan beberapa keping uang dan sebuah bungkusan lain.
"Ini uangnya, dan ini ada kue untukmu. Aku baru saja membuatnya."
Mata Liana berbinar. "Ah, terima kasih banyak, Bi! Aku sangat senang, kue buatan Bibi selalu enak."
"Haha, syukurlah kalau kau suka. Kalau begitu Bibi pulang dulu, ya," pamit wanita paruh baya itu sebelum meninggalkan toko.
Liana tersenyum menatap kepergian Bibi Tresia. Ia bersyukur bisa berguna bagi banyak orang di desa ini. Kebaikan warga desa yang kerap memberinya makanan membuatnya tidak merasa kesepian meski hidup sendiri.
Tak lama kemudian, lonceng pintu kembali berbunyi. Seorang pria masuk dengan raut wajah panik.
"Liana, tolong lihat anakku! Sepertinya dia demam tinggi," seru pria itu.
"Tenanglah, Paman. Mari aku periksa," kata Liana dengan nada menenangkan.
Ia segera memeriksa anak kecil yang digendong pria itu. Tangannya dengan lembut menyentuh dahi dan memeriksa denyut nadi si anak.
"Syukurlah, demamnya tidak terlalu parah, Paman. Dia hanya butuh istirahat dan obat penurun panas," jelas Liana. Pria itu menghela napas lega.
"Ini obatnya. Minumkan satu kali sehari. Dalam tiga hari, dia pasti akan sembuh," instruksi Liana sembari menyerahkan ramuan.
"Terima kasih banyak, Liana. Ini uangnya," kata paman itu.
"Sama-sama, Paman. Semoga lekas sembuh."
Setelah pelanggan itu pergi, Liana melihat sekeliling tokonya. Hari ini pengunjung sangat ramai, membuat stok bahan obat-obatannya menipis drastis.
"Sepertinya aku harus menutup toko lebih cepat," gumam Liana pada dirinya sendiri.
"Aku harus mencari bahan obat ke hutan untuk besok. Sisanya mungkin akan kucari di kota jika ada waktu."
Hutan di pinggir desa bukanlah tempat asing bagi Liana. Ia sudah terbiasa keluar masuk hutan untuk mencari tanaman herbal. Berbekal kemampuan bela diri dasar untuk melindungi diri, ia melangkah mantap menyusuri jalan setapak.
"Ke mana aku harus mencari tanaman untuk luka dan demam, ya? Semoga saja aku bisa menemukannya sebelum gelap," pikir Liana.
Ia memutuskan masuk lebih dalam ke jantung hutan. Instingnya mengatakan bahwa di sana tersimpan lebih banyak potensi. Benar saja, tak lama kemudian matanya menangkap hamparan tanaman obat yang cukup langka.
"Wah! Banyak sekali tanaman langka di sini," serunya kegirangan. "Kalau aku meraciknya, aku bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi."
Dengan telaten, Liana memetik tanaman-tanaman itu. Namun, saat ia hendak berpindah ke lokasi lain, pandangannya tertumbuk pada sesosok tubuh yang terbaring di bawah pohon besar. Kewaspadaan Liana langsung meningkat.
"Hah... Siapa itu?" bisiknya pelan.
Perlahan, ia menghampiri sosok itu. Ternyata, itu adalah seorang pria. Kondisinya mengenaskan dengan luka yang terlihat parah.
"Ya ampun!" pekik Liana tertahan.
"Aku harus menolongnya, tapi aku hanya membawa obat biasa dan perban. Setidaknya aku harus menghentikan pendarahannya dulu."
Liana berlutut di samping pria itu.
Dengan tangan gemetar namun cekatan, ia membalut luka-luka terbuka di tubuh sang pria.
Lukanya sangat parah. Aku tidak bisa meninggalkannya di sini, batin Liana. Aku harus membawanya ke rumah.
Meskipun tubuh Liana ramping, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah pria itu. Saat melihat pakaian pria tersebut dari jarak dekat, Liana tertegun. Kainnya halus dan modelnya mewah.
Apakah pria ini bangsawan? Pakaiannya terlihat sangat mahal. Tapi kenapa dia bisa terdampar di pinggiran desa seperti ini?
Sesekali, Liana melirik wajah pria yang tak sadarkan diri di bahunya itu.
Dug... dug... dug...
Jantung Liana berdetak lebih kencang, bukan hanya karena beban berat yang ia bawa.
Tampan sekali... batinnya, lalu menggelengkan kepala cepat. Tenanglah, jantungku! Aku tahu dia tampan, tapi dia sedang sekarat!
Dengan langkah tertatih, akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan.
Liana langsung membawa pria itu masuk ke rumahnya dan membaringkannya di kamar mendiang orang tuanya.
"Haaah... akhirnya sampai. Berat sekali," keluh Liana sambil menyeka keringat di pelipisnya. Napasnya terengah-engah.
Namun, tugasnya belum selesai. Liana segera melepaskan jubah dan membuka kemeja pria itu untuk memeriksa lukanya lebih teliti. Lukanya dalam dan berbahaya.
"Sepertinya obat biasa tidak akan cukup. Aku harus menggunakan sihir penyembuhan, walau kekuatanku hanya cukup untuk menutup luka kecil dan menghentikan pendarahan," gumam Liana.
Ia memusatkan konsentrasi, meletakkan tangannya di atas luka pria itu. Cahaya redup berpendar dari telapak tangannya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha menutup luka-luka fatal tersebut.
"Setidaknya ini cukup untuk membuatnya bertahan hidup," desis Liana kelelahan.
Setelah mengganti pakaian pria itu dengan baju lama milik ayahnya, Liana membiarkannya beristirahat. Liana kemudian kembali ke rutinitasnya: meracik tanaman obat yang ia temukan tadi menjadi potion, mandi, dan makan malam.
Malam semakin larut. Sebelum tidur, rasa khawatir membuat Liana kembali ke kamar pasiennya membawa baskom air dan handuk kecil.
"Aku harus membasuh tubuhnya agar dia merasa lebih nyaman," pikir Liana.
Dengan gugup, ia menyeka wajah dan lengan pria itu.
Ya ampun, tubuhnya sangat indah... batin Liana tanpa sadar saat menyeka lengan berotot pria itu. Pria ini belum sadar juga. Sebenarnya sudah berapa lama dia di hutan?
Tangan Liana terhenti sejenak, menyentuh lembut rambut pria itu.
Rambutnya lembut, wajahnya juga... Argh! Apa yang kupikirkan? Dia pasien, Liana! Sadarlah! Ia menepuk pipinya sendiri, berusaha mengusir pikiran liarnya.
Setelah selesai, Liana meninggalkan ruangan itu dan pergi tidur.
Keesokan paginya, Liana terbangun sedikit terlambat.
"Gawat! Aku harus segera membuka toko!" serunya panik.
Ia bersiap dengan terburu-buru. Setelah toko dibuka dan belum ada pengunjung yang datang, Liana menyempatkan diri mengecek keadaan pasiennya.
"Dia masih belum sadar," gumam Liana kecewa sambil membasuh wajah pria itu lagi.
Hari itu berlalu dengan sibuk. Pasien datang silih berganti hingga matahari terbenam tanpa terasa. Liana menutup toko dengan tubuh lelah.
"Akhirnya selesai. Hari ini ramai sekali. Oh iya, pria itu!"
Liana bergegas menuju kamar belakang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah damai pria yang masih terlelap itu. Tanpa sadar, tangannya terulur menyentuh pipi sang pria.
Dia sangat tampan. Aku belum pernah melihat pria setampan ini seumur hidupku...
Tiba-tiba, mata pria itu terbuka.
Liana tersentak kaget dan reflek menarik tangannya. Pria itu mengerang pelan, memegangi kepalanya.
"Argh... kepalaku..." suaranya terdengar serak dan berat.
"Tu-tuan, Anda sudah sadar?" tanya Liana gugup.
Pria itu menoleh, menatap Liana dengan tatapan tajam namun bingung. "Kau... siapa? Dan di mana ini?"
"Anda ada di rumah saya. Nama saya Liana. Saya menemukan Anda pingsan di hutan. Apa Anda baik-baik saja?"
"Hutan...?" Pria itu bergumam. Tiba-tiba ekspresinya berubah kesakitan. Tangannya mencengkeram perutnya. "Darah... Aku butuh darah... Argh!"
Saat pria itu mendongak, Liana terperanjat. Mata pria itu yang tadinya gelap kini menyala merah darah.
"Kau... Vampir?" Liana melompat berdiri, mundur beberapa langkah demi menjaga jarak. Ketakutan mulai merayap di punggungnya.
Pria itu, Levian, tampak menderita. Rasa haus yang membakar tenggorokannya membuatnya kehilangan kendali, namun ia terlihat berusaha menahannya.
Liana bimbang. Rasa takut menyuruhnya lari, namun jiwanya sebagai penyembuh menahannya di sana.
Dia terluka dan menderita. Aku tidak boleh setengah-setengah dalam menolong seseorang, batin Liana, mencoba menguatkan hati.
Dengan tangan gemetar, Liana melangkah mendekat. Ia mengulurkan pergelangan tangannya.
"Kau... kau bisa meminum darahku."
Pertahanan Levian runtuh saat mencium aroma darah Liana yang begitu dekat. Ia menyambar tangan Liana, menarik gadis itu hingga jatuh ke dalam pelukannya di tepi ranjang.
"Argh..." Liana memejamkan mata, menahan perih saat taring Levian menembus kulit lengannya.
Darah segar mengalir masuk ke kerongkongan Levian. Seketika, matanya membelalak.
Darahnya... sangat manis. Entah mengapa, aku merasa ada aliran sihir di dalamnya, batin Levian takjub.
Dahaga Levian belum terpuaskan. Ia melepaskan lengan Liana, menatap gadis itu dengan mata yang masih menyala merah, lalu beralih ke leher jenjangnya.
"Darahmu sangat manis... Aku menyukainya," bisik Levian sebelum membenamkan taringnya ke leher Liana.
"Akh! Sa-sakit..." rintih Liana. Tubuhnya lemas dalam kukungan pria itu.
Levian terus menghisap, terbuai oleh rasa yang belum pernah ia temui sebelumnya. Pandangan Liana mulai mengabur. Ia tahu ini berbahaya.
"Ahhh... sudah cukup! Tuan, hentikan!" Liana mendorong d**a Levian sekuat tenaga. "Kau sudah menghisap terlalu banyak!"
Levian tersentak mundur, seolah baru tersadar dari trans. Ia menyeka sisa darah di sudut bibirnya. Matanya yang merah perlahan kembali ke warna aslinya. Tubuhnya yang tadi lemah kini terasa bugar, luka-lukanya menutup dengan cepat.
"Haha... Terima kasih," ucap Levian dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Liana meremang.
Liana memegang lehernya yang berdenyut nyeri, berjalan mundur perlahan. "Kau... istirahatlah, Tuan."
Tanpa menunggu jawaban, Liana berbalik dan buru-buru keluar dari kamar, meninggalkan Levian sendirian dalam kegelapan.
Levian menyentuh bibirnya, masih merasakan sisa rasa darah gadis itu.
"Wanita yang menarik," gumam Levian pelan. "Darahnya begitu nikmat. Tidak biasanya aku menemukan darah seistimewa miliknya."
Di kamarnya sendiri, Liana mengunci pintu dan langsung menjatuhkan diri ke kasur. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut dan sensasi aneh yang ditinggalkan gigitan itu. Sementara di kamar sebelah, sang vampir bangsawan masih terjaga, memikirkan sang penyelamat dengan darah yang memikat.
_ to be continued _