Mata Jasmine membesar saat melihat makanan yang di hidangkan di atas meja tempat dirinya dan Oris duduk berseberangan.
"Ada apa?" tanya Oris,
Jasmine menatapnya dengan senyum lebar, "tidak... aku hanya senang, Makanan ini tampak lezat." Jawab Jasmine begitu saja, Oris terkekeh saat mendengar jawaban dari mulut Jasmine, "aku yakin, makanan apa pun yang mereka hidangkan pasti akan tampak lezat di matamu."
Jasmine mengangguk, "ya, karena aku kelaparan." jawab Jasmine, ia tertawa di akhir kalimat, "omong-omong... apa boleh aku makan sekarang?" lanjut Jasmine, Oris tak menjawab, ia hanya mengangguk kecil.
Melihat itu Jasmine segera menyendoki butter chicken di hadapannya, gadis itu makan tanpa malu, seolah dirinya sudah mengenal Oris sejak lama.
"Bagaimana soal permintaanku tadi? Apa kau setuju?"
Pertanyaan Oris membuat Jasmine menghentikan kunyahannya, ia menatap mata Oris yang juga tengah menatap dirinya. Gadis itu tersenyum paksa, "bisa aku makan dulu?" pintanya meminta izin. Oris tak bereaksi, ia masih terus menatap Jasmine yang kini melanjutkan makannya walau tak selahap tadi.
"Kau tahu kalau tidak ada yang kebetulan di dunia ini, 'kan Jasmine?" Oris mengetukkan jari telunjuknya di meja, membuat perhatian Jasmine kembali mengarah padanya,
"tentu saja ada... seperti pertemuan kita semalam, kalau saja---" Ucapan Jasmine terpotong saat Oris menyambar kalimatnya, "tidak, itu bukan kebetulan.
Pertemuan kita punya alasan..." ucap Oris sambil tersenyum aneh.
"Maksudmu?" Jasmine melepaskan sendok dari jari tangannya, ia sudah kehilangan nafsu makan berkat senyuman Oris yang tak bisa di artikannya.
"Bagaimana jika, kalau aku sengaja menunggumu di sana? di jalan itu..." Oris mendatarkan ekspresi wajahnya, Jasmine mematung, ia tidak memikirkan hal yang di katakan Oris sebelumnya. Tiba-tiba saja hawa dingin menyerang jari-jari tangan dan kaki Jasmine.
Wajahnya memanas, mata gadis itu berkaca, hendak memberitahu semua orang kalau sekarang ia sedang ketakutan.
Oris tertawa kecil, pandangannya tak luput dari wajah Jasmine yang tak menunjukkan ekspresi lain selain ekspresi ketakutan. "Kau lucu sekali..." ucapnya di sela tawa yang menurut Jasmine, itu terlihat mengerikan karena di iringi dengan tatapan mata yang hampa.
"Tenang saja, aku tidak bersungguh-sungguh. Habiskan makananmu, Jasmine."
Jasmine menurut, ia tersenyum, "ya... tentu saja." Ucapnya, ia kembali meraih sendok yang beberapa menit lalu di lepaskannya. Gadis itu kembali memasukkan makanan ke mulutnya sambil tak henti memikirkan bagaimana pertemuannya dan Oris terjadi.
Memikirkan kenapa Oris berada di perbatasan desanya malam itu, memikirkan kenapa dia mau dengan mudahnya memberi Jasmine tumpangan kendaraan, tempat tinggal dan memberinya makan seperti sekarang.
Bagi Jasmine, semua hal itu terlalu teratur untuk di katakan kebetulan.
"Aku hanya membantumu, jangan di pikirkan. Kalau kau merasa tidak nyaman, kau bisa pergi..."
Jasmine tersenyum tak enak saat mendengar perkataan Oris yang seolah tau isi kepalanya. "Terimakasih," ucap Jasmine sungkan. Oris tak bereaksi, pandangannya tak lepas dari sosok Jasmine yang kini makan dengan hati-hati. Tak ada raut apa pun yang terpasang pada wajahnya, dan hal tersebut berhasil membuat Jasmine merasa tak nyaman.
Setelah menghabiskan setengah nasi miliknya, Jasmine memutuskan untuk berhenti makan. Ia menjangkau minuman dingin yang berada di samping makanan miliknya.
"Sudah selesai?"
Jasmine mengangguk, "sudah..." Jawabnya canggung.
Oris membetulkan posisi duduknya, ia menaruh kedua lengannya di atas meja untuk jadi topangan dagu lancip yang di imbangi rahang tegas, ia mengamati Jasmine beberapa detik sebelum memulai bicaranya, "Seperti perkataanku tadi, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal, tapi aku tidak akan keberatan jika kau ingin. Itu pilihanmu, Jasmine." Oris memberi jeda,
"Dan kau juga belum menjawab tawaranku tentang hadiah itu, bagaimana?"
Jasmine menurunkan kedua lengannya ke bawah. "Aku...," ucap Jasmine ragu, ia menoleh wajah Oris yang tak luput dari memandang wajahnya. "Aku..., tidak tertarik dengan tawaranmu..." suara Jasmine mengecil di akhir kalimat, ia memejamkan matanya takut kalau saja Oris marah akan keputusannya barusan. Namun di luar dugaan, Oris tak bersuara, bahkan pria itu bergeming.
"Lalu? Bagaimana tentang tempat tinggal?"
Jasmine menatap lekat wajah Oris yang tak memasang ekspresi sedikit pun, bahkan tatapan matanya terlihat tak peduli.
"Maaf kalau perkataanku ini menyinggungmu..., tapi bukankah katamu kalau aku kabur... aku mati?"
Oris tak menjawab, hanya sudut bibirnya yang bergerak naik ke atas. Ia tersenyum, tersenyum seram. "Itu urusanku," jawabnya, seringai seram milik Oris berlangsung beberapa detik sebelum ia menghela nafas dan mengangkat dagunya, "jadi... kau ingin pergi?"
Anggukan Jasmine bergerak lambat, ia tak tahu harus ke mana kalau pergi, namun ia takut kalau terus tinggal bersama Oris. "Ke mana?" Oris kembali mengajukan pertanyaan.
"Aku belum putuskan," jawab Jasmine.
"Baiklah, kalau begitu... kita berpisah di sini." Oris merogoh kantong dalam jasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. "Kau akan membutuhkan ini..." ucapnya sambil menaruh lembaran tersebut di atas meja.
Jasmine hendak menolak namun segera Oris memotong omongannya, "pergilah... sejauh mungkin. Karena kalau kita kembali bertemu, itu akan jadi penyesalan terbesar dalam hidupmu." Mata Oris berkilat tajam, ia tak main-main dengan ucapannya, tanpa menunggu respons dari Jasmine, ia segera berdiri lalu berbalik pergi.
Meninggalkan Jasmine yang masih dengan posisi duduknya. Mata gadis itu mengekori punggung tegap Oris yang tak menoleh walau hanya sekali. Cukup lama Jasmine menatap tempat hilangnya Oris sambil melamun sampai akhirnya ia memilih ikut beranjak dari tempat tersebut.
Jasmine berjalan keluar dengan uang pemberian Oris di genggaman tangan kirinya. Uang dengan jumlah yang mencukupi untuk dirinya hidup selama seminggu barangkali. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di depannya, sesekali mata Jasmine mengikuti pergerakan mobil yang melintas. Ia tak pernah melihat pemandangan seperti ini di Desanya. Perlahan, Jasmine tersenyum, membayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin akan di lakukannya di Kota.
Jasmine memulai perjalanannya, ia melintasi orang-orang. Tujuannya saat ini adalah menemukan seseorang yang bisa ia percayai untuk menjawab segala pertanyaannya. Namun sepanjang jalan, Jasmine hanya menemukan orang-orang dengan ekspresi acuh, orang-orang yang terlihat sibuk sampai tak punya waktu untuk memperhatikan orang lain.
Sampai akhirnya, Jasmine menemukan seorang pria yang sedang membuka bungkus lolipop. Pria itu tengah berjalan menuju dirinya, pandangan mereka sempat bertemu. Jasmine tersenyum ramah, meski pria tersebut tampak tidak peduli, namun Jasmine tak punya pilihan lain. Sejauh matanya memandang, hanya pria ini yang terlihat tidak punya urusan penting.
"Hei," sapa Jasmine saat pria tersebut melintasi dirinya, pria itu menghentikan langkahnya, ia menoleh Jasmine.
Pria dengan rambut biru, serta anting yang menggantung di telinga kirinya itu menoleh kanan dan kiri, mencari orang lain selain dirinya yang mungkin Jasmine ajak bicara, namun ia tak menemukan seorang pun. "Aku?" tanyanya sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Ya," jawab Jasmine masih tersenyum.
"Ada apa? kau kenal aku?"
Cepat Jasmine menggeleng, "tidak... aku hanya ingin menanyakan sedikit hal padamu."
"Apa itu?" tanya pria itu padanya.
Jasmine terus memamerkan senyumannya, "begini... aku dari Desa, dan ini pertama kalinya aku ke Kota. Kau kelihatannya sudah sangat mengerti cara hidup di sini, jadi apa boleh aku tahu cara hidup dengan baik di sini?" mata Jasmine berbinar, ia terlihat begitu bersemangat.
Pria itu mengamati penampilan Jasmine, "jadi kau dari Desa?"
Tanpa ragu Jasmine mengangguk, pria itu tampak berpikir, ia melepas papan skate yang sebelumnya berada di dalam dekapannya. "Siapa namamu?" tanyanya, "Jasmine." Jawab Jasmine langsung, pria itu mengangguk singkat, lalu tersenyum.
"Baiklah, mari ikut aku."
I SAW THE DEVIL
To be continue ...