“Simpan di sini saja De,” kata Ika sembari menunjuk ke pinggir kasur sesampainya mereka di dalam kamar. Dea lalu meletakkan tas jinjing dan ranselnya yang berisi muatan penuh pakaian di situ. Mereka pun duduk beriringan di tepi ranjang.
“Ka, maaf ya. Atas kedatanganku malam-malam begini, kamu dan mamahmu malah jadi terganggu.”
“Enggak apa-apa De, aku malah senang kamu ke sini. Aku jadi ada teman ngobrol.”
“Teman ngobrol? Ini kan sudah malam Ka, kalau ngobrol dulu, nanti bangunnya kesiangan lagi. Bisa-bisa telat berangkat ke sekolah.”
“Iya juga sih. Tapi De, ini benaran kamu yakin?”
“Maksudnya?”
“Ya, kamu yakin bakalan bisa mandiri hidup di luar tanpa lagi bersama Tante Rita? De, menurutku ya, Tante Rita itu baik. Dia kan yang merawat kamu sejak kamu kecil?”
“Tante Rita memang baik Ka, tapi aku tetap butuh ibuku. Aku harus ketemu dia dan tante melarangku.”
“Tante Rita melarang kamu bertemu ibumu?”
Dea mengangguk lemah dan Ika mengelus pelan punggung sahabatnya itu. Menenangkan.
“Sabar ya De. Mungkin karena ibumu dulu pergi meninggalkanmu dan juga adikmu, makanya Tante Rita jadi kesal.”
“Aku rasa bukan cuma itu. Tante enggak mau aku ketemu ibu, tahu siapa ibu sebenarnya, dan mengikuti jejaknya.”
“Memangnya kenapa dengan ibumu?”
“Kata tante, ibu itu perempuan nakal. Sering bersama lelaki dan bahkan punya anak dari empat lelaki yang berbeda.”
“Hah?” Ika terbelalak.
Sekali lagi Dea mengangguk. “Aku dan Bela juga berbeda ayah Ka.”
“Jadi, kalian bukan kakak adik kandung? Tapi muka kalian mirip kok.”
“Miriplah Ka, masih satu ibu.”
“Tapi De, kalau menurutku ya. Semisal ibumu memang sudah bercerai dengan suami sebelumnya, kan enggak apa-apa kalau mau menikah lagi dan punya anak. Masa iya, sudah menikah tapi suami baru ibumu itu enggak ada keinginan untuk memiliki anak.”
“Itu dia Ka yang masih aku bingung dan aku harus mencari tahu sendiri kebenarannya lewat lisan ibu. Ibuku itu sebetulnya menikah empat kali atau ada dari anak-anaknya yang disebut anak haram termasuk aku.”
“Anak haram? Anak hasil hubungan di luar suami istri?”
Lagi-lagi Dea mengangguk. “Iya Ka dan aku ingin membuktikan sendiri, bahwa semua yang disampaikan Tante Rita mengenai ibuku yang katanya … “ Dea berat untuk mengucapkan dan wajahnya nampak sendu. “jalang itu enggak benar. Aku yakin ibuku adalah wanita yang baik dan hebat. Terlepas dari gunjingan apapun yang dilontarkan orang di luar.”
“De, maaf ya. Aku enggak bisa bantu apa-apa, tapi kalau suatu saat nanti kamu perlu pertolongan aku, aku siap kok! Kalau kamu mau minta antar ke mana, aku siap jadi supirnya.”
“Makasih Ka. Tapi rasanya enggak perlu. Aku enggak mau merepotkan kamu dan aku enggak mau sampai kamu dimarahi lagi oleh ibumu. Sudah cukup kebaikan kamu menjadi sahabatku selama ini dan aku berharap sampai kapanpun kamu tetap mau menjadi sahabatku.”
“Pasti De. Kalau enggak begitu, aku mana bisa dapat jatah contekan dari kamu.” Ika tertawa diiringi Dea. Sekali lagi Ika membelai bahu sahabatnya. “Yang sabar ya De.”
“Iya Ka, pasti dan aku akan berjuang untuk bisa menemukan ibu.”
“Terus kamu sudah tahu ibumu tinggal di mana? Di kota ini juga?”
Dea menggeleng lemah. “Belum. Aku sama sekali belum dapat informasi apa-apa.”
“Loh, terus bagaimana kamu mau mulai mencarinya? Keberadaannya saja kamu belum tahu di mana. Iya kalau tinggal di sini, kalau di luar kota? Kamu mau bolos?”
“Aku kan belum pegang uang Ka dan aku rasa, perjalanan ke depan bakalan berat banget dan tentu enggak bakalan sama dengan apa yang sudah selama ini aku lewati ketika tinggal bersama Tante Rita. Sambil sekolah, aku mesti kerja. Mengumpulkan uang. Buat makan dan bayar sewa kosan nanti, dari mana kalau aku enggak kerja?”
“Jadi sepulang sekolah nanti kamu bakalan kerja?””
“Harus Ka. Aku bakalan cari kerjaan. Apapun itu asal halal. Kalau enggak begitu, bagaimana aku bisa bertahan hidup.”
“De, kenapa sih kamu harus ke luar segala dari rumah Tante Rita? Kenapa enggak tinggal di sana saja? Kamu kan jadi enggak perlu susah-susah cari kerja. Kalau tinggal sama Tante Rita kan enak. Kewajibanmu dan Bela cuma sekolah.”
“Kan sudah kubilang, Tante Rita itu melarangku bertemu ibu, sebab dalam pandangannya, ibu itu perempuan nakal.”
“Jadi karena itu, kamu memutuskan pergi, sebab Tante Rita enggak mengijinkan kamu untuk berjuang bertemu ibu kandung kamu sendiri?”
“Iya Ka dan aku sudah berjanji pada Bela, jika suatu saat nanti aku sudah mampu untuk berdiri di atas kakiku sendiri, aku akan bawa serta dia untuk tinggal bersamaku.”
“De, aku enggak bisa bayangkan, bagaimana kamu akan menjalaninya setelah ini, karena aku sendiri saja masih bergantung kepada orang tua. Tempat tinggal ada, makan tinggal makan, berangkat sekolah kalau enggak bareng papah ya bawa motor sendiri, pokoknya semua serba ada dan dimudahkan sekali.”
“Itu dia Ka, aku juga mengira, bahwa apa yang bakal aku jalani di depan itu pasti enggak bakalan gampang, karena aku sendiri sebelumnya belum pernah mencoba.” Dan tiba-tiba saja bayangan Bela dan Tante Rita menguar dalam pandangan Dea. “Biasanya ada Bela yang suka iseng. Kalau aku haus dan lapar, aku tinggal ke dapur, ambil minum atau camilan dari dalam toples dan kalau lapar, meski di atas meja makan kosong enggak ada lauk apa-apa, aku tinggal buka kulkas dan memasak sebentar sayuran atau daging mentah yang sudah dibumbui oleh tante. Hidupku serba praktis dan kalau aku serta Bela mau berangkat sekolah, hampir setiap pagi Tante Rita itu selalu teriak-teriak agar aku dan Bela bisa lebih cepat sedikit.” Dea menyilangkan kedua tangannya di d**a dan meniru gaya tantenya. “Bela, Dea, cepat sedikit! Sudah jam berapa ini? Nanti kita semua kesiangan!”
Dan Ika yang memperhatikan paham betul bila sahabatnya itu tengah merindu. Di wajah Dea terpancar kesedihan mendalam.
“Aku mengerti De bagaimana beratnya perasaanmu. Apalagi harus terpisah dari Bela.”
Seketika Dea melepas ikatan tangannya dan ia menarik nafas dalam. “Tapi hidup ini kan memang harus berjuang Ka dan mau enggak mau sepahit apapun itu, aku tetap harus menjalaninya. Demi ibu. Demi Bela. Agar kita bisa bertemu. Aku enggak peduli dengan apa yang diucapkan Tante Rita kalau ibu memang sengaja meninggalkan kami dan aku enggak peduli kalau memang sebenarnya ibu enggak mau bersama kami. Aku enggak peduli Ka. Aku cuma mau bertemu ibu, sekali saja. Biarpun ibu menolak nantinya, asalkan aku bisa bertatap muka dan menyebut namanya di hadapannya, itupun aku sudah senang.”
“Tapi De, masa iya sih, ada ibu yang enggak mau ketemu lagi sama anaknya. Memangnya di usia kecil dulu saat kalian berpisah, kamu pernah melakukan kesalahan apa terhadap ibumu? Sesalah-salahnya anak kecil, namanya juga anak kecil kan De, masih bisa ditoleransi kenakalannya. Tapi kalaupun memang benar ibumu sengaja meninggalkanmu, aku rasa ada alasan lain.”
“Iya Ka, mudah-mudahan begitu dan entah kenapa perasaan ingin bertemu ibu sangat kuat sekali. Ka, hidup itu kan cuma sekali dan mati pun sekali, jadi aku enggak mau dalam keadaan mati nanti aku masih penasaran sama ibu. Aku harus bertemu dengannya dan mengatakan kalau aku amat menyayangi dan merindukannya. Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu kan Ka?”
Ika mengangguk.
“Kalau perlu, saat aku bertemu dengannya nanti, aku akan menjatuhkan tubuhku di hadapannya dan mencium kakinya.”
Ika mengepalkan satu tangan. “Semangat De!”
Dan Dea turut serta dengan mengepalkan kedua tangannya. “Semangat!”
“Tidur yuk!” Ika melangkah ke sisi kasur lainnya dan mereka rebah bersama. Namun setelah mereka terlentang, Ika bangkit lagi menarik kain selimut. Dibungkusnya sebagian tubuh sahabatnya dan juga tubuhnya sendiri.
Mereka menatap langit-langit kamar dan tanpa mereka tahu, mereka sama-sama tengah memikirkan tentang hari esok. Dea berencana untuk pergi sebelum adzan subuh berkumandang atau kalau perlu, ia tidak perlu terpejam malam ini agar bila dilihatnya Ika sudah benar-benar terlelap, ia bisa mengendap-ngendap pergi.
Dea merasa tidak enak sekali dengan kehadirannya malam ini di rumah Ika. Sepertinya mamah Ika memang tak menyukainya. Dan Ika sendiri kini tengah memikirkan bagaimana caranya agar besok mereka tetap bisa berangkat sekolah bersama.
Kalau toh mamah melarang Dea untuk naik ke mobilnya, itu artinya Ika mesti membawa motor sendiri ke sekolah. Pokoknya, bagaimana pun caranya, Dea harus tetap berangkat bersama Ika. Mereka kan satu sekolahan, satu kelas! Dan lagi Ika tidak tega bila membiarkan sahabatnya itu naik angkutan umum sendiri. Harusnya ditolong dalam keadaan susah malah semakin diberati bebannya. Kasihan Dea, belum tentu juga dia punya uang kan?
Ika menoleh ke sahabatnya yang masih setia terjaga memandang ke atas. “Tidur De.”
Dea menatapnya dan tersenyum.
Ika pun mulai terpejam dan beberapa saat kemudian, Dea mendengar kicauan suara manusia dari arah luar kamar. “Sudahlah biarkan. Mereka itu kan dekat sejak kelas satu.”
“Iya dan sejak kelas satu itu juga mamah tuh sebenarnya enggak suka sama Dea! Dia itu bisa membawa pengaruh buruk bagi anak kita pah! Papah tuh, makanya jangan pekerjaan terus yang diurusin, sekali-kali perhatikan anak, dia bergaul dengan siapa, itu penting buat masa depannya!”
Dea tertegun dan ia hendak bangun.