Dear Vega
Hai apa kabar!? Aku berharap kamu sehat-sehat saja. Sekarang aku sudah tinggal di rumah baru. Disini cuacanya dingin banget. Gimana kabar Semarang dan juga gimana suasana hatimu sekarang? Sudah baikan, kan? Semoga baik-baik aja.
Jangan sering sedih-sedih ya, nggak baik loh. Nih aku kasi tau, aku baca di buku sedih itu gak boleh lebih dari 2 menit ternyata. Jadi biar kamu nggak sering sedih-sedih, aku punya satu lagu buat kamu. Katanya lagu ini lagu favorit banyak orang.
Aku nggak tau kamu tau lagu ini atau nggak. Jadi lirik lagu ini khusus aku tulis buat kamu. Isinya kayak begini,
*Twinkle, Twinkle, Little star
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
*Twinkle, Twinkle, Little star
How I wonder what you are
Aku saranin kamu nyanyikan itu saat sedih. Atau kamu juga bisa nyanyi sambil lihat bintang di langit. Bayangin aku ada disana dan ngajak kamu ngobrol kayak di taman dulu. Aku jamin sedihnya pasti hilang. Oke. Jangan sedih-sedih lagi ya. Kamu pasti kuat, doakan aku juga segera sembuh disini.
Dari sahabat baikmu
(Nata)
“Kiriman dari siapa Vega?” suara wanita memanggil dari dalam rumah. Anak perempuan berusia 12 tahun yang bernama Vega itu, tidak mendengarkan panggilan yang memanggil namanya. Ia masih sibuk dengan surat beramplopkan putih yang ada ditangannya.
Sebuah surat putih baru saja ia terima beberapa menit yang lalu dari tukang pos. Setelah melihat nama si pengirim, buru-buru dia membuka amplop itu dengan girang. Matanya terlalu fokus membaca surat dan perlahan seberkas senyum mulai muncul dari raut wajahnya. Tidak sadar, dia justru senyum-senyum sendiri sambil berdehem menyanyikan sebuah lagu.
“Vega” suara itu memanggil lagi dan kini lebih kuat. Terlihat sosok wanita dewasa yang kini berdiri di ambang pintu memperhatikan Vega yang tersenyum cengengesan sendiri.
“Iya, ma” sontak Vega memutar badan dan menoleh ke arah suara.
“Surat dari siapa?” tanya wanita itu penasaran.
“Ma, lihat deh! Nata kirim surat lagi. Tapi suratnya singkat banget ma.” Vega berlari menuju mamanya yang berdiri di dekat pintu.
“Yang bener? Uda lama banget temen pena kamu itu nggak kirim surat loh.”
“Nggak tau tuh ma. Nata kok hilang berbulan-bulan ya! Eh, tapi kabar terakhir katanya dia mau pindah rumah ma.” kata Vega. “Di surat ini dia tulis juga kok dia uda pindah ke rumah baru. Tapi dia nggak kasih tau kemana.”
“Coba mama lihat isi suratnya.”
“Ih jangan dong ma, isinya kan rahasia!”
Mama mendengus. “Yaelah anak gadis mama. Coba lihat dulu si Nata itu pindah kemana. Kan ada di amplopnya tu alamat barunya.”
“Ya ampun, saking senengnya Vega malah nggak lihat alamat suratnya. Cuma lihat nama pengirim aja.” Vega cekikikan. Dia melipat isi surat tadi kemudian melihat bagian belakang amplop. Vega mengernyitkan dahi saat membaca alamat di amplop itu.
“Ma, Ci-ca-go itu di provinsi mana ya?” Vega menunjukkan amplop surat Nata kepada Mama. Sontak mama Vega kaget dengan pertanyaan itu.
“Chicago?” tanya mama Vega serius seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Iya, Vega nggak ngerti baca alamatnya. Tapi ada tulisan Ci-cagonya ma.” Vega memberikan amplop tadi kepada mamanya.
Mama langsung mengambil alih amplop itu dan membacanya. Ia menghela nafas sejenak. “Temen kamu pindah ke Amerika. Chicago itu ada di Amerika kak.”
Vega takjub mendengarnya. “Wah, Amerika. Berarti jauh dong dari Bandung tempat tinggal Nata dulu. Hebat banget Nata, ma” kata Vega.
Mama Vega mengangguk tersenyum. “Yauda kamu pikirin aja balasan surat selanjutnya buat Nata. Tapi kok dia pindah kesana ya?” tanya Mama Vega penasaran.
Vega menggelengkan kepala, ia juga tidak tau alasannya. Ia bahkan lebih kaget karena setelah sekian lama akhirnya Nata membalas suratnya kembali. “Vega juga nggak tau ma, mungkin nanti bisa Vega tanyakan waktu nulis surat balasan.”
Mama Vega mencoba mengerti. “Atau kamu boleh kasih hadiah selamat untuk Nata karena dia uda pindah ke rumah baru.” kata Mama. “Nanti mama temeni beli di Toko”
“Serius ma. Makasi ya ma.” sahut Vega kegirangan. Vega masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan mamanya. Sepanjang jalan menuju ruang Tv mereka berbincang tentang kado apa yang cocok untuk diberikan kepada Nata.
Di luar rumah suara petir kian bergemuruh. Perlahan gerimis turun. Cuaca berubah menjadi dingin. Sudah bulan november ternyata. Saat itu Semarang sudah memasuki musim hujan.