Menunggu selama lima belas menit, sebuah mobil besar dengan bak muatan terbuka memasuki area danau. Di bagian belakang mobil terlihat dua perahu kayu berukuran sedang yang bisa menampung dua hingga tiga orang. Petugas Polisi segera menurunkan kedua perahu kayu tersebut dengan hati-hati. Setidaknya memerlukan enam orang Petugas Polisi untuk mengangkat satu perahu. Saat kedua perahu sudah mengambang di atas permukaan danau, tiga orang Petugas Polisi menaiki satu perahu, sementara perahu yang lain dinaiki oleh dua orang Petugas Polisi.
Evakuasi jasad korban berlangsung lumayan lama. Selain kesusahan untuk mengangkat jasad ke atas perahu, suhu dingin dari air danau dan sekitar membuat Petugas Kepolisian sedikit kesusahan. Jasad korban berhasil dinaikkan ke atas perahu saat salah satu Petugas Polisi dengan nekat masuk ke dalam danau dan mendorong jasad korban dari dalam air. Petugas Polisi yang lain segera membantu Petugas Polisi yang berada di dalam air untuk kembali naik ke atas perahu. Tidak lupa salah satu Petugas Polisi membantu sang pria tua untuk mendayung perahu miliknya.
Tiba di tepi danau, Para Polisi yang segera membawa jasad korban ke daratan. Sementara Petugas Polisi yang masuk ke dalam air danau segera dibawa masuk ke dalam rumah bersama sang wanita tua dan sang pria tua untuk menghangatkan tubuh. Sedangkan Petugas Polisi yang tersisa segera meletakkan jasad korban di atas terpal yang sudah di siapkan. Petugas Polisi segera mengambil beberapa foto korban dari sudut yang berbeda.
Dokter Halbert mengambil masker dan juga sarung tangan yang ada di dalam saku jasnya. Menggunakan masker dan juga sarung tangan, Ia lalu mendekati tubuh jasad korban. Memperhatikan bagaimana penampilan korban, Dokter Halbert memasang wajah bingung. Detektif Edelmar yang berdiri tidak jauh dari Dokter Halbert menepuk pundak Dokter Halbert.
"Apa kau perlu menunggu tim forensik yang lain untuk datang?" tanya Detektif Edelmar.
"Tentu saja. Walau hanya pemeriksaan singkat di tempat kejadian, aku tetap memerlukan seseorang untuk mengambil gambar saat melakukan pemeriksaan," ucap Dokter Halbert.
"Bagaimana jika aku yang mengambil gambar saat kau melakukan pemeriksaan?" tanya Detektif Edelmar.
"Jika menggunakan kamera handphone tentu aku akan menolak," ucap Dokter Halbert.
"Dokter Halbert, apa kau tidak keberatan jika membawa jasad korban bersama Detektif Edelmar ke BFI?" tanya Sir James.
"Aku tidak keberatan," ucap Detektif Edelmar.
"Aku tahu ini sedikit melenceng dari seharusnya. Tetapi pihak BFI mengatakan mereka belum bisa tiba tepat waktu di sini karena mobil yang mereka gunakan tiba-tiba mogok dan mobil yang lain sedang digunakan untuk urusan yang lain," ucap Sir James.
Detektif Edelmar menepuk pelan pundak Dokter Halbert, membuat Dokter Halbert menghela nafas pelan lalu mengangguk, "baiklah."
Mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter Halbert, Sir James segera meminta beberapa Petugas Polisi untuk memasukkan mayat korban ke dalam mobil yang digunakan oleh Detektif Edelmar. Selesai memasukkan mayat ke dalam mobil, Detektif Edelmar dan Dokter Halbert segera pergi menuju BFI. Perjalanan mereka berjalan sedikit lebih lambat. Dokter Halbert melarang Detektif Edelmar untuk melajukan mobil yang ia gunakan melebihi kecepatan 50 km/jam. Selain berbahaya, jika Detektif Edelmar menghentikan mobil secara mendadak, hal itu bisa saja membuat jasad korban terjatuh dari posisi semula. Dan itu bisa saja membuat kerusakan pada jasad korban.
Tiga puluh menit berlalu, mereka sudah memasuki halaman BFI. Seketika mereka disambut oleh Dokter Arthur dan Dokter Floren yang sudah siap dengan ranjang dorong untuk membawa jasad korban. Menghentikan mobil tepat di pintu masuk, Dokter Halbert segera keluar dan membuka pintu penumpang. Ia dan dan Dokter Arthur segera mengeluarkan jasad korban dan meletakkannya di atas ranjang dorong. Memastikan letakkan jasad mayat aman, mereka segera mendorong ranjang tersebut menuju ruang otopsi. Sementara itu, Detektif Edelmar yang melihat Dokter Halbert dan Dokter Arthur yang mendorong ranjang dorong segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir lalu menyusul para dokter forensik ke ruang otopsi. Seperti biasa, ia akan menyaksikan otopsi berlangsung dari ruang pengamat.
Di dalam ruang otopsi, terlihat Dokter Halbert yang sibuk menyiapkan peralatan, Dokter Arthur dengan kamera sedangkan Dokter Floren dengan catatan yang ada tidak jauh dari tempat Dokter Halbert memeriksa jasad korban. Saat semua persiapan sudah selesai, Dokter Halbert menatap Dokter Floren dan Dokter Arthur satu persatu. Mendapat anggukan kepala dari kedua rekannya, Dokter Halbert mengganggu pelan lalu melihat pada jam digital yang berada di pojok ruangan. Jam itu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh tujuh menit.
"Pembedahan pada jasad korban tenggelam akan dilakukan oleh Dokter Ian Halbert sebagai Kepala Tim Forensik, dibantu oleh Dokter Devin Arthur sebagai asisten dokter dan Dokter Anna Floren sebagai anggota dokter. Pembedahan dilakukan tepat pada pukul empat lewat tiga puluh tujuh menit," ucap Dokter Halbert, ia mulai membuka kantong mayat yang membungkus jasad korban dan mulai melakukan otopsi luar.
Pada pemeriksaan luar, ia tidak menemukan adanya luka ataupun tanda-tanda cadaveric spasm pada tubuh jasad korban.
"Kedua ibu jadi korban tidak berada di tempatnya," ucap Dokter Halbert saat memeriksa bagian tangan korban.
"Kedua ibu jari korban tidak ada," ulang Dokter Floren.
Dokter Halbert memeriksa bagian lain. Ia tidak menemukan adanya lukanatau lebam pada bagian luar jasad korban. Mengambil pisau bedah, Dokter Halbert menggoreskan pisau bedah tersebut dari d**a hingga menuju perut jasad korban. Setelah melakukan pembedahan, hal pertama yang diperhatikan oleh Dokter Halbert yaitu paru-paru korban. Paru-paru itu terlihat lebih besar dibanding biasanya. Dokter Halbert mengambil lalu menimbang paru-paru korban.
"Paru-paru korban lebih berat dibanding paru-paru normal. Berat paru-paru kanan mencapai berat 800 gram, sedangkan paru-paru kiri mencapai berat 750 gram," ucap Dokter Halbert.
"Paru-paru lebih berat dari berat normal. Kanan 800 gram, kiri 750 gram," ulang Dokter Floren.
Usai menimbang berat paru-paru, Dokter Halbert mengambil sampel cairan paru-paru dan meletakkannya ke dalam tabung kecil. Selain itu ia melakukan pemeriksaan pada paru-paru korban, "ditemukan pendarahan pada paru-paru."
"Terjadi pendarahan di paru-paru," ulang Dokter Floren.
Dokter Halbert lanjut memeriksa keadaan jasad korban. Ia juga mengambil sampel darah dan juga urun korban. Otopsi berjalan kurang lebih dua jam. Saat keluar dari ruang otopsi, Dokter Halbert segera menuju lab dan menemui Dokter Christy.
"Dokter Christy, aku ingin kau melakukan pemeriksaan diatom dan toksikologi," ucap Dokter Halbert. Ia memberikan sampel cairan, darah serta urin korban pada Dokter Christy yang sedang mengerjakan sesuai.
"Tetapi aku tidak bisa menyerahkan hasilnya dengan cepat. Ada kasus keracunan massal dan aku sedang mencari racun yang menyebabkan kejadian tersebut," ucap Dokter Christy.
"Tidak masalah, tetapi aku harap kau bisa segera menyelesaikannya," ucap Dokter Halbert.
"Baiklah. Jika selesai seperti biasa aku akan menghubungimu," ucap Dokter Christy. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang terhenti karena kedatangan Dokter Halbert.
Dokter Halbert segera keluar dari lab dan menuju ruangannya. Saat membuka pintu ruangannya, di dalam ruangan terlihat Detektif Edelmar yang sudah duduk di atas sofa.