Sinar matahari yang terik menembus celah tirai kamar, menerpa wajah Celia yang tengah tertidur lelap. Kelopak matanya sedikit mengerjap karena silau, membuatnya merasa terganggu. Ia pun mengubah posisi tidurnya, memunggungi jendela agar terhindar dari cahaya yang mengganggu. Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba-raba ke samping, mencari guling yang biasa menemani tidurnya.
Celia mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan apa yang dirabanya. Perlahan, ia membuka mata, dan seketika itu juga rasa kantuknya menghilang sepenuhnya. Matanya membelalak lebar, jantungnya berdetak begitu kencang saat melihat sesosok pria berada di sampingnya, tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh bagian atasnya.
Celia menelan ludah dengan sulit, rasa takut dan panik bercampur menjadi satu. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat ke dalam. Napasnya tercekat di tenggorokan, tubuhnya membeku seketika. Ia tidak mengenakan sehelai benang pun! Dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya terfokus pada noda merah yang tercetak jelas di seprai putih di bawahnya.
Tidak. Tidak mungkin.
Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun, akhirnya tangis itu pecah juga. Isakannya menggema di dalam kamar yang terasa begitu asing baginya.
Suara tangisannya ternyata cukup untuk membangunkan pria di sampingnya. Lelaki itu mengerang pelan, kemudian perlahan membuka matanya. Celia menahan napas saat melihat pria itu bergerak. Dengan cepat, ia menarik selimut lebih erat ke tubuhnya, seolah itu adalah tameng yang bisa melindunginya dari kenyataan yang begitu menakutkan.
Saat mata mereka bertemu, Celia langsung merasa lemas seketika.
"Om Raja?" ucapnya dengan suara parau, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pria itu—Rajatama Adhiyaksa—juga tampak terkejut. Mata tajamnya membulat, tubuhnya menegang saat melihat Celia di ranjang yang sama dengannya. "Loh, Celia? Kamu ngapain di sini?!" tanyanya dengan suara yang jelas mencerminkan keterkejutannya.
Tangis Celia semakin pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mencoba mengendalikan rasa takut dan paniknya. Raja sendiri tampak kebingungan. Ia segera menegakkan tubuhnya, lalu menatap ke bawah, ke tubuhnya sendiri. Tanpa basa-basi, ia mengangkat selimut dan melihat ke dalamnya.
"Sialan! Kenapa bisa begini?!" teriaknya dengan nada frustasi, membuat Celia semakin ketakutan.
Perlahan, potongan kejadian itu mulai muncul di benaknya. Celia menutup mulutnya dengan tangan, merasa malu sekaligus ngeri saat menyadari apa yang telah terjadi.
"Om ngerti sekarang," gumam Raja dengan suara yang lebih pelan. "Kayaknya di minuman kita ada obat perangsang."
Celia tetap diam, menundukkan kepala dalam-dalam. Ia masih belum bisa mencerna semuanya.
Raja menghela napas berat, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang begitu mendalam. "Sorry, Om bener-bener nggak sengaja ngelakuin ini sama kamu, Celia." Suaranya terdengar penuh penyesalan, terlebih saat wajah Devan dan Rania—orang tua Celia sekaligus sahabatnya sendiri—muncul di pikirannya.
Celia menggigit bibirnya. Ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya sejak ia sadar. Dengan suara lirih, ia memberanikan diri bertanya, "Om pakai pengaman semalam?"
Raja mengerjap, lalu menggeleng pelan. "Nggak. Om nggak punya, dan om nggak pakai. Om bukan tipe orang yang biasa ngelakuin hal kayak gini, Celia."
Jawaban itu seperti pukulan telak bagi Celia. Ia merasa dadanya semakin sesak, dan tangisnya pun kembali pecah. Ia benar-benar menyesali keputusannya ikut ke klub malam bersama teman-temannya. Jika saja ia tidak datang ke tempat itu, semua ini tidak akan terjadi.
Beberapa saat kemudian, Raja menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Celia. "Celia, kamu bisa tolong hadap ke jendela dulu nggak? Om mau pakai baju."
Tanpa menjawab, Celia segera memalingkan pandangannya, menatap lurus ke jendela seperti yang diminta.
Raja lalu berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan pikirannya yang masih berkecamuk. Setelah menyikat gigi dan buang air kecil, ia kembali ke kamar, menemukan Celia masih duduk di tempat tidur dengan kepala tertunduk.
"Kita harus bicara, Celia," katanya dengan suara lebih tenang.
Celia tidak menjawab, tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa menghindari kenyataan ini selamanya. Dengan berat hati, ia mengangkat kepalanya, menatap Raja dengan mata yang masih sembab.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Om?" tanyanya lirih.
Raja menatapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan napas berat. "Kita nggak punya pilihan lain, Celia. Kita harus menikah."
Celia membeku. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari yang ia kira. Menikah? Dengan pria yang usianya hampir dua kali lipat darinya? Dengan sahabat orang tuanya sendiri?
Namun, ia tahu. Tidak ada jalan lain. Tidak ada pilihan lain. Ini bukan hanya tentang dirinya lagi.
Raja pulang dengan langkah yang berat, pikirannya dipenuhi kekalutan. Tanggung jawab besar yang kini harus ia hadapi membuat dadanya sesak. Ketika memasuki rumah, suasana sepi dan tenang menyambutnya, namun ada perasaan tidak tenang yang menghantuinya. Ia harus menyusun rencana untuk meminta maaf kepada Devan dan Rania—orang tuanya Celia—karena perbuatannya yang telah mengubah hidup putri mereka selamanya.
Di ruang tamu, Serra, anaknya yang berusia 17 tahun, menyambutnya dengan senyum ceria. Wajahnya yang masih muda dan polos seolah tidak tahu betapa besar beban yang sedang dipikul oleh Raja. "Papi, papi baru pulang?" tanya Serra dengan nada manis, sambil menggulung lengan bajunya.
"Iya, Ra, adik-adik kamu mana?" jawab Raja, berusaha tampak tenang meskipun di dalam hatinya bergejolak.
"Mereka lagi pada main PS, Papi. Biasa hari libur, mereka masih asik main terus," jawab Serra. Lalu, dengan penasaran, ia melanjutkan, "Papi kenapa semalam gak pulang? Aku sempat nyariin."
Raja terdiam sejenak, mencoba memutar otak agar anak-anaknya tidak curiga. Ia tahu, cepat atau lambat, mereka pasti akan mengetahui kejadian yang sebenarnya, tapi ia harus menunda perbincangan ini sebisa mungkin. "Nanti, Papi mau ngomong sama kalian, Ra. Papi mau mandi dulu, terus kita ngobrol ya," jawabnya, mencoba menghindar dari pertanyaan yang semakin tajam.
Serra hanya mengangguk, meski dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
Raja melangkah menuju kamarnya, mencoba menenangkan dirinya. Begitu ia memasuki kamar, pandangannya langsung tertuju pada sebuah foto yang tergantung di dinding. Foto pernikahannya dengan Alana, istrinya yang telah meninggal empat tahun lalu, masih tersenyum bahagia bersama. Sebuah kenangan yang sangat indah, tapi kini terasa begitu jauh dan menyakitkan.
"Alana, maafin aku," gumam Raja pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku gak bermaksud untuk lupain kamu dan mau nikah lagi, tapi sekarang aku harus tanggung jawab. Gimana kalau Celia hamil anak aku?" katanya, seolah berbicara kepada foto itu, berharap bisa mendapatkan petunjuk atau penghiburan.
Kepergian Alana meninggalkan luka mendalam bagi Raja dan anak-anaknya. Alana adalah segalanya baginya, wanita yang selalu ada di sampingnya, teman hidup yang setia. Namun, takdir berkata lain, dan setelah Alana meninggal, ia merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Tanggung jawab sebagai seorang ayah, kepala keluarga, dan juga teman bagi anak-anaknya, membuat Raja merasa kesepian dan bingung.
"Kamu tahu Celia kan?" lanjut Raja, suaranya lebih berat. "Celia udah aku anggap sebagai anak aku sendiri, karena dia anak sahabat kita, tapi sekarang? Dia malah akan jadi istri aku," ujarnya, dengan tatapan kosong. Kata-kata itu menggema di dalam hati Raja, menambah beban yang semakin berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima kenyataan pahit ini.
Rasa bersalahnya semakin menggunung. Bagaimana ia bisa mengkhianati Alana seperti ini? Bagaimana bisa ia menikahi sahabatnya sendiri, apalagi dengan usia yang hampir dua kali lipat dari Celia? Namun, ini adalah konsekuensi dari perbuatannya semalam, dan ia tahu ia harus menanggung semua itu.