“Tak ada cerita yang tak pantas didengarkan, Nak.”
Saka menghela napas. Ia datang kemari untuk mencari jalan keluar, bukan untuk mendengar dongeng tentang dunia yang sudah tidak ada. Namun Profesor Ed sudah menyandarkan punggungnya ke kursi, meletakkan koran di atas meja bundar, dan dari gelagat itu Saka tahu bahwa ia tidak akan diizinkan pulang sebelum cerita itu selesai.
“Kau tahu, dulu ada yang namanya musim,” kata Profesor Ed. “Bukan hanya panas dan lebih panas. Ada bulan-bulan ketika langit menjatuhkan air, hampir tiap sore, sampai orang-orang mengeluh karena jemuran mereka tidak kering.”
“Mengeluh?” Saka mengernyit. “Mereka mengeluh karena kebanyakan air?”
“Ya.” Profesor Ed terkekeh pelan, tapi tawanya tidak sampai ke matanya. “Itulah manusia. Sesuatu baru terasa berharga setelah tinggal namanya.”
Saka terdiam. Ia mencoba membayangkan langit yang menjatuhkan air begitu saja, gratis, kepada siapa pun, tanpa peduli orang itu mampu membayar tagihan atau tidak. Bayangan itu terasa terlalu mewah untuk masuk akal.
“Sungai Citarum yang sekarang kau lihat menghitam itu, dulu dipakai orang untuk mencuci. Anak-anak berenang di sana. Ikan hidup di dalamnya, dan orang memakan ikan itu tanpa takut mati keesokan harinya.” Profesor Ed menyeruput tehnya. “Lalu pabrik-pabrik datang. Pada mulanya pabrik itu baik, Saka. Mereka memberi pekerjaan. Mereka membuat orang bisa membeli rumah. Tak ada yang salah dengan pabrik. Yang salah adalah ketika limbahnya lebih murah dibuang ke sungai daripada diolah, dan tidak ada satu pun yang mau membayar selisihnya.”
“Kenapa tidak ada yang melarang?”
“Ada. Selalu ada yang melarang. Selalu ada beberapa orang yang berteriak dari pinggir jalan sambil membawa poster.” Profesor Ed melempar pandangannya ke langit merah di atas sana. “Tapi teriakan tidak pernah semahal uang, Nak. Dan manusia punya kebiasaan buruk: mereka menunda. Semua orang setuju bahwa sesuatu harus dilakukan, asal bukan hari ini, asal bukan oleh mereka, asal bukan dengan uang mereka.”
“Lalu?”
“Lalu hutan dibuka. Lalu es di kutub mencair, lalu air laut naik, lalu air tanah asin, lalu sumur-sumur mati.” Profesor Ed menyebutkan itu semua dengan nada datar, seperti orang membacakan daftar belanja. “Setelah air bersih menjadi langka, ia berpindah tangan ke perusahaan. Setelah berpindah ke perusahaan, ia punya harga. Setelah punya harga, ia hanya milik yang mampu membeli. Dan hari ini, kau baru saja mendengar wali kota mengumumkan bahwa udara pun akan mengikuti jalan yang sama.”
Saka menunduk. Kedua tangannya saling meremas di atas paha.
“Kau tahu bagian yang paling membuatku tidak bisa tidur?” Profesor Ed menoleh. “Semua ini tidak terjadi dalam semalam. Butuh enam puluh tahun. Enam puluh tahun itu waktu yang sangat panjang, Saka. Ada ribuan kesempatan untuk berhenti. Ribuan. Dan tidak satu pun diambil.”
***
Malam turun perlahan. Langit merah menua menjadi cokelat pekat, dan lampu-lampu di sepanjang jalan mulai menyala satu per satu, meski beberapa di antaranya sudah lama mati dan tidak pernah diganti.
“Prof,” panggil Saka. “Kenapa Profesor menceritakan ini kepadaku? Dari tadi Profesor bertanya, apa jadinya kalau semua itu bisa dicegah. Tapi itu tidak mungkin, bukan? Sudah lewat. Sudah tidak ada yang bisa dikembalikan.”
Profesor Ed tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya, membetulkan kacamata yang melorot, lalu menatap Saka dengan tatapan yang membuat bocah itu merasa sedang ditimbang.
“Kau tahu apa bedanya masa lalu dan barang, Saka?”
“Tidak.”
“Masa lalu tidak bisa diubah. Tapi barang bisa dipindahkan.”
Kening Saka berkerut. “Aku tidak mengerti.”
“Bagus. Berarti kau jujur.” Profesor Ed bangkit dari duduknya, mengumpulkan cangkir dan koran ke atas nampan. “Suatu hari nanti kau akan mengerti. Tidak sekarang.”
Saka hendak mendesak, tapi saat itulah telinganya menangkap sesuatu. Sebuah dengung rendah, samar, datang dari bagian belakang rumah. Bunyi itu naik sedikit, lalu turun, lalu naik lagi, seperti napas mesin besar yang sedang tidur.
“Suara apa itu, Prof?”
“Pendingin.” Profesor Ed menjawab terlalu cepat.
“Pendingin apa? Rumah Profesor bahkan tidak punya pendingin ruangan.”
“Kau ini banyak sekali bertanya.” Lelaki tua itu berjalan masuk sambil menenteng nampan. “Ayo pulang. Ibumu pasti menunggu.”
Saka bangkit dengan berat hati. Sekilas, di celah pintu yang terbuka, ia sempat melihat ke dalam. Di ujung ruangan yang gelap, ada sesuatu yang tinggi dan besar, tertutup terpal abu-abu, dengan beberapa kabel menjulur keluar dari bawahnya seperti akar. Hanya sekilas. Setelah itu, Profesor Ed menutup pintu.
“Prof, satu lagi.”
“Apa?”
“Prinsip ilmuwan yang tadi Profesor sebut. Berhasil atau mati.” Saka menelan ludah. “Kalau jurangnya terlalu lebar, bagaimana?”
Profesor Ed diam sejenak. Kemudian ia mengulurkan sesuatu: sebotol kecil air, penuh, yang entah sejak kapan sudah ia siapkan.
“Kalau jurangnya terlalu lebar untuk dilompati,” katanya, “berarti kau butuh jembatan. Dan jembatan tidak jatuh dari langit, Saka. Jembatan dibangun. Bertahun-tahun. Oleh orang yang bahkan mungkin tidak akan sempat menyeberanginya sendiri.”
Saka menerima botol itu, menatapnya, lalu menatap lelaki tua di hadapannya. Ada sesuatu di wajah Profesor Ed malam itu yang tidak Saka pahami. Sesuatu yang mirip dengan rasa lega, dan mirip juga dengan rasa takut.
“Terima kasih, Prof.”
“Hati-hati di jalan. Jangan melewati gang belakang. Belakangan banyak yang saling serang di sana hanya karena sebotol air.”
***
Saka berjalan pulang dengan tudung hoodie yang kembali menutupi kepalanya. Di persimpangan, dua petugas berseragam sedang mengangkat sesuatu yang dibungkus terpal ke atas bak kendaraan. Seorang perempuan berdiri tak jauh dari sana, tidak menangis, hanya berdiri, memandangi terpal itu sampai kendaraannya pergi.
Saka mempercepat langkahnya.
Di sepanjang tembok pembatas, poster-poster baru sudah terpasang. Cetakannya masih rapi, warnanya masih terang, berbeda sekali dengan tembok kusam yang menempelinya.
TAGIHAN OKSIGEN BERLAKU MULAI BULAN DEPAN. LIMA JUTA RUPIAH PER KEPALA USIA DI ATAS 20 TAHUN. BAYAR TEPAT WAKTU, HIDUP TETAP TENANG.
Saka berhenti di depan salah satunya. Dibacanya kalimat terakhir itu dua kali. Hidup tetap tenang. Entah siapa yang menyusun kalimat itu, dan entah bagaimana orang itu bisa tidur di malam hari.
Ia meludah ke tanah, lalu melanjutkan langkah.
Dari kejauhan, beranda rumahnya sudah terlihat. Namun ada yang berbeda malam itu. Sebuah skydrive terparkir di sana, warnanya biru tua, catnya kusam di beberapa bagian, dan Saka mengenali betul kendaraan bekas pakai tangan kedua itu.
Kakinya otomatis berlari.
“Ibu! Ayah! Itu skydrive Kak Sekala, kan?!”
Pintu terbuka sebelum tangannya sempat menyentuhnya. Di ambang pintu, seorang lelaki berdiri dengan kaus hitam polos, tinggi, rambutnya lebih pendek dari terakhir kali Saka melihatnya.
“Kau makin kurus,” kata Sekala.
Saka tidak menjawab. Ia hanya memeluk kakaknya, erat sekali, dan untuk sesaat semua tentang tagihan oksigen, tentang mayat di trotoar, tentang jurang yang harus dilompati, semuanya menguap.
“Ya ampun, ini kejutan yang sangat kami butuhkan hari ini,” ujar sang ibu dari ruang tamu, matanya sudah berkaca-kaca.
“Aku hanya pulang seminggu,” kata Sekala, sambil melepas pelukan adiknya. “Setelah itu aku harus kembali.”
“Seminggu juga sudah bagus,” timpal sang ayah.
Sekala menoleh kepada Saka, lalu menepuk bahunya dua kali.
“Nanti malam datang ke kamarmu, ya. Aku punya sesuatu untukmu.”