"Gara-gara gue, tangan lo jadi sakit lagi."
"Gue bakal berusaha jauhin Yera."
"Demi lo!"
Carla tersenyum samar, ia dapat melihat kesungguhan dari tatapan El kepadanya. Tapi ia ragu, antara harus percaya atau tidak.
"Nggak perlu," ujar Carla singkat, ia masih berada di tempatnya.
El berdiri-- mendekati Carla, ia menjadi kesal sendiri mendapat perhatian dingin dari gadis itu. Ia menggebrak pelan meja Carla, ia membungkuk-- mata tajamnya mengamati setiap inci wajah Carla yang juga menatap dingin dirinya.
"CARLA!! NGGAK BOLEH BAWA PACAR KE KELAS! ATAU IBU HUKUM PIKET SELAMA SEMINGGU PENUH! AYO CEPET KELUAR!!!" teriak Bu Andhin dari luar.
Segera saja El menjauhkan wajahnya dari Carla, ia menoleh ke wanita gemuk yang terlihat berkacak pinggang di ambang pintu yang sepenuhnya sudah terbuka. Carla tertawa canggung. Ia melupakan lagi aturan di kelasnya yang tidak memperbolehkan siswanya berada di dalam kelas setelah pulang sekolah, dan tidak diperbolehkannya membawa pacar atau orang lain ke kelas selain ada kepentingan mendesak.
Carla mengisyaratkan El untuk keluar dari kelas. El mengekori Carla dari belakang, ia tak tahu apa-apa mengenai aturan atau larangan di kelas ini. Tapi, setahunya memang di kelas unggulan seperti kelas Carla memiliki banyak sekali larangan yang tidak boleh dilakukan oleh siswa-siswinya.
"Maaf bu," lirih Carla, ia menunduk--tak berani menatap manik wali kelasnya yang mungkin sudah terlihat garang sekarang.
"Kalian pacaran di kelas?" tanya Bu Andhin dengan nada sedikit tinggi
"Nggak bu,"
Oke. Sekarang ia harus menyiapkan gendang telinganya berdenyut lagi. Karena sebentar lagi ibu guru yang berubah profesi sebagai ustadzah ini akan menceramahinya panjang kali lebar.
"Kamu udah lupa aturan kelas?"
"Mau dihukum lari keliling lapangan 10 kali putaran? Atau mau sekalian saya adukan ke ruang bk,"
"Biar dikasih pencerahan biar sadar,"
"Kalian kekurangan tempat ya? Sampai-sampai pacaran aja di kelas!" desis Bu Andhin.
"Sekolah itu buat belajar, untuk menimba ilmu. Bukan buat ajang cari muka buat bisa pacaran,"
"Kamu itu pinter di IQ. Tapi kalau SQ kamu rendah buat apa?"
"Percuma sekolah. Mending pulang, bantu ibu di rumah. Bukan berduaan buat cari dosa,"
"Sekarang pulang. Kalau ibu lihat kalian masih di sini, besok saya akan buat surat panggilan orang tua kalian. Ngerti!"
Bu Andhin melenggang pergi, sekarang giliran Carla yang memarahi El. Ini semua tak akan terjadi kalau saja El tak menghampirinya di kelas.
"Lihat!"
El mengendikkan bahunya,
"Mana gue tahu," jawab El seadanya.
Carla kembali ke dalam-- mengambil tasnya dan langsung pergi begitu saja. Sedangkan El masih saja membuntuti dan terus membujuk Carla agar mau pulang bersamanya, entah kenapa ia bersikeras dengan keinginannya. Bahkan setelah sampai parkiran Carla masih ogah-ogahan menerima ajakan El. Ia masih marah dengan kejadian tadi pagi, dan sekarang malah ditambahi dengan omelan Bu Andhin yang mampu membuat kepalanya pusing-- saking panjang lebarnya ceramahan wali kelasnya itu.
"Bareng gue," kekeh El sembari mencekal pergelangan tangan Carla.
"Dijemput!"
Carla berhenti, sesuatu di saku roknya bergetar. Ia mengangkat panggilan dari benda persegi panjang itu dengan malas.
"...."
"Waalaikum salam," jawab Carla malas.
"...."
"Iya,"
"....."
"Waalaikum salam,"
Carla berdecak malas,
"Ok gue mau," ujar Carla terpaksa karena Dion katanya ada rapat, jadi tak bisa menjemputnya. Jadi, daripada buang-buang uang buat ongkos pulang, lebih baik ia menerima tawaran cowok menyebalkan di depannya itu.
"Nah, gitu dong," El mengacak pelan anak rambut Carla yang terurai.
"Lo suka banget sih sama rambut gue," desis Carla tak suka, ia kembali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Sunnah muakad," ujar El santai, ia suka menggoda Carla. Mungkin hal itu akan menjadi hobinya mulai sekarang.
Carla memukul pelan kepala El, memang menyebalkan sih tapi entah kenapa ia malah menyukai sikap El yang seperti ini,
"Cepetan,"
"Bentar dong sayang,"
Carla mendengus, ia buang muka--matanya berusaha mencari keberadaan motor besar El diantara kendaraan-kendaraan di sana. Setelah menemukannya, langsung saja kakinya melangkah,
"Di sini dulu, bentar aja,"
El menekan kepala Carla, memutarnya agar kembali berhadapan dengannya.
"Lo kenapa sih,"
"Aneh,"
El terkekeh pelan, sekarang hawa-hawa kejahilannya meningkat--ia mencubit pelan kedua pipi Carla, sedangkan Carla geram sendiri dengan tingkat El.
"Gemes deh," ujar El, ia masih mengulangi kegiatannya.
"Ih El,"
"Sakit tau," Carla memegangi pipinya yang pasti sekarang memerah akibat ulah El.
"Tau kok," ujar El seadanya.
"Kayaknya seru banget nih," ujar seseorang yang tiba-tiba saja datang di samping mereka, Revan.
"YA ALLAH KALIAN COCOK BANGET," teriak Eva yang juga baru datang.
"EVA!!" pekik El dan Carla bersamaan.
Eva langsung menutup mulut cemprengnya, ia sadar kalau sekarang mereka pasti sudah menjadi pusat perhatian di sini, lagi. Dan itu karenanya:vTatapan tajam pasangan es di depannya membuat Eva tertawa canggung sembari menggaruk kepala belakangnya.
"Lagi ngapain nih?" tanya Revan berusaha mengubah aura negatif di sekelilingnya.
"Napas," singkat Carla
"Berdiri," singkat El
Revan lebih memilih mengalah saja. Ia tahu pasti kalau kehadirannya dan Eva pasti mengganggu pasangan baru itu.Carla berdecak pelan melihat seorang siswi yang berjalan mendekati El dari belakang pria itu. Masih siswi yang sama-- yang membuatnya naik darah dari kemarin. El dan Eva masih belum menyadari kehadirannya, karena posisi mereka yang membelakangi gadis sok polos itu.
"Van,"
"Urusan kamu belum selesai ya?" tanya Yera lirih.
El menoleh, ia sedikit terkejut dengan kehadiran Yera yang tiba-tiba berada di belakangnya. Sekarang terbalik--tadi pagi ia melupakan Carla karena harus boncengan dengan Yera, tapi sekarang ia tak mungkin lebih memilih Carla dari pada Yera, sahabatnya.
Tapi ini sudah keputusannya, ia harus mementingkan Carla. Karena gadis itu lebih penting daripada Yera, mungkin,
"Maksud kamu?" tanya El bingung.
"Idih pake aku-kamu, orang sama pacarnya aja bilangnya lo-gue kok. Alay," sindir Eva tak suka.
El mendesah pelan, kelihatannya tak ada yang suka dengan Yera di sini. Bahkan Carla sendiripun memasang wajah sinis setelah Yera datang.
"Sayang," Revan mengelus-elus bahu Eva, berusaha menenangkan emosi Eva yang tak stabil.
"Oh, ini ya SAHABAT kecil lo," desis Eva lagi, ia bersedakep d**a, dan matanya menatap tajam Yera dari atas sampai ke bawah sambil berdecih saat melihat wajah Yera.
"Lo nggak ada niatan kenalin dia ke teman ama pacar lo El?" tanya Eva tampa ragu.
"Eva," ujar Revan sedikit malu dengan tingkah Eva.
Eva mengalihkan tatapannya, ia menatap sinis El yang terlihat santai. Kemudian menatap Carla, untuk meminta bantuan dari lidah tajam sahabatnya. Carla yang mengerti langsung mengangguk,
"Se-nggak penting itukah sahabat lo, sampai lo lupa ngenalin dia ke gue?" tanya Carla sinis.
El memejamkan matanya, ternyata dugaannya benar. Sekarang ia malah jadi kasian kepada Yera karena ucapan dingin dari teman dan pacarnya itu.
El menghela napas pelan,
"Ah…oh iya. Kenalin dia Yera,"
Yera melayangkan tangannya ke Carla-- meminta berjabatan tangan, namun Eva langsung menyambar tangan itu, dan dengan sengaja mengeratkan genggaman tangannya.
"Yera dia--" ujar El terpotong
"Kenalin nama gue Arleva Anastasya, biasanya dipanggil Eva, kalau lo mau panggil gue dengan nama yang lain juga terserah. Gue sekelas sama pacar sahabat lo itu, tepatnya di kelas anak-anak pinter jurusan Ipa, 11 Ipa1. Ada pertanyaan?" potong Eva cepat. Carla dan Revan hanya terkekeh samar menanggapinya.
Eva yakin 99% kalau gadis sok polos itu pasti sudah malu sekarang. Tapi ia tak peduli, karena memang tujuan awalnya adalah membuat Yera sadar dengan posisinya untuk mendekati El.
"Nggak, aku Yera 11 Ipa 4," balas Yera canggung.
El melemparkan tatapan mautnya pada Eva. Tak seharusnya pacar temannya itu membuat Yera menjadi seperti orang lain di sampingnya. Sekilas El dapat melihat senyum tipis dari bibir Carla.
"Dan, dia--" El menghela pelan karena ucapannya kembali di potong.
"And kenalin juga, dia namanya Assyada Carla Fazila, panggilannya Carla. Dia siswi terbaik di antara murid-murid terbaik di kelas gue, dan lo tau sendiri kan? Dia tuh udah nggak jomblo. Kalau lo nanya siapa pacarnya, pacar Carla adalah cowok tampan nan dingin yang jadi sahabat masa kecil lo,"
Eva tersenyum lebar. Sekarang profesinya harus berganti menjadi rapper terbaik sepanjang pengalaman hidupnya selama ini. Gadis itu nampak santai, sama sekali tak terlihat kalau dia capek setelah berbicara panjang lebar seperti tadi, gadis ajaib.
"Ada pertanyaan?" tanya Eva mengakhiri ucapannya.
"Ehmm," Revan berdehem singkat-- ia mengeratkan rangkulannya pada pacar terbaik sepanjang sejarah kisah percintaannya.
"Gue nggak perlu kenalin pacar gue tersayang ini ke lo kan?" tanya Eva lagi.
"Nggak kok. Aku udah kenal," tolak Yera.
Eva bergeming, lalu mengangguk semangat.
"Oke makasih,"
El melihat dahi Yera mengeluarkan keringat dingin. Pasti sekarang gadis itu sangat malu dan canggung dengan semua ucapan Eva tadi. Ia menatap Revan, mengisyaratkan agar Revan segera membawa gadis bar-bar itu pergi dari sini.
"Sayang," rengek Revan manja setelah memahami instrupsi El.
"Ck. Ok...karena pacar gue laper banget nih, jadi gue nggak bisa nemenin kalian lebih lama lagi. Bye teman-teman!"
Tanpa menunggu lebih lama, Revan segera menarik lengan Eva menajauh.
"Van," panggil El menghentikan langkah Revan, otomatis Eva yang terlihat bahagia itu juga berhenti karena tangan Revan masih setia menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Napa lagi?"
"Pinjem mobil,"
Revan mengernyit bingung,
"Gue nggak mungkin bawa mereka naik motor," jelas El-- tanpa sadar ia membuat gadis di sampingnya itu tambah badmood.
"Maksud lo?"
"El! Lo mau nganterin Carla sama tuh cewek," geram Eva.
"Dia punya nama,"
"Iya, maksudnya lo mau nganterin Yera,"
El tak bergeming, ia malas menjelaskan pada cewek bak toa masjid itu. Bukannya langsung selesai, mungkin malah ia tak akan jadi pulang hari ini.
"Ya kan El berangkat sama Yera sayang," ujar Revan membela El.
Revan merogoh saku seragamnya, lalu melemparkan kunci mobilnya pada El.
"Yaudah nih. Mana kunci lo?"
El melakukan hal sama--merogoh saku celananya, lalu melemparkan kunci motornya pada Revan.
"Carla, lo nggak papa kan?" tanya Eva khawatir dengan kondisi hati sahabatnya.
Kalau ia jadi Carla. Sudah pasti ia akan memusnahkan cewek kecentilan yang bisa saja merusak hubungannya dengan pacarnya. Tapi tidak dengan Carla, gadis itu lebih memilih menutupi semuanya sendirian daripada mengungkapkannya secara gamblang seperti Eva.
"B.aja," jawab Carla santai.
Revan segera menarik lagi lengan Eva sebelum gadis itu mengeluarkan seribu kata-katanya yang akan semakin memperkeruh suasana saat ini.
"Maaf ya ngerepotin," ujar Yera merasa tak enak hati.
Carla sedari tadi hanya menjadi penonton setia saja, tak ada keinginan untuk ikut nimbrung dalam percakapan orang-orang aneh ini. Ia masih stay dalam posisi awal-- berdiri malas dengan raut wajah datar.
"Ekhm.. yaudah yuk, mobil Revan di sana,"
El berjalan lebih dahulu diikuti dengan Yera yang tak punya malu mengekori El sedangkan pacarnya saja belum ada niatan melangkahkan kakinya. Carla berdecih, ia pun memutuskan melangkahkan kakinya. Ia berjalan santai ke arah El dan Yera yang menunggunya di depan mobil sport hitam milik Revan. El tak ingin banyak bicara, lebih baik sekarang ia diam dan segera masuk ke dalam mobil.
Yera naik ke kursi bagian depan. Carla tertawa samar, ia juga naik ke dalam mobil tapi bagian belakang. El menyalakan mobil itu dan melajukannya. Dengan gesit ia keluar dari parkiran khusus mobil dan dengan kecepatan sedang ia berkendara.
Terjadi keheningan selama beberapa menit, sampai Yera membuka suara.
"El, kamu masih ingat nggak waktu dulu kita ngucapin janji bakal jadi sahabat selamanya?"
"Waktu itu aku bodoh banget," samar Yera.
"Seharusnya aku nggak ngucapin itu, karena seharusnya kan hubungan pertemanan mungkin saja berubah kan?"
"Seharusnya juga kalau dulu aku bilang nggak. Mungkin kamu nggak bakal pernah pacaran sama cewek lain kan?"
Inikah rasanya disindir secara terang-terangan.
Carla menatap keluar jendela untuk menghilangkan gejolak di hatinya. Iya itu benar, pasti Yera tengah menyindirnya. Ia bukan tipikal cewek bodoh yang tidak paham dengan semua perkataan Yera.
"Karena kamu bakalan pacaran sama aku," sambung Yera sambil menunduk.
'Ckitt!!'
El langsung mengerem mobil itu, ia menahan untuk berbicara sedari tadi. Ia meminggirkan dulu mobil Revan dan langsung menatap ke belakang untuk melihat ekspresi Carla saat ini. Namun kenapa yang dilihatnya bukan seperti gadis itu tengah cemburu pada Yera, tapi masih ekspresi datar dan dingin yang ditunjukkan Carla?
"Yera, gue udah bilang kalau kita cuma temenan. Nggak lebih," tegas El
"Pliss jangan campuri urusan gu--"
"El. Aku sayang sama kamu," potong Yera.
'Deg'
Carla tertawa puas, ini yang ia tunggu-tunggu. Dengan secepat kilat ia keluar dari mobil dan langsung memberhentikan taksi yang kebetulan lewat, ia tak ingin melihat kelanjutan drama itu lagi. Hatinya terlalu sakit untuk mendengarkan balasan El.
●○●○