Suara deru motor terdengar, dengan sigap Carla menghentikan sarapannya dan bergegas lari ke luar rumah. Ia bersender di tiang rumah, sembari mendatarkan ekspresinya-- untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Gengsi lah, kan kemarin ia sudah marah-marah nggak jelas ke El, masa sekarang mau manja-manjaan di depannya:v
"Tumben," desis Carla sok acuh.
"Nggak biasanya,"
El membuka helm fullface-nya--masih duduk di atas sepeda motor. Ia mengacak rambutnya yang sedikit berantakan.
"Cowok emang serba salah," simpul El seadanya.
"Cepet!" gertak El.
Carla menaikkan sebelah alisnya,
"Mau ngapain?"
"Berangkat lah,"
Carla mengangkat tangannya, melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Jarum pendek masih belum sampai di angka enam. Artinya sekarang belum jam enam pagi. What the..?? Untuk apa cowok itu mengajaknya berangkat ke sekolah sepagi ini?
"Masih jam enam," tukas Carla.
El mencoba tersenyum paksa, tidak bisakah sekali saja cewek itu menuruti permintaannya? Untung itu hanya berbentuk sebuah harapan, jikalaupun itu sampai terjadi, pasti ia akan sangat bahagia.
"Gue mau ngajak lo ke suatu tempat,"
Carla berdecak dan tertawa mengejek,
"Sok misterius banget lo,"
"Udah, cepet!" tegas El sedikit membentak.
Carla-pun malas menjawab kalau suara cowok itu sudah meninggi. Ia menghentak-hentakkan kakinya malas, membalikkan badannya lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Kak berangkat," pamit Carla sembari mengambil tasnya di atas meja makan.
"Sekarang?" tanya Zia.
"Tahun depan,"
Zia menatap Dion yang duduk di sebelahnya.
"Sayang, nanti nggak usah jemput Carla ya. Soalnya kan dia mau PP sama pacar tuh," ujar Zia dengan nada manja.
Dion yang mendengarnya bergidik ngeri. Suara istrinya sangat mirip dengan pengisi suara hantu kuntilanak di film-film horror yang pernah ia tonton. Astagfirullah, apa yang baru saja ia pikirkan.
"Udah tau," jawab Dion apa adanya.
"Dasar suami biadab," desis Zia.
"Assalamu alaikum," ujar Carla cepat. Ia takut El menunggunya terlalu lama.
"Waalaikum salam," jawab Dion dan Zia bersama.
Carla mengamati El dari atas sampai bawah. Cowok itu nggak ada niatan membawanya bolos sekolah kan,
"Mau kemana sih?"
"Udah naik dulu,"
"Bolos?" tuduh Carla seenaknya.
"Nggak,"
"Terus ngapain?"
"Naik!" suruh El tegas.
Carla menghela napas lalu naik ke atas motor besar El. Ia masih terus mengucapkan sumpah serapahnya pada El sambil memakai helm yang El berikan untuk dia pakai.
"Pegangan," suruh El.
"Ogah,"
"Gue mau ngebut,"
"Modus,"
"Serah,"
Dan benar saja, El langsung mengebut setelah keluar dari pekarangan rumah Carla. Carla pun mau tak mau berpegangan erat pada El yang duduk di depannya.
●○●○
Di sinilah mereka, di taman bunga Rombusha putih kesukaannya. Walaupun hanya hal yang sederhana. Tapi El yakin ia bisa meluluhkan Carla dengan cara ini.Sekarang mereka duduk di kursi yang disediakan. Tempat ini tak ramai, karena sekarang juga masih tergolong sangat pagi. Dan lagipula di sini hanya tempat jual beli beberapa bunga saja yang salah satunya bunga kecil berwarna putih itu, bukan tempat wisata atau semacamnya.
"Yera nggak bareng lo lagi?" tanya Carla tiba-tiba. Menurut Carla ini hal penting yang perlu untuk ia tanyakan.
"Nggak usah bahas,"
Carla menoleh ke samping, El menatap datar ke depan.
"Cuma tanya," kilah Carla.
"Lo cemburu?"
"Nggak lah. Alay," tolak Carla cepat.
El menghela napas pelan, lalu menoleh ke samping. Carla terlihat cantik dari sini karena jarak mereka juga yang hanya beberapa senti saja.
El termenung. Ia melupakan tujuannya mengajak Carla ke sini. Ia mengusap pelan dahinya,
"Maaf,"
Carla terlihat jengah dengan kata maaf yang terus keluar dari mulutnya. Pliss, jangan mengucapkan maaf kalau lo nggak berasa buat salah, karena hal itu akan sia-sia kalau nggak tulus dari hati.
"Ngapain lagi?"
"Nggak usah dibahas," sinis Carla
El mengendikkan bahunya,
"Judes banget jadi cewek,"
"b-c-d,"
"Dasar cewek,"
"Cowok labil,"
"Serah cewek psiko,"
Carla tersenyum manis sambil berjalan mendekati kupu-kupu yang hinggap di salah satu bunga di sana. Tak ingin mengabaikan momen, ia langsung mengambil ponsel di saku roknya lalu memotretnya.
El berdiri, mendekati Carla. Ia mengambil paksa ponsel ditangan Carla.
"Bagus nggak?" tanya El melihat foto hasil jepretan Carla
"B.aja,"
El mencoba sabar, hanya untuk kali ini saja. Benar ia harus mencobanya.
"Ke sekolah yuk!" ajak Carla semangat,
"Hmm,"
●○●○
Di Kantin...
Di tengah keramaian itu, telihat dua orang siswi yang tengah membicarakan sasuatu sambil makan makanan yang sudah mereka pesan.
"Beneran si Eka putus hubungan sama El gara-gara Carla?" tanya siswi berambut gelombang.
"Bener, orang gue lihat sendiri kok waktu mereka berantem," jawab siswi satunya dengan raut wajah serius.
"Gue akui sih, kalau si Carla itu cantik. Tapi dingin banget orangnya."
"Ya mungkin aja cewek dingin banyak yang naksir,"
"Wkwkw,"
Siswi berambut gelombang itu meminum es tehnya. Tangannya menunjuk ke arah seorang siswi yang baru datang ke kantin.
"Lo tau Sandra gak?"
"Siapa?"
"Ya mantan Eka lah,"
"Ohh...napa?"
Siswi berambut gelombang itu mengibas-ngibaskan tangannya-- memberi kode agar temannya mendekat.
"Katanya sih mereka putus gara-gara Eka bilang kalau dia suka sama Carla," bisiknya.
"Anjing. Jujur banget jadi cowok,"
Tanpa mereka sadari, di depan meja hijau itu ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Dia Eva.
"Lo berdua ngomongin temen gue?" tanya Eva tak suka
Mereka tampak terkejut dengan kehadiran Eva, siswi bergelombang itu nampak kikuk-- menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
"Eh Eva,"
"Reina, Seva. Kalian ngomongin apa?" tanya Eva to the point.
"Nggak ada kok Va," ujar Seva agak canggung.
"Nggak usah bohong,"
"Beneran Va, kita nggak bohong. Ya kan Rei?"
"Bilang aja kalau lo iri sama Carla kan? Sampai-sampai ngomongin dia dari belakang. Dasar ibu-ibu rumah tangga," cibir Eva
'Brak!'
Reina berdiri dari tempatnya. Ia menggebrak kasar meja makan kantin itu sampai-sampai piring yang ada di sana bergetar. Hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian dari siswa-siswi yang juga berada di sana.
"Heh. Maksud lo apaan?" teriak Reina kesal.
Eva terperanjat kaget, ia tak tahu kalau ucapannya akan jadi seperti ini. Ia mengalihkan pandangannya, agar tak terlalu takut.
"Maksud gue udah jelas," lirih Eva
Seva ikutan berdiri, bukan berniat memisahkan keduanya. Ia malah ingin semakin membuat suasana mengeruh karena memang ini semua juga kesalahan Eva sendiri.
"Gue nggak ngomongin lo. Jadi diem aja kenapa sih!" ujar Seva, ia mengangkat satu sudut bibirnya untuk mengejek gadis malang di depannya.
"Mulut-mulut gue. Ya terserah gue lah," imbuh Reina.
Eva mengepalkan tangannya, menahan isakannya. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya ia bertengkar dengan seseorang selama hidupnya. Andai waktu bisa diulang, ia tak akan melakukan ini semua.Namun ia bisa apa, nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik ia berusaha memenangkan perdebatan ini, daripada mengalah yang akan membuat orang berpikir kalau dirinyalah yang membuat masalah duluan.
"Woyy. Yang lo omongin itu sahabat gue, dengar dia SAHABAT GUE!" teriak Eva setelah terdiam cukup lama. Ck, bilangnya ingin mengalah, dasar bodoh!
Reina mendesis. Entah kenapa tiba-tiba gadis itu bertepuk tangan tepat di depan wajah Eva, dan seketika raut wajahnya berubah datar dan dingin.
"Jadi selingkuhan sombong banget ya," ejek Reina seperti tak berdasar
"Apa maksud lo?" tanya Eva tak terima
Seva memegang bahu Reina, menyuruhnya untuk diam. Karena sekarang gilirannya bicara untuk membuat cewek menyebalkan itu kicep.
"Maksud Reina tuh udah jelas. Lo itu pelakor!"
Seva menghela napas. Ia tak peduli menjadi pusat perhatian, karena juga bukan hal aneh lagi. Orang dirinya sudah biasa kok, julukannya aja SI BIANG ONAR.
"Nggak usah sok bodoh deh. Gue tahu kok kalau lo itu jadi orang ketiga di hubungan Sesil sama Revan kan?"
"What! Lo ngomong apa sih Sev," ujar Reina sok terkejut.
Melihat Eva yang terdiam, Reina semakin gencar ingin membuka semuanya di depan siswa-siswi SMA GANTARI.
"Eh..jangan-jangan lo nggak tahu ya?"
"Idih...kasihan banget,"
"Makanya, jadi cewek tuh jangan murahan, dijadi-in selingkuhan deh," ujar Seva mengakhiri kalimatnya.
"Pergi yuk. Udah kenyang gue," ajak Reina dengan senyuman sinis-- mereka pergi meninggalkan Eva.
Berbagai ucapan jahat terdengar sampai telinga Eva dari semua penduduk kantin. Ia sangat malu. Akhirnya buliran bening itu keluar dari pelupuk matanya yang sudah memerah.
●○○●
Dari penjuru kantin, terlihat Carla yang nampak mengernyit sembari membawa nampan di atas kedua tangannya.
"Eva kelihatan polos. Eh, ternyata pelakor," ujar salah seorang siswi yang juga berada di kerumunan itu.
Tanpa berpikir panjang Carla langsung meletakkan nampannya asal di meja yang di tempati cowok. Ia berlari pelan menuju kerumunan yang mulai sepi.Benar dugaannya, sudah ada Eva di sana. Dengan air mata yang terus mengalir dari mata bulatnya.
"Eva," panggil Carla. Ia mendekap bahu Eva yang bergetar hebat.
"Lo ngapain?"
"Carla!" lirih Eva
"Lo kenapa nangis?"
Eva masih menangis, ia mengusap pelan pipinya yang basah. Kepalanya mendongak menatap Carla yang lebih tinggi darinya.
"Mereka bo--bohong kan?"
Carla mengernyit. Sepertinya suasananya masih belum bagus untuk mendengarkan penjelasan Eva.
"Pergi dulu Va," Carla menitah tubuh Eva untuk pergi dari kawasan kantin. Ia membawa sahabatnya ke taman belakang sekolah--tempat favoritnya di sekolahan ini.
●○●○
Di belakang sekolahan....
Carla duduk sambil menyerderkan tubuhnya di pohon besar itu. Sedangkan Eva juga duduk tapi membelakanginya.
"Car?"
Carla hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan.
Eva berdiri, ia berjalan memutar-- mendudukkan dirinya di depan Carla. Ia mengerucutkan bibirnya, sikap dingin Carla benar-benar tak tahu waktu. Masa sejak mereka berada di sini, Carla sama sekali tak membuka suara untuk menenangkannya,
"Lo nggak tanya kenapa gue nangis?" tanya Eva kesal.
"Udah"
"Kapan?"
"Tadi, di kantin," jawab Carla apa adanya.
Eva menggertakkan giginya, jawaban Carla sangat singkat tapi langsung membuat hati dan pikirannya menyumpah-serapahinya.
Eva menggoyang-goyangkan lengan Carla. Ia butuh perhatian sekarang ini.
"Gue maunya sekarang!"
"Gue masih normal Va," ujar Carla asal
"Maksud lo!!"
"Gue tuh minta lo tanya-in gue. Bukan buat anu-in gue," kesal Eva tiada batas.
Carla berdecak singkat. Dan kembali diam menatap awan putih yang masih setia berada di atas sana.
"Pliss Car," rengek Eva lagi.
"Kenapa?" tanya Carla
"Apanya,"
"Tadi lo nyuruh gue tanya," ujar Carla seadanya.
Eva hanya mengangguk. Seenggaknya ia ada kesempatan menjawab pertanyaan Carla, walaupun ia sendiri tak tahu pertanyaan itu menyanyakan apa.
"Tadi si Seva sama Reina bilang kalau gue dijadi-in pelampiasan Revan. Gue orang ketiga katanya,"
Eva menunduk dalam,
"Revan nggak mungkin gitu kan Car?"
"Gtw," singkat Carla
"Car. Kasih nasihat dong, bukannya bikin gue tambah badmood,"
"Gue males ngurusin hidup orang," ujar Carla jujur.
Eva merasa tersinggung dengan ucapan Carla barusan. Ini sama dengan yang diucapkan Seva tadi saat mereka bertengkar.
"Gue terlalu masuk ke kehidupan lo ya?"
"Nggak tau," balas Carla acuh.
"Serah lah,"
"Hmm,"
●○○●
"Lo duluan aja Car. Gue mau piket,"
Carla mengangguk paham, ia menenteng tasnya di kedua bahunya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kelas-- meninggalkan Eva dan beberapa teman sekelasnya yang piket hari ini.
Mendadak langkah Carla terhenti, baru beberapa langkah ia berjalan meninggalkan kelas. Namun, entah dari mana asalnya gadis di depannya ini yang malah menghadangnya untuk lewat. Alhasih ia hanya diam di tempat
Ia belum membuka suara. Matanya menelisik cewek di depannya, seperti tak asing dengan wajah itu tapi ia juga tak tahu siapa dia.
"Dasar pelakor!"
"Cewek murahan!"
Carla masih diam, membiarkan cewek itu melanjutkan kalimatnya-- ia berusaha keras menahan amarah yang kapanpun siap meledak.
"Bener kan ucapan gue?"
Dia Sandra. Cewek yang dikabarkan tengah dekat dengan Eka, tapi karena suatu hal akhirnya mereka berpisah.
"Dasar cewek murahan. Kemarin deket sama Eka, padahal jelas-jelas tahu kalau Eka udah punya pacar. Gue!" teriak Sandra, telunjuknya menunjuk dirinya sendiri.
"Terus hubungan gue sama Eka merenggang, lo enak-enakan sama cowok lain yang udah jelas-jelas sahabatnya sendiri,"
"Selain pelakor, ternyata lo itu lacur juga ya?"
"Dasar b***h,"
Jangan tanyakan kenapa tak ada yang membela Carla. Koridor kelas sudah sepi, larena hari ini memang dijadwalkan pulang awal karena para guru harus rapat. Jadi, semua siswa dan siswi sudah pasti pulang atau melaksanakan kegiatan yang sudah mereka rencanakan dari kemarin.Carla menahan gejolak di hatinya. Sekarang ia sudah paham maksud cewek di depannya ini. Tapi ia masih tak mengerti apa tujuan gadis itu melabraknya seperti ini.
"Tujuan lo apa?" tanya Carla.
Sandra menarik kasar rambut panjang Carla. Ia tak menyadari kalau cewek yang ia hadapi sekarang bukan orang yang mudah mengakui kesalahan. Carla berusaha melepaskan genggaman tangan Sandra dari rambutnya. Ia merintih merasakan eratnya jambakan Sandra.
"Masih nggak ngerti juga!!"
"Lo itu sadar diri dikit kenapa sih?!"
"Bangga banget ya banyak yang suka? Banyak yang naksir, banyak yang deketin. BANGGA!"
Sandra melepaskan kasar cekalannya. Ia tak memperdulikan Carla yang masih memakai plester di tangan-- karena kejadian tempo hari, malah sekarang ia menambahkan sakit di sekujur tubuh gadis itu.Ia jongkok di depan Carla yang tersungkur. Tangan kanannya menarik dagu Carla,
"Apa jangan-jangan, lo dingin kayak gini biar cowok-cowok yang deketin?" ujar Sandra sinis.
"Ohh... sekarang gue paham gimana niat bulus lo,"
Ini semua sudah kelewatan batas, Carla mengehempaskan lengan Sandra dari dagunya.
"Diem!" pekik Carla tak terima.
"Kenapa, gue salah?"
Carla berusaha berdiri dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi luka. Ia merogoh saku roknya karena sesuatu bergetar dari sana. Nama 'Kak Dion' muncul, hal itu membuat Sandra merampas ponsel itu dari sang pemilik.
"Oh my, siapa tuh. Target baru lo? Apa tuan buat lo layanin," ejek Sandra tanpa batas.
"Gue angkat aja kali ya?"
Sandra menggeser tombol hijau itu-- mata dan bibirnya seakan mengejek Carla yang tersungkur lagi karena dorongannya.
"Car, aku nggak bisa jemput," ucap Dion dari seberang.
"Oh, maaf ya Kak..eh, Om maksud saya. Carla lagi ada urusan sama saya, kalau minta pelayanan nanti malam kan bisa," ujar Sandra seenaknya.
Carla membelak, ia langsung mendorong Sandra. Tapi sepertinya Sandra tak menyerah, ia membalas mendorongnya lagi.
"Ini siapa?"
"Saya pacar dari orang yang kekasih anda dekati,"
Secepat kilat Carla meraih ponselnya dan membantingnya keras ke lantai. Pikirannya kalang kabut, yang ia pikirkan hanya agar Dion tak mendengarkan semua karangan Sandra tentangnya.
Carla berdecih, "sekarang gue tahu kenapa Eka putusin cewek kayak lo!" ujar Carla lantang.
"Apa hah?"
"Cewek murahan kayak lo mau ngomong apa?!"
Sandra mendorong kasar Carla ke tembok di belakangnya. Membiarkan gadis itu merintih kesakitan karena perbuatannya.
"Kenapa? Sakit?"
"Ini nggak seberapa sama sakit hati yang gue rasa-in berminggu-minggu gara-gara LO!"
Sandra memicingkan matanya,
"Lo tahu kenapa gue kayak gini?"
Sandra tertawa samar,
"Ya tau lah, kan tadi gue udah bilang."
"Kalau lo cewek murahan!"
Carla sudah kehabisan kesabarannya.
"STOP!"
'Plakk!!'
Untuk yang kedua kalinya Sandra menampar Carla. Carla merintih kesakitan, ujung bibirnya mengeluarkan darah. Tubuhnya mulai melemas-- hampir saja tubuhnya ambruk kalau saja ia tak bertumpu pada almari piala di sana.
"NGGAK USAH TERIAK BODOH!"
"Apa mau lo?" lirih Carla.
"Jauhin El sama Eka!"
Sandra nampak berpikir, ia berjalan mendekati Carla yang sudah menunduk-- karena rasa sakit yang ia terima.
"Nggak deh, tapi jauhin semua orang yang deket sama gue," ujar Sandra lagi
"Bisa?"
"Kenapa diem?"
"Nggak bisa? Atau nggak bakal bisa?"
Sandra menarik kerah baju Carla kasar, dan langsung menghempaskannya lagi dan lagi.
"CARLA!" pekik Eva dari belakang Carla-- membuat Sandra menoleh ke arahnya.
Eva berlari mendekati Carla, ia berusaha membantu temannya berdiri. Ia menatap miris wajah Carla yang penuh luka, dan jangan lupa rambutnya yang acak-acakan, juga bajunya yang kotor akibat perlakuan Sandra.
"Car, lo nggak papa kan?"
Carla mengangguk lemah, ia bersyukur ada seseorang yang menghentikan aksi gila cewek psikopat itu.
Eva berjalan mendekati Sandra,
"Sandra! Lo apa-apaan sih!"
Sandra tertawa miris, ia menatap Eva sinis,
"Lo bodoh banget sih Va," ejek Sandra seenaknya
"Hati-hati, nanti Revan di gebet lagi sama orang yang lo anggap sahabat ini,"
"STOP SANDRA!" pekik Eva tak terima dengan serangan bertubi-tubi Sandra yang ditunjukkan pada Carla.
Carla mencekal tangan Sandra yang hampir melayang ke pipi Eva. Ia tak bisa mentoleri ini lagi.
"Lo nggak bisa diem?" tanya Carla.
"Kenapa? Mulut lo nggak ada lemnya?"
Diam bukan berarti lemah. Karena orang yang hanya diam saat direndahkan itu adalah orang tersabar di antara orang-orang tersabar.
"Perlu gue cari-in," tantang Carla.
'Plakk!'
"Dasar cewek murahan. Diem lo!!"
Eva hanya bisa menyaksikan sahabatnya yang kena tampar tepat di hadapannya.
"SANDRA!" pekik cowok di sana dan langsung berlari menghampiri Sandra.
'Plakk!'
Dia Eka.
Eka menampar Sandra keras, tanpa belas kasihan pada cewek yang sudah menjadi mantannya itu.
"Nggak usah libatin Carla dalam urusan kita,"
Sandra menangis keras. Ia menarik lengan Eka,
"Kenapa lo bela dia Ka?"
"Gue kurang apa?"
"Kurang cantik?"
"Kurang apa, pliss lo bilang sama gue!"
Eka dengan sengaja mendorong Sandra. Ia tak menduga kalau Sandra bisa melakukan ini pada orang lain, sungguh ia tak mengira.Bahkan selama mereka pendekatan sampai pacaran, gadis itu belum pernah kasar walaupun sampai mereka bertengkar sekalipun. Dan sampai pada akhirnya Sandra berubah. Bodohnya, dia memutuskan hubungannya dengan alasan ia punya perasaan pada pacar sahabatnya sendiri, pada Carla.
"Lo tuh psikopat San,"
"Possesif,"
"Seenaknya sendiri,"
"Gue pikir lo bakal instropeksi diri," tuding Eka bertubi-tubi membuat Sandra menangis keras.
Carla berusaha berdiri, ia langsung menarik lengan Eva dan mengajaknya pergi dari sana.
"Lo nggak papa kan Car?"
Carla tak menjawab, ia berusaha mati-matian menahan air matanya turun dari pelupuk matanya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya,
●○○●