26 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Ada hari-hari dalam hidup yang tampak biasa saat dimulai, dan berakhir sebagai hari yang akan diceritakan berulang-ulang selama bertahun-tahun. Hari Kamis itu adalah salah satunya, dan tokoh utamanya bukan aku—tokoh utamanya adalah Ratih.
Semuanya dimulai dengan email dari sekretaris Pak Bos: "Dengan hormat, Bapak mengundang Ibu Ratih makan malam untuk membahas jaringan vendor alternatif yang sangat membantu perusahaan pada krisis kemarin. Jam tujuh malam. Tempat menyusul."
Ratih membaca email itu tujuh kali. Aku menghitungnya. Kemudian ia menatapku dengan ekspresi orang yang baru menang lotere dan tidak yakin apakah tiketnya asli.
"Ini jebakan," ucapnya.
"Ini makan malam membahas vendor, Rat. Yang menyelamatkan kantor kemarin itu kan kontak-kontakmu."
"Tidak ada bos yang mengajak makan malam untuk membahas vendor," jawabnya dengan keyakinan seorang pakar. "Vendor itu dibahas di ruang meeting, dengan notulen, dengan kue kering yang keras. Makan malam jam tujuh malam dengan 'tempat menyusul' itu bukan tentang vendor, Lovi. Itu tentang—" ia berhenti, menelan ludah, "—itu tentang aku, dan aku belum siap, aku belum pernah sesiap apa pun dalam hidupku, tapi untuk yang satu ini aku bahkan belum siap untuk merasa belum siap."
Aku menatap sahabatku ini—perempuan yang selama ini menghafal jadwal Pak Bos seperti menghafal jadwal kereta, yang menghitung jeda sebelum namanya disebut—dan sekarang, ketika momen yang ia kejar-kejar itu benar-benar datang, ia berdiri di depanku dengan wajah pucat seperti mau ujian negara.
"Kau yang mengejarnya selama ini," kataku. "Sekarang dia datang. Mau kabur ke mana?"
"Ke toilet. Selamanya."
"Tidak bisa. Toilet perempuan tutup jam enam." Aku menariknya duduk. "Dengar. Pak Bos itu duda tiga tahun. Tiga tahun, Rat. Orang yang kehilangan pasangan itu tidak mengundang orang makan malam sembarangan. Kalau dia mengundangmu, berarti ada sesuatu tentangmu yang membuatnya berani keluar dari guanya. Tugasmu cuma satu: jangan pura-pura jadi orang lain. Dia mengundang Ratih yang menyelamatkan kantor dengan tiga ponsel. Datang sebagai Ratih itu."
Ratih menatapku lama, dan perlahan—sangat perlahan—wajahnya berubah dari pucat menjadi sesuatu yang menyerupai tekad. "Kau benar. Aku Ratih. Aku menyelamatkan kantor dengan tiga ponsel. Kalau dia tidak suka aku apa adanya, dia tidak pantas mendapatkan daftar kontakku."
"Semangat itu," jawabku. "Agak salah arah, tapi semangat itu."
Siangnya, Ratih menyeretku ke mal saat jam makan siang dengan misi yang ia beri nama sandi "Operasi Pakaian Pantas". Kami berkeliling tiga toko dalam empat puluh menit, dan Ratih mencoba sembilan baju dengan tingkat kepanikan yang meningkat di setiap bajunya. Yang satu "terlalu niat". Yang lain "tidak cukup niat". Yang ketiga "terlalu seperti mau melamar kerja". Yang keempat "terlalu seperti mau dilamar".
"Ratih. Ini makan malam membahas vendor. Bukan pemilihan puteri Indonesia."
"Semua yang kaukatakan itu tidak membantu, Lovi."
Akhirnya ia memilih blus sederhana berwarna biru tua—pilihan yang benar, karena blus itu membuatnya terlihat seperti Ratih versi paling tenang, bukan versi yang sedang berusaha. Saat membayar di kasir, ia menatap blus itu di kantong belanja seperti menatap seragam perang.
"Kau tahu apa yang paling aneh?" ucapnya di perjalanan kembali ke kantor. "Selama ini aku pikir aku suka dia karena dia bos yang keren, galak, misterius. Tapi kemarin, waktu dia berterima kasih atas kontak-kontak itu—dia menatap mataku. Langsung. Dan aku lupa semua kalimat yang sudah kusiapkan. Sembilan tahun sekolah bahasa, lenyap, gara-gara satu tatapan."
"Sembilan tahun sekolah bahasa?"
"Aku melebih-lebihkan untuk efek dramatis. Tapi tatapannya nyata, Lovi. Itu yang menakutkan."
Jam setengah tujuh sore, aku menemani Ratih menunggu di lobi kantor sampai mobil jemputan dari Pak Bos datang—karena tentu saja Pak Bos mengirim jemputan, dan tentu saja itu membuat kepanikan Ratih naik satu tingkat lagi. Sebelum masuk ke mobil itu ia berbalik dan berkata, "Kalau jam sepuluh aku tidak mengabarimu, berarti aku mati kaku di meja makan dan tolong jadikan itu alasan resmi ketidakhadiranku besok."
"Kau tidak akan mati kaku. Kau Ratih. Penyelamat kantor dengan tiga ponsel."
"Penyelamat kantor dengan tiga ponsel," ulangnya seperti mantra, lalu berjalan ke pintu mobil dengan langkah orang yang menuju medan tempur—langkah yang, harus kuakui, tetap anggun meskipun lututnya pasti gemetar.
Makan malam itu terjadi tanpa bisa kusaksikan langsung, yang menyiksaku sampai ke tulang. Aku mendapat laporannya jam sebelas malam, lewat telepon, dari Ratih yang suaranya berubah menjadi suara orang yang baru kembali dari planet lain.
"Lovi. Lovi, kau tidak akan percaya."
"Cepat ceritakan sebelum aku mati penasaran."
"Kita memang membahas vendor. Sepuluh menit pertama. Tapi kemudian—" suaranya turun menjadi bisikan dramatis, "—kemudian dia bertanya kenapa aku punya kontak sebanyak itu. Dan aku, dalam keadaan panik, mengatakan yang sebenarnya: bahwa aku suka berteman dengan siapa saja, sopir, tukang fotokopi, pemilik warung, siapa pun, karena menurutku semua orang menyimpan satu cerita yang tidak dimiliki orang lain. Dan kau tahu apa yang terjadi, Lovi?"
"Apa?"
"Dia tertawa. Pak Bos. Tertawa. Bukan senyum sopan, bukan anggukan bos—tertawa lepas, sampai bahunya bergoyang, sampai pelayan menoleh. Dan kemudian dia bilang—aku masih gemetar mengingatnya—dia bilang istrinya dulu juga begitu. Berteman dengan semua orang. Mengumpulkan cerita orang-orang seperti orang lain mengumpulkan perangko. Dan dia bilang sudah tiga tahun dia tidak menceritakan istrinya kepada siapa pun, karena semua orang di kantor terlalu takut kepadanya untuk mengobrol seperti manusia."
Aku diam di ujung telepon, dan di keheningan itu aku memikirkan Pak Bos—bos kami yang galak, yang menyemprot orang di presentasi, yang tangan kanannya memberi dan tangan kirinya mencatat—duduk di sebuah restoran, tertawa sampai bahunya bergoyang untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
"Ratih," kataku pelan. "Kau tidak sedang mengejar dia lagi."
"Maksudmu?"
"Maksudku, orang tidak mengejar sesuatu yang sudah mulai berjalan ke arahnya."
Hening di seberang sana. Lama sekali. Kemudian suara Ratih, kecil, hampir tidak terdengar, suara Ratih yang tidak pernah kudengar sebelumnya—Ratih tanpa leluconnya, tanpa perisainya: "Aku takut, Lovi. Selama ini dia cuma fantasi. Fantasi itu aman, tidak bisa menolakmu. Tapi orang sungguhan bisa. Dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk yang sungguhan."
"Kau baru saja membuat duda tiga tahun tertawa sampai bahunya bergoyang," jawabku. "Menurutku kau lebih kuat dari yang kaukira. Dan untuk urusan takut—" aku berhenti sebentar, memikirkan delapan tahunku sendiri, "—takut itu bukan tanda untuk mundur, Rat. Takut itu tanda bahwa kali ini bukan main-main. Aku ahli dalam hal ini. Aku punya ijazah delapan tahun di bidangnya."
Kami menutup telepon tidak lama setelah itu, dan aku duduk di kamarku yang gelap dengan dua kabar baik dalam satu minggu: krisis yang selesai, dan sahabatku yang mungkin—pelan-pelan, dengan cara yang tidak pernah direncanakannya—sedang jatuh cinta dengan cara yang benar.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Cinta yang datang lewat pintu belakang selalu yang paling jujur. Ia tidak pakai kostum. Ia datang sebagai dirinya sendiri, jam tujuh malam, dengan alasan membahas vendor."