Seperti yang dikatakan oleh sang ibu majikan, selagi bayi Bian tidur, Bia dipersilahkan membantu pekerjaan rumah tangga. Hal itu yang dilakukan si pengasuh sekarang. Setelah memastikan si gembul aman dan nyenyak, dia mencari Sri dan bertanya apa yang dapat dilakukan. Perempuan yang lebih tua dan sangat sopan itu—meski terhadap sesama pekerja rumah tangga—meminta si gadis yang lebih muda untuk merapikan ruang tengah sebab sebentar lagi para Bimantara akan pulang. Mereka sering menggunakan ruang tersebut, jadi sesegera mungkin dirapikan dan dibersihkan.
Dengan senang hati Bia melakukannya. Mengatur bantal-bantal di sofa, membersihkan debu—ah, dia sempat diajari cara menggunakan vacum cleaner oleh Minah. Tentu saja sedikit karena dia tak pernah menggunakan alat itu sebelumnya. Bia hanya mengerti cara manual membersihkan debu. Tapi, pekerjaannya tidak terlalu berat dan dia dapat melakukannya dengan baik.
“Oh, Rabia.”
Sebuah suara menginterupsi kegiatan sang gadis muda yang hampir selesai merapikan ruang tengah alias ruang keluarga; dia sedang mengatur buku, koran serta majalah yang ada di bawah meja. Bia sontak berdiri dan menundukkan kepala pada pria yang menghampirinya. Putra sulung Bimantara, Adnan Bimantara.
“Bian mana?” Adnan bertanya sembari meletak tas kerja di sofa kemudian menjatuhkan diri di sana lalu melonggarkan dasi yang melingkari leher. Tampaknya dia yang lebih dulu sampai ke rumah.
Bia masih menunduk. “Tuan Bian tidur di kamar saya, Tuan.”
“Kamar kamu?” si sulung sedikit terkejut, tapi kemudian dia mengangguk. Baru ingat kalau Bia tak mungkin menidurkan si bayi di kamar orang tuanya, apalagi kamar miliknya atau Adrian. Pilihan terbaik ya di kamar gadis itu sendiri. “Udah dari tadi?”
Si pengasuh mengangguk. “Mungkin sebentar lagi bangun, Tuan.”
“Ah, nggak apa-apa. Aku cuma tanya aja kok. Kirain bisa main sama Bian pas balik.” Adnan memamer senyum pada Bia. Ya, setelah terbukti jika si gembul adalah anggota Biman—meski sesungguhnya tidak boleh, tapi kita singkat saja nama Bimantara supaya tidak terlalu panjang—Maafkan aku, Om Agam—mau tak mau Adnan mesti menerima. Keponakan yang meski belum diketahui siapa ibu kandungnya.
Apalagi Bian merupakan bayi yang ceria. Gampang tersenyum dan tertawa. Walau tanpa suara. Sifatnya itu membawa warna baru bagi keluarga Biman. Tidak butuh waktu lama untuk si sulung jatuh sayang pada si bayi gembul. Ya, Adnan menyayangi Bian. Hari ini sengaja pulang lebih awal supaya bisa bermain dengan si gembul. Tapi, ya sudahlah. Lagi pula bayi memang lebih sering tidur, kan? Nanti saja kalau Bian sudah bangun.
“Ada apa?” kali ini suara yang lebih berat, tegas dan berwibawa terdengar membuat dua orang di ruang tengah serempak memandang sumbernya.
Sang kepala keluarga berserta putra bungsunya memasuki ruang tengah. Mereka baru pulang. Bia sekali lagi menunduk dalam sebagai hormat kepada majikannya, menyapa sang kepala keluarga. Meski di belakang sang tuan Besar, si putra bungsu mengekor, Bia sama sekali tak ingin melihatnya. Berusaha agar tak bertatapan. Pun dia memandang putra sulung sebagai alternatif.
Adnan melepas jas yang dia kenakan, menggeleng pada sang ayah, “Nggak. Aku cuma nanyain Bian.”
“Terus?”
“Tuan Bian tidur di kamar saya, Tuan,” Bia menjawab. Menatap pada sang kepala keluarga yang berdiri di dekat meja.
Agam mengangguk. Memahami maksud si pemgasuh. Adnan yang duduk di sofa melirik ke arah adiknya yang diam, tak ikut dalam pembicaraan. Terbesit sebuah ide dalam kepalanya, menciptakan seulas smirk di bibir tipis si sulung Biman.
“Pa, gimana kalau Bian tidurnya di kamar Adrian?”
Pertanyaan itu sontak membuat Adrian maupun si pengasuh terkejut. Si bungsu segera melotot pada kakaknya. Tidak suka, tidak terima! Hei, ia tak punya pengalaman mengurus bayi! Terlebih jika bayi terbangun tengah malam akan sangat mengganggu waktu tidurnya!
“Kak!”
Sedang si pengasuh gugup luar biasa setelah mendengar pertanyaan atau usulan si sulung. Bia tidak akan sanggup berhadapan dengan Adrian, meski cuma mengantar atau menjemput Bian dari kamar si tuan muda bungsu tersebut. Jangankan bertemu, membayangkan dia akan masuk ke kamar Adrian saja sudah membuat Bia keringat dingin. Jangan sampai terjadi, please.
“Kenapa? Bukannya bagus kalau Bian tidur di kamar kamu sebelum kamarnya siap? Seenggaknya belajar rawat bayi. Bian anak kamu loh~” nada Adnan memang terdengar main-main. Seakan mengejek adiknya. Walau tujuannya bukan begitu.
Adnan penasaran bagaimana wajah Adrian kalau kesusahan menjaga Bian. Mungkin raut kesal adiknya yang kurang tidur. Sungguh, dia ingin sekali melihat ekspresi lain di muka datar Adrian. Kalau bisa sekalian diabadikan. Biar suatu saat dia tunjukkan pada orang lain atau Bian kalau sudah dewasa; wajah kaku ayahnya, ha-ha.
Mulut si bungsu terbuka, ingin membantah atau melawan kakaknya, namun belum sempat terlontar sepatah kata, ayah mereka sudah menyahut permintaan Adnan.
“Papa rasa itu ide bagus. Kamu harus belajar merawat Bian, Dri. Bian anak kamu. Berperanlah sebagai seorang ayah,” putus Agam yang membuat putra bungsunya spechless dan tidak dapat mengelak.
Sementara satu-satunya perempuan di ruang tengah yang mendengarkan hanya bisa menahan debaran jantung yang meningkat. Harapannya tak terwujud. Apalagi sewaktu mencuri pandang pada Adrian; lelaki tinggi berwajah tampan itu menunjukkan raut tak suka dengan jelas. Bia takut. Bagaimana kalau Adrian mengabaikan Bian? Bagaimana jika Adrian membiarkan Bian? Bagaimana Adrian diam saja kalau Bian menangis? Semua pertanyaan itu tiba-tiba beterbangan dalam kepalanya.
“Cih!” Ya, si bungsu terang-terangan menunjukkan ketidaksenangannya. Mohon jangan ditiru sikap ini. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan ruang tengah.
Agam menghela napas melihat perilaku putra bungsunya. Meski Adrian adalah anak yang berbakti dan tidak pernah membuat masalah, tapi putra bungsunya mesti di didik untuk membuka diri dan mau menerima hal baru dalam hidupnya; sekali pun bukan yang ia inginkan.
Sang epala keluarga menatap Bia yang tampak tegang. “Nanti malam antar Bian ke kamar Adrian ya.” Katanya.
Sang gadis tersentak lalu mengangguk. Agam balas mengangguk kemudian beranjak meninggalkan ruang tengah.
Adnan ikut menghela napas. Ada rasa puas dan sedikit kesal karena tanggapan tak sopan dari adiknya. Dia berlarih pada si gadis yang masih ada di sini. Bangkit dari sofa dan berhadapan dengan Bia. “Kamar Adrian ada di sebelah ruang baca. Nanti tanya aja sama Bu Sri atau Minah. Pastiin ketuk pintu dulu terus tunggu dia nyahut, oke.” Katanya dan menepuk pundak si gadis untuk memberi semangat lalu melangkah pergi.
Bia yang ditinggalkan sendiri di ruang tengah menarik napas dalam lalu dihembuskan. Meremas pakaian tepat di depan d**a, merasakan degupan di d**a lebih cepat tiga kali lipat. Membuatnya terasa sedikit sakit. Bagaimana ini? Dia tak kuat bertemu langsung dengan Adrian. Dia ..., tapi aku yang milih kerja di sini. A-aku tahu, nggak mungkin menghindar. Tapi, nggak bisakah jangan secepat ini? Hatiku belum sanggup. Bia belum mempersiapkan diri untuk hal seperti ini!