Pagi-pagi sekali Arora sudah bersiap. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan secepatnya.
Alamat perusahaan yang katanya milik om nya Dhini pun sudah dikantongi. Tapi Arora tak mau hanya mengandalkan lowongan dari Dhini saja. Kebetulan saat pulang dari wisuda dia melihat pampangan lowongan di salah satu supermaket besar.
Dengan motor bebek keluaran entah tahun berapa Arora meluncur ke sana. Dengan langkah mantap Arora turun dari motor, berjalan menuju pintu masuk.
"Mau masukin lowongan kerja, toh?" sambut sang security sembari menarik sudut bibir setinggi-tingginya.
"Iya, Pak. Kalau gak salah kemaren saya lihat pampangan lowongan kerja di sini," sahut Arora, dengan suara pelan dan sopan.
"Kemaren sih, iya. Tapi sayangnya udah ada yang masuk," sahut security.
"Waduh. Emang gak ada lowongan lagi, ya, Pak? Padahal saya datangnya pagi banget lho," keluh Arora, matanya turun memandangi map di tangan.
"Kamu datangnya pagi, coba subuh, pasti di keterima," papar sang security. Membuat alis Arora hampir menyatu.
"Subuh gimana, Pak? Supermarket ini aja bukanya paling jam tujuhan."
"Ngelamar jadi istri saya, maksudnya, pasti langsung diterima, Dek!" Arora sampai bengong dengan kepercayaan diri security itu. Tawanya sampai pecah, terpingkal-pingkal.
"Idih, ogah! Saya udah punya calon CEO, tampannya salinan Jong Kook Lee min ho, bukan pemeran saos tomat!" Seruan Arora nyatanya semakin memecahkan tawa sang security.
"Titip salam saya, ya adek manis," timpal security dengan nada mencemooh.
"Udah lah, saya mau jalan lagi! Udah bener pergi ke perusahaan Dhini malah kemari," cerocos Arora, menyesali diri.
"Ya ya,... semangat kamu," pungkas security.
Namun baru hitungan deretan toko dilaluinya, insiden baru kembali muncul.
Woy! Maling!
Seorang laki-laki brewokan tampak berlari kelimpungan. Disusul beberapa laki-laki turut berlari, mengejarnya sembari berteriak lantang.
"Kemana maling itu larinya!" teriak salah satu dari mereka.
"Kurang ajar! Kalau ketemu ku benyek-benyek biar tahu rasa!"
"Pak, ke sana tadi larinya," tunjuk Arora, ke sebuah gang. Karena memang melihat saat pencuri panik lalu berbelok ke gang sempit.
"Owh, terima kasih, Dek!" seru mereka dan langsung mengejar ke arah yang disebut.
"Ada-ada aja rintangan hari ini..." Arora menghela nafasnya. "Masih ada lagi kah ini? Sambil melakukan roda duanya.
Tapi siapa sangka hari ini setiap ucapan Arora terkabulkan.
Cekiitt!!
Prank!
"Hei! Bisa bawa motor gak!"
Arora tersentak kaget. Baru menyadari roda depan motornya menyentuh keras body samping mewah sebuah mobil berwarna hitam silver.
Seorang pria keluar dari mobilnya. Membanting pintu, melangkah angkuh mendekati Arora. Sementara dari kaca depan mobil, dapat dilihat seorang wanita cantik terlihat enggan untuk turun.
"Heh, bisa gak tolongin gue duluan, ntar aja marah-marahnya? Gue jatuh, nih!" ketus Arora.
"Lo kalau mau bunuh diri jangan di mobil gue. Sengaja lo, ya?"
"Lo yang salah main gas aja!" lantang Arora. Tak terima. Memang mobil itu yang tiba-tiba muncul dari perempatan jalan sudah menginjak pedal gas saja.
Arora membuka kaca helmnya lebar-lebar agar lawan bicaranya bisa melihat bahwasannya dia juga tidak takut.
"Jalur utama bukan berarti boleh buta, ya! Lihat itu ada rambu hati-hati," balas Arora, telunjuknya mengarah ke papan kuning kusam di pojok jalan.
"Lo hampir bikin gue jatuh kalau telat ngerem sedetik aja. Jangan mentang-mentang bawa mobil mewah, jalanan jadi punya nenek moyang sendiri!"
Zayn tampak menarik alisnya. Besar juga nyali perempuan dihadapannya ini. Apa dia tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?
Orang-orang di sekitar perempatan tampak menoleh, beberapa mulai memperlambat kendaraan mereka untuk menonton drama pagi menuju siang hari itu.
"Lo gak takut gue tuntut perbaikan lecet mobil gue?" Zayn, menarik sebelah alisnya. Pingin tahu sebesar apa nyali gadis dihadapannya.
Mendengar kata perbaikan sontak otak Arora berbalik normal. Bukannya perbaikan sebuah mobil itu mahal, ya? Coating nya saja harus mengeluarkan lembaran merah begitu banyak. Uang dari mana!
Arora mendadak nyengir. Menggigit bibir dalamnya.
"Uang di kantong gue aja cuma tinggal seratus ribu. Mana cukup, njir! Nanti gue makan bayar pake apa?" batinnya.
"Kenapa? Mendadak mikir lo? Takut?" Zyan tertawa mengejek.
Di tengah ketegangan, wanita yang tadinya menunggu akhirnya turun dari mobil. Dia berjalan mendekati Zyan. Memeluk lengan pria itu.
"Udahlah Zay, uang dari mana dia? Lihat aja bentuknya kayak gini. Paling anak sekolahan," ujarnya sambil bergelayut manja. Matanya menatap sinis Arora.
"Lo apa-apaan sih, Dina! Nggak lihat banyak orang?" Sembari melepas dekapan tangan Dina di lengannya. Terlihat sekali laki-laki itu risih dengan sikapnya.
"Lha, emang kenapa, Zayn? Bentar lagi kita juga bakal nikah."
"Nikah apaan? Jangan sembarang!"
Arora tersenyum mengejek ketika keadaan malah berbalik. Sepasang kekasih tak konsisten itu malah bertengkar di depannya.
"Btw, apa kalian sepasang kekasih? Atau musuh yang keciduk satu mobil?" Arora bertanya sambil menahan tawa.
Zyan hanya melirik lewat sudut mata. "Buruan, gue antar lo pulang!" Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah lebar mendekat, masuk ke mobil.
"Sana mbak, pulang. Ntar gak dapat jatah pula," ujar Arora, dengan tawa yang hampir pecah.
Dina melirik Arora sinis. Menghentakkan kakinya ke tanah sebelum setelahnya kembali ke mobil.
Mobil hitam silver itu pun kembali melaju.
"Ahh sial banget hari ini. Perasaan ocehan gue kejadian mulu. Kalau gini mending gue doa, om Dhini naksir berat ke gue. Jadiin gue calon istri! Itu aja, cukup."
Setelah menempuh waktu 15 menit motor pun berhenti tepat di depan trotoar depan gedung pencakar langit itu.
Arora menatap takjub.
"Grup Abraham company lite. Namanya unik," gumam Arora. "Bodo ah, yang penting gue dapat pekerjaan."
Arora lanjut memakirkan motornya diparkiran. Seorang security berwajah tegas datang mendekat.
"Ada keperluan apa, Dek?" tanyanya, dengan suara tegas.
Mata Arora melirik name tag dibagian kanannya. Wawan. Untuk berjaga-jaga, tak ada salahnya. Kali ini Arora akan memviralkan andai terulang.
"Permisi pak, maksud kedatangan saya ke sini untuk memasukkan surat lamaran pekerjaan di perusahaan ini," ucap Arora, masih dengan nada. Bicara sopan.
"Hm, siapa nama kamu?" tanya security dengan nada datar.
"Saya Arora kalista, Pak. Mahasis--"
"Owh, nona Arora Kalista, ya? Kamu memang udah di tunggu. Ayo, saya antar menemui pimpinan."
Arora mengikuti langkah security menaiki lift menuju gedung paling atas. Beberapa karyawan tampak mulai sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Ting,
"Kamu tunggu sebentar, ya? Saya kasih tahu pak Zayn dulu." Arora mengangguk patuh.
"Maaf, Pak, nona Arora nya sudah sampai. Mau saya suruh masuk aja?"
"Iya, Pak. Suruh tunggu aja sebentar."
"Baik, Pak."
Security itu kembali keluar ruangan menemui Arora.
"Kamu sudah ditunggu. Langsung aja masuk," jelasnya.
"Terima kasih, Pak."
Arora menghela nafasnya sesaat. Matanya membaca tulisan CEO Angkasa Group Zayn Alexi Abraham berulang kali. Dengan langkah mantap Arora mulai mengetuk pintu, lalu masuk.
"Permisi, Pak. Saya_"
Detak jantung Arora detik itu juga serasa berhenti berdetak. Apa dia tidak salah lihat? Pria itu berdiri menjulang menyambut kehadirannya.
"Eh, ini bukannya cowok tadi, ya? Jadi dia pamannya Dhini? Kenapa harus dia, sih?" Arora bergumam dalam diam.
"Lo! Ngapain lo di sini? Mau bayar kerusakan mobil gue? Emang punya duit?" Zayn menarik sebelah alisnya. Sikapnya santai, walau kalimat yang dilontarkan terdengar nyelekit.
Arora mendengus rendah. Zayn menarik sudut bibirnya. Menelisik tubuh Arora. Cantik, sih.
"Jadi lo yang mau kerja di sini? Punya skill apa lo sampe berani ngelamar kerja di perusahaan gue?"
"Kata siapa gue mau ngelamar pekerjaan? Gue mau ngelamar jadi calon istri lo!"
Zyan mengernyitkan dahi. Cukup tertantang dengan keberanian Arora. "Serius?"
"Kenapa tidak?" balas Arora.
Zyan mengangguk pelan. Melangkahkan tungkai panjangnya lebih dekat. "Oke. Mari kita buktikan sekarang."
Mampus!