“Apa kau tahu sesuatu tentang itu?”
Darius tidak langsung menjawab. Ia mengusap kepalanya yang barusan ia benturkan ke sandaran kursi depan akibat rem mendadak, lalu menatap rekannya lewat kaca spion. Wajah Sekala tidak main-main. Tidak ada sisa canda di sana.
“Kau menghentikan skydrive di tengah jalan hanya untuk bertanya soal pil?”
“Jawab dulu.”
Darius mengembuskan napas. “Baiklah. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya mendengarnya dari pasien. Ada dua orang minggu ini yang bertanya kepadaku, apakah rumah sakit menjual pil yang bisa menghilangkan haus. Aku bilang tidak ada. Salah satunya, seorang ibu, bilang tetangganya sudah minum dan sekarang tidak perlu air lagi selama tiga hari.” Ia berhenti sejenak. “Sekala, kalau benda itu memang ada dan memang bekerja, itu kabar baik, bukan? Kenapa wajahmu seperti orang yang baru mendengar kabar kematian?”
Sekala kembali menjalankan skydrive-nya, pelan, tanpa menoleh.
“Karena aku pernah melihat orang yang meminumnya.”
“Di mana?”
“Palembang. Kantorku ada di sana. Tiga rekanku ikut program uji coba perusahaan sebelah, karena bayarannya besar dan mereka butuh uang untuk tagihan.” Rahang Sekala mengeras. “Dua bulan lalu mereka masih mengirimiku pesan. Sekarang tidak ada satu pun yang bisa kuhubungi. Aku datang ke alamat mereka, kosong. Aku tanya ke kantor mereka, jawabannya sama persis, kata per kata, seperti dihafalkan. Mereka bilang, ‘program masih berjalan, hasilnya akan diumumkan.’”
Darius terdiam.
“Aku bukan orang yang gampang curiga, Darius. Tapi kalau sebuah perusahaan berhasil menyelesaikan masalah terbesar umat manusia, apa yang mereka lakukan pertama kali? Mengumumkannya. Memasang wajahnya di semua kanal berita. Mengambil pujian sebanyak-banyaknya.” Sekala menoleh sebentar. “Perusahaan ini justru diam. Mereka tidak mengumumkan apa pun. Pil itu menyebar dari mulut ke mulut, bukan dari siaran pers. Kenapa?”
“Karena mereka belum siap produksi massal?”
“Atau karena mereka belum ingin ada yang memeriksanya.”
Skydrive itu berhenti di halaman rumah sakit. Darius membuka pintu, tapi tidak segera turun.
“Kau mau aku memeriksanya, begitu?”
“Aku akan mencarikanmu satu butir.”
“Dari mana?”
Sekala tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak melegakan. “Barang yang tidak dijual di toko selalu dijual di tempat lain.”
***
Malam itu, di sisi selatan kubah, ada deretan kios yang tidak punya nama dan tidak punya papan. Lampunya seadanya, sebagian pemiliknya bahkan tidak duduk di depan dagangannya. Di sinilah orang membeli barang yang tidak ingin mereka catat: air tanpa segel, obat tanpa kemasan, dan belakangan, sesuatu yang baru.
Sekala berjalan dengan tudung jaket menutupi kepala. Di kios ketiga, seorang lelaki bertubuh kurus menatapnya dari balik meja.
“Cari apa?”
“Yang untuk haus.”
Lelaki itu mengukur Sekala dari ujung sepatu sampai wajah. “Dua ratus ribu satu butir.”
“Mahal sekali.”
“Sebulan lalu masih delapan puluh. Minggu depan mungkin lima ratus.” Lelaki itu mengangkat bahu. “Mau atau tidak?”
Sekala mengeluarkan uangnya, meletakkannya di meja. Sebutir pil bening berpindah ke telapak tangannya. Di dalam pil itu, ada sesuatu berwarna putih kekuningan, ramping seperti batang kecil, dan Sekala nyaris menjatuhkannya ketika menyadari bahwa benda itu tidak diam. Bentuknya berubah. Sedikit sekali, tapi berubah.
“Ini apa?” tanyanya.
“Mana kutahu. Aku cuma menjual.”
“Kau pernah minum?”
Lelaki kurus itu tertawa pendek, dan ada sesuatu dalam tawanya yang membuat bulu tengkuk Sekala berdiri. “Aku menjualnya, Tuan. Bukan meminumnya.”
Sekala memasukkan pil itu ke dalam wadah kecil, lalu berbalik pergi. Baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Satu lagi. Barang ini datang dari siapa?”
“Ada yang mengantar. Sebulan sekali. Gratis untuk seratus butir pertama, sisanya kami beli.”
“Gratis?”
“Katanya untuk daerah yang paling susah air.” Lelaki itu menunjuk dengan dagunya ke arah utara, ke arah ujung kubah, ke arah rumah-rumah yang berdiri paling dekat dengan Sungai Citarum yang menghitam. “Sana, tuh. Yang paling banyak dibagi gratis, ya sana.”
Sekala tidak bergerak selama beberapa detik.
Sana. Ujung kubah. Tempat rumah bercat merah itu berdiri.
***
Ia tidak langsung pulang.
Skydrive-nya berbelok ke utara, melewati deretan rumah petak yang temboknya sudah retak dimakan panas, sampai berhenti di depan sebuah warung kecil yang lampunya hanya satu, dua rumah dari kediaman berpagar rendah bercat merah.
Warung itu masih buka. Seorang perempuan setengah baya duduk di bangku plastik di depannya, mengipasi diri dengan kardus.
“Beli apa, Mas?”
“Air.”
Perempuan itu mengambil sebotol dari rak, botol tanpa segel, isinya keruh samar kalau dilihat dari sisi yang terkena cahaya. Sekala membayarnya, lalu tidak beranjak.
Di atas meja kayu di sebelah kasir, ada sebuah toples plastik. Isinya penuh, kapsul-kapsul bening bertumpuk sampai ke tutupnya. Di depan toples itu ditempel selembar kertas, ditulis tangan dengan spidol tebal.
GRATIS UNTUK YANG SAKIT. AMBIL SATU SAJA PER ORANG.
“Itu apa, Bu?” tanya Sekala.
“Obat haus.” Perempuan itu menjawab tanpa mengangkat wajah dari kipasnya. “Diantar tiap bulan. Katanya buat daerah sini, soalnya airnya jelek.”
“Ibu sudah minum?”
“Belum. Saya kan tidak sakit.” Ia terkekeh. “Yang sudah banyak, kok. Anak Bu Ratna yang di ujung sana itu sudah, katanya sekarang malah bisa jalan lagi.”
Sekala menatap toples itu lama sekali, sampai perempuan itu menoleh dan menanyakan apakah ia mau mengambil satu.
“Tidak, Bu,” katanya. “Terima kasih.”
Ia berjalan kembali ke skydrive-nya, dan tangannya bergetar ketika memasang seatbelt.
***
Saka mendengar suara pintu depan dibuka pukul sepuluh lewat. Dari kamarnya, lewat celah pintu, ia melihat kakaknya melepas jaket dengan gerakan yang sangat berhati-hati, lalu memasukkan sesuatu ke dalam saku dalam jaket itu, lalu menggantungnya di tempat paling tinggi.
“Kak?”
Sekala tersentak. “Kenapa belum tidur?”
“Kakak dari mana?”
“Bertemu teman.”
“Jam segini?”
“Kau ini,” Sekala tertawa, tapi tawanya terlalu cepat datang dan terlalu cepat hilang. “Sudah, tidur sana. Besok sekolah.”
Saka menatap jaket yang tergantung tinggi itu sebentar, lalu mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Ia tidak langsung tidur. Ia menyalakan laptop tua di meja belajarnya, menyambungkan diska lepas berwarna hitam, dan mulai mengunduh film satu per satu. Koneksi malam itu payah sekali, tapi Saka tetap menunggu sampai bar unduhan terakhir penuh. Bukan untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar suka menonton. Semua judul itu ia kumpulkan untuk seseorang yang sekarang hanya bisa berbaring, menatap langit-langit kamar, dengan ember di sebelah ranjangnya.
Tidak akan bertahan lebih dari tiga hari.
Kalimat Darius itu terus berputar di kepalanya. Hari ini hari pertama. Kalau ramalan itu benar, maka tinggal dua kali lagi Saka bisa melihat wajah sahabatnya.
“Ramalanku selalu salah,” gumam Saka, mengulangi kalimat Darius, mencoba memercayainya dengan cara mengucapkannya keras-keras. “Selalu salah. Ya. Selalu salah.”
Ia mencabut diska lepas itu dan memasukkannya ke saku seragam yang sudah ia siapkan untuk besok.
***
Pagi harinya, sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Dua bangku kosong di kelas: satu milik Akasa, dan satu lagi milik seorang siswa kelas sebelah yang kemarin dikabarkan tidak akan kembali.
“Bagaimana Akasa?” tanya Senandika, sambil menarik kursi dan duduk menghadap Saka.
“Buruk.”
“Seburuk apa?”
Saka tidak menjawab. Ia hanya mengetuk-ngetukkan ujung penanya ke meja.
“Kami boleh ikut menjenguk?” tanya Alinea.
“Hari ini aku sendiri dulu,” kata Saka. “Besok, kalau kalian mau.”
Alinea dan Senandika saling melempar tatap, lalu mengangguk. Mereka mengerti. Ada hal-hal yang harus dilakukan sendirian dulu sebelum bisa dibagi.
Sepanjang pelajaran terakhir, Saka tidak mendengar satu kalimat pun dari Pak Hadi. Matanya terpaku pada jam dinding yang tergantung di atas papan tulis, pada jarum panjangnya yang bergerak dengan kesabaran yang menyebalkan. Diska lepas di dalam saku seragamnya terasa berat, jauh lebih berat daripada seharusnya untuk benda sekecil itu.
Cepatlah, pikirnya. Cepatlah berbunyi.