14 AGUSTUS 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Pos kesebelas adalah pos yang paling sulit sejauh ini—dan sekaligus, kata Javar, pos yang paling membuktikan kenapa pekerjaan ini harus ada.
Desanya terpisah oleh sungai. Bukan sungai besar—tidak ada namanya di peta—tapi sungai yang meluap setiap musim hujan dan memutus satu-satunya jalan selama berminggu-minggu. Anak-anak di sana bersekolah di SD satu atap yang gurunya datang seminggu dua kali kalau airnya sedang bersahabat, dan tidak datang sama sekali kalau tidak. Membangun pos di sana berarti mengangkut material menyeberangi sungai dengan rakit, melatih relawan yang harus siap terjebak di seberang kalau sungainya marah, dan menyusun jadwal yang mengakui bahwa alam punya suara lebih besar dari jadwal mana pun.
Aku datang ke peresmiannya sebagai penghubung resmi, dengan mobil dinas yang harus diparkir di tepi sungai dan dilanjutkan dengan rakit—pengalaman perjalanan dinas yang pasti tidak pernah dibayangkan oleh penyusun SK-nya. Javar menunggu di seberang dengan celana digulung dan senyum yang sudah lebih dulu menyeberang.
"Selamat datang di pos paling mahal per kilometernya," katanya, membantuku turun dari rakit. "Setiap papan di sini punya cerita perjalanan yang lebih panjang dari cerita perjalananmu."
Pos itu sendiri sederhana—panggung kayu setinggi lutut orang dewasa, atap terpal rangka dua, dinding setengah—tapi berdiri di tanah yang diserahkan warga secara musyawarah, dan dibangun oleh tangan-tangan warga sendiri selama tiga minggu. Relawannya dua orang kakak-beradik, Rio dan Rian, pemuda desa yang dulu menyeberangi sungai yang sama untuk bersekolah dan memutuskan bahwa adik-adik mereka tidak boleh menyeberangi sungai yang sama untuk hal yang sama.
Peresmiannya dihadiri hampir seluruh desa—tiga ratus orang, kata kepala desa dengan bangga, "lebih ramai dari acara panen raya". Anak-anak datang dengan bunga-bunga liar yang dipetik dari tepi sungai, disodorkan satu per satu kepada kami dengan sungkan sampai tangan kami penuh dan tidak ada yang tahu harus ditaruh di mana. Wisnu berpidato dengan pengeras suara yang—demi menjaga tradisi—ia bawa sendiri dari kota, meskipun di desa itu suaranya bisa terdengar sampai tiga dusun tanpa alat apa pun. Dan kepala desa memotong pita dengan gunting yang dipinjam dari ibu-ibu pengajian, lalu mengangkat gunting itu tinggi-tinggi dan berkata, "Ini gunting paling bersejarah di desa ini. Pertama kali dalam hidup saya, saya menggunting sesuatu yang bukan karung beras."
Tepuk tangan dan tawa pecah bersamaan, dan rakit-rakit di belakang kami terus hilir-mudik membawa buku-buku dan alat tulis dari mobil yang tertinggal di seberang—sungai yang selama ini memutus desa itu, hari ini justru menjadi jalan masuknya.
Dan di pos itulah aku bertemu Nando.
Nando sembilan tahun, pendiam, selalu duduk paling belakang—anak yang menurut Rio "datang setiap hari, tidak pernah bicara, tidak pernah mau menulis di papan". Selama peresmian ia berdiri di pinggir keramaian, memegang sesuatu di dadanya yang ia lindungi dari kerumunan: sebuah buku tulis bekas, sampulnya sudah tidak ada, halamannya menguning.
Aku mendekatinya pelan-pelan—dengan keterampilan yang kupelajari dari Sari, bahwa anak-anak tidak didekati dengan pertanyaan, tapi dengan duduk di dekatnya tanpa menuntut apa-apa. Maka aku duduk di tanah tidak jauh darinya, memperhatikan sungai, tidak mengatakan apa-apa, sampai ia sendiri yang membuka percakapan dengan kalimat yang tidak akan kulupakan:
"Di sini tidak ada yang punya buku begini. Ini punya Bapak. Bapak beli di kota waktu masih kuat jalan jauh."
Halaman-halaman buku itu penuh dengan tulisan tangan yang rapi—huruf demi huruf, kata demi kata, disalin dari buku-buku pinjaman selama bertahun-tahun. Ayahnya, seorang petani yang kakinya lumpuh sejak dua tahun lalu karena kecelakaan, menuliskan kata-kata untuk anaknya dengan tangannya sendiri, karena itu satu-satunya perpustakaan yang mampu ia berikan. Dan Nando datang ke pos belajar setiap hari bukan untuk belajar—ia sudah bisa membaca, diajari buku ayahnya—melainkan untuk melihat, kata Rio, "apakah benar di dunia ini ada orang yang punya buku lebih dari satu".
Aku duduk di tanah itu dengan tenggorokan yang tercekat, dan malamnya, di rumah kepala desa tempat rombongan kami menginap, aku menceritakannya kepada Javar—yang sudah tahu, yang sudah mengenal Nando dan ayahnya sejak survei pertama—dan Javar mengeluarkan dari tasnya sebuah map, dan di dalamnya ada sebuah rencana yang sedang ia susun sejak bulan lalu: "Kotak Baca". Kotak kayu sederhana berisi dua puluh buku yang akan berpindah dari pos ke pos mengikuti jadwal, supaya setiap pos—bahkan yang paling jauh, bahkan yang terpisah sungai—selalu punya sesuatu yang baru untuk dibaca. "Dua puluh buku, sebelas pos, satu rakit," katanya. "Dan aku ingin ayah Nando menjadi orang pertama yang menitipkan satu halaman tulisannya di kotak pertama—supaya dia tahu buku buatannya itu, yang selama ini cuma dibaca satu anak, akan dibaca ratusan."
Dan itulah yang terjadi di peresmian itu, di acara penutup yang tidak ada di rundown: ayah Nando didudukkan di kursi kehormatan, dan halaman pertama buku tulisannya—halaman berisi kata "MEMBACA" yang ditulis besar-besar dengan tinta yang hampir habis—ditempelkan oleh Javar di sampul dalam Kotak Baca yang pertama, dengan nama pembuatnya tertulis di bawahnya. Dan Nando, anak yang tidak pernah mau bicara, berdiri di samping kursi ayahnya dengan dada yang membusung, dan mengucapkan kalimat pertamanya di depan umum, pelan tapi jelas, mengutip kata ayahnya: "Bapak bilang, buku itu jembatan. Sekarang jembatannya ada rakitnya."
Semua orang tertawa dan bertepuk tangan, dan ayahnya menyeka matanya dengan punggung tangan, dan aku berdiri di belakang dengan kamera yang lupa kuangkat, karena ada momen-momen yang memang harus direkam dengan mata saja.
Di perjalanan pulang, di rakit yang menyeberangi sungai yang tenang, Javar duduk di sebelahku dan berkata pelan: "Sebelas pos. Dua ratus enam puluh satu anak, per hitungan minggu ini. Dan satu ayah yang membuktikan bahwa perpustakaan pertama selalu berdiri di rumah, jauh sebelum kami datang. Kami tidak membawa membaca ke desa-desa ini, Lovia. Kami cuma membawa lebih banyak buku ke tempat yang sudah lapar sejak lama. Itu bedanya, dan itu penting untuk diingat, supaya kami tidak pernah besar kepala."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini aku belajar dari seorang petani yang lumpuh bahwa yang dibutuhkan untuk membuat perpustakaan bukanlah gedung—melainkan satu tangan yang menulis dan satu anak yang dibacakan. Buku bekas tanpa sampul itu adalah perpustakaan paling lengkap yang pernah kulihat, karena setiap halamannya ditulis dengan alasan yang tidak bisa dibeli oleh dana kemitraan mana pun: cinta yang tidak punya cara lain untuk mengatakan dirinya."
Dan bunga-bunga liar dari tepi sungai itu, yang tadi pagi memenuhi tangan kami, sekarang menghiasi meja rumah kepala desa—tanda terima yang tidak tercatat di notulen mana pun.