PASCA menuruni berundak-undak tangga, langkah kedua makhluk itu berakhir di sebuah mulut gua. Candice kontan mengangkat sebelah alis, mencari-cari bagian mana yang mirip dengan ruang bawah tanah selain letaknya berada di bawah permukaan. Lantaran ia terlampau malas untuk bertanya dan mengakhiri senyap, gadis itu segera mengabaikan keingintahuan tentang perkara tidak penting tersebut dengan memusatkan perhatian ke depan.
Candice menunduk saat tungkainya tidak sengaja menginjak kubangan air. Lalu, jatuh setetes air yang lain dari atas gua. Keberadaan stalaktit langsung menguasai atensi gadis itu secepat kilat begitu ia mendongak ke langit-langit permukaan. Runcing batangan kapur itu menimbulkan jejak kengerian sejenak dari dalam diri Candice. Mana tahu akan jatuh, kemudian menimpa dan menusuk tubuh mungilnya itu.
Tanpa berlama-lama, Candice lantas mengutuk otaknya sendiri. Amit-amit. Mengapa pula ia harus paranoia?
Usai memastikan cara berpikirnya sudah mulai terkendali, Candice menilik ke balik pundak Trisella di balik kepekatan atmosfer gua. Ia bisa melihat sebuah pintu papan dengan lebar mengikuti ukuran gua jauh di depan sana. Satu buah papan kayu dibiarkan terletak dalam posisi horizontal. Umumnya, kayu tersebut menjadi properti dalam hal membuka dan menutup pintu. Jika diangkat, maka pintu dapat dibuka—dan akan terkunci apabila kayu diletakkan ke posisi semula.
Saat mereka telah berkisar beberapa meter dari pintu, Candice berhenti sesaat, sedangkan Trisella beringsut maju. Kapten Klan Baja itu membenarkan gelungan atribut lengannya sebentar, kemudian mengangkat kayu horizontal itu dengan begitu mudah. Pintu mulai terdorong ke dalam, beriringan dengan suara derit mengisi kesenyapan gorong-gorong.
Spektrum yang terdiri atas berbagai variasi warna mulai terdeteksi di indra penglihat Candice kala itu juga. Semakin tereksposnya bagian dalam, semakin terang juga intensitas spektrumnya.
Candice memicingkan netra selagi mengikuti Trisella menjamah bagian dalam. Bukan lagi sebuah gua, mereka kini berakhir di sebuah ruangan satu petak dengan kapasitas cukup besar untuk menampung sebuah tabung kaca di titik tengah ruang. Tirai hitam menjadi penghalang bagi visual Candice untuk dapat melihat ke baliknya dengan jelas. Niscaya ada sesuatu di sana—meninjau dari bagaimana spektrum mengintip dari celah-celah tirai, namun cukup terang untuk menumpahi ruangan dengan cahaya eloknya.
Sekilas, ruangan yang tertata dengan apik ini tampak begitu selaras dengan ruangan pada umumnya. Candice bahkan perlu mempertanyakan kewarasan gadis itu sendiri. Bisa jadi, ia sempat berhalusinasi mengenai aksesibilitas ruangan ini berwujud sebuah gua. Namun, lamunan Candice langsung terpecah saat Trisella menyingkap tirai hitam dengan kedua tangan. Eksistensi sebuah pedang lekas menguasai atensi Candice dalam waktu singkat.
“Pedang Spektrum Legendaris.”
Candice mengejapkan netranya begitu mendengar penuturan dari Trisella. Ia beringsut maju agar dapat bersisian dengan si Kapten Klan Baja. Netra hijau Candice tidak kunjung lepas dari pedang tersebut. Ia terus mengintai dan memperhatikan detail dari benda itu sebaik mungkin. Jika pedang Sapphire Galaxy berlapiskan es, pedang yang dinamakan Spektrum Legendaris itu berbeda. Pusaka itu berlapiskan aluminium—dan ternyata, spektrum tadi bersumber dari sana.
Candice segera melirik Trisella. “Mengapa kau menunjukkan ini kepadaku?”
“Sejujurnya, aku tidak ingin mengandalkan makhluk asing sepertimu.” Trisella menghela napas. “Namun, aku mendengar dari kawan-kawanmu bahwa kau merupakan Sang Terpilih—Pemilik Kekuatan Tertinggi.”
“Kau berlebihan,” dengkus Candice. “Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan dengan pedang ini?”
“Satu hal yang harus kautahu tentang Klan Baja.” Trisella mengangkat salah satu sudut bibir, membentuk seulas senyum miring. “Kami murtad, Candice. Dan kami ingin kau menusukkan pedang itu ke buah jantung Cerberus, si Dewa Keagungan.”
*
Trisella melipat kedua tangan dan menatap lurus Pedang Spektrum Legendaris di depan sana. “Mungkin kau pernah mendengar tentang Purnama Hitam.” Kilat netranya penuh dengan pancaran refleksi spektrum. “Atau sukma kegelapan—yang sempat menyerangmu tempo lalu.”
Candice mengangguk kecil, menunggu si Kapten Klan Baja kembali meneruskan.
“Klan Baja meyakini bahwa semua itu merupakan hasil dari keotoriteran Dewa Cerberus. Ia benar-benar menginginkan kehancuran.” Ada nada kegetiran di balik kalimat si Kapten Klan Baja. “Setiap Purnama Hitam berlangsung, kebangkitan sukma kegelapan yang mengacaukan Incubus Sphere niscaya menimbulkan energi pekat. Energi pekat ini akan membuat kekuatan Dewa Cerberus meningkat. Dari waktu ke waktu, situasi selama Purnama Hitam semakin memprihatinkan.”
Gadis itu akhirnya berbicara, “Semua penghuni Incubus Sphere mengetahui perkara ini?”
“Tidak.” Decak lolos dari bibir Trisella. “Para demontus menjadikan Purnama Hitam sebagai hari untuk berhibernasi—atau dengan menghabiskan waktu di kelab. Mereka membiasakan untuk mengurung diri sepanjang Purnama Hitam. Sedangkan nekrotous? Efek dari Purnama Hitam mendoktrinkan perilaku mereka secara bertahap. Mereka akan terdorong untuk mulai membangkang, menjelajahi Incubus Sphere, dan dari sana lah sukma kegelapan akan melancarkan aksi mereka.”
“Dari mana kalian mengetahui semua ini?”
“Sederhana saja. Kami berpatroli dengan penuh hati-hati.”
Candice menghela napas. “Baiklah. Jadi, kau ingin aku menusukkan Pedang Spektrum Legendaris ke buah jantung Cerberus?” tanyanya, memastikan.
“Benar. Namun, tidak semudah itu, Candice.” Trisella membenarkan kucir kuda surai oranye miliknya sejenak. “Pedang di depan kita saat ini bukan Pedang Spektrum Legendaris yang asli, melainkan artifisial dalam wujud hologram. Yang asli terdapat di Lembah Esterilda—terletak di dalam sebuah peti. Dan kau harus memiliki kuncinya.”
“Kunci?”
“Aku menunggu kehadiranmu esok hari. Kita akan menyusun strategi.”
Jemari Candice tertahan di udara. Ia mengejapkan netranya beberapa kali. Lamunan gadis itu sukses terpecah begitu suara sibak selubung tenda medis tertangkap di indra pendengarnya. Candice lekas menurunkan tangan dan meletakkannya di atas perut selagi ia menengok ke arah sumber suara. Netra hijaunya kontan memelotot dengan penuh antusias.
“Shane!”
“Untunglah, kau belum tidur.” Shane menerobos masuk ke dalam tenda, lalu membanting b****g ke permukaan matras. “Aku tidak bisa tidur. Dengkuran Tessa sangat mengganggu!”
Candice sebenarnya tergiur untuk melontarkan tawa. Namun, seringai ternyata sudah lebih dulu terbit pada bibir ranum gadis itu. Lantas saja ia berkata dengan puas, “Kau paling bisa membuatku terhibur, Declan.”
“Kebetulan selera humor kau agak rendahan, Emrys.” Netra biru Shane berotasi, baru memindai sekeliling tenda medis. Hening merebak sejenak. Shane iseng mencubit permukaan matras selagi ia kembali meneruskan, “Kapan kau akan pindah? Tidak mungkin bila kau berada di tenda medis terus-terusan.”
“Memang.” Candice bergeming. “Aku hanya sementara waktu di sini, Shane.”
“Ada apa denganmu?” Pandangan Shane lantas tertuju kepada kawannya satu itu. Alis si gadis pirang saling bertaut. Lipatan mulai terbit di permukaan keningnya. “Jawabanmu mungkin kedengaran normal bagi makhluk lain—namun, bagi indra pendengarku sama sekali tidak, Candice.”
“Apa maksudmu?” Tawa terselubung lolos dari bibir Candice.
“Kau seakan-akan berkata bahwa kau tidak akan lagi berada di sini.”
“Memang kau ingin terus-terusan terdampar di alam ini?” Satu alis Candice terangkat. Ia berpura-pura untuk tidak mengerti arah pembicaraan lawan bicaranya.
“Bukan begitu maksud—”
“Aku berjanji akan mengirim kalian kembali.”
“Dengan cara apa?” Shane menimpal cepat dengan suara lirih. Tulang hidungnya tampak lebih merah, sedangkan rongga indra penciumnya mulai kempas-kempis. Candice sempat dibuat heran dengan perubahan suasana hati Shane yang tergolong emosional tersebut, namun ia langsung paham saat kawannya meneruskan, “Bertelut di hadapan pemimpin berengsek itu—agar ia bersedia mengembalikan kita ke EveFalls Sky?”
“Jangan berlagak seolah-olah kau berhasil membenci Ben dengan hanya memberikan sebutan pemimpin berengsek untuk pemuda itu.” Candice terkekeh-kekeh. Ia harap dengan itu akan dapat mencairkan suasana tidak mengenakkan di antara mereka. “Nadamu tidak selaras dengan lidahmu, tahu.”
“Sialan,” umpat si gadis pirang. Tidak ingin larut dengan kebimbangannya, Shane lekas mengusap tampuk netra dan kembali mengulas senyum cerah identiknya. “Kautahu, sudah lama kita tidak berbincang empat mata seperti saat ini.”
“Benarkah?” Candice kebingungan, bisa jadi ia terlalu banyak pikiran sampai-sampai hampir tidak memiliki waktu dengan kawan terdekatnya itu.
“Yah, kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan Tristan.”
Candice tergelak. Sarat jahil langsung tampak di dalam netra hijaunya begitu ia menatap lurus si gadis pirang. “Dan kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakakku dan pemuda bersurai merah temuanmu itu,” kelakarnya.
Shane berpura-pura meludah saat kata temuan merebak di indra pendengarnya. Ia hendak memprotes, namun urung ketika sesuatu terlintas di benaknya. Dengan arogansi penuh, Shane tersenyum miring sembari menunjuk Candice dan berkata, “Karena kawan bicaraku satu-satunya hanya kau—dan kau malah selalu asyik b******u dengan si pemuda dua darah.”
“Sungguh, Declan?” Candice memelototi Shane sesaat untuk menutup kegugupannya. “Tuduhan macam apa itu?”
“Nah, sekarang kita seimbang, Emrys.” Ia langsung merebah di atas matras, melipatkan kedua tangan di belakang kepala. Arogansi yang sempat terpancar di netranya sudah raib. Ada pikiran yang cukup mengusik benaknya. “Arthur juga tidak dapat kuandalkan. Jika sedang bersamaku, ia lebih banyak diam. Ck, sialan.”
“Kau membenci Arthur?”
Pertanyaan Candice membuat Shane hampir tersedak liur. Ia buru-buru memosisikan diri menjadi duduk dengan kedua pipi bersemu merah. “Tentu saja tidak! Aku menyayanginya, sungguh!” sanggahnya, cepat.
“Begitu juga dengan Arthur.” Bibir Candice mengulaskan senyum sangat tipis. “Hubungan kau dengan kakakmu sudah jauh membaik dari masa-masa itu, Shane. Kalian hanya perlu sedikit keterbukaan—berbincang santai seperti kita saat ini. Sudah, hal sesederhana itu dapat memperbaiki ikatan persaudaraan kalian.”
Candice teringat kembali saat-saat di mana ia dan Rhett bertengkar—bukan hanya satu, alih-alih belasan kali telak mereka mengalami sengketa. Kendati mereka berbeda darah, ikatan persaudaraan mereka tidak pernah terputus. Jika ia dan Rhett saja bisa, Candice yakin Shane dan Arthur niscaya memiliki ikatan kuat, melebihinya dan kakak beda darahnya satu itu.
“Di mana Candice si bermulut sarkasme andalan Nightfall? Mengapa yang kutemukan hanya Candice si bocah bijak?”
Yang ditanya segera menunduk semata-mata memelototi netra biru kawannya itu. “k*****t, Shane. Kau paling bisa merusak suasana!” protes Candice.
Shane tergelak, ironisnya tawa gadis itu langsung menular kepada lawan bicaranya. Candice memutuskan untuk melupakan sejenak berbagai pikiran yang sempat berkelibangan di dalam benaknya. Gadis itu bersyukur bahwa ia masih bisa tertawa malam ini—yah, terima kasih untuk kawan terdekatnya satu itu. Secara, untuk hari-hari berikutnya, bisa jadi Candice tidak akan bisa merasakan ini lagi.
Karena sebentar lagi, ia akan memulai langkah berikutnya.[]