Markas Direktorat Operasi Khusus tidak punya papan nama. Dari luar, ia tampak seperti gudang logistik tua di pinggiran kota, dikelilingi pagar berkarat dan rumput liar. Tapi di bawah tanahnya, tiga lantai penuh layar, server, dan ruang interogasi yang kedap suara.
Kaila duduk di kursi besi di hadapan Komandan Bramantyo. Ia tidak menceritakan soal pesan misterius itu. Belum. Insting lain—insting yang lebih tua dari pelatihannya—berbisik bahwa membicarakannya sekarang akan membuatnya tampak rapuh. Dan agen yang rapuh adalah agen yang ditarik dari lapangan.
"Kita punya masalah," Bramantyo membuka folder tebal. Pria itu berusia lima puluhan, dengan rambut kelabu dan tatapan yang seolah selalu menghitung sesuatu. "Orchid."
Nama itu membuat punggung Kaila menegang. Orchid bukan nama orang. Orchid adalah organisasi—jaringan bayangan yang menjual senjata, informasi, dan kematian kepada penawar tertinggi. Selama tiga tahun, direktorat memburu mereka tanpa pernah menyentuh inti.
"Kami akhirnya menemukan celah," lanjut Bramantyo. Ia mendorong sebuah foto ke arah Kaila. Foto seorang perempuan muda, cantik, dengan rambut diikat rapi. "Namanya Renata Suryani. Anggota baru Orchid, baru direkrut, belum pernah bertemu langsung dengan petinggi mereka. Dua hari lalu, kami menahannya di perbatasan."
Kaila menatap foto itu. Perempuan dalam foto itu memiliki tulang pipi yang serupa dengannya. Bentuk rahang yang mirip. Ia mulai mengerti, dan rasa dingin menjalar di tengkuknya.
"Kau ingin aku menjadi dia," kata Kaila datar.
"Renata dijadwalkan tiba di kediaman Orchid lusa untuk inisiasi. Mereka belum punya foto resmi dirinya—Orchid paranoid soal jejak digital. Hanya deskripsi. Kau cocok dengan deskripsi itu." Bramantyo menyandarkan punggung. "Kau masuk sebagai Renata. Kau pelajari struktur mereka dari dalam. Kau temukan siapa pemimpinnya—yang kami sebut Sang Tukang Kebun. Lalu kau keluar."
"Berapa lama?"
"Dua minggu. Mungkin tiga."
Kaila menahan napas. Misi penyamaran panjang adalah jenis misi paling berbahaya. Bukan karena risiko tertembak—itu risiko biasa. Tapi karena risiko yang lebih halus: lupa siapa dirimu.
Sudah ada Kaila. Sudah ada Sari. Sekarang akan ada Renata.
Tiga nama. Satu tubuh. Satu jiwa yang semakin tipis.
"Renata yang asli?" tanya Kaila.
Bramantyo tidak menjawab langsung. Itu sudah cukup menjadi jawaban.
"Dia di tempat aman," kata komandan akhirnya, terlalu cepat. "Kau tidak perlu memikirkan dia. Kau hanya perlu menjadi dia—sempurna. Karena di dalam sana, satu kesalahan berarti kau tidak akan keluar hidup-hidup."
Kaila mengangguk pelan. Tapi pikirannya melayang ke pesan di ponsel Sari semalam.
Plat B 4471 KX. Sampai jumpa, Agen.
Apakah Orchid sudah tahu? Apakah ini jebakan yang dibangun untuk menyeretnya masuk?
Ia hampir membuka mulut untuk bercerita. Tapi saat itu, ia menatap mata Bramantyo dan melihat sesuatu yang membuatnya menelan kata-katanya kembali. Sesuatu yang tidak ia kenali. Keraguan? Rahasia? Atau hanya kelelahan seorang pria tua?
Lima tahun bekerja bersama, dan tiba-tiba Kaila menyadari ia tidak benar-benar mengenal komandannya sendiri.
"Aku terima misinya," katanya.
"Aku tahu kau akan terima." Bramantyo tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Mulai besok, kau adalah Renata Suryani. Lupakan Kaila. Lupakan Sari. Untuk sementara."
Untuk sementara, pikir Kaila saat berjalan keluar dari ruang itu. Tapi bagaimana kalau "sementara" itu tidak pernah berakhir? Bagaimana kalau salah satu dari ketiga perempuan itu memutuskan untuk tidak ingin mati?
Di koridor, ia berpapasan dengan seorang teknisi muda bernama Dimas yang selalu gugup di hadapannya. Kali ini, Dimas menatapnya sedikit terlalu lama, lalu mengalihkan pandangan. Kaila mencatat itu juga.
Semua orang, pikirnya. Aku harus mencurigai semua orang.