Bab 7. Club Pertama
"Kalau gini yang ada gue naksir dia duluan." Arora membatin, mulai resah sendiri. Ia menarik kursinya sedikit menjauh, berusaha menciptakan jarak aman dari tatapan Zayn yang mendadak terasa begitu mengintimidasi.
"Jauhan dikit, Pak," pinta Arora. Mencoba menjaga profesional nya. Namun_
Sreek...
Nyatanya Zayn tak tinggal diam. Dengan gerakan cepat dan tenang, ia menarik kembali kursi yang Arora duduki. Hingga kini, jarak mereka justru memangkas habis ruang privasi yang tadi sempat Arora coba bangun.
Heg,
"Ngapain sih, lo? Pinggiran dikit, gak?" Dan kali ini, Arora harus kembali ke setelan awal.
"Atau?"
Arora melotot. Walau wajah di depannya itu sangat sangat tampan. Tepat saat Zayn mencondongkan tubuhnya semakin lebih dekat. menopang dagu dengan sebelah tangannya, sementara matanya masih mengunci manik mata Arora. Di situlah Arora menarik tubuhnya sedikit ke belakang.
"Mending lo kerjain yang lain, deh. Kalau gini gak bakalan kelar tugas yang lo kasih," peringat Arora. Fokusnya selalu terganggu dengan kelakuan Zayn yang memang sengaja dilakukannya.
"Ya udah, gak masalah," sahut Zayn, ringan. Seringan nafas yang menghembus dari dua lubang hidung mancungnya. Dan jangan lupakan ada seringai tipis yang menari di sudut bibirnya— jenis senyum yang tahu persis efeknya pada lawan bicara.
Arora menghela nafasnya. "Dasar keras kepala. Tukang maksa, maunya harus dituruti," omel Arora. Untuk mengalihkan detak jantungnya yang semakin tak beraturan, Arora meraih plastik gorengan yang Samuel bawakan. Memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, sambil menyimak berkas-berkas yang ia kerjakan.
"Gorengan gak baik untuk tubuh." Zayn merampas sisa gorengan di tangan Arora.
"Salahin teman lo yang bawa."
"Nanti gue tegur."
Arora menggelengkan kepala, sambil menerima sapu tangan yang disodorkan Zayn. Terserah.
"Lo mau bonus apa nanti?" Alih-alih mendengar keluhan Arora, Zayn malah membahas obrolan tadi. Suaranya cukup pelan dan rendah untuk membuat bulu kuduk Arora meremang.
Arora memutar bola matanya. Berusaha untuk tak acuh, meski detak jantungnya sebenarnya mulai berkhianat. Ia mendorong bahu Zayn menjauh dengan ujung jemarinya, berusaha menjaga gengsinya setinggi langit.
"Is, modus lo kelihatan banget."
"Gue gak modus, tadi lo sendiri yang minta bonus."
Arora menarik pulpen dari kertas di atas meja, membawanya menyentuh keningnya. Sudut bibir Arora mencebik dengan gestur sedang memikirkan sesuatu.
"Gue minta separoh dari aset lo, bisa?" tanya Arora.
"Oke, gue bakal penuhi. Cuma itu yang lo mau?"
Arora menatap mata hitam milik Zayn. Sebenarnya ini cowo maunya apa sih, gila kali ya, ngasih harta segitu mudahnya.
"Gue tarik ucapan gue. Semuanya, deh."
"Kenapa tidak? Asal lo gak lirik jatah bokap nyokap dan keluarga gue yang lainnya, aman lah." Sudut bibir Zayn tetap pada tarikannya. Begitu manis, dan juga, ya-- sedikit gila.
Arora menggigit bibir dalamnya. Tatapan Zayn begitu intens menembus bola matanya. Getaran halus tentu Arora rasakan. Apa yang dipikirkan pria ini untuknya.
"Woy! Udah mau jam dua belas ini. Nggak lapar kalian, apa!" Samuel berteriak lantang, sambil menggedor kuat daun pintu.
Duk, Duk, Duk!
Arora melirik sekilas ke pintu, mencoba mengabaikan kebisingan yang merusak suasana itu, lalu kembali menatap Zayn dengan tatapan menuntut.
"Niat banget lo ya, ngerjain orang?" tanya Arora, suaranya rendah namun tajam.
Zayn mendengus pelan, menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Udah gue usir pulang, masih aja di sini," decak Zayn sambil melirik pintu dengan sapaan batin yang penuh makian untuk sahabatnya itu.
"Oke. Untuk hari ini training lo udah cukup." Zayn berdiri tegak.
"Maksudnya training gue selesai?" Arora mengembangkan senyumnya. "Eh tapi bonus gue?"
"Aman. Bonus awal ntar malam gue traktir makan."
"Asiik! Serius ini, kan? Eh, tapi gue bawa teman ya? Dhini wajib ada, nih!" seru Arora.
Zayn menarik sebelah alisnya. Merasa lucu dengan nama Arora sebut. "Bonusnya cuma untuk lo, no yang lain."
"Nggak apa lah, gue bawa teman. Nanti gue yang bayar punya Dhini."
"Hanya lo, atau tidak sama sekali." Zayn bersikukuh menolak kehadiran selain Arora.
Tapi tunggu dulu. Mengapa juga Arora harus mengikuti kemauan Zayn, menentukan siapa yang ikut dan tidak. Pikiran Arora berputar cepat.
"Zayn, kenapa gak lo bawa aja Samuel bareng kita? Pas, 'kan?" Seketika ide terbit di benak Arora. Tapi sekali lagi, Zayn menolak dengan gerakan jarinya.
Zayn keluar dari ruangan dengan Samuel masih berdiri di samping pintu.
"Gimana, udah lo tembak?"
**
Arora menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur kecil miliknya. Dia sudah di kosan sekarang. Hanya setengah hari. Ya,- anggaplah Zayn mengerjai hari weekend pertamanya bekerja.
"Kira-kira kemana dia mau bawa gue, ya?" gumam Arora. Pikirannya melayang berputar saat berada di kantor tadi.
"Tapi kalau dipikir-pikir Zayn tampan sih. Masa masih jomblo, ya? Trus perempuan itu siapa? Shandra?" Lelah dengan pemikirannya, Arora memutuskan untuk beristirahat.
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Sinar jingga berganti bersama kerlipan bintang di atas langit terang.
"Udah jam segini Zayn belum juga datang. Apa gak jadi, ya?" Berulang kali Arora mengintip dari balik jendela.
Tiba-tiba ponselnya berdering panjang. Tak ada nama hanya nomer yang tertera. Arora meraih ponsel dan menerimanya.
"Gue udah di depan. Buruan keluar, sebelum gue disambar bunga lainnya."
Bip,
Baru saja Arora akan bersuara, sambungan itu sudah terputus.
"Main dimatikan aja," omel Arora.
Menyambar tas di atas tempat tidur, Arora gegas keluar untuk menemui Zayn yang katanya sudah di depan.
Sesampainya di hadapan Zayn, pria itu langsung membuka pintu mobil. Tanpa mengatakan apapun.
"Masuk."
Arora patuh. Setelahnya Zain turut masuk, duduk di kemudi. Mobil melaju ke tempat Zayn inginkan.
Arora mengikuti langkah Zayn memasuki ruang terang bersih restoran.
"Coba gue bawa Dhini, pasti seru." Zain meliriknya.
"Kebiasaan takut jalan sendiri."
"Enak aja! Kata siapa?" sangkal Arora. Sambil terus mengikuti langkah Zayn naik ke ruangan VIP.
"Barusan lo yang bilang."
Arora membolakkan mata jengah. Oke, lo belum tahu siapa gue.
"Bener, 'kan?" Sekali lagi Zayn menyindir.
"Gue gak takut."
"Berarti malam ini lo temani kemana gue pergi."
Selesai menyantap makan malam dan berbincang sebentar, Zayn memanggil pelayan.
"Bayar pake ini."
"Baik, Pak." Pelayan berlalu dengan membawa kartu hitam yang Zayn sodorkan.
"Temani gue ketemu teman."
Heg,
"Nggak salah? Bukannya lo berani ya, pergi sendiri?"
"Emang lo mau pulang sendiri?"
Arora tertawa remeh. Jam sudah menunjukkan pukul 22. Malam, yang menandakan kendaraan tak lagi ada menuju kosannya. Kalaupun ada, tempat itu sepi.
"Oke, gue temani. Mau kemana lagi, sih?"
"Udah, ikut aja."
Perjalanan beberapa menit itu sampai di depan sebuah club malam.
"Udah pernah kemari?" tanya Zayn.
"Belum," sahut Arora.
"Oo... belum jauh permainan lo."