GELEGAK jantungnya merisaukan, mendesak pemuda bersurai biru tua itu mondar-mandir tanpa jeda. Netra Graham, pemuda yang tengah risau tersebut, memandang nyalang ke tiap siluet pepohonan yang tersusun mengitari tempat istirahat mereka. Benaknya tidak bisa diam, sama seperti langkah, pandangan, dan gerak anggota tubuh pemuda itu.
Sampai akhirnya, ia mencak-mencak sendiri. Arthur dan Aiden saling melirik satu sama lain begitu Graham berhenti mondar-mandir, datang menghampiri semata-mata memungut satu buah ranting di dekat mereka. Pandangan kedua pemuda itu mengikuti setiap gelagat Graham, menerka apa yang sedang ia coba lakukan. Meninjau dari bagaimana Graham mulai memunggungi Arthur dan Aiden, kemudian menujukan tatapan lurus ke pekatnya hutan kabut, sebuah hipotesis langsung tebe