1 pekan kemudian....
Carla menyisir rambut panjangnya yang sudah seminggu ini tak terurus. Selama ini ia terlalu disibukkan. dengan kegiatannya di rumah sakit--menyembuhkan lukanya yang belum sembuh karena tawuran beberapa hari lalu.
Hari ini ia akan kembali bersekolah, setelah kemarin dokternya menyatakan kalau ia boleh keluar dari rumah sakit karena ia sudah cukup sembuh untuk kembali-- luka di beberapa bagian tubuh, dan rohaninya yang hampir terguncang sekarang sudah lumayan sembuh. Itu karena selalu ada orang-orang terdekat yang mengunjunginya, membuat Carla sedikit melupakan kejadian yang menimpanya. Bahkan hampir satu sekolahan menjenguk Carla di rumah sakit. Mulai dari guru-guru yang mengajar kelas dan bimbelnya, juga teman-teman sekelas maupun berbeda kelas. Apalagi Eva, Revan, dan El lah yang paling sering menemuinya di saat ia sekarat waktu itu.
Carla menghela napas pelan, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya. Masih ada beberapa bekas luka di sekitar wajahnya yang tertutup kasa. Setelah dirasa sudah siap, ia mengambil tasnya. Lalu keluar kamar dan menemui kakaknya yang terlihat tengah menyiapkan makanan di meja makan.
"Kak Carla udah sembuh?" tanya Rendra khas suara anak kecil.
Carla mengangguk pelan, melangkahkan kakinya ke meja makan. Ia duduk di samping Rendra yang mengangkat tangannya agar Carla membawa bocah kecil itu ke pangkuannya.
"Kak," Rendra masih mengangkat tangannya
"Iya, iya." Dengan perlahan Carla mengangkat Rendra.
"Car, udah sembuh beneran kan?" tanya Zia yang sekarang tengah menarik kursi di seberang meja lalu mendudukkinya.
"Udah kak,"
"MAS, CEPETAN TURUN!!" teriak Zia memanggil Dion yang masih berada di atas.
●○●○
Mata Carla mengerjap beberapa kali--memastikan apa yang sekarang ia lihat adalah bukan khayalan sematanya. Matanya seperti melihat El yang menggandeng seorang siswi di jok bagian belakang, saat motor itu tak sengaja menyalip mobil Dion. Namun sesegera mungkin ia menghilangkan pemikiran jelek itu dari otak kecilnya. Mungkin itu bukan El, jikalaupun El, pasti itu tak mungkin El. Pasti.
Beberapa saat kemudian akhirnya mobil putih Dion berhenti di depan sekolah menengah atas yang ditempati sang adik ipar.
"Assalamu alaikum kak," pamit Carla seraya tangannya memegang knop pintu mobil.
"Waalaikum salam. Hati-hati dek,"
"Iya,"
Carla turun dari mobil, berjalan memasuki area sekolahan yang sudah beberapa hari ini tak ia datangi. Mungkin kangen. Ia melangkahkan kakinya, melewati koridor kelas yang mulai ramai.
Kehadirannya disambut hangat teman-teman sekelasnya yang terlihat bahagia sekaligus terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Lo udah sembuh Car," tanya seorang siswi penasaran.
Carla mengangguk ringan sebagai jawaban. Ia berjalan menuju bangkunya, lalu duduk di sana.
Carla memejamkan matanya erat. Tiba-tiba saja mood bersekolahnya hilang. Entah kemana, mungkin sedang berjalan-jalan meninggalkannya sendirian.
"CARLA!!"
Carla kembali membuka kelopak matanya malas. Menatap datar makhluk menyebalkan di depannya.
"Lo beneran udah sembuh?"
Eva duduk di sampingnya dengan wajah berbinar minta ditampar.
"Hmm,"
Carla menelungkupkan kepalanya di atas meja, kepalanya sedikit pusing dengan kehadiran Eva yang selalu membuat gendang telinganya harus bekerja dua kali lebih banyak dari biasanya.
"Car,"
Masih dengan posisi yang sama--Carla tak menanggapi panggilan Eva.
"Ada El,"
Entah mendapat dorongan dari apa, seketika Carla langsung mengangkat kepalanya, dan benar saja di sana sudah ada El berdiri di depan mejanya. Tidak, El tidak sendiri.
Ada seorang siswi di sampingnya.
Tatapan menyelidik yang Carla berikan membuat El linglung sendiri. Carla bukan menatapnya, tapi gadis di sampingnya.
"Lo udah sembuh?" tanya El mengalihkan perhatian Carla.
"Menurut lo?"
"Menurut gue belum,"
"Lo doa-in gue sekarat!!"
"Kan lo yang bilang,"
"Serah,"
Carla menyenderkan tubuhnya di kursi, ada sesuatu yang membuat ia tidak suka. Tapi entah apa itu,
"Lo marah?" tanya El ragu.
"Nggak,"
"Bohong,"
"Lo tanya apa ngasih gue soal,"
"Ya tanya lah,"
El menduduki kursi di depan meja Carla.
"Btw, nanti istirahat gue mau ketemuan bentar sama lo. Di rooftoop ya," pinta El.
"Kaki gue masih sakit,"
"Gue gendong apa jalan sendiri,"
"Ngancem?" Carla menunjukkan raut muka ketidaksukaannya secara terang-terangan
"Lo udah tau kan pilihan lo!"
El berdiri, melenggang begitu saja dengan siswi tadi yang masih mengekorinya. Hal itu membuat mood Carla semakin hilang. Ia benar-benar ingin pulang sekarang juga.
"Va," panggil Carl.
"Apa Carla?"
"Cewek tadi siapa?"
"Yang sama El?"
"Ya,"
"Oh.. Pindahan dari Surabaya. Denger-denger sih temen kecil El,"
"Temen?"
"Heeh,"
"Mereka deket?"
"Ya begitulah,"
"Begitulah?"
"Selama ini sih mereka deket kalau di sekolah doang. Soalnya kan kalau pulang, dia langsung ke rumah sakit, nemenin lo," ujar Eva menjelaskan
"Gue rasa sih tuh cewek suka sama El. Bahkan banyak tuh ya, yang ngira kalau mereka pacaran." jelas Eva.
"Kesel banget gue," kesal Eva.
"Kok lo nggak pernah cerita sih," geram Carla saat mendengarkan penjelasan Eva yang tiba-tiba membuatnya naik pitam.
"Eh ciehhh...dedek Carla cemburu nih ye,"
"Serah lo ah,"
"Aku akan percaya bila itu yang dikatakannya. Karena cinta berlandaskan kepercayaan, bukan kecurigaan" ujar Eva menyindir Carla.
"Bodo,"
●○●○
Sesuai permintaan El tadi. Sekarang Carla berjalan menuju ke atas rooftoop sekokahan. Ia menaiki beberapa anak tangga itu dengan santainya. Di sana, terlihat seorang siswa berdiri membelakanginya. Entah apa yang cowok itu lihat, tapi menurutnya pemandangan di sana biasa aja--sama sekali nggak ada menarik-menariknya.
"Mau ngapain?" tanya Carla to the point--ia tak suka terlalu bertele-tele.
El membalikkan badannya 180 derajat agar bisa berhadapan dengan Carla. El menarik kedua tangan Carla, dan menggenggamnya erat.
"Carla,"
"Lo masih inget. Saat dimana gue.."
"Minta lo jadi pacar gue?"
"Saat gue bilang, kita pacaran tanpa didasarkan cinta,"
"Masih inget kah lo?"
Carla sedikit terkejut. Ini mungkin moment jarang ia dapat melihat secara live seorang Ice Prince berbicara sepanjang itu dalam satu saat. Carla hanya meresponnya dengan anggukan kepala,
"Ternyata gue salah," sesal El.
"Gue salah!"
"Carla,"
"Hmm," gumam Carla
"Gue mau jujur sama lo. Yang sejujur-jujurnya, kalau..." El terlihat serius, "gue udah beneran cinta sama lo!"
Deg!
Kata sakral yang terucap dari bibir El seketika membuat Carla kaku di tempat. Tubuhnya melemas, ia tak pandai mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata.
El menangkup pipi Carla yang merona dibuatnya. El tersenyum hangat, satu tangannya membelai surai hitam Carla yang terurai bebas di udara. Ia sudah menyiapkan mental yang besar untuk mengungkapkan isi hatinya hari ini.
"Gue juga. Sayang sama lo!"
Dua kalimat lolos begitu saja dari mulut Carla. Keempat mata itu masih saling pandang, membuat jantung mereka terus berdegup kencang.
El mendekatkan kepalanya,
Carla tak tahu harus bagaimana. Ia langsung mendorong El--ia tak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di sini.
"Lo gila!" pekik Carla.
El tertawa keras,
"Lo pikir gue mau cium lo?"
"Beneran Car?"
El masih tertawa, selucu itukah ia membuat anak orang turun harga dirinya?
Carla mendengus. Ia melupakan kalau pria ini masih manusia menyebalkan yang ia temui tadi pagi. Mungkin saja El melakukan ini hanya untuk mengerjainya, tapi janganlah.
Carla sudah terlalu baper sekarang!
El mencekat tangan Carla, membawa gadis itu kedalam pelukannya.
"I love you Assyada Carla Fazilla," gumam El di depan telinga Carla.
"Too," balas Carla seraya membalas pelukan El yang menurutnya sangat nyaman.
Tak ada pembicaraan antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan mereka juga masih belum melepaskan pelukan mereka.
●○●○
"Carla," El membelai Carla yang duduk di sampingnya.
Mereka masih di rooftoop. Bahkan mereka membolos kelas sekarang ini. Karena percuma saja, di kelas pun nggak akan ada yang mereka lakukan. Kerena para guru BK sekarang pasti sedang melakukan sidak di kelas, hal itu mengharuskan para guru mapel untuk tak mengajar selama beberapa jam pelajaran.
"Gue mau ngomong. Tapi..." El menyenderkan kepalanya di bahu Carla, " Lo jangan marah,"
"Gue mohon, jangan sampai ada yang tahu kalau kita beneran pacaran,"
Carla terdiam, ia tak ingin menyela--membiarkan El melanjutkan kalimatnya.
"Gue masih malu buat ngakuin lo pacar gue,"
"Hah?" Carla mengernyit bingung. Sungguh ucapan El membuat hatinya sedikit tergores.
"Maksud gue. Gue malu kalau sampai ada yang bilang kalau gue itu bukan cowok yang cocok buat cewek secantik lo,"
"Secara kan? Cewek gue ini kan termasuk primadona sekolah. Udah cantik, pinter, baik. Tapi sayangnya judes banget," ujar El terkekeh pelan.
"Baru kali ini gue dengar seorang Elvano Gama S titik ngomong panjang banget," sindir halus Carla.
"S titik?"
"Gak tau lanjutannya gue. Di name tag lo cuma gitu," sahut Carla santai
"Lo nggak hafal nama gue?"
"Hmm,"
"Dasar!"
"Aku nggak perlu tahu nama kamu untuk memberikan sepenuhnya cintaku untukmu. Yang perlu kamu tahu hanya satu, kalau aku benar-benar mencintaimu,"
●○●○
Elvano: Sorry gue nggak bisa pulang bareng lo,
To Elvano: Gue dijemput.
Elvano: Ok!
Carla memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menunggu jemputan sang kakak ipar di depan gerbang sekolah. Tak hampir lima menit ia menunggu, mobil berwarna putih itu sudah berhenti di depannya. Carla masuk ke dalam mobil, lalu Dion melajukan mobilnya. Carla menyerderkan tubuhnya di pintu mobil yang tertutup sembari melihat pemandangan yang ada di luar. Ia mengingat kembali betapa romantisnya El kepadanya. Ia paling mengingat saat El mengaku mencintainya, itu moment paling romastis dalam kisah percintaannya.
Dion mengernyit saat menyadari ada yang janggal dengan gerak-gerik Carla. Karena tak seperti biasanya Carla akan melengkungkan bibirnya setelah pulang sekolah seperti ini. Ia yakin seratus persen kalau adik iparnya itu tengah memikirkan atau bahkan tengah melamunkan sesuatu.
"Dek,"
Carla menoleh,
"Makan dulu aja gimana?" tanya Dion.
"Soalnya Zia sama Rendra sekarang lagi di rumah umi," jelas Dion.
Carla tampak mengernyit--memikirkan sesuatu.
"Iya kak,"
Baru saja Carla menjawab tawaran Dion, mobil itu sudah berbelok--masuk ke halaman restoran dan memberhentikannya di parkiran yang tersedia. Carla keluar dari mobil, ia mengembungkan mulutnya, membuat ekspresi yang sama sekali tak pernah ia tunjukkan di muka umum. Si ice princess sudah berubah total sekarang. Dion membiarkan Carla pergi mencari meja dahulu, karena sang istri tercinta menelfonnya.
Carla memilih meja nomor 4 yang berada di sisi kanan pintu masuk. Matanya bertemu dengan sosok wanita yang sangat familiar di indra pengelihatannya. Sedangkan wanita itu tampak mengalihkan pandangannya--seakan Carla akan memakannya hidup-hidup setelah ini. Sejujurnya Carla tak mengerti dengan tingkah gadis itu, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.
"Dek pesen dulu gih," ujar Dion yang tiba-tiba duduk di depannya.
"Kakak mau apa?"
"Sama-in,"
"Hmm,"
Carla berdiri, berjalan cepat menuju kasir untuk memesan makanan.
"Mbak pesen ramen dua, level 15 sama 10. Minumnya orange juice-nya 2.
"Meja nomor berapa mbak?"
"Empat,"
"Sebentar ya mbak,"
Sesuatu menarik perhatinnya. Mata tajamnya mengikuti langkah kaki pria itu. Benar saja, ia El yang sekarang duduk di depan cewek yang tadi melakukan eye contact dengannya.
"Ini mbak,"
Carla membawa makanannya dengan malas.
"Kak Dion, setelah ini langsung pulang ya?"
"Ya iyalah. Emang mau kemana lagi?"
"Nggak kak,"
Carla dengan cepat menghabiskan mie nya. Tak memperdulikan betapa pedasnya mie itu, sekarang yang ia pikirkan bagaimana ia harus cepat-cepat keluar dari tempat yang tiba-tiba menjadi menyebalkan menurutnya.
"Kalem Car,"
"Laper,"
Tanpa disadarinya, sedari tadi seseorang yang membuat moodnya jelek itu sedang memperhatikannya dari balik punggungnya.
●○●○