Dea berjalan gontai ke ranjang di mana telah terbaring pulas sahabatnya, Ika. Air mata Dea meleleh dan ia tak dapat membendungnya. Dea lalu duduk membelakangi sahabatnya dan tak lama, Ika membuka mata perlahan.
Rasa kantuk yang masih mendera membuatnya sulit membuka mata dengan sempurna. Ia menyipitkan mata dan sedikit terkejut menyaksikan sahabatnya yang terduduk.
“De,” panggilnya pelan.
Seketika Dea menyeka air matanya dan berbalik badan. “Ya Ka.”
“Kamu kok enggak tidur?”
“Mau kok Ka.”
“Kamu masih sedih ya De?”
Dea hanya mampu tersenyum berat.
“Pasti ya sedih? Dan aku enggak bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi aku yakin, Dea yang selama ini aku kenal adalah Dea yang kuat. Kamu pasti bisa melewatinya.” Ika tersenyum memberikan kekuatan dan keyakinan terhadap sahabatnya.
“Terima kasih ya Ka.”
“Tidur yuk! Besok kan pelajaran pertama Pak Maman. Guru tergalak di sekolah. Kalau sampai telat bisa enggak boleh ikut pelajarannya.”
Akhirnya Dea menuruti perkataan sahabatnya dan ia beringsut kembali masuk ke dalam selimut.
“Kamu habis ngapain sih De? Belum tidur!”
“Aku suka susah tidur Ka kalau di tempat baru.”
“Mau tahu enggak caranya biar bisa cepat tidur?”
“Bagaimana?”
“Kamu bayangkan ada seribu domba berjajar, terus kamu hitung dari satu sampai selesai.”
Dea tertawa. “Kamu pasti meniru apa kata kartun ya?”
“Kata mamah. Aku juga kan sama kayak kamu De. Susah tidur kalau di tempat baru. Jadi dulu, pernah kami sekeluarga menginap di rumah tanteku di daerah Palembang. Sampai tengah malam aku susah sekali tidur padahal semua orang di rumah itu termasuk anak-anak tante yang seumuran denganku ya sudah tidur semua. Waktu mamah tahu aku belum tidur, mamah bilang kalau aku bisa mencoba dengan membayangkan domba-domba dan menghitungnya. Tapi aku protes, aku bilang sama mamah. Kenapa mamah enggak coba membacakan dongeng untukku. Karena sebelum sepupu-sepupu aku tidur, aku lihat tante membacakan dongeng untuk mereka sampai akhirnya mereka bisa tidur. Eh mamah malah bilang, kalau mamah enggak bisa bercerita. Enggak mahir mendongeng.”
“Jadi sekarang kamu mau membacakan dongeng untukku?”
Ika tertawa. “Itu dia masalahnya, aku juga enggak mahir mendongeng De dan lagipula aku enggak punya koleksi buku-buku dongeng.” Ika mengembuskan nafas panjang, seperti tengah pula melepas beban masa lalunya. “Tapi nanti kalau aku sudah menikah, aku bakalan rajin membacakan buku dongeng untuk anak-anakku, supaya mereka cepat tidur dan mimpi indah.”
“Ka, pasti bahagia ya punya keluarga yang komplit? Ada ibu, ayah yang selalu menemani.”
“Dea, jangan sedih lagi dong. Kalau kamu ingin tahu, jujur saja De, meskipun aku ada mamah dan papah, tapi aku tetap merasa kesepian. Sebab apa? Bukan hanya papah yang sibuk bekerja, tapi juga mamah. Di rumah sebesar ini, cuma ada kami dan bibi yang sudah mengasuhku sejak aku kecil. Aku malah merasa lebih dekat sama bibi ketimbang sama mamah. Menurutku ya De, anak yang orang tuanya utuh belum tentu dapat merasakan kebahagiaan dari mereka secara utuh pula, kayak aku ini.”
“Tapi minimalnya, kamu ada teman curhat Ka. Kalau kamu kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas dari sekolah atau ada anak cowok yang naksir sama kamu, kamu kan bisa cerita sama mamah atau papah kamu.”
“Siapa bilang aku bisa dengan mudahnya cerita sama mereka? Justru dengan mamah, aku merasa ada sekat. Aku cenderung lebih nyaman sama papah sih. Kalau mamah, kamu tahu sendiri kan De. Mamah itu suka sekali mengatur-atur hidupku. Dengan siapa aku berteman dan harus begini dan begitu. Aku enggak bebas menjadi diriku sendiri.”
“Tapi mamahmu begitu kan karena dia khawatir sama kamu Ka. Takut kamu salah bergaul atau ketemu teman yang enggak benar.”
“Iya sih, tapi rasa cemasnya itu terlalu berlebihan dan seringkali membuatku enggak nyaman. Jujur ya De, aku tuh suka merasa enggak enak sama kamu atas sikap mamah aku.”
“Enggak apa-apa Ka. Aku maklumi kok.”
“Tapi papahku enggak begitu. Dia malah selalu percaya terhadap apa yang aku lakukan. Dia selalu mendukungku. Papah bilang, aku ini sudah besar. Bukan anak kecil lagi yang mesti diatur hidupnya. De, aku tuh heran sebenarnya. Kamu kan enggak pernah ikut les dari dulu, tapi kamu tuh selalu menjadi juara kelas, sedangkan aku? Ikut les matematika, Bahasa Inggris, sampai Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa kita sehari-hari, mamah tuh mengharuskanku mengikuti semuanya dan kalau aku sanggup untuk berkata jujur kepada mamah, aku tuh sebetulnya sudah capek. Kamu bayangkan De, pulang sekolah sore, sambung les renang atau musik dan setelah maghrib, aku mesti les yang ada hubungannya sama mata pelajaran di sekolah. Kepala aku tuh rasanya mau pecah De, tapi aku mencoba bertahan dengan sikap dan keputusan mamah. Jadi De, aku rasa ya, kamu itu kayaknya keturunan dari keluarga yang pintar-pintar deh. Ibu dan ayahmu pasti pintar. Buktinya, kamu enggak les saja sudah jadi juara pertama di kelas dalam setiap semester, otakmu encer, apalagi kalau kamu ikut les. Bisa-bisa SMA enggak perlu sampai tiga tahun, cukup dua atau setahun, beres.”
Mereka tertawa dan Dea amat bersyukur memiliki sahabat yang selalu dapat meringankan bebannya dan ia sekarang tahu, bahwa keluarga yang nampak harmonis, belum tentu itulah yang sebenarnya.
Bisa jadi itu hanyalah bagian luar saja yang terlihat dan di dalamnya dipenuhi oleh luka-luka dan kesedihan. Seperti Ika, sahabatnya yang ternyata di balik segala kemewahan yang dihadirkan tersimpan duka yang lama terpendam.
“Kamu jadi ikut melek Ka.”
“Iya nih, enggak ngantuk jadinya.”
“Bagaimana kalau kita coba cara mamah kamu yang katanya membayangkan domba-domba, lalu menghitungnya sampai seribu?”
“Boleh.”
Dan mereka pun mulai menciptakan gambar-gambar domba dalam bayangan. Pada langit-langit kamar, domba-domba itu seakan muncul dan nyata. Domba-domba berbulu putih yang berjajar rapih. Mereka mulai menghitung dan entah pada hitungan ke berapa dan siapa yang lebih dulu, kini mereka benar-benar terpejam.
Pada keesokan paginya ketika matahari masih malu-malu untuk menyapa, Ika terbangun dan ia tertegun. Dilihatnya Dea sudah tidak berada di sebelah. Ika mengecek tas yang semalam Dea bawa dan disimpan di dekat ranjang. Kosong. Dea sudah pergi?
Terburu-buru Ika ke luar kamar dan mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Dalam keadaan masih memakai piama, sang mamah membuka. Diperhatikannya wajah putrinya itu yang seperti tengah gelisah, “Ika?”
“Mah, mamah lihat Dea?”
“Dea?”
Ika mengangguk dan di saat bersamaan muncul sang papah.
“Kenapa mah?”
Belum sempat mamah Ika menjawab pertanyaan yang dilontarkan suaminya, Ika lebih dulu menyerobot dengan pertanyaan yang sama. “Pah, papah lihat Dea enggak?”
“Bukannya semalam Dea tidur sama kamu?”
“Iya, tapi pas Ika bangun Dea sudah enggak ada.”
“Mungkin dia sudah pergi.” Mimik wajah mamah sangat menyebalkan.
“Ini pasti gara-gara mamah.”
“Kok mamah?” Mamah Ika merasa tersinggung atas tuduhan yang dilontarkan putrinya terhadapnya.