“Wow! Saka! Apa yang kau lakukan?”
Suara Algi menggema di ruangan sempit berdinding keramik itu. Sementara Saka, lelaki yang beberapa jam lalu menolongnya dari kejaran seorang jambret, masih menggenggam gayung dengan kedua tangannya. Air menetes dari dagu, membasahi kerah kemeja maroon yang dikenakannya. Napasnya memburu, seperti orang yang baru saja selesai berlari sangat jauh.
“Maaf,” ucap Saka pelan. “Aku… haus.”
“Iya, tapi itu air keran! Bukan air minum!” Algi merebut gayung itu dari tangan Saka, lalu meletakkannya kembali ke dalam bak. “Kalau haus, bilang. Di kulkasku ada air dingin. Astaga, kau ini.”
Saka tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada bak berisi air jernih itu. Permukaannya bergoyang pelan, memantulkan cahaya lampu, tenang dan penuh, seolah tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi barang yang diperebutkan.
“Air ini…” Saka menelan ludah. “Apa dia akan habis?”
Algi mengernyit. “Habis? Ya kalau kutimba terus-terusan, ya habis.”
“Setelah habis, bagaimana?”
“Ya diisi lagi. Tinggal buka keran.” Algi menunjuk keran yang menempel di dinding atas bak. “Itu, tuh.”
Perlahan, Saka mengulurkan tangan. Diputarnya keran itu. Air menyembur, jatuh menghantam permukaan bak, menciptakan suara yang bagi Algi tak lebih dari suara paling biasa di dunia. Namun Saka justru menahan napas. Lelaki itu berdiri mematung, membiarkan air mengalir, mengalir, dan terus mengalir tanpa ada yang menghitungnya, tanpa ada angka yang berkurang di layar mana pun.
Kemudian, di sana, di dalam toilet berpintu biru milik sebuah kamar indekos di Bandung, Saka menangis.
Bukan tangis yang meraung. Hanya bahu yang berguncang, dan air mata yang jatuh bercampur air keran yang membasahi wajahnya, sehingga sulit dibedakan mana yang mana.
Algi kehilangan kata-kata. Ia sempat berniat bertanya, tapi urung. Sebagai gantinya, lelaki jangkung itu meraih handuk yang tergantung di balik pintu, lalu menyodorkannya.
“Sudah, sudah. Keringkan dulu. Nanti masuk angin.”
***
Malam itu, Algi menyimpulkan satu hal: tamunya ini kemungkinan besar korban bencana.
Ia pernah membaca berita tentang daerah-daerah yang kekeringan berbulan-bulan, tentang warga yang mengantre air bersih sampai berkelahi. Mungkin Saka berasal dari sana. Mungkin itu sebabnya ia tak membawa pakaian, tak punya tempat tinggal, dan menatap semangkuk bakso seperti menatap keajaiban. Kesimpulan itu terdengar masuk akal, dan Algi memilih untuk berhenti bertanya. Ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik tidak diajukan kepada orang yang baru saja menangis.
“Ini,” kata Algi, melemparkan sebuah kaus abu-abu. “Punyaku, tapi kurasa muat. Kemejamu basah semua.”
“Terima kasih.”
“Kau mau minum? Yang benar, maksudku. Yang dari kulkas.”
Saka mengangguk.
Algi menuangkan air dari botol besar ke dalam gelas, penuh sampai ke bibirnya, lalu menyerahkannya. Saka menerima gelas itu dengan dua tangan, seperti orang menerima sesuatu yang mudah pecah.
“Berapa harganya?” tanya Saka.
Algi tertawa. “Harga apa?”
“Segelas ini.”
“Ya ampun. Ini air isi ulang, satu galon lima belas ribu. Segelas itu… entah, dua ratus rupiah? Tiga ratus? Sudah, minum saja. Jangan dihitung.”
Saka menatap gelas di tangannya cukup lama, sebelum akhirnya meminumnya perlahan, sedikit demi sedikit, seakan takut kalau ia terlalu cepat, isinya akan lenyap.
Di luar, terdengar suara sepeda motor lewat, lalu suara seseorang menutup pagar. Saka menoleh ke arah jendela.
“Boleh aku buka jendelanya?”
“Boleh. Panas, ya? Kipasnya rusak, maaf.”
Saka membuka jendela itu, dan untuk beberapa saat ia hanya berdiri di sana. Langit di atas kota terlihat gelap, bukan merah. Ada beberapa titik cahaya yang berkedip lemah di sela-sela awan. Angin masuk, membawa bau tanah dan bau daun.
“Algi,” panggil Saka. “Yang di atas sana… apa itu?”
“Yang mana?”
“Yang berkedip.”
Algi ikut melongok. “Bintang.”
“Bintang,” ulang Saka, seolah mencoba rasa kata itu di lidahnya.
“Kau tidak pernah lihat bintang?”
“Di tempatku, langitnya tidak bisa ditembus.” Saka menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
“Polusi, ya? Di kota besar memang begitu. Tapi masih kelihatan, sih, satu dua.”
Saka tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya diam di depan jendela, menghitung bintang yang jumlahnya tak sampai sepuluh. Bagi Algi, jumlah sesedikit itu menyedihkan. Bagi Saka, jumlah sebanyak itu terlalu banyak untuk dipercaya.
Kemudian, tanpa aba-aba, langit menjatuhkan air.
Mula-mula hanya beberapa titik yang menempel di kusen. Lalu suara di atap seng berubah menjadi ribut. Algi mendecak, hendak menutup jendela supaya kasur lantainya tidak basah. Namun sebelum tangannya sampai, Saka sudah lebih dulu bergerak. Membuka pintu kamar, keluar, dan berdiri di tengah halaman indekos yang sempit itu.
“Hei! Saka! Kau bisa sakit!” teriak Algi dari ambang pintu.
Saka tidak mendengar. Atau mendengar, tapi tidak peduli. Lelaki itu berdiri dengan kepala mendongak, kedua tangan terentang, membiarkan hujan menghantam wajahnya. Bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang tertelan suara air. Ia tertawa. Lalu ia menangis lagi. Lalu ia tertawa lagi.
Algi bersandar di kusen pintu, menyaksikan itu semua dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama. Ada lelaki asing di halaman indekosnya, kehujanan, tertawa seperti orang yang kehilangan akal. Anehnya, Algi tidak merasa itu lucu. Ia justru merasa ada sesuatu yang salah dengan dunia, sesuatu yang selama ini luput ia syukuri, sampai seseorang datang dari entah-mana dan menunjukkannya lewat cara sekonyol ini.
“Air jatuh dari langit,” gumam Algi pada dirinya sendiri. “Ya, memang begitu, kan? Memang seharusnya begitu.”
***
Pukul sebelas malam, keduanya sudah kering. Algi membentangkan kasur lipat di samping kasurnya sendiri.
“Serius, kau ini dari mana?” tanya Algi, sambil membetulkan letak bantal.
“Kalau kukatakan, kau tidak akan percaya.”
“Coba saja.”
Saka menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku dari tempat yang sangat jauh.”
“Sejauh apa?”
“Sejauh yang tidak bisa ditempuh dengan pesawat.”
Algi terkekeh. “Dari masa depan, begitu?”
Saka tidak menjawab. Ia hanya menarik selimut sampai ke dada. Dan justru karena tidak dijawab itulah, kelakar Algi menggantung di udara sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Ya sudah, tidurlah,” kata Algi akhirnya, lalu memadamkan lampu. “Besok aku kerja. Kau boleh di sini seharian. Jangan bakar kamarku saja.”
Tak lama, terdengar napas Algi yang teratur.
Sementara Saka, di dalam gelap, masih terjaga.
Perlahan diangkatnya tangan kiri. Sebuah arloji hitam melingkar di sana. Arloji yang sama, yang dulu selalu ia lirik tiap kali hendak pulang. Namun malam ini benda itu tidak menunjukkan jam. Di permukaannya menyala deretan angka yang berkurang sedikit demi sedikit, tanpa suara.
29 hari. 23 jam. 41 menit.
Saka menatapnya lama, kemudian menurunkan tangan. Dirogohnya saku celana, dikeluarkannya sebuah kotak kecil pemutar musik beserta headphone yang sudah lama terhubung dengannya. Ia menyumbat kedua telinganya, menekan tombol putar, dan sebuah nada mengalun di dalam kepalanya.
Kalau kehausan, kau bisa memakainya untuk melupakan sejenak rasa hausmu.
Malam ini ia tidak haus. Malam ini, untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Saka tidak haus sama sekali. Justru itulah yang membuat dadanya terasa penuh dan sesak, sampai ia harus memejamkan mata rapat-rapat.
Untuk mengerti kenapa seorang lelaki berusia delapan belas tahun bisa menangis hanya karena air keran, kita harus berjalan sangat jauh dari kamar indekos ini. Bukan ke arah tempat, melainkan ke arah waktu.
Enam puluh tahun ke depan, di kota yang sama, di bawah langit yang tidak lagi biru.
Tahun 2083.
Dan semuanya bermula dari sebuah pengumuman di alun-alun.