Mengetahui sambungan mic yang sedang ia gunakan diputus secara sepihak oleh Dokter Halbert, Detektif Edelmar menghela nafas kasar. Ia kembali duduk di samping Sir James yang menatap layar televisi yang sedang menampilkan tubuh jasad korban yang sedang di otopsi.
"Sampai kapan mereka akan melakukan otopsi pada jasad korban?" tanya Detektif Edelmar yang ikut memperhatikan layar televisi, tidak berselang lama ia menatap kaca yang memperlihatkan bagian dalam dari ruangan otopsi.
"Aku tidak tahu, mungkin sampai mereka mengetahui penyebab kematian korban dengan tepat," ucap Sir James yang masih memperhatikan layar televisi.
Detektif Edelmar tidak kembali bersuara, membuat suasana di antara mereka kembali diam. Mereka memilih untuk fokus memperhatikan layar televisi yang hanya menampilkan tubuh jasad dan tangan dokter yang bertugas melakukan otopsi.
"Aku jadi penasaran," ucap Detektif Edelmar secara tiba-tiba, membuat Sir James menoleh pada laki-laki itu yang masih memperhatikan layar televisi.
Detektif Edelmar meletakkan ibu jari dan juga jari telunjuk di dagu, membuat gerak tubuh seakan ia sedang memikirkan sesuatu, "apa mereka tidak merasa lelah setelah menyatukan tubuh korban kembali seperti semula?"
Sir James tidak langsung menjawab pertanyaan Detektif Edelmar, ia memilih untuk memperhatikan kembali dokter forensik yang sedang memeriksa jasad korban dari balik kaca pemisah.
"Tentu saja mereka merasa lelah, itu hal yang dirasakan manusia pada umumnya. Mereka harus menjahit dengan hati-hati dan penuh konsentrasi agar tidak ada kesalahan yang akan membuat perubahan pada jasad korban. Aku rasa tidak ada satupun dokter forensik yang suka melakukan otopsi pada korban mutilasi," ucap Sir James.
Mereka kembali terdiam sambil memperhatikan otopsi yang masih berjalan. Dari balik kaca, terlihat Dokter Halbert yang sedang memeriksa bagian kaki jasad korban. Detektif Edelmar mengalihkan pandangannya pada sosok Dokter Halbert, hal itu membuat ia kembali teringat dengan apa yang baru saja dikatakan dokter itu sebelum mematikan sambungan mic yang terhubung dengan mic yang ada di bagian luar ruang otopsi.
"Sir James," panggil Detektif Edelmar, nada keraguan terdengar dari suaranya.
Laki-laki yang dipanggil hanya menggumam sebagai jawaban, ia masih fokus memperhatikan para ahli forensik yang sedang melakukan tugas mereka.
"Apa Dokter Halbert seorang laki-laki?" tanya Detektif Edelmar masih dengan nada suara yang terdengar ragu.
Sir James yang mendengar pertanyaan yang cukup aneh dari Detektif Edelmar menghela nafas pelan, ia bingung apa yang sedang dipikirkan oleh detektif yang duduk di sampingnya saat ini.
"Ya, Dokter Halbert seorang laki-laki," jawab Sir James.
Detektif Edelmar menatap Sir James beberapa saat, wajahnya terlihat tidak yakin dengan apa yang diucapkan oleh Sir James, "serius?"
Sir James sekali lagi menghela nafas, ia menatap Detektif Edelmar dengan tatapan serius dan sedikit kesal.
"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan saat ini. Apa aku harus meminta Dokter Halbert melepaskan seluruh pakaiannya di depanmu untuk membuktikan jika ia seorang laki-laki? Dan apakah itu penting untukmu?" ucap Sir James.
"Tidak perlu bertindak sejauh itu, Sir James. Jika kau melakukan itu, bisa saja kau dianggap sedang melakukan kejahatan seksual pada seorang dokter. Penting tidak penting, jika ia seorang laki-laki akan memudahkan ku untuk melakukan investigasi ke tempat jauh," ucap Detektif Edelmar.
Sir James menatap Detektif Edelmar dengan tatapan bingung, "kau berniat untuk mengajaknya?"
Tersenyum kecil, Detektif Edelmar menganggukkan kepalanya pelan, "tentu saja, terlebih kita sangat kekurangan informasi mengenai korban. Yang baru kita ketahui hanya ia merupakan korban mutilasi yang dimasukkan ke dalam kotak dan diletakkan di teras depan rumah warga."
"Kau benar. Aku harap kita bisa secepatnya menemukan identitas korban agar memudahkan untuk mencari pelaku dari kasus ini."
"Oh, apa kau sudah meminta salah satu anggotamu untuk memeriksa data pencarian orang hilang?"
"Aku sudah meminta mereka untuk memeriksa pada berkas laporan dan pencarian orang hilang, tetapi aku belum menerima hasil laporan dari mereka," ucap Sir James sambil memperlihatkan beberapa pesan.
"Mungkin saja kor–"
Perkataan Detektif Edelmar terhenti saat suara ponsel terdengar. Suara itu berasal dari handphone yang berada di tangan Sir James.
"Maaf, aku permisi sebentar," ucap Sir James sebelum pergi dari ruang pengamat.
.
.
.
Dokter Halbert kembali memperhatikan luka memar yang berada di pelipis kiri jasad korban. Mengambil pita ukur, ia lalu mengukur luka memar itu.
"Lebam di pelipis kiri sepanjang 3 cm dengan bekas lecet tipis 2 cm," ucap Dokter Halbert.
"Lebam di pelipis kiri sepanjang 3 cm dengan bekas lecet tipis 2 cm," ulang Dokter Floren.
Dokter Halbert meletakkan kembali pita ukur pada tempatnya. Kembali memeriksa tubuh mayat, kali ini ia memeriksa lengan jasad korban. Ia tidak menemukan lebam maupun luka yang ada di lengan korban, kecuali bekas jahitan yang mereka lakukan untuk menyatukan tubuh korban. Saat memeriksa bagian tangan korban, seperti apa yang diucapkan oleh Dokter Arthur, pelaku merusak sidik jari korban. Terlihat luka dengan bentuk aneh pada ujung jari-jari korban, membuat sidik jari korban menjadi tidak bisa terdeteksi. Dokter Halbert kembali memperhatikan wajah korban. Hanya dengan melihatnya saja ia tahu jika wajah itu sudah mengalami beberapa perubahan. Menghela nafas pelan, ia berjalan menuju Dokter Floren dan membaca kertas pemeriksaan.
"Sepertinya kita berhadapan dengan pelaku yang mengerti tentang anatomi tubuh manusia," ucap Dokter Halbert.
Dokter Floren menatap Dokter Halbert bingung, ia merasa ada hal yang aneh, "apa maksudmu, Dokter Halbert?"
Dokter Halbert memperlihatkan kertas pemeriksaan yang terdapat tulisan Dokter Floren, "coba kau perhatikan, sidik jari korban sudah dirusak, tetapi terlihat seperti biasa saja. Kemudian wajah korban, walaupun tidak terlihat dengan jelas, tetapi sudah mengalami beberapa perubahan. Untuk wajah mempunyai dua kemungkinan, pertama korban yang melakukan perubahan dengan pergi ke dokter bedah atas dasar keinginannya sendiri, kedua pelaku yang melakukannya agar identitas korban tidak bisa ditemukan dan membuat kepolisian kesusahan untuk menemukan identitas pelaku yang sudah menghilangkan nyawa korban. Lalu lihatlah bekas pelaku memotong tubuh korban, bekasnya terlihat sangat rapi dan bersih, seakan pelaku sudah terbiasa melakukannya."
Dokter Floren yang mendengar penjelasan Dokter Halbert menatap tidak percaya. Meminta kembali kertas pemeriksaan, ia segera menulis keterangan wajah korban sudah mengalami perubahan. Dokter Arthur yang juga mendengar penjelasan Dokter Halbert memperhatikan jasad korban dengan teliti. Benar apa yang dikatakan oleh Dokter Halbert. Jika benar-benar diperhatikan, terdapat bekas samar pada dagu dan juga jidat korban.
Dokter Halbert mendekati jasad korban, ia melanjutkan pekerjaannya mengotopsi jasad korban. Pada bagian d**a dan perut juga tidak terdapat luka maupun lebam.
"Aku sedikit bingung, pada umumnya jika pelaku memutilasi korbannya, ia akan memotong d**a dan perut korban menjadi dua bagian, tetapi pada jasad ini tidak. Ia lebih memilih melakukannya pada bagian leher. Seperti pelaku tidak ingin mengotori dirinya dengan organ dalam korban," ucap Dokter Halbert.
Dokter Arthur menganggukkan kepalanya, "mungkin saja pelaku tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan itu."
"Mungkin saja."
"Apa kau akan memeriksa organ dalamnya?"
"Ya. Untuk mengetahui apakah korban memakan sesuatu yang berbahaya atau tidak. Itu akan ku lakukan setelah selesai memeriksa bagian luar tubuh korban"
Dokter Halbert mulai memeriksa kaki korban. Sama halnya seperti keadaan tangan korban, pada kaki korban juga tidak ditemukan adanya bekas luka maupun lebam. Pada bagian tubuh belakang korban juga tidak ditemukan adanya luka atau lebam. Memeriksa dengan lebih teliti sekali lagi, tetapi ia tetap tidak menemukan adanya bekas luka maupun lebam yang menghiasi tubuh korban. Dokter Halbert mengambil pisau bedah yang berada di atas meja peralatan. Ia mulai membuat garis panjang dari d**a hingga pusat jasad. Sementara itu Dokter Arthur mengambil gambar menggunakan kamera yang menggantung di lehernya. Tidak memerlukan waktu lama untuk Dokter Halbert mengambil sampel jaringan mukosa lambung korban, meletakkannya di cawan petri lalu meminta Dokter Floren mengantarkannya pada bagian pemeriksaan laboratorium.
.
.
.
Pria itu tersenyum mengerikan sambil memperhatikan sesuatu yang terlihat di layar handphonenya. Ia tertawa pelan hingga tawanya berubah menjadi tawa mengerikan.
"Kau sudah mendapatkan pelajaran dari apa yang sudah kau lakukan. Semoga kau tenang di alam sana … "