Semua orang pasti memiliki kesalahan masing-masing. Tidak terkecuali diriku. Akan tetapi kesalahanku ini mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan... oleh sebagian orang.
Di petang hari itu aku keluar dari kantor polisi dengan menggemblok sebuah tas. Aku menghirup udara kuat-kuat.
Rasanya sangat menyenangkan dan menyejukkan menghirup udara bebas, jika kalian tahu, ini adalah hari pertamaku keluar dari penjara.
Namaku adalah Dianita dan aku adalah mantan seorang napi. 10 tahun aku mendekam di penjara dan kini aku resmi bebas dari sel.
"Rumah... aku akan pulang." batinku tersenyum merekah menatap langit biru. Ada rasa kangen tersendiri jauh didalam lubuk hatiku terdalam. Aku rindu rumah, aku rindu Mayang, Destra dan ibu serta ayahku.
Aku sangat berharap mereka masih menungguku saat ini, setelah sekian lama aku berada di penjara.
Tak lama setelahnya aku pun sampai didepan rumahku yang tampak sederhana dan juga tidak terlalu besar namun agak aneh ketika kulihat rumahnya penuh debu dan sampah plastik atau dedaunan berserakan.
Ibu dan ayahku kemana ya? Biasanya kan mereka paling rajin menyapu? Dan tidak pernah membiarkan sedikitpun debu tersisa di sekitar rumah.
Aku mendengar ada sayup suara di belakang sana, ternyata setelah kutoleh mereka adalah para tetangga yang sedang asyik bergosip sambil memamerkan wajah culas ke arahku.
"Udah keluar dia."
"Iya Bu, duh ngeri ya perbuatannya dulu. Sampai bisa menghilangkan nyawa."
"Sekarang berhijab toh dia."
"Udah insyaf kali."
"Kasihan anaknya ya ditelantarin gitu aja."
"Iya, kakek neneknya juga udah.. eh diliatin."
Aku mengernyit ke arah mereka, yang dilihat pun langsung melengos tembok atau tertunduk. Bahkan beberapa darinya ada yang pergi pamit.
Aku mencoba untuk tidak perduli dengan hal itu lalu kembali berjalan mendekati arah pintu yang tertutup itu.
Pintu diketuk tiga kali, namun tidak ada suara apapun yang bisa kudengar. Aku kembali mengetuk pintunya dengan ditambah suara memanggil.
"May.. May.. kamu didalam kan May?" tanyaku berulang kali. Namun tidak ada satupun suara merespon dari dalam. Aku kembali mengeraskan suaraku dan diiringi dengan suara ketukan pintu juga.
Hingga pada akhirnya pintu pun terbuka. Mayang dengan wajah kusut, sayu seperti baru bangun tidur dan rambut acak-acakan pun membuat kedua mataku melebar sesaat. Diakah anak manisku yang dulu?!
"Siapa sih?!" hardiknya seperti masih setengah sadar.
"M-mayang? Kamu kok bau minuman sih?!" tanyaku heran. Aku mengintip ke dalam rumah dari celah pintu ternyata disana juga ada Destra, anak perempuan keduaku yang sedang tertidur dengan bertemankan puntung rokok dan botol minuman keras di sekitarnya.
"Astagfirulloh! Kalian mabuk sama ngerokok?!" tanyaku tidak percaya.
"Lo siapa sih?! Pagi-pagi udah ganggu tidur orang aja." tanya Mayang balik kesal.
"Ini Ibu Nak. Ini Ibu, kenapa kamu kayak gini Nak?" tanyaku tidak percaya.
Mayang tertawa sinis. "Ibu?! Emang Ibu masih hidup?! IBU KAN UDAH LAMA MATI!"
Aku tersontak, dadaku seperti dihujam ribuan tombak. Air mataku berlinang tanpa sadar. Dari mana dia belajar jadi kasar seperti ini? Kenapa anakku jadi seperti ini ya Allah... kenapa dia tega mengatakan hal itu kepada ibu kandungnya sendiri?
Padahal tiap malam aku selalu mendoakannya, keselamatannya dan senantiasa diberi perlindungan olehNya. Mayangku sayang, dia anak yang lugu dan penurut dulu... kenapa dia jadi seperti ini ya Allah..
Aku menangis, tanganku coba meraih wajah anak pertamaku itu, mencoba untuk membelainya namun anak gadisku itu langsung menepisnya. Seakan ia memang tak butuh semua itu.
"APAAN SIH! PERGI LO SONO, KE KUBURAN LAGI!" pekiknya
Aku menangis terisak. Kenapa begini ya Allah... apakah salahku ini memang tidak bisa dimaafkan?
Kenapa rasanya sakit sekali? Aku merindukan mereka, aku menyayangi mereka, aku selalu mengulang nama mereka didalam doaku. Aku selalu ingin memeluk mereka.
Tapi kenapa...
"Apa yang menyebabkan kamu berubah seperti ini, Nak? Apa kamu lupa kalau Ibu adalah wanita yang pernah mengandungmu?" tanyaku pilu.
"Berubah? Memangnya siapa yang menyebabkan gue kayak gini! SIAPA YANG JADI BIANG MASALAH DI KELUARGA INI! YA ITU ELO NGERTI GAK SI!"
Aku semakin terisak, lagi dan lagi dadaku seperti dihujam oleh perkataan menyakitkannya. Kenapa dia jadi berubah tidak sopan seperti ini padaku?
"UDAH MATI YA MATI AJA!" ucapnya langsung menutup pintu kencang dan menguncinya.
Meninggalkanku yang tak kuat lagi menopang tubuhku, aku terduduk di depan pintu itu dengan guyuran air mata yang tak sama sekali dapat kuhentikan.
Ya Allah... apakah ini akibat dari kesalahan yang kulakukan dulu? Aku merasa sangat sakit... aku kira kesalahanku dulu mungkin bisa dimaafkan... ternyata bagi sebagian orang kesalahanku ini tidak benar-benar bisa dimaafkan...
Aku tidak memiliki rumah untuk pulang... aku... tidak memiliki tempat lagi untuk menetap...
Tidak ada yang bisa menerimaku lagi. Rumahku yang disana ada kedua anakku, ibu serta ayah sudah tertutup pintunya. Aku tidak memiliki tempat untuk kemanapun.