26 JUNI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Berita pertunangan itu mengubah sesuatu di antara kami—bukan mengubah yang buruk, mengubah yang seperti angin yang masuk ke ruangan dan membuat tirai bergerak: semuanya tetap di tempatnya, tapi semuanya bergerak sedikit.
Akhir pekan berikutnya Javar pulang, dan kami menghabiskan Sabtu sore di bukit layang-layang kami—tempat yang sudah menjadi semacam kantor cabang hubungan kami, tempat keputusan-keputusan besar dibicarakan dengan latar anak-anak yang berteriak gembira—dan aku tahu dari caranya duduk, dari caranya memandangi layang-layang lebih lama dari biasanya, bahwa ia sedang membawa sesuatu di kepalanya.
"Katakan saja," ucapku akhirnya. "Kau sudah membawanya sepanjang empat jam perjalanan, aku bisa mendengarnya dari sini."
Ia tertawa kecil—tertangkap basah, seperti biasa, karena menyembunyikan sesuatu dariku adalah olahraga yang tidak pernah ia menangkan. "Ratih dilamar. Dan sejak malam itu aku tidak bisa berhenti memikirkan satu pertanyaan. Bukan pertanyaan untukmu—pertanyaan untuk diriku sendiri. Tapi pertanyaan itu menyangkutmu, jadi menurut aturan kita, ia harus keluar lewat mulut."
Aku menunggu. Angin bukit itu lewat di antara kami, membawa suara layang-layang dari kejauhan.
"Kapan giliran kita?" ucapnya akhirnya. "Bukan lamaran—aku tidak sedang melamar, tenang, jangan tegang, aku melihat bahumu naik tadi. Aku sedang bertanya tentang waktu. Tentang peta. Ratih dan Pak Bos berjalan dengan kecepatan mereka, dan itu benar untuk mereka. Tapi kita—kita punya dua kota, satu yayasan yang baru berdiri, satu karier yang baru mekar, dan satu tali yang baru terbukti kuat selama empat bulan. Dan aku bertanya kepada diriku sendiri: apakah menunggu itu berarti hati-hati, atau berarti takut? Karena aku sudah pernah kehilangan delapan tahun karena takut, dan aku tidak mau takut lagi menyamar sebagai hati-hati. Tapi aku juga tidak mau buru-buru menyamar sebagai berani."
Aku memandanginya lama—orang ini, yang selalu bisa membongkar pertanyaan yang tepat di saat yang tepat—dan aku menjawab dengan jawaban yang sudah kupikirkan sejak malam Ratih datang dengan cincin itu, karena ternyata aku juga membawa pertanyaan yang sama di kepalaku, dan pertanyaan kami berdua ternyata sudah janjian untuk bertemu di bukit ini.
"Aku akan menjawab dengan cara yang kupelajari dari kantorku: dengan timeline." Ia tertawa, dan aku melanjutkan. "Yayasanmu baru empat bulan. Kemitraannya baru dua bulan. Karierku baru satu tahun sebagai kepala tim. Kalau kita menikah sekarang, kita akan menikah di tengah pembangunan—dan aku tidak mau pernikahan kita jadi proyek sampingan dari dua proyek besar. Tapi—" aku mengangkat jari sebelum ia bicara, "—aku juga tidak mau menunggu tanpa tanggal, karena menunggu tanpa tanggal itu namanya menggantung, dan kita sudah sama-sama tahu rasanya digantung delapan tahun. Jadi ini usulku, dengan kata-kata, sesuai aturan: kita beri diri kita satu tahun. Bukan menunggu—bekerja. Satu tahun untuk menyelesaikan pos kesebelas dan kedua belas, untuk memantapkan yayasanmu sampai bisa berjalan tanpa kamu menatanya setiap jam, untuk aku membuktikan satu tahun penuh sebagai kepala tim. Dan setelah itu—di akhir satu tahun itu—kita duduk lagi di bukit ini, dan kau boleh menanyakan pertanyaan yang sebenarnya. Dengan kata-kata. Aku sudah tahu jawabanku. Tapi aku tidak akan memberitahumu sekarang, karena pertanyaan yang tepat layak mendapatkan hari yang tepat, dan hari itu adalah milikmu untuk dirancang. Aku hanya minta satu hal: jangan di bukit ini. Bukit ini untuk pertanyaan tentang peta. Pertanyaan itu layak mendapat tempatnya sendiri."
Javar menatapku dengan ekspresi yang bergerak melalui beberapa stasiun sebelum berhenti—terkejut, geli, terharu, dan akhirnya tenang. "Kau baru saja menjawab pertanyaan yang belum kutanyakan dengan memberiku tanggal untuk menanyakannya. Kau menyusun timeline untuk lamaranku sendiri."
"Aku penghubung resmi kemitraan. Mengoordinasikan timeline adalah pekerjaanku."
"Kalau begitu, untuk catatan resmi—" ia mengeluarkan notebook-nya, benar-benar mengeluarkannya, dan menulis di sana sambil berbicara, "—satu tahun dari hari ini, dua puluh enam Juni tahun depan, saya akan menanyakan satu pertanyaan kepada Diandra Lovia Saradika, di tempat yang akan dirancang khusus, dengan kata-kata, tanpa naskah yang ketahuan. Dicatat. Ditandatangani. Disaksikan oleh layang-layang yang tidak tahu apa-apa."
"Dan oleh anak kecil yang layang-layangnya kauperbaiki dulu," tambahku, menunjuk seorang anak yang berlari ke arah kami dengan layang-layang yang talinya kusut—karena tentu saja, di bukit ini, Javar tidak akan pernah bisa duduk satu jam penuh tanpa ada layang-layang yang diselamatkan.
Dan sementara ia berlutut di rumput memperbaiki simpul dengan kesabaran yang tidak pernah habis, aku memandanginya dan memikirkan satu tahun ke depan: dua pos belajar lagi, satu yayasan yang semakin kuat, satu tahun penuh di kantorku, dua notebook yang akan penuh, dua puluh enam perjalanan kereta, dan satu pertanyaan yang menunggu di ujungnya dengan tempat yang dirancang khusus. Menunggu dengan tanggal itu ternyata tidak terasa seperti menunggu. Ia terasa seperti menghitung mundur peluncuran—dengan jadwal, dengan anggaran, dengan harapan yang dicatat rapi.
Malamnya, aku menelepon Ratih—karena keputusan sebesar ini, dengan segala kerapian timeline-nya, tetap harus melewati dewan kehormatan tertinggi dalam hidupku. Dan reaksinya, seperti sudah bisa kutulis sebelum menelepon, adalah jeritan panjang diikuti dengan analisis yang cepat: "Jadi kalian membuat jadwal untuk bertunangan? Kalian berdua memang pasangan paling administratif yang pernah ada. Kalian akan bertunangan dengan undangan resmi dan rundown acara, aku sudah bisa melihatnya." Lalu ia berhenti, dan suaranya turun menjadi suara Ratih yang tulus: "Tapi Lovi—kau tahu apa yang paling membahagiakan dari ceritamu? Kau sudah tahu jawabannya. Setahun lalu, kau akan butuh setahun hanya untuk mencari tahu jawabannya. Sekarang kau sudah tahu, dan kau memakai tahun itu untuk membangun, bukan untuk ragu. Itu bukan menunda. Itu menyiapkan panggung. Dan aku akan memesan kursi paling depan untuk tanggal dua puluh enam Juni itu, dari sekarang, dengan embel-embel yang tidak bisa diganggu gugat: aku yang menikah duluan, jadi kalian berdua harus datang ke pernikahanku dulu sebagai latihan."
"Latihan?"
"Latihan duduk di kursi tamu tanpa menangis. Kalau aku menikah dan kau tidak menangis, aku tersinggung seumur hidup."
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Hari ini kami tidak bertunangan. Hari ini kami melakukan sesuatu yang lebih kami: membuat timeline. Satu tahun, dua kota, dua belas pos belajar, dua puluh enam kereta, dan satu pertanyaan di ujungnya yang sudah kuketahui jawabanku tapi belum akan kudengar pertanyaannya. Delapan tahun yang lalu kami kehilangan waktu karena tidak berani membicarakannya. Sekarang kami membicarakan waktu sampai ke tanggalnya, dan menandatanganinya berdua, disaksikan layang-layang yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu kata untuk perasaan ini. Besar sekali. Tidak muat di halaman mana pun. Tapi kurasa memang ada hal-hal yang tugasnya bukan untuk dinamai—tugasnya hanya untuk dijalani, hari demi hari, sampai tanggalnya tiba."