Lelah dengan rutinitas kantor dan tidak ingin cepat-cepat terjebak dalam situasi rumah yang sunyi, Daniel menyepikan dirinya di sebuah taman hiburan yang tidak terlalu ramai karena bukan akhir minggu. Sekilas ia mendapati seorang anak kecil yang terjatuh lalu segera ditolong ibunya. Anak itu menangis manja di dekapan ibunya. Sejenak mengingatkan Daniel pada masa kecilnya.
“Mama, aku nggak suka diganggu sama anak-anak kampung itu!” rengeknya saat masih kecil, setelah berhasil melarikan diri dari kejaran sekelompok anak yang tinggal di kampung sebelah. Hal itu terjadi karena Daniel sebagai anak rumahan komplek tidak terbiasa bermain layangan sehingga dinilai payah oleh mereka.
“Mama nggak suka lihat kamu menangis. Hapus air mata kamu dan jangan pernah merasa kalah oleh siapa pun!”
Kejadian itu perlahan membentuknya menjadi seorang pemurung. Ia berpura-pura kuat di luar, tapi merasakan derita saat sendirian. Ketika memasuki usia remaja, Daniel adalah tipe anak muda yang menyayangi orang tuanya. Ia suka menemani ibunya belanja atau ke salon. Sampai-sampai dicap sebagai ‘anak mama’ oleh teman satu sekolahnya.
Bayangan tentang masa lalu selalu memunculkan perasaan tidak nyaman di dalam hatinya. Berat ketika harus memilih antara merindukan ibunya yang juga telah membuatnya merasa kecewa setengah mati. Selama ini ia hanya mendapatkan setengah kasih sayang ayah kandungnya yang terlalu sibuk di hadapan media massa, serta ibu tiri yang terlihat memaksakan diri menyayanginya. Daniel tidak menginginkan itu semua, kecuali menerima takdir yang terlanjur berjalan seperti apa adanya.
Duduk seorang diri di lingkungan umum membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas di sekitarnya, terutama kaum perempuan yang nyaris meleleh membersamai tanah ketika mendapatinya tengah bersandar sambil terpejam. Sebagian lagi beranggapan jika seorang perempuan yang sedang ditunggunya pasti sangat beruntung memiliki pria tampan yang terlihat tajir dari penampilannya dari atas hingga alas kaki yang serba branded.
Tidak ada yang mengetahui jika wajah rupawan seperti malaikatnya menyembunyikan sisi devil yang membuat beberapa sekretaris baru yang sempat Maheswara rekomendasikan, berakhir mengerikan dan tidak peduli lagi dengan ketampanannya. Daniel yang kesal dengan sikap mereka yang dinilainya hanya becus cari perhatian padanya, membuatnya berupaya untuk membuat mereka tidak betah dengan karakter bawaannya yang dingin dan judes. Bahkan salah seorang dari mereka membuat sumpah serapah.
“Dasar arogan! Cowok ganteng dan tajir sekali pun kayak Anda, saya bersumpah tidak akan melihat cewek yang mau tahan dengan Anda!”
Daniel mendadak tercekat dari lamunannya. Kalimat itu seperti terlontar kembali, benar-benar membuat telinganya bising. Namun ketika melihat ke depan dan sekitar, suasana tampak terlihat sepi. Orang-orang telah beranjak meninggalkan lokasi. Ketika melihat jam tangan, ia menyadari ini sudah pukul 11 malam.
&&&
Hari ini, Merel Aquila bangun tidur lebih pagi lagi dari biasanya. Membuat Angela Ge teman satu stay terusik dan sejenak terperanjat. Teman yang dikhawatirkannya sepanjang malam, malah terlihat begitu bersemangat. “Lo udah ... kapan pulang? Semalaman gue nungguin lo sampe ketiduran, tumben, kelayapan mana dulu neng?”
Merel menoleh ke belakang sambil menepuk-nepuk alas bedak ke pipinya. Dengan antusias dia menjawab, “Semalam gue pulang jam sebelas lebih, ceritanya panjang, nanti gue ceritain kalo nggak sibuk deh!”
“Kapan lo sibuk? Oh ya maksudnya sibuk nebar CV?”
“Jangan salah, ini hari pertama gue sebagai sekretaris pribadinya Daniel Maheswara!”
“Apa?” pekik Ge yang langsung bangkit dari rebahan meski matanya masih mengantuk. “Daniel Maheswara putra sulungnya Aktor Senior Maheswara? Pengelola sebagian besar perusahaan keluarganya yang kayaknya sebagian besar saham udah jadi miliknya deh.”
“Nah itu, kayaknya.” Merel masih sibuk merias wajah depan cermin.
“Gila, Mer, dia itu ganteng parah, sekali ketemu lo bakal jatuh cinta sedalam palung mariana!”
Tanpa menoleh Merel menyahut, “Tumben lebai, efek kurang tidur sih! Lagian gue nggak tahu mukanya kayak gimana, kan dia bukan artis kayak bapaknya!”
“Iya sih, katanya dia diajak syuting keluarga aja susah, tapi banyak artikel yang bahas soal dia, dan beberapa kali masuk infotainment, ah elunya aja nih yang kudet!”
“Gue hampir lupa kalo lo masih cewek yang suka mantengin seleb!” sindir Merel mengingat temannya itu tipe gadis yang tomboy dan cuek tapi cukup tahu mengenai keluarga selebriti Maheswara.
“Gue cuman tahu soal mereka karena ngefans sama Naresh Maheswara. Catat itu!”
Merel hanya tertawa dan beranjak mengambil tas jinjingnya untuk segera pergi.
“Eh bentar, bukannya kemarin lo ditolak sama semua perusahaan? Kok udah mau main masuk kerja aja!” tanya Ge bersuara lagi. Dia memang cerewet.
“Gue jadi agen ibu kandungnya Daniel dan kayaknya bakal lebih mudah masuk sana. Ini baru mau melamar sih, cuman gue udah pede aja bakal keterima.”
Mata bundar Ge membelalak tidak percaya. “Apa? kapan lo ketemu Linda Pramuditha?” tanyanya. Kali ini gadis itu bahkan sampai berdiri.
“Sudah gue bilang, nanti ceritanya, dah!” jawab Merel tersenyum lebar sebelum keluar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Berhubung perusahaan dalam kondisi sangat membutuhkan sekretaris, jadi hari itu pun setelah proses seleksi CV, langsung digelar interview besar-besaran di aula. Tidak mengherankan bagi Merel harus mengantri panjang demi mendapatkan pekerjaan ini. Namun ada sedikit cemas jika seandainya ia tidak diterima dan itu akan mengecewakan seorang ibu yang terbaring di rumah sakit. Lolos proses interview membuatnya harus mengikuti tahap berikutnya sebagai 10 besar yang akan mendapatkan peluang.
“Apa visi dan misi Anda bekerja sebagai sekretaris pribadi CEO Daniel Maheswara?” tanya HRD.
Salah satu peserta yang duduk di hadapannya menyahut, “Mencintainya dengan cara yang benar dan penuh kelembutan sehingga bisa mencintai saya balik, Pak.” Sesaat terdengar suara riuh dari calon lain yang menertawainya.
“Hehe becandang dong Pak.”
“Tahap penting saja Anda jadikan becandaan? Atasan tidak akan menyukainya, Anda gugur!”
“Yes!” pekik Merel antusias, begitupun dengan pelamar yang lain.
Suasana ruangan semakin menegangkan karena tersisa 7 orang pelamar yang sibuk berdoa sesuai keyakinannya masing-masing, saat HRD akan memberi pengumuman siapa yang beruntung mendapatkan pekerjaan itu. Di samping bisa berdekatan dengan pria tampan dan mapan, ia juga akan mendapatkan gaji yang besar setiap bulannya.
“Saya ucapkan selamat kepada Saudari Merel Aquila yang memenuhi persyaratan menjadi sekretaris CEO Daniel Maheswara dan mulai dipekerjakan hari ini juga.”
Sejenak Merel Aquila masih tertunduk dalam doanya. Ia masih nyaman di dalam imajinasi yang membuatnya beridiri antusias. “Wah terimakasih!” katanya sambil melihat sekeliling, penuh dengan tatapan dengki. “Ah maaf, bukan Saya ya,” ujarnya lagi sambil duduk dengan perasaan terlampau malu.
“Tentu saja Anda, silakan ikut Saya menghadap atasan.”
Merel menampakkan wajahnya dengan raut yang terlalu bahagia sekaligus merasakan jantungnya berdesir hebat, teringat perkataan teman satu kamarnya mengenai wajah tampan membius milik CEO itu. Setampan apa sih? Sampai-sampai membuat pelamar lain yang gagal seolah tatapannya mengancam dirinya dengan kekuatan dukun paling sakti di ibu kota. Itu pun kalau di Jakarta masih ada prakter perdukunan.