Brukk...
Tubuhku hampir saja terjerembab ke tanah, di karena kan seharian ini tiada ada satu pun makanan yang masuk ke perutku, untung saja ada Raka pria manis, bertubuh tinggi, berkulit hitam manis, yang berada di barisan nomor dua di depanku, yang langsung sigap menahan tubuhku.
"Cieee Raka naksir ya sama Andin?" Begitu olok-olok yang ku dengar dari teman-teman sekitar, yang sore ini juga ikut pramuka bersama. Padahal aku sudah hampir pingsan, tapi mereka masih bisa-bisanya mengolok-olokku. Karena ke seharian hidupku memang menjadi pusat bullying anak-anak di kampungku. Karena alasan wajahku yang jelek dan tidak ter urus, di tambah aku yang miskin dan juga ibuku yang seorang ODGJ ( orang dengan gangguan jiwa) malah menjadi kan ku bulan-bulanan anak-anak di sana.
"Kenapa Ka?" Tanya guru pramukaku pada Raka. Yang memang tak tahu menahu soal apa yang baru saja terjadi.
"Andin hampir saja pingsan pak!" Beritahu Raka.
"Ya sudah, cepat angkat ke kantor!" Perintah pak Arif guru pramukaku sekaligus guru agama di sekolah kami.
"Cie...cieee Raka sama Andin!"
Bahkan di saat Raka memapah tubuhku yang lemah untuk di bawa ke kantor pun, tiada ada yang berani menyentuhku untuk membantu berjalan ke kantor, karena mereka menganggapku kotor, bahkan juga sering ku dengar, mereka mengatai ku najis, tapi aku hanya diam menanggapi ucapan mereka.
"Kamu kenapa bisa sampai mau pingsan Ndin, udah makan di rumah?" Tanya guru perempuanku buk Viola, yang kebetulan main-main ke sekolah sore itu, karena ada tugasnya yang belum ia selesai kan bersamaan dengan pak Arif, yang juga menanyakan hal sama terhadapku.
"Saya belum makan buk seharian," Ceritaku pelan. Karena aku yang memang seorang anak pendiam dan kalem pada masa itu.
"Belum makan seharian, memangnya ibumu kemana?" Tanya buk Viola, karena bingung orangtuaku sampai membiarkan anak yang baru masuk kelas 1 SMP sepertiku sampai hampir pingsan gara-gara kelaparan.
"Ibunya ODGJ buk!" Sahut teman akrabku Ina, yang kala itu sudah ikut masuk kantor untuk melihat kondisiku.
"Ya tuhan," Ucap buk Viola prihatin. Sementara pak Arif yang mendengar itu pun hanya bisa diam dan menatapku iba, karena sudah tahu dan kenal keluargaku.
"Oke, Andin sebaiknya ikut ibu dulu makan ke rumah, biar ada tenaganya!" Ucap buk Viola. Karena komplek rumah perguruan, hanya berada di belakang SMP tempatku bersekolah.
"Iya buk," Sahutku pelan. Setelahnya kami pun berjalan ke rumah guruku di iringi dengan temanku Ina. Sementara anak-anak yang lain sudah terlihat melanjutkan kegiantan pramukanya kembali.