Hujan tipis turun di kota itu, membuat lampu-lampu jalan tampak buram seperti lukisan yang sengaja dihapus sebagian. Lyra berdiri di bawah kanopi halte tua, memandangi keramaian manusia yang berlalu lalang tanpa menyadari siapa dirinya sebenarnya.
Di siang hari, ia hanyalah seorang wanita muda yang terlihat biasa saja.
Namun di malam hari… ia adalah sesuatu yang jauh dari kata manusia.
Lyra menarik napas panjang. Sudah beberapa hari sejak ia tiba di kota ini, dan satu masalah kecil mulai terasa sangat mengganggu.
Tempat tinggal.
Ia tidak bisa terus berpindah hotel. Selain mahal, terlalu banyak kamera, terlalu banyak manusia yang suka bertanya. Bagi seseorang yang memiliki rahasia seperti dirinya, tempat yang tenang dan aman jauh lebih penting daripada kemewahan.
Lyra mengeluarkan ponselnya dan menatap sebuah nama di layar.
Seseorang yang sudah lama ia kenal.
Seseorang yang bahkan lebih tua dari kota ini.
Ia menekan tombol panggil.
Beberapa detik kemudian, suara rendah yang malas terdengar dari seberang sana.
"Sudah sampai akhirnya?"
Lyra tersenyum tipis.
"Kau selalu tahu."
"Aku mencium kehadiran iblis dari tiga blok jauhnya."
"Berlebihan."
"Sedikit."
Lyra memutar mata, meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihatnya.
"Jadi," kata pria itu, "kenapa kau meneleponku? Jangan bilang kau datang ke kota ini hanya untuk mengganggu hidupku lagi."
Lyra bersandar pada tiang halte.
"Aku butuh tempat tinggal."
Hening beberapa detik.
Lalu terdengar tawa pelan.
"Aku sudah menduga."
"Aku serius."
"Aku juga serius. Kau selalu datang tanpa rencana."
Lyra mendesah.
"Kau masih di kota yang sama, kan?"
"Tentu saja."
"Baik. Temui aku."
"Di mana?"
Lyra menoleh ke arah jalan utama yang penuh lampu neon dan papan iklan besar.
"Kafe malam di ujung jalan Rivera."
"Oh," suara pria itu berubah sedikit tertarik, "tempat itu punya darah manusia yang lumayan segar."
Lyra menggeleng.
"Kau benar-benar tidak berubah."
"Aku vampir. Berubah bukan keahlian kami."
Telepon ditutup.
---
Sekitar dua puluh menit kemudian, Lyra sudah duduk di sebuah kafe yang hampir kosong. Musik jazz pelan mengalun di udara, bercampur dengan aroma kopi pahit dan sesuatu yang lebih… metallic.
Ia tahu pria itu akan datang.
Vampir selalu datang tepat waktu.
Pintu kafe terbuka.
Angin malam masuk bersamaan dengan sosok pria tinggi berambut hitam yang tampak terlalu tampan untuk sekadar manusia biasa. Matanya tajam, seolah bisa membaca pikiran siapa pun yang menatapnya.
Ia berjalan santai menuju meja Lyra.
"Lama tidak bertemu."
Lyra mengangkat alis.
"Kau terlihat lebih menyebalkan dari sebelumnya."
Pria itu duduk di depan Lyra dengan senyum tipis.
"Dan kau terlihat masih suka membuat masalah."
Lyra menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
Namanya adalah Kael.
Sahabat lamanya.
Seorang vampir yang sudah tinggal di kota ini cukup lama hingga hampir semua makhluk malam mengenalnya.
"Kau benar-benar butuh tempat tinggal?" tanya Kael.
Lyra mengangguk.
"Aku tidak bisa terus berpindah-pindah. Aku ingin sesuatu yang… strategis."
"Strategis untuk apa?"
Lyra mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Bekerja."
Kael menyipitkan mata.
"Kau sudah mulai lagi?"
Lyra tidak menjawab langsung. Hanya tersenyum samar.
Kael tertawa pelan.
"Kota ini akan menjadi kacau."
"Belum tentu."
"Kau iblis, Lyra."
"Dan kau vampir."
"Benar juga."
Seorang pelayan datang membawa minuman Kael—gelas tinggi berisi cairan merah gelap. Lyra bahkan tidak perlu bertanya untuk tahu apa itu.
Kael meminum sedikit, lalu berkata,
"Ada beberapa tempat yang mungkin cocok untukmu."
"Seperti?"
"Apartemen mewah di pusat kota."
"Terlalu mencolok."
"Rumah tua di distrik utara."
Lyra tertarik sedikit.
"Ceritakan."
Kael menyandarkan tubuhnya.
"Tempat itu besar, sepi, dan pemilik sebelumnya… menghilang."
Lyra tersenyum tipis.
"Menarik."
"Dan yang paling penting," kata Kael, "tidak banyak manusia yang berani tinggal di sana."
"Itu justru sempurna."
Kael menatap Lyra beberapa saat.
"Aku tahu ekspresi itu."
"Apa?"
"Kau menyukai tempat yang memiliki sejarah gelap."
Lyra mengangkat bahu.
"Lebih nyaman."
Kael tertawa kecil.
"Baiklah. Aku bisa mengantarmu melihat tempat itu malam ini."
Lyra langsung berdiri.
"Sekarang."
"Kau bahkan belum minum."
"Aku tidak datang untuk kopi."
Kael menggeleng, tapi ikut berdiri.
"Baiklah, iblis yang tidak sabaran."
Mereka keluar dari kafe dan berjalan menuju mobil hitam milik Kael yang terparkir di seberang jalan.
Langit malam semakin gelap.
Lampu kota berkilauan seperti bintang buatan manusia.
Saat mobil mulai bergerak, Kael berkata pelan,
"Ngomong-ngomong, Lyra."
"Hm?"
"Kenapa kau benar-benar datang ke kota ini?"
Lyra menatap keluar jendela, melihat pantulan wajahnya di kaca.
Senyumnya tipis, tapi ada sesuatu yang berbahaya di baliknya.
"Aku punya pekerjaan."
Kael menghela napas.
"Aku sudah menduga."
"Dan kali ini," lanjut Lyra, "pekerjaan itu besar."
Kael tersenyum samar.
"Kalau begitu… kota ini benar-benar akan berubah."
Lyra menoleh kepadanya.
"Mungkin."
Mobil melaju menembus malam, menuju rumah tua yang akan menjadi tempat tinggal baru Lyra.
Tempat di mana ia akan hidup sebagai manusia di siang hari…
dan menjadi mimpi buruk bagi seseorang di malam hari.
Dan Kael tahu satu hal dengan pasti.
Ketika Lyra mulai bergerak, tidak ada yang akan tetap sama lagi.